Jika Anda menjelajahi jalanan di Jepang untuk mencari makhluk mitologi, cepat atau lambat Anda pasti akan menemukan patung-patungnya. Patung batu kitsune berdiri menjaga ribuan kuil Inari, sementara figur ceria tanuki dari keramik berjejer di berbagai toko. Namun, mengapa sulit sekali menemukan makhluk aslinya yang hidup? Ke manakah perginya para kitsune ekor sembilan? Dan apa yang terjadi pada tanuki-tanuki legendaris tersebut?
Meski pencarian ini tampak sia-sia, jangan menyerah begitu saja! Masih ada legenda hidup di Jepang yang bisa Anda temukan jika tahu cara dan tempat mencarinya. Walaupun kecil kemungkinannya untuk berpapasan langsung dengan tengu atau kappa, artikel ini bisa menjadi panduan lapangan untuk mengenali beberapa makhluk legendaris yang benar-benar eksis di Jepang saat ini.
Kirin 麒麟

Legenda: Jauh sebelum populer sebagai merek bir, kirin merujuk pada makhluk fantastis yang dibawa Jepang dari Tiongkok, yang dikenal sebagai qilin dan sering kali salah diterjemahkan sebagai “unicorn Cina”. Meski digambarkan dalam berbagai rupa selama berabad-abad, kirin umumnya memiliki satu tanduk di kepala, tubuh berwarna-warni dengan perut kuning, kuku kuda, badan rusa, dan ekor lembu. Dikenal memiliki sifat yang tenang, kirin biasanya sibuk memakan rumput dan tumbuh-tumbuhan saat tidak sedang menandai kemunculan seorang bijak atau penguasa yang baik.
Legenda Nyata: Pada awal abad ke-15 di Tiongkok, seorang pelaut bernama Zheng He pulang dari pelayaran ke Afrika dan mempersembahkan seekor kirin kepada kaisar yang sedang berkuasa. Gambar asli dari spesimen tersebut dapat dilihat di bawah ini:

Jika bentuknya sangat mirip dengan jerapah, itu karena memang benar demikian. Namun, di mata masyarakat Tiongkok saat itu, hewan yang belum pernah mereka lihat sebelumnya ini sangat mirip dengan deskripsi qilin dalam legenda—mulai dari tubuh rusa, ekor lembu, kuku kuda, bulu warna-warni, hingga tanduk kecil di kepalanya. Kesalahpahaman ini diabadikan dalam bahasa Jepang dan Korea, di mana kata kirin masih digunakan untuk menyebut jerapah hingga hari ini.

Tempat Menemukannya: Ada dua pilihan dasar di sini. Anda bisa mencoba mencapai tingkat kebijaksanaan tinggi dengan harapan seekor kirin akan menampakkan diri, atau Anda bisa langsung mengunjungi salah satu kebun binatang di Jepang untuk melihat kirin dari dekat. Kebun Binatang Ueno di Tokyo adalah pilihan yang bagus, sementara Kebun Binatang Kushiro di Hokkaido baru-baru ini menyambut kelahiran seekor anak kirin.
Wani 鰐
Legenda: Wani adalah monster laut amfibi yang pertama kali muncul dalam karya tulis tertua Jepang, yaitu Kojiki (Catatan Perkara Kuno) dari awal abad ke-8. Berdasarkan mitos tersebut, putri Dewa Naga Laut berubah wujud menjadi wani ketika ia memergoki suaminya mengintip saat ia sedang melahirkan anak mereka. Baik digambarkan menyerupai naga, ular, maupun ikan hiu, wani selalu digambarkan memiliki banyak sisik dan gigi tajam.

Legenda Nyata: Meskipun monster laut wani yang asli belum pernah ditemukan, istilah ini akhirnya bergeser untuk merujuk pada buaya dan aligator, mirip dengan kasus kirin. Seperti jerapah, buaya bukanlah hewan asli Jepang, namun bentuk fisik mereka dianggap sangat mirip dengan makhluk mitologi yang sudah ada dalam bayangan masyarakat masa lalu.

Tempat Menemukannya: Pilihan terbaik Anda adalah mengunjungi pameran wani di Kebun Binatang Tokyo setelah selesai melihat kirin.
Dokyo osamushi (ドウキョウオサムシ)
Legenda: Biksu Buddha abad ke-8 yang beralih menjadi politisi bernama Dokyo sangat terkenal karena berbagai hal: kenaikan kekuasaannya berkat dukungan Permaisuri Koken, rumor hubungan asmara mereka, upayanya merebut takhta, hingga pembuangannya oleh pihak istana—serta ukuran alat vitalnya yang legendaris. Dalam sebuah kisah sejarah, Pangeran Shotoku dan Dokyo dikabarkan pernah terlibat dalam “kontes falus” untuk membuktikan siapa yang lebih layak “melayani” Permaisuri Koken, di mana Dokyo keluar sebagai pemenangnya.

Legenda Nyata: Meskipun Dokyo dan kisahnya telah berlalu lama, legenda tersebut tetap hidup melalui subspesies kumbang yang dinamai menurut namanya: Dokyo osamushi, atau kumbang tanah Dokyo. Apa persamaannya dengan sang biksu? Rupanya, kedua makhluk ini sama-sama memiliki bagian tubuh tertentu yang berukuran luar biasa. Organ endofallus kumbang Dokyo osamushi memiliki panjang sepertiga dari keseluruhan tubuhnya.

Tempat Menemukannya: Kumbang ini banyak ditemukan di Prefektur Nara, tempat pemerintahan kekaisaran Jepang berpusat pada masa hidup Dokyo. Perhatikan tanah dengan teliti dan cari di bawah bebatuan, terutama jika Anda mendaki Gunung Kongou yang menjadi habitat favorit serangga ini.
Heike-gani 平家蟹

Lukisan kejatuhan Klan Heike karya seniman ukiyo-e Utagawa Kuniyoshi.
Legenda: Selama Perang Genpei pada tahun 1180-1185, Klan Taira (Heike) dan Klan Minamoto (Genji) bertempur sengit demi menguasai Jepang. Dalam pertempuran laut yang menentukan di Dan-no-ura, pasukan Minamoto menghancurkan perlawanan Taira sepenuhnya. Selain korban yang gugur di medan perang, banyak anggota klan yang memilih bunuh diri bersama Kaisar Anak Antoku dan neneknya. Ke manakah arwah para samurai yang tenggelam di laut tersebut pergi?

Legenda Nyata: Jawabannya ada pada kepiting Heike-gani. Dengan pola cangkang yang menyerupai wajah prajurit Taira yang penuh dendam, tidak heran jika penduduk setempat percaya bahwa kepiting ini adalah penjelmaan arwah para prajurit yang gugur.

Tempat Menemukannya: Jika berjiwa petualang, Anda bisa mencari mereka di habitat aslinya di Laut Pedalaman Jepang. Namun, jika ingin lebih mudah, Anda bisa mencarinya di pasar-pasar tradisional di kawasan pesisir.
Pencarian yang Berlanjut

Dari kirin hingga heike-gani, makhluk-makhluk ini adalah wujud nyata dari sejarah dan budaya. Meskipun tidak memiliki kekuatan supernatural, nama dan penampilan fisik mereka benar-benar merepresentasikan legenda masa lalu. Mereka adalah bukti nyata bagaimana budaya dan bahasa saling berkaitan erat.
Selamat berburu!








