Banyak dari Anda mungkin pernah mendengar tentang berbagai perbedaan mencolok antara wilayah Kanto dan Kansai di Jepang. Di Kanto, terdapat metropolis Tokyo serta kota pelabuhan Yokohama. Sementara itu, di Kansai, kita bisa menemukan nuansa budaya yang lebih tradisional di Nara dan Kyoto, dinamika Osaka yang penuh warna, hingga pesona kota pelabuhan Kobe.
Kedua kawasan ini sering kali digambarkan saling bertolak belakang atau bahkan bersaing, lengkap dengan berbagai stereotip yang dilemparkan satu sama lain. Setelah pernah tinggal di Osaka selama setahun dan kini menetap di Tokyo, saya terkadang bertanya-tua: apakah keduanya benar-benar begitu berbeda?
Berdasarkan pengalaman langsung di kedua wilayah tersebut, saya ingin mengupas berbagai klaim perbedaan yang ada untuk melihat seberapa besar kebenaran di balik anggapan umum tersebut.
Sekilas tentang Sejarah

Mari kita mulai dari dasar. Saat ini, Tokyo jelas merupakan pusat ekonomi dan politik Jepang dengan populasi metropolitan mencapai sekitar 30 hingga 35 juta jiwa. Di sisi lain, blok Kansai yang mencakup Kyoto, Osaka, Nara, Kobe, dan kota-kota sekitarnya memiliki populasi sekitar separuhnya, yakni 17 juta jiwa.
Namun, situasi tidak selalu seperti ini. Tokyo dan wilayah Kanto yang lebih luas baru menjadi pusat politik Jepang setelah era Keshogunan Kamakura, ketika pusat kekuasaan bergeser dari istana kekaisaran di Kyoto ke tangan para samurai. Kendati demikian, Edo (yang kini menjadi Tokyo) pada masa pemerintahan keshogunan dulunya hanya salah satu dari “tiga ibu kota” Jepang: Edo sebagai pusat kekuasaan shogun, Kyoto sebagai pusat istana kekaisaran, dan Osaka sebagai pusat perdagangan.
Dari sinilah akar persaingan di antara kedua wilayah ini mulai terbentuk.
Perbedaan Budaya

Saat membandingkan Kansai dan Kanto, ada kesan kuat bahwa kedua wilayah ini memiliki kultur yang sangat berlainan. Tentu saja, tayangan televisi dan berbagai stereotip turut melanggengkan pandangan ini, tetapi memang ada alasan mengapa keduanya dianggap sebagai pusat dari dua kubu budaya yang berbeda hingga hari ini. Beberapa contoh paling mendasar meliputi:
- Sisi eskalator yang digunakan: Warga Osaka berdiri di sebelah kanan, sementara di Tokyo di sebelah kiri.
- Kuliner: Osaka terkenal dengan okonomiyaki dan takoyaki, Kyoto dengan manisan tradisional Jepang, dan Tokyo dengan monjayaki.
- Biaya hidup: Sebagian besar hal, terutama biaya sewa tempat tinggal, cenderung lebih murah di Osaka, meskipun biaya transportasi relatif mirip.
- Aspek sosial: Jepang bagian barat termasuk Kansai masih menghadapi persoalan terkait diskriminasi burakumin, dan kawasan ini (khususnya Osaka) sering kali diidentikkan dengan Yakuza.
Dialek

