Home / Travel / Benarkah Jepang Negara Konservatif? Tidak Boleh Ini, Tidak Boleh Itu… Atau Sebenarnya Bisa?

Benarkah Jepang Negara Konservatif? Tidak Boleh Ini, Tidak Boleh Itu… Atau Sebenarnya Bisa?

header 640x 7

Label Jepang sebagai negara yang “konservatif” sudah sering terdengar dan tampak wajar di permukaan. Negara ini memang menampilkan banyak sisi tradisional pada pandangan pertama. Namun, seiring waktu, muncul pertanyaan mendasar: apakah kata “konservatif” benar-benar merangkum realitas Jepang secara akurat?

Untuk menilainya secara objektif, definisi konservatisme perlu disepakati terlebih dahulu. Dalam konteks ini, konservatif merujuk pada pengutamaan kelompok di atas individu, keengganan terhadap perubahan, serta upaya mempertahankan norma sosial dan seksual yang mapan.

Sisi Politik

japanese political campaign van
Truk kampanye pemilu dari Partai Demokrat Liberal yang konservatif dan mendominasi
Source: Joe Jones

Dunia politik Jepang memperlihatkan warna konservatif yang cukup pekat. Hal ini tercermin dari langkanya pergantian kekuasaan. Sejak tahun 1955, Jepang hanya mengalami empat kali pergantian partai utama yang memimpin, bahkan tidak ada perubahan partai penguasa sama sekali antara rentang tahun 1955 hingga 1993.

Partai yang memegang dominasi politik, yaitu Liberal Democratic Party (LDP), dikenal memiliki haluan konservatif. Sebagai contoh, sementara partai politik lain mendukung pengakuan hukum bagi pasangan sesama jenis, LDP secara tegas menolaknya. Di samping itu, partai ini kerap menunjukkan kecenderungan nasionalis melalui upaya revisi klausul perdamaian dalam konstitusi serta kunjungan ke Kuil Yasukuni.

Kendati demikian, pandangan tersebut perlu diberi catatan. Secara ekonomi, LDP justru sangat mengandalkan proteksionisme serta distribusi kekayaan dari perkotaan ke wilayah pedesaan, yang tentu bukan ciri kebijakan ekonomi konservatif pada umumnya.

Sisi Sosial

taiko drumming
Konservatif atau tidak, itulah pertanyaannya
Source: May S. Young

Dinamika sosial di Jepang menunjukkan gambaran yang beragam. Jika dibandingkan dengan negara-negara lain di Asia Timur, Jepang justru tergolong lebih liberal dalam beberapa aspek.

Berdasarkan laporan lembaga riset global, Jepang merupakan salah satu negara dengan persentase tertinggi yang memandang aborsi sebagai hal yang dapat diterima. Masyarakatnya juga memiliki tingkat penerimaan yang relatif tinggi terhadap perceraian, penggunaan kontrasepsi, serta hubungan sesama jenis jika dibandingkan dengan kawasan Asia lainnya.

Menariknya lagi, Jepang mencatat proporsi paling sedikit penduduk yang menganggap konsumsi alkohol sebagai perbuatan amoral.

Sisi Seksualitas

entrance to kabukicho
Pintu masuk Kabukicho, kawasan hiburan malam paling terkenal di Jepang
Source: alcyone.ath.cx

Membicarakan aspek seksual di Jepang seringkali terjebak pada citra sensasional. Namun, satu hal yang pasti adalah komersialisasi seks di negara ini telah merasuk ke dalam ruang publik hingga tingkat yang jarang ditemukan di masyarakat lain.

Industri pornografi yang terpampang di samping majalah shonen-jump di toko swalayan hanyalah salah satu contoh. Komersialisasi ini hadir secara kasat mata dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai ilustrasi, tidak jarang perusahaan tradisional mengadakan pesta minum atau nomikai selepas bekerja di tempat hiburan malam. Televisi di hotel kapsul kerap menyediakan saluran khusus dewasa, sementara kawasan Kabukicho di Shinjuku menunjukkan betapa normalisasi industri malam telah menjadi bagian dari lanskap perkotaan.

