Home / Travel / Halloween di Jepang: Saat Jepang Mengubahnya Jadi Tradisi Sendiri… Lalu Merusaknya untuk Semua Orang

Halloween di Jepang: Saat Jepang Mengubahnya Jadi Tradisi Sendiri… Lalu Merusaknya untuk Semua Orang

header 640x 12

Perayaan Halloween di Jepang telah usai, namun menyisakan pekerjaan rumah yang cukup besar terkait kebersihan dan ketertiban. Setiap tahun, gelombang penolakan dan kritik terhadap perayaan ini di Jepang semakin meningkat. Padahal, satu dekade lalu, protes yang muncul biasanya hanya seputar warga asing yang mengenakan kostum dan naik kereta. Kini, cakupannya jauh lebih luas karena Halloween telah bertransformasi menjadi salah satu hari libur dewasa terbesar di negara tersebut dalam waktu yang relatif singkat.

Di Tokyo, kostum-kostum mulai terlihat sejak akhir pekan pertama bulan Oktober. Pesta Halloween marak diadakan setiap akhir pekan, sementara klub, bar, dan pusat perbelanjaan gencar mendorong perayaan ini demi keuntungan komersial. Fenomena ini mirip dengan bagaimana hari raya Barat lainnya, seperti Hari Kasih Sayang dan Natal, diadopsi di Jepang. Perusahaan melihat peluang besar untuk meraup keuntungan, lalu menggerakkan mesin pemasaran mereka.

Meskipun versi Jepang dari hari-hari raya tersebut tidak sama persis dengan aslinya—seperti tradisi kencan mahal saat malam Natal—ada beberapa pola yang selalu berulang:

  1. Banyak perusahaan mendulang keuntungan berlimpah.
  2. Perusahaan-perusahaan ini mendorong masyarakat untuk menghabiskan uang demi mengikuti tren yang dianggap sebagai keharusan.
  3. Pada akhirnya, hal tersebut menjadi norma budaya yang menguntungkan para pemegang modal.

Halloween tampaknya telah mencapai titik tersebut. Perayaan ini dipasarkan sebagai momen bagi orang dewasa untuk bersenang-senang secara bebas. Bagi industri hiburan malam, ini adalah musim panen terbesar. Tahun-tahun belakangan mencatatkan perayaan yang paling liar, dan tren ini tampaknya belum akan mereda meski gelombang kritik mulai bermunculan.

Halloween: Ajang Cosplay Raksasa?

Tradisi keliling mencari permen atau trick-or-treating tidak pernah benar-benar populer di Jepang. Sebagai gantinya, masyarakat lebih fokus pada kostum, yang sangat sebut cocok dengan budaya lokal. Halloween telah berubah menjadi ajang cosplay raksasa bagi orang dewasa, mengingat reputasi Jepang sebagai pusat budaya cosplay.

[[MEDIA_0]]

Shibuya menjadi pusat keramaian utama bagi mereka yang ingin mengenakan kostum. Ribuan orang tumpah ruah ke jalan-jalan, hingga pihak kepolisian harus mengerahkan ratusan personel untuk menjaga keamanan. Bagi sebagian orang, mengenakan pakaian biasa di tengah lautan kostum justru membuat mereka merasa asing dan tidak nyaman.

Kualitas kostum yang ditampilkan juga tidak main-main, membuat perayaan di Jepang seringkali dianggap lebih meriah dibandingkan negara-negara Barat.

[[MEDIA_1]]

[[MEDIA_2]]

Menolak Keresahan: Protes Terhadap Dampak Halloween

tokyo bathroom and streets filled with trash after halloween
Source: @A_Lvl7

Di balik kemeriahan kostum, perayaan ini juga membawa dampak negatif berupa perilaku tidak bertanggung jawab dan tindakan vandalisme. Tidak sedikit warga yang menyerukan agar perayaan ini dihentikan karena dinilai sudah kebablasan. Suasana Tokyo setelah malam perayaan sering kali dipenuhi tumpukan sampah, mulai dari bungkus makanan, kaleng minuman, hingga kostum bekas dan noda darah palsu di berbagai fasilitas umum.

japanese streets covered in trash after halloween
Source: @A_Lvl7

Seorang pengguna Twitter membagikan pengalamannya ketika menemukan noda darah di wastafel toilet umum di Shibuya. Ketika ia berinisiatif membersihkannya seorang diri, beberapa orang justru datang menyerahkan kostum berlumuran darah milik mereka dan meminta tolong untuk dibersihkan juga, dengan alasan bahwa hari itu adalah Halloween. Sikap acuh tak acuh seperti ini memicu keprihatinan publik.