Bagi siapa pun yang menganggap dialek Kansai atau Kansai-ben sebagai bahasa Jepang yang “salah” atau “tidak benar”, perlu diingat satu hal penting:
KANSAI-BEN ADALAH BAHASA JEPANG, SAMA SEPERTI HALNYA KANTO-BEN.
Bahkan, jika bukan karena pengaruh dialek Kansai, Kanto-ben mungkin tidak akan memiliki sistem bahasa sopan atau keigo. Dialek Kanto meminjam pola honorifik dari Kansai-ben karena sebelumnya mereka tidak memiliki sistem keigo sendiri.
Terdapat banyak variasi bahkan di dalam wilayah Kansai-ben itu sendiri, namun ciri utamanya antara lain:
- Perbedaan kosakata: Menggunakan kata honma alih-alih honto, oru alih-alih iru, serta akan alih-alih dame.
- Perbedaan pelafalan: Kecenderungan mengubah bunyi “s” menjadi “h”, seperti kata “san” yang diucapkan “han”.
- Perbedaan penekanan nada: Sebagai contoh, kata “hashi” dengan penekanan pada suku kata pertama berarti “jembatan” di Kansai, tetapi berarti “sumpit” di Tokyo. Sebaliknya berlaku jika penekanannya di suku kata kedua.
Variasi ini sangat beragam, dan daftar di atas merujuk pada Osaka-ben atau dialek yang paling sering dilekatkan sebagai representasi “Kansai-ben”. Dialek Kyoto, terutama yang digunakan oleh para geisha, memiliki ciri khas tersendiri meskipun tetap dikategorikan sebagai Kansai-ben.
Masyarakat
Berikutnya adalah karakteristik masyarakat serta berbagai stereotip yang melekat pada mereka.
“Kansai identik dengan orang yang menyenangkan”

Media massa Jepang sangat gencar menampilkan citra ini. Televisi dipenuhi oleh komedian asal Kansai yang membawakan aksi panggung menggunakan Kansai-ben, didukung oleh fakta bahwa agensi komedi terbesar, Yoshimoto Kogyo, berpusat di wilayah tersebut.
Masyarakat Kansai sering dianggap lebih banyak bicara dan memiliki selera humor yang tinggi. Stereotip lainnya menyebutkan bahwa mereka kerap mengabaikan lampu lalu lintas, lebih jujur, individualistis, serta lebih berani mengungkapkan isi hati yang sebenarnya (honne) tanpa terlalu memedulikan aturan sosial.
Warga Kyoto dipandang lebih anggun karena latar belakang kotanya, sementara penduduk Osaka kerap diasosiasikan dengan jiwa bisnis, bahkan saling menyapa dengan ungkapan Moukarimakka (Apakah bisnis Anda lancar?).
“Tokyo itu menyebalkan”

Meski terkesan berlebihan, sebagian kecil warga Kansai memang melontarkan pandangan seperti ini, yang lebih didasari oleh rasa persaingan ketimbang kebencian sungguhan. Stereotip bahwa Tokyo itu buruk tidak sekuat anggapan bahwa orang Kansai itu menyenangkan. Bagaimanapun, Tokyo dianggap sebagai standar utama, sementara Kansai dipandang sebagai pengecualian dari budaya standar Jepang.
Saya sempat mendengar beberapa komentar setengah bercanda mengenai “orang Tokyo yang dingin” ketika saya mengumumkan kepindahan saya ke sana. Ada pula sebagian kecil orang yang mengenakan kaos bertuliskan kecintaan pada Osaka dan kritikan untuk Tokyo.
Meski sebagian besar orang hanya menganggapnya sebagai candaan, ada segelintir individu yang memiliki kebanggaan berlebihan terhadap Kansai—termasuk warga asing—hingga kerap memicu sikap antipati terhadap Tokyo.
Apakah Perbedaan Itu Benar-Benar Signifikan?