Bagi pengamat luar, kondisi ini seringkali mengejutkan. Meski sebagian pihak menilai praktik tersebut eksploitatif terhadap perempuan, komersialisasi di balik industri hiburan malam ini sudah mendarah daging dalam struktur sosial masyarakat setempat.

Seks dan Gender

Japanese maid
Source: OiMax

Tingginya kebebasan dalam ranah komersial tidak serta-merta mencerminkan keterbukaan dalam percakapan sehari-hari. Topik mengenai kehidupan pribadi kerap dihindari dalam obrolan sopan.

Selain itu, standar ganda berlaku antara gender. Seksualitas pria cenderung dimaklumi—seperti kunjungan pegawai kantoran ke tempat hiburan malam yang dianggap biasa—sementara wanita yang melakukan hal serupa akan menghadapi stigma sosial yang lebih berat.

Ketimpangan peran gender di Jepang tampak nyata dalam berbagai sektor berikut:

  • Politik – Panggung politik masih didominasi oleh laki-laki. Hanya sebagian kecil kursi di parlemen diisi oleh perempuan, menempatkan Jepang jauh di bawah rata-rata global dalam keterwakilan gender di pemerintahan.

  • Pendidikan – Kesenjangan terlihat jelas di tingkat pendidikan tinggi. Rasio mahasiswa dan mahasiswi di universitas bergengsi masih sangat timpang, di mana jumlah pelajar laki-laki jauh melampaui perempuan, dan lebih sedikit mahasiswi yang mengambil masa studi penuh empat tahun.

  • Pekerjaan – Lingkungan kerja korporat di Jepang masih menyimpan jurang pemisah yang lebar terkait kesetaraan upah dan kondisi kerja bagi tenaga kerja perempuan.

  • Masyarakat – Dalam acara jamuan formal perusahaan, perempuan sering kali diharapkan untuk bersiap melayani dan menuangkan minuman ke gelas rekan kerja pria, yang mengindikasikan adanya ekspektasi peran subordinat.

Dengan Kata Lain…

kenrouken garden
Source: Tomoo Ichigami

Label “konservatif” mungkin kurang tepat untuk mendefinisikan Jepang secara keseluruhan. Istilah yang lebih mendekati kenyataan adalah “resisten terhadap perubahan”, mengingat laju transformasi sosial di sana sering kali berjalan lambat.

Hal ini mungkin mengejutkan bagi pihak yang memandang Jepang sebagai negara adidaya teknologi dengan robot canggih. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa banyak institusi masih mengandalkan dokumen kertas dan mesin faksimile dalam urusan administratif sehari-hari.

Beberapa faktor utama yang memicu keengganan terhadap perubahan ini meliputi:

  • Keengganan Mengambil Risiko – Masyarakat Jepang cenderung menghindari risiko. Sikap ini terlihat dari rendahnya angka kewirausahaan, sedikitnya warga yang bepergian ke luar negeri, hingga kecenderungan memilih keamanan politik dengan mendukung partai berkuasa yang sama secara turun-temurun.

  • Hierarki – Struktur sosial yang berpijak pada senioritas dan usia membuat proses pengambilan keputusan terkonsentrasi pada kelompok yang cenderung mempertahankan status quo.

  • Konsensus – Perusahaan Jepang membutuhkan waktu lebih lama untuk mengambil keputusan karena budaya membangun kesepakatan bersama agar semua pihak sepemikiran. Meskipun berdampak positif pada keharmonisan, proses ini memperlambat reformasi radikal.

Ya dan Tidak

Osaka castle
Source: D. Julien

Penilaian apakah Jepang layak disebut konservatif sangat bergantung pada sudut pandang definisi yang digunakan serta pembandingnya. Meskipun memiliki aturan sosial yang kaku di beberapa bidang, Jepang tidak bisa serta-merta dicap sebagai negara yang ekstrem dalam hal konservatisme.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *