Jika direnungkan kembali, Jepang sebenarnya memiliki latar tempat yang ideal untuk cerita bertema zombi: perkotaan dengan kepadatan penduduk tinggi, jaringan kereta bawah tanah yang rumit, serta wilayah kepulauan yang kecil. Kombinasi ini tentu menarik jika diangkat ke layar lebar. Namun, alih-alih menyajikan film horor yang lambat, menegangkan, dan mencekam dengan gerombolan mayat hidup menyusuri stasiun bawah tanah Tokyo, sinema Jepang justru sering kali menampilkan hal seperti ini:

atau justru menyuguhkan tontonan seperti ini:

Sebagian besar film zombi asal Jepang masuk dalam kategori komedi horor yang umumnya hadir dalam dua bentuk: film zombi dengan bumbu komedi satir yang kental, atau film zombi kung-fu yang dipadukan dengan unsur humor kocak. Judul-judul seperti “Versus”, “Wild Zero”, dan “Zombie Self Defense Force” membuktikan bahwa genre ini memiliki basis penggemar yang cukup subur di Jepang. Seluruh karya tersebut dieksekusi dengan gaya bercanda yang khas dan lapisan unsur kamp yang sangat tebal.
Jika para zombinya tidak sedang bertanding bisbol secara berlebihan melawan para tokoh utama—seperti yang terlihat dalam “Battlefield Baseball”—

maka mereka akan ditempatkan sebagai latar belakang dalam film komedi-horor romantis yang berfokus pada proses infeksi sang karakter utama, contohnya dalam “Life is Dead”. Perlu dicatat juga bahwa karakter tersebut tertular virus setelah berhubungan badan dengan seorang pekerja seks komersial yang telah menjadi zombi.

Parodi mengenai zombi juga merambah ke dunia manga seperti “Is This a Zombie?” serta “Tokyo Zombie”. Judul terakhir bahkan diadaptasi ke layar lebar yang mengisahkan dua sahabat pekerja pabrik sekaligus ahli seni beladiri yang harus bertempur melawan legiun mayat hidup.

Bahkan, ada beberapa film yang sebenarnya mampu menghadirkan elemen horor dengan cukup baik, tetapi tetap saja diselingi dengan parodi, lelucon, dan unsur komedi yang menyeramkan. Contoh yang pas adalah “Stacy: Attack of the Schoolgirl Zombies”. Judul serta visualnya mengandalkan efek kejut yang murah, adegan berdarah-darah yang berlebihan, serta lelucon visual yang konyol. Para pembuat film juga terus memasukkan referensi sadar diri terhadap para tokoh perfilman zombi modern seperti George Romero dan Sam Raimi.

Lantas, mengapa zombi kerap digambarkan sebagai badut di dalam media Jepang? Meskipun zombi yang mirip badut sebenarnya bisa menjadi konsep yang sangat menakutkan, industri hiburan Jepang lebih sering memanfaatkan makhluk ini sebagai pelepas penat atau sumber komedi ketimbang menebar teror mengerikan. Di balik sifat subversif sinema Jepang, terdapat sejumlah teori kultural yang dapat menjelaskan fenomena ini:
Mengapa Zombi Tidak Menakutkan Bagi Orang Jepang
Mereka Berasal dari Budaya Asing

Serupa dengan vampir, manusia serigala, dan berbagai makhluk mengerikan lainnya, zombi bukanlah entitas yang berasal dari Jepang. Interaksi masyarakat Jepang dengan makhluk bangkit dari kubur secara historis terbatas pada roh halus, golongan yokai tertentu, atau jiangshi (mayat loncat) dari China. Setelah gelombang popularitas zombi pada era 1990-an yang mengikuti tren film-film karya Romero, ketertarikan internasional terhadap zombi mulai meningkat dan Jepang pun turut mengikuti tren tersebut.
Kendati demikian, unsur keasingan zombi seolah tidak pernah lepas dari benak para kreator Jepang saat menggarap karya bertema zombi. Situasi ini mirip dengan film-film bertema ninja atau kaijuu buatan Amerika Serikat yang terkadang terlihat begitu konyol. Oleh karena itu, memunculkan zombi dalam sinema Jepang sering kali dianggap sebagai bentuk referensi terhadap budaya pop Barat, sehingga didekati dari sudut pandang yang lebih ironis atau jenaka. Inilah alasan mengapa ketika kreator Jepang mencoba mengangkat tema ini secara lebih serius tanpa unsur subversif—seperti dalam gim “Dead Rising”, “House of the Dead”, atau seri “Resident Evil/Biohazard”—latar tempatnya selalu diletakkan di dunia Barat, bukan di Jepang.
Mereka Bukanlah Hantu

Secara historis, hantu jauh lebih melekat dalam imajinasi dan ketakutan masyarakat Jepang daripada konsep mayat hidup jasmaniah. Hal ini dilandasi oleh beberapa faktor. Pertama, masyarakat Jepang secara tradisional melakukan kremasi kepada sanak saudara yang telah meninggal. Akibatnya, gambaran ikonik tentang zombi yang bangkit dari dalam tanah kuburan bukan hanya terputus dari realitas budaya arus utama, tetapi juga mustahil digambarkan secara realistis di Jepang.
Kedua, Jepang memiliki tradisi cerita rakyat yang kaya mengenai hantu dan roh, sehingga zombi dipandang sebagai pendatang baru yang terasa asing dan memiliki bobot horor yang lebih ringan. Apabila sebuah film bertujuan untuk menakut-nakuti penontonnya, sinema Jepang cenderung memilih kisah hantu tradisional ketimbang entitas berwujud fisik. Zombi tidak memiliki efek menyeramkan yang sama seperti sentuhan tangan gaib di pundak yang perlahan menghilang saat Anda menoleh. Bagaimana bisa merasa takut jika,
Mereka Terkesan Canggung

