Home / Travel / Sisa Rekayasa Kuno Wakaejima Kamakura

Sisa Rekayasa Kuno Wakaejima Kamakura

Wakaejima at High Tide

Meskipun banyak orang mengenal Kamakura lewat destinasi populernya, kawasan ini sebenarnya menyimpan banyak situs sejarah tersembunyi yang jarang diketahui wisatawan. Salah satu peninggalan paling unik dan jarang dijamah adalah reruntuhan pulau buatan pertama di Jepang yang berasal dari awal tahun 1200-an.

Pulau buatan ini dikenal dengan nama Wakaejima, yang diambil dari nama lama pantai tempat pulau tersebut berada. Terletak di pesisir Teluk Sagami di Kamakura, daratan kecil buatan ini dulunya berfungsi ganda sebagai pemecah ombak sekaligus dermaga bagi keshogunan, sebelum akhirnya berkembang menjadi pelabuhan yang ramai. Pada era Kamakura (1185–1333) ketika wilayah ini menjadi pusat pemerintahan Jepang, teluk tersebut dipenuhi oleh kapal-kapal pedagang dari berbagai wilayah, termasuk Dinasti Sung di China. Mengingat lembah Kamakura dikelilingi oleh pegunungan di sisi utara, timur, dan barat, jalur pelabuhan ini sangat krusial untuk perdagangan maupun pasokan logistik.

A painting of what Wakae-jima historically looked like

Teluk Sagami terkenal memiliki angin kencang dan perairan dangkal yang berbahaya, sehingga kecelakaan kapal sering terjadi. Awalnya, para pemimpin Kamakura mencoba mengatasi masalah ini menggunakan kapal tongkang untuk mengangkut barang ke daratan. Namun, seorang biksu Buddha kemudian mengusulkan gagasan pembangunan Wakaejima dan meminta keshogunan untuk membiayai pembangunannya. Pelabuhan ini diciptakan sebagai tempat perlindungan yang aman bagi kapal-kapal yang bersandar, yang secara drastis mengurangi insiden kecelakaan di Teluk Sagami.

Dengan menumpuk bebatuan di perairan Teluk Sagami yang sedalam pinggang, keshogunan berhasil membangun pelabuhan purba tempat kapal dagang berlindung saat cuaca buruk. Wakaejima kemudian terus diperluas dan diperbaiki hingga akhirnya ditinggalkan pada akhir periode Edo (1603–1868). Saat ini, banyak batu yang telah tenggelam di bawah pasir, namun bentuk dasar Wakaejima masih dapat terlihat di lepas pantai saat air surut.

Cara Menuju ke Sana

Kamakura Station is the closest station to Wakae Island (or Wakaejima in Japanese)

Wakaejima terletak di ujung Pantai Zaimokuza, bagian timur dari garis pantai Yuigahama sepanjang 3,2 km. Kecuali Anda menginap di daerah sekitar, perjalanan menuju Wakaejima umumnya dimulai dari Stasiun Kamakura. Jalur yang melayani stasiun ini adalah JR Shonan-Shinjuku Line dan JR Yokosuka Line. Pastikan untuk memeriksa jadwal kereta terlebih dahulu karena beberapa rangkaian hanya melayani perjalanan sampai Stasiun Ofuna.

Setibanya di Stasiun Kamakura, pulau ini dapat dicapai dengan berjalan kaki selama sekitar 15 menit. Anda cukup mengikuti Jalan Wakamiya-Oji hingga mencapai Teluk Sagami, lalu berbelok ke kiri. Sisa-sisa bangunan Wakaejima berada tepat di ujung Pantai Zaimokuza dan tampak seperti gundukan sepanjang 200 meter yang menonjol dari ombak.

Menjelajahi Reruntuhan Wakaejima

The stone epitaph on Kamakura’s Wakae Island (or Wakaejima in Japanese)

Pulau Wakae saat ini hanya dapat dikunjungi saat air sangat surut, kecuali Anda menggunakan perahu atau tidak keberatan basah-basahan. Saat air pasang, sisa-sisa pulau ini hampir tidak terlihat sama sekali, sehingga penting untuk memeriksa jadwal pasang surut air laut sebelum merencanakan perjalanan.

Hal pertama yang akan Anda temui saat mencari Pulau Wakae adalah sebuah tugu batu prasasti. Terletak di atas batu besar, monumen ini didirikan pada tahun 1924 oleh Klub Pemuda Kamakura untuk memperingati sejarah pulau buatan pertama di Jepang. Teks pada tugu tersebut menjelaskan bahwa Waka adalah nama lama dari Zaimokuza, tempat di mana kayu dikumpulkan dan dikapalkan, serta menceritakan kisah pembangunan pemecah ombak oleh pendeta Oamidabutsu.

One of the remaining bits of Kamakura’s Wakae Island (or Wakaejima in Japanese)

Tepat di dekat tugu batu tersebut, terdapat gundukan reruntuhan yang dulunya merupakan bagian utama Pulau Wakae. Di sisi utaranya, dulunya terdapat beberapa tiang yang digunakan untuk menambatkan kapal guna menghindari angin selatan yang kencang. Sayangnya, hanya sedikit bagian yang tersisa setelah pelabuhan ini berhenti beroperasi dan terbengkalai pada akhir abad ke-19.

Tepat di belakang batu prasasti, terdapat tangga tersembunyi yang mengarah dari pantai menuju bagian lain dari sisa-sisa Pulau Wakae. Setelah menaiki tangga tersebut, Anda dapat berjalan menuju kompleks perumahan Riviera Zushi Marina hingga menemukan tangga kecil di sebelah kanan. Karena area ini tidak dirancang sebagai destinasi wisata komersial, berhati-hatilah dengan pijakan Anda, terutama setelah turun hujan.

The point where Kamakura’s Wakae Island (or Wakaejima in Japanese) connected to the shore

Di bagian akhir jalur penjelajahan, Anda akan melihat batuan yang menjorok ke laut, yang dulunya merupakan titik sambungan antara Pulau Wakae dan daratan utama. Dasar laut di sekitarnya masih dipenuhi material asli pembangunan pulau yang berserakan akibat terjangan ombak.

Atraksi Lain di Sekitar

Komyo-ji is the cloest temple to Kamakura’s Wakae Island (or Wakaejima in Japanese)

Jika Anda merencanakan perjalanan ke kawasan ini, terdapat beberapa objek wisata menarik lainnya di sekitar Kamakura yang dapat dikunjungi:

  • Komyo-ji: Kuil Buddha sekte Jodo ini merupakan satu-satunya kuil besar di Kamakura yang terletak dekat dengan laut. Kuil ini memiliki gerbang utama yang sangat besar serta taman batu yang memukau, selain itu juga menjadi tempat pemakaman tokoh-tokoh penting di masa lampau.
  • Mandarado Yagura: Tempat ini berupa sekumpulan makam kuno berusia ratusan tahun yang terpahat di bukit-bukit Kamakura. Perjalanan menuju lokasi ini cukup menantang karena harus melewati jalur perdagangan kuno dan jalur pegunungan yang sempit, sangat cocok bagi para pencari petualangan yang menyukai tempat antimainstream.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *