Mengenang Dua Legenda Sinema Jepang
Dunia perfilman Jepang berduka pada tahun 2014 dengan kepergian dua bintang besar yang telah menorehkan sejarah panjang, yaitu Ken Takakura dan Bunta Sugawara. Meskipun usia mereka tidak terpaut jauh, keduanya merepresentasikan era yang saling berlawanan dalam genre film yakuza. Karakter yakuza yang menjunjung tinggi kehormatan ala Ken Takakura pada dekade 1960-an perlahan bergeser menjadi sosok kriminal yang kejam dan tanpa kompromi lewat penampilan Bunta Sugawara di era 1970-an. Wafatnya kedua aktor ini dalam waktu yang berdekatan seolah menjadi penanda akhir dari sebuah babak penting dalam sinema Jepang.
Meski demikian, mereduksi warisan seni mereka hanya sebatas film yakuza tentu merupakan sebuah kekeliruan. Seiring meredupnya tren film bertema gangster, baik Takakura maupun Sugawara membuktikan fleksibilitas akting mereka melalui berbagai genre lain. Ken Takakura sempat merambah dunia drama emosional hingga menjajal industri perfilman Hollywood, sementara Bunta Sugawara tetap mempertahankan imej jantannya dengan membintangi serial komedi Trucker Yarou. Keduanya terus aktif berkarya hingga usia senja, membintangi film-film drama menyentuh seperti Dearest yang dibintangi Ken Takakura dan My Grandpa dari Bunta Sugawara.
Mari menengok kembali perjalanan karier luar biasa dari dua aktor lintas genre ini. Memilih beberapa judul dari ratusan film yang pernah mereka bintangi tentu bukan perkara mudah, namun rekomendasi berikut merangkum berbagai karya terbaik yang membentang sepanjang perjalanan karier mereka.
Ken Takakura

Lulusan Meiji University ini awalnya sedang mengurus lamaran kerja kantoran di perusahaan film Toei, Tokyo, ketika ia secara spontan memutuskan ikut dalam sebuah audisi di lokasi syuting. Tak lama berselang, Ken Takakura melakukan debut aktingnya lewat Denko Karate Uchi pada tahun 1957 dan terus memproduksi ratusan film bersama Toei Studios.
Dikenal sebagai sosok yang tenang, penuh wibawa, dan tegas, Takakura sering kali memerankan karakter pahlawan yang memiliki prinsip keadilan yang kuat. Bahkan ketika memerankan seorang penjahat pun, ia tetap mampu memancarkan kharisma dan martabat lewat tatapan matanya saja. Karakter-karakter yang ia bawakan tidak selalu sempurna, yang justru membuat penonton lebih mudah simPATI dan terhubung dengan perjuangan mereka di layar.
Kemampuan akting yang mumpuni serta kemampuan berbahasa Inggris mengantarkan Takakura mendapatkan peran dalam produksi film internasional. Ia memulai debutnya di dunia barat melalui film Perang Dunia II berjudul Too Late the Hero dan berlanjut ke beberapa judul film Hollywood lainnya.
Peran-peran kuat yang ia bawakan juga memiliki makna khusus di Tiongkok. Film hitnya tahun 1976 berjudul Manhunt tercatat sebagai salah satu film Jepang pertama yang diputar di Tiongkok pasca Revolusi Kebudayaan. Keterlibatannya dalam film arahan sutradara Zhang Yimou berjudul Riding Alone for Thousands of Miles semakin memperkokoh posisinya sebagai jembatan budaya antarnegara.
Abashiri Prison (Abashiri Bangaichi – 1965)
Film ini mengajak penonton mengunjungi penjara legendaris Hokkaido di Jepang, sebuah fasilitas tahanan yang reputasinya mirip dengan penjara Alcatraz di Amerika Serikat. Penonton disuguhi dinamika ketika narapidana lain mencoba mengajak karakter baik yang diperankan Takakura untuk bergabung dalam rencana pelarian diri.
Latar lanskap bersalju di Hokkaido memperkuat nuansa hitam-putih yang mendalam dalam petualangan di penjara ini. Abashiri Prison memadukan persona bermartabat khas Takakura dengan jajaran pemeran pendukung yang solid serta alur cerita yang memikat.
Demon Yasha (Yasha – 1985)
Dalam film yang menjadi salah satu favorit ini, Ken Takakura memerankan seorang mantan yakuza yang meninggalkan dunia hitam untuk memulai lembaran baru sebagai seorang nelayan, kepala keluarga, dan anggota masyarakat yang dihormati di sebuah desa di Hokkaido.
Ketenangan hidupnya mulaiik diuji ketika seorang pemuda pengedar narkoba yang diperankan oleh Takeshi Kitano datang bersama kekasihnya. Dihadapkan pada godaan masa lalu, karakter Yasha menjelma menjadi salah satu tokoh paling kompleks dan sarat pergulatan batin sepanjang karier Takakura.
Black Rain (1989)
Kisah pertemuan budaya Timur dan Barat tersaji dalam film drama kriminal kepolisian yang disutradarai oleh Ridley Scott, sineas di balik film Blade Runner. Dua detektif asal Amerika yang diperankan oleh Michael Douglas dan Andy Garcia terpaksa harus beroperasi di Osaka demi memburu seorang yakuza berbahaya bernama Sato.
Mereka harus bekerja sama dengan seorang detektif kepolisian Jepang yang diperankan oleh Ken Takakura, yang terjepit di antara aturan protokoler kepolisian dan niat membantu rekan asingnya. Chemistry antara Michael Douglas, Andy Garcia, dan Ken Takakura menjadi salah satu daya tarik utama dari film bernuansa era delapan puluhan ini.
Mr. Baseball (1992)
Dalam komedi-drama ini, Ken Takakura beradu akting dengan Tom Selleck. Selleck memerankan seorang atlet bisbol liga utama Amerika yang mengalami kesulitan beradaptasi ketika dikirim bermain di Jepang, sementara Takakura berperan sebagai manajer tim yang tegas dan kaku.
Film ini dengan baik menggambarkan benturan budaya serta berbagai kecanggungan yang kerap dialami oleh seorang warga asing yang harus tinggal dan bekerja di lingkungan masyarakat Jepang.
Dearest (Ananta e – 2012)
Film penutup dari karier panjang Takakura ini mengusung tema perjalanan emosional lintas wilayah di Jepang demi menebarkan abu jenazah mendiang istrinya di kampung halaman. Sepanjang perjalanan tersebut, ia bertemu dengan berbagai macam orang dan menikmati pemandangan alam yang indah.
Menampilkan banyak aktor populer seperti Takeshi Kitano, Koichi Sato, Tsuyoshi Kusanagi, dan Haruka Ayase, film ini terasa seperti sebuah perayaan penghormatan terakhir bagi perjalanan hidup Ken Takakura di dunia akting.
Bunta Sugawara

Dunia perfilman Bunta Sugawara dikenal jauh lebih urakan, penuh darah, dan liar jika dibandingkan dengan rekan seangkatannya. Latar belakang kehidupannya di sekitar dunia malam Tokyo sebelum terjun ke dunia akting memberikan warna otentik pada setiap peran gangster jalanan yang ia mainkan.
Deretan karya Sugawara berhasil membawa genre film yakuza melangkah ke arah yang sama sekali baru. Jika penonton cenderung mengagumi karakter Takakura, penonton justru merasakan ketegangan mentah dari aksi-aksi Sugawara di layar lebar. Selain serial ikonik Battles Without Honor and Humanity, ia juga sukses memerankan berbagai karakter mulai dari petinju, sopir truk, hingga seorang inspektur polisi.
Battles Without Honor and Humanity (Jingi Naki Tatakai – 1973)