Harus diakui, gambaran tradisional tentang zombi sebenarnya tidak terlalu mengancam. Konsep dasarnya adalah mereka bergerak lambat dan tampak tidak kompeten jika sendirian, namun bisa menjadi masalah besar dalam jumlah yang masif—meskipun tetap merupakan masalah yang bergerak lambat. Hal ini terkadang menjadi bumerang bagi pembuat film karena gerakan yang lamban, ketidakpedulian saat anggota tubuh mereka lepas, serta kecenderungan untuk tersandung atau terpeleset justru memicu kelucuan fisik yang tidak disengaja.
Hampir setiap film yang disebutkan sebelumnya menyertakan setidaknya satu adegan di mana sesosok zombi bergerak dengan cara yang menggelikan atau dimanfaatkan sebagai lelucon visual. Zombi terkadang memang terlihat konyol. Sejumlah penggambaran di dunia Barat telah meninggalkan gaya lamban tersebut dan beralih ke model “terinfeksi” yang bergerak cepat seperti dalam “28 Days Later” atau “Left 4 Dead”. Perubahan ini kemungkinan besar didasari oleh kesadaran bahwa tingkat ketegangan dalam sebuah adegan sulit dijaga jika musuh utama Anda bergerak sangat lambat dan rawan terjatuh kapan saja.
Mereka Ada di Mana-Mana

Faktor kejenuhan ini tentu dirasakan oleh setiap pembuat film, baik di Jepang maupun di belahan dunia lain. Para kreator harus memutar otak untuk mencari gagasan baru agar cerita tidak terasa monoton. Zombi tidak lagi bisa dibiarkan tampil begitu saja; mereka harus dipadukan dengan berbagai elemen unik. Mulai dari film, permainan video, papan permainan, kartu, acara televisi, siniar, pakaian, hingga berbagai media lainnya, dunia telah mengalami kejenuhan akibat terlalu banyaknya konten bertema zombi.
Kita sedang mendekati titik jenuh di mana hampir setiap film mau tak mau harus menyertakan unsur zombi atau pahlawan super. Bahkan di Jepang, yang tingkat kegemarannya terhadap zombi tidak sebesar di negara-negara Barat, muncul perasaan bahwa gagasan segar mengenai zombi sudah semakin menipis. Hal inilah yang mendorong para pembuat film di Jepang untuk terus menghasilkan karya-karya yang unik dan eksentrik. Karakter zombi telah mencapai titik di mana mereka begitu sering digunakan hingga akhirnya,
Mereka Kehilangan Makna

Di masa lalu, zombi efektif menakuti penonton bukan sekadar karena unsur darah dan luka, melainkan karena mereka merepresentasikan keresahan sosial serta isu nyata yang dirasakan oleh para pembuatnya. Sama seperti film “Godzilla” keluaran tahun 1954 yang tetap dikenang karena menjadi alegori nuklir yang kuat, rangkaian film “Dead” karya George Romero bertahan karena mengangkat isu mengenai ketidakbecusan pemerintah serta budaya konsumerisme yang tidak terkendali.
Zombi versi Romero merepresentasikan ketakutan akan hilangnya individualitas yang melebur ke dalam kerumunan massa konsumen—sebuah ketakutan yang kurang beresonansi dengan masyarakat Jepang yang cenderung kolektif. Zombi juga melambangkan konsep “pihak luar” (the other), yaitu sesuatu yang berbeda dari diri kita yang datang dan berkembang hingga merusak tatanan yang ada. Ini adalah ketakutan yang sering dieksplorasi di Barat, namun kurang melekat di dalam masyarakat Jepang yang relatif homogen.
Bahkan tema-tema universal yang sebenarnya bisa membuat zombi ditakuti oleh masyarakat Jepang—seperti ketakutan terhadap wabah penyakit atau penyalahgunaan senjata nuklir dan biologis—kini telah terlalu sering diangkat di berbagai media sehingga kehilangan daya cengkeramnya. Visual ikonik berupa mayat manusia berjalan telah digunakan, didaur ulang, dan disarikan sedemikian rupa hingga kehilangan esensi maknanya. Makhluk ini bahkan pernah dipakai untuk memasarkan produk seluler! Zombi bukan lagi ikon ketakutan, melainkan sekadar properti usang yang bisa disingkirkan begitu saja. Jika memang demikian keadaannya, wajar saja jika para pembuat film memasukkan mereka ke dalam film kung-fu semata-mata sebagai gerombolan yang pantas dihajar oleh sang bintang utama. Bagaimanapun juga, mereka hanyalah sekumpulan zombi!
Sekarang, jika Anda memaafkan saya—saya harus segera menonton beberapa film zombi buatan Jepang yang belum sempat disaksikan.