Sejujurnya, saya merasa perdebatan mengenai perbedaan Kansai dan Kanto ini kerap dibesar-besarkan.
Memang ada benarnya dalam beberapa hal. Sebagai contoh, kereta di Tokyo cenderung sangat tenang; orang yang berbicara biasanya hanya wisatawan asing atau anak SMA, dan penumpang lain akan menatap Anda jika berbicara dengan suara yang terlalu jelas. Berdasarkan pengalaman saya, kereta di Kansai, khususnya kereta bawah tanah municipal Osaka, terasa jauh lebih hidup.
Selain itu, orang Kansai yang saya temui memang cenderung lebih ekspresif dan memiliki selera humor yang kuat dibandingkan warga Tokyo. Kendati demikian, hal ini mungkin terjadi karena saya adalah warga asing yang pernah tinggal di Kansai dan menggunakan dialek setempat, sehingga interaksi terasa lebih cair.
Namun, tidak seorang pun pernah menyapa saya dengan ucapan Moukarimakka, dan saya juga tidak pernah mendengarnya diucapkan secara langsung. Ungkapan tersebut mungkin masih digunakan oleh generasi terdahulu, tetapi tidak oleh anak muda masa kini.
Pandangan bahwa “Tokyo itu buruk” atau “Kansai jauh lebih baik” adalah sesuatu yang sulit saya terima. Di satu sisi, sebagian warga asing di Tokyo kerap mengeluhkan kehidupan di sana dan mendewakan Kansai sebagai alternatif. Di sisi lain, saya juga pernah berdebat dengan warga asing di Kansai yang gemar menyudutkan Tokyo karena alasan terlalu padat, biaya sewa mahal, atau warganya yang kurang ramah.

Kedua kubu tersebut bersikap terlalu ekstrem. Jika Anda membenci keramaian, kawasan Shibuya dan Shinjuku di Tokyo tentu bisa membuat Anda kewalahan. Begitu pula dengan biaya sewa yang lebih tinggi yang membuat waktu perjalanan komuter menjadi lebih lama.
Namun, anggapan bahwa warga Kansai lebih mudah diajak bergaul sementara penduduk Tokyo berhati dingin rasanya patut dipertanyakan. Saya mengenal banyak pendatang yang justru mengalami kejutan budaya dan keterasingan sosial saat tinggal di Kansai, meskipun mereka dikelilingi oleh orang-orang yang dianggap ramah.
Apakah selera humor membantu mencairkan suasana? Berdasarkan pengamatan saya, masyarakat Jepang secara umum cenderung menghindari topik sensitif demi menjaga keharmonisan sosial. Di Kanto, percakapan yang canggung sering kali berakhir dalam keheningan sebelum seseorang mengganti topik. Di Kansai, humor digunakan secara terampil untuk mengalihkan pembicaraan sebelum kecanggungan terjadi.
Hasil akhirnya tetap serupa: topik pembicaraan dijaga agar tetap aman, opini pribadi disimpan, dan percakapan dibiarkan tetap di permukaan. Menghibur orang lain tidak serta-merta sama dengan menjadi pribadi yang terbuka.
Ada pula pandangan bahwa karena Tokyo memiliki populasi warga asing yang jauh lebih besar, penduduknya lebih terbiasa dengan kehadiran orang asing dibandingkan di Kansai—kecuali Kyoto yang sudah terbiasa dengan turis. Meskipun tidak ada data pasti, beberapa teman saya justru merasa lebih sering “ditatap” ketika berada di Osaka daripada di Tokyo.
Kansai dan Kanto

Meskipun ulasan di atas terkesan mengkritik, saya sebenarnya sangat menyukai wilayah Kansai setelah tinggal di sana selama satu tahun.
Sikap fanatik yang merendahkan Tokyo demi membanggakan Kansai, begitu pula sebaliknya, perlu dikurangi. Pandangan tersebut sangat menyesatkan dan terlalu membesar-besarkan perbedaan di antara keduanya. Terlepas dari latar belakang sejarah yang berbeda, Kansai tetaplah bagian dari Jepang, di mana kesamaan di antara keduanya jauh lebih besar daripada perbedaannya.
Sebagai penutup, penting untuk diingat bahwa Jepang bukan hanya tentang Tokyo. Ada banyak wilayah lain di Jepang, termasuk kawasan Kansai, yang sangat layak untuk dikunjungi atau bahkan ditinggali. Jadi, jika Anda berencana berkunjung ke Jepang atau sedang berada di Tokyo, sempatkanlah untuk pergi ke Kansai—ada banyak hal menarik yang menanti untuk dijelajahi.