Diiringi musik tema yang menghentak, film garapan sutradara Kinji Fukasaku ini mendobrak seluruh konvensi film yakuza konvensional. Mengambil latar belakang kekacauan dunia kriminal di Hiroshima pasca Perang Dunia II, penggunaan teknik kamera genggam serta adegan kekerasan yang blak-blakan memberikan nyawa tersendiri pada film ini.
Bunta Sugawara tampil sebagai pemeran utama bernama Shozo Hirono, seorang mantan tentara yang terjun ke dunia kriminal dan terseret dalam pusaran konflik antar keluarga yakuza. Dianggap sebagai salah satu mahakarya sinema Jepang, film ini wajib disaksikan oleh para pencinta film klasik.
Truck Guys (Torakku Yarō – 1975)
Buktinya bahwa Sugawara tidak hanya terpaku pada genre yakuza dapat dilihat melalui keterlibatannya dalam serial komedi Truck Guys. Memerankan seorang sopir truk berandalan namun berhati lembut, Sugawara berhasil memikat penonton lewat berbagai adegan konyol, perkelahian bar, hingga aksi karaoke radio CB.
The Boxer (Bokusa – 1977)
Dalam film ini, Sugawara memerankan seorang mantan juara tinju yang secara misterius meninggalkan dunia olahraga pada puncak kariernya. Ketika seorang petinju muda yang antusias datang meminta bimbingan, ia akhirnya setuju untuk melatih pemuda tersebut dan menemukan kembali secercah harapan dalam hidupnya.
The Man Who Soke the Sun (Taiyou wo Nusunda Okoto – 1979)
Bunta Sugawara mengambil peran di sisi penegak hukum sebagai Inspektur Polisi Yamashita. Alur cerita berfokus pada aksi kejar-kejaran kucing-kucingan antara pihak kepolisian dengan seorang teroris cerdas yang berhasil merakit bom atom sendiri demi mencerkam kota Tokyo.
Film berdurasi penuh energi ini tidak hanya menyuguhkan ketegangan visual, tetapi juga diiringi oleh gubahan musik latar yang sangat berkesan hingga melahirkan pengaruh bagi berbagai karya populer setelahnya.
My Grandpa (Watashi no Guranpa – 2003)
Menjelang fase akhir kariernya, Sugawara kembali mengenakan jubah karakter yakuza lewat film My Grandpa. Alih-alih menikmati masa tua yang tenang, karakternya keluar dari penjara demi menuntaskan urusan masa lalu, mulai dari menghadapi kelompok saingan hingga merajut kembali hubungan dengan cucu perempuannya yang selama ini terasing.
Bonus Sinematik
International Gangs of Kobe (Kobe Kokusai Gang – 1975)

Bayangkan jika Ken Takakura dan Bunta Sugawara dipersatukan dalam satu layar sebagai anggota aliansi geng yakuza yang kemudian harus saling berhadapan akibat konflik internal. Kolaborasi dua raksasa perfilman ini menyajikan tontonan aksi penuh energi yang sarat hiburan.
Antarctica (Nankyoku Monogatari – 1983)
Film yang menjadi inspirasi dasar bagi film Hollywood Eight Below ini menampilkan perjuangan bertahan hidup di benua Antartika, meskipun porsi terbesar dari film ini sebenarnya lebih banyak menyoroti aksi sekumpulan anjing penarik kereta salju yang ditinggalkan.
Spirited Away (Sen to Chihiro no Kamikakushi – 2001)

Meskipun namanya kurang begitu familier di dunia barat dalam hal penampilan fisik, suara Bunta Sugawara sebenarnya sangat dikenal oleh para penikmat animasi Ghibli. Ia menyumbangkan suara khasnya untuk menghidupkan karakter Kamaji, sang operator ruang ketel bertangan banyak dalam mahakarya Hayao Miyazaki tersebut.
Warisan yang Terus Hidup
Ken Takakura dan Bunta Sugawara adalah sedikit dari sedikit perintis sejati industri perfilman domestik Jepang yang berhasil melampaui batasan tipe peran mereka. Pengaruh keduanya masih sangat terasa hingga hari ini; jejak langkah Bunta Sugawara membuka jalan bagi lahirnya film-film gangster modern yang provokatif, sementara Ken Takakura menjadi cetak biru bagi aktor Jepang yang ingin menembus panggung internasional. Menyaksikan karya-karya mereka adalah cara terbaik untuk menghargai lembaran sejarah penting dari sinema Jepang.