Aksi Bersih-Bersih oleh Relawan

group of japanese people that volunteered to clean up halloween trash
Source: Shibuya_akkun

Sebagai respons atas kekacauan tersebut, kelompok relawan turun tangan membersihkan jalanan kota, mengingatkan pada citra positif suporter Jepang yang kerap membersihkan stadion usai pertandingan Piala Dunia. Melalui media sosial, para relawan membagikan dokumentasi kegiatan bersih-bersih ini untuk menyadarkan para pelaku vandalisme akan pentingnya rasa malu dan tanggung jawab sosial.

japanese tweet about halloween cleanup in tokyo
Source: Shibuya_akkun

Menikmati Halloween tentu boleh-boleh saja, tetapi ada aturan dasar yang harus dipatuhi. Jangan meninggalkan Shibuya dalam keadaan kotor. Buanglah sampah pada tempatnya. Bahkan anak TK pun tahu hal itu. Apakah boleh melakukan apa saja demi bersenang-senang? Anak-anak muda di Shibuya kini harus membersihkan sisa-sisa dari malam perayaan orang lain.

tokyo halloween volunteer cleanup tweet
Source: su___77

Kami membersihkan sampah di Shibuya. Saya tidak menyangka orang-orang begitu ceroboh saat bersenang-senang tanpa peduli mengotori tempat umum. Masih ada beberapa orang berkostum di jalanan pagi-pagi, dan saya berharap mereka merasa malu melihat kami membersihkan jalanan ini.

Meskipun sebagian besar memuji aksi relawan ini, ada pula segelintir warganet yang melontarkan kritik dan menuding para relawan tersebut mencari perhatian atau bersikap munafik demi pencitraan di media sosial. Perdebatan ini sempat memicu kontroversi hangat di dunia maya.

Halloween dan Kelompok Yakuza

Perayaan Halloween ternyata juga merambah dunia kelompok kriminal terorganisir, Yakuza. Kantor pusat Yamaguchi-gumi, sindikat kejahatan terbesar di Jepang, dilaporkan membagikan kantong permen berwarna merah muda kepada anak-anak sekolah dasar yang datang berkunjung. Para anggota Yakuza berdiri di pintu masuk markas untuk membagikan permen secara gratis kepada anak-anak yang tidak merasa takut.

kids trick or treating with the yakuza in japan
Source: Tomohiko Suzuki

Reaksi warganet di internet pun beragam, mulai dari komentar bernada humor mengenai kemampuan Yakuza beradaptasi dengan tren zaman, hingga kritik terhadap orang tua yang mengajak anak-anak mereka mendekati markas kelompok tersebut.

Aksi sosial seperti ini bukanlah hal baru bagi Yakuza. Mereka kerap melakukan kegiatan amal di tengah masyarakat, seperti membagikan amplop uang tunai saat tradisi Tahun Baru atau memberikan bantuan logistik dan tempat pengungsian pascabencana alam besar seperti gempa bumi Kobe pada tahun 1995 dan gempa Tohoku pada tahun 2011. Sebagian masyarakat menganggap tindakan ini sebagai bentuk kepedulian, sementara yang lain melihatnya sebagai strategi pencitraan publik.

Masa Depan Halloween di Jepang

Halloween di Jepang diprediksi akan terus berkembang dan menjadi semakin meriah dalam beberapa tahun ke depan, seiring dengan meningkatnya suara-suara penolakan dari warga yang terganggu. Tantangan ke depan adalah menemukan titik temu antara kebebasan untuk merayakan dan kewajiban untuk menjaga ketertiban serta kenyamanan bersama.

Jika tradisi berbagi permen dan pelibatan anak-anak lebih dikedepankan, dikhawatirkan sisi negatif berupa pesta pora dan perilaku mabuk-mabukan dapat diredam. Yang jelas, bentuk perayaan ini masih akan terus beradaptasi dengan pengaruh budaya massa dan korporasi di masa mendatang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *