Home / Travel / Keberagaman Etnis di Jepang Selain Istilah Gaijin

Keberagaman Etnis di Jepang Selain Istilah Gaijin

header 640x 12

Dia Bukan Orang Asing!

Japanese classroom
Sumber: Dylan Raife

Sering kali orang lupa bahwa penampilan luar yang tidak biasa tidak serta-merta menjadikan seseorang sebagai pendatang baru atau warga negara asing. Sebagian individu lahir dari orang tua dengan latar belakang kebudayaan yang beragam, sehingga mereka tumbuh di persimpangan berbagai tradisi. Walaupun Jepang bukanlah tanah air saya, saya kerap disangka sebagai keturunan berdarah campuran di sini. Situasi tersebut biasanya lebih terasa lucu daripada menyinggung bagi diri saya pribadi, namun bagi anak-anak muda yang lahir dan besar di Jepang dengan fisik yang tampak berbeda, dinamika sosial ini bisa menjadi tantangan tersendiri.

Sebagai seorang pengajar, hari pertama semester baru selalu menuntut sesi perkenalan diri. Di tengah-tengah pemaparan saya mengenai berbagai tempat dan pengalaman hidup sebelum tinggal di Jepang, perhatian saya kerap teralih pada suatu kehebohan kecil di antara para murid. Ketika suasana kelas mulai terang dan sesi tanya jawab dibuka, terlihat jelas para siswa sedang memperhatikan seorang siswi berdarah campuran Kaukasia dan Jepang. Sebagai seseorang yang memahami posisi serupa di masa lalu, saya memilih untuk melanjutkan pelajaran seperti biasa agar siswi tersebut tidak merasa canggung atau menjadi pusat perhatian yang tidak diinginkan. Ia sendiri tidak pernah mengangkat tangan atau mencari perhatian khusus, bahkan mengisi kartu perkenalan layaknya anak-anak lokal pada umumnya.

Di luar situasi kelas formal, interaksi dengan anak-anak berdarah campuran sering kali menyisakan keunikan tersendiri. Ada kalanya batasan antara warga lokal dan pendatang menjadi begitu tipis, di mana ketegangan tak diucapkan muncul ketika orang-orang di sekitar menyadari identitas ganda tersebut tanpa perlu memperbesarnya secara berlebihan.

Pendatang Asia atau “Oh, Jadi Kamu Bukan Orang Jepang?”

a Chinatown in Japan
Sumber: camknows

Masyarakat lokal di Jepang sering kali kesulitan membedakan antara warga negara mereka sendiri dengan pendatang asal Asia lainnya sampai mereka mendengar aksen bicara, dan terkadang bahkan aksen pun masih mengecoh. Sebagai ilustrasi, ketika saya mengunjungi sebuah restoran Tionghoa bersama beberapa rekan lokal, mereka sempat tidak percaya bahwa pelayan di sana adalah warga Tiongkok asli sampai kami menanyakannya secara langsung. Sebaliknya, ketika rekan Jepang saya berkunjung ke Korea, penduduk setempat kerap menyapanya dalam bahasa Jepang karena mengira ia adalah turis lokal, memperlihatkan bagaimana persepsi tentang kemiripan fisik sering kali meleset dari kenyataan.

Dalam pandangan umum masyarakat Jepang, warga Korea sering kali mendapat penerimaan yang relatif positif, terutama di kalangan generasi muda yang menggemari budaya pop Korea seperti drama dan musik. Meskipun demikian, mereka yang berlatar belakang Korea-Jepang tetap kerap diperlakukan sebagai pihak luar. Di sisi lain, komunitas Tionghoa kerap menghadapi berbagai stereotip yang kurang menyenangkan, mulai dari anggapan bersuara terlalu keras hingga dianggap kurang memerhatikan situasi sekitar. Perbedaan bahasa yang tidak dipahami oleh kebanyakan warga lokal—mengingat bahasa Mandarin atau Kanton tidak semembumi bahasa Inggris—sering kali memperkuat kesalahpahaman tersebut.

Sementara itu, pengalaman para pendatang dari Asia Tenggara seperti Vietnam juga menghadirkan warna tersendiri. Perbedaan gaya berpakaian, pilihan busana yang lebih kasual, hingga kebiasaan menggunakan bahasa ibu saat berkomunikasi di ruang publik kerap memancing rasa penasaran sekaligus tatapan penuh tanda tanya dari warga setempat yang terbiasa dengan keseragaman sosial.

Orang Eropa yang Bukan “Kulit Putih”

caucasian sumo wrestler amidst crowd
Sumber: camknows

Persoalan identitas juga sering dialami oleh para pendatang asal Eropa. Di mata kebanyakan warga Jepang, setiap orang asing berkulit putih hampir selalu diasosiasikan sebagai warga Amerika, Inggris, Australia, atau Kanada. Orang-orang dari Jerman, Prancis, Spanyol, atau Portugal sering kali harus menghadapi asumsi keliru mengenai kewarganegaraan atau kemampuan berbahasa Inggris mereka.

Situasi ini kerap menghadirkan dilema tersendiri bagi para tenaga pengajar asal Eropa non-imperium Inggris yang kadang kala dipertanyakan keaslian aksen bahasa Inggrisnya. Di luar lingkungan profesional, masyarakat setempat biasanya menunjukkan rasa ingin tahu yang besar terhadap asal-usul daerah, kuliner khas, hingga resep masakan tradisional dari negara asal para pendatang Eropa tersebut.

Keberagaman Identitas Lainnya

two chefs seen through window of Indian restaurant
Sumber: Yuichi Sakuraba

Kelompok demografis lainnya, seperti komunitas Muslim atau pendatang dari Asia Selatan, menghadapi tantangan yang tidak kalah unik, terutama berkaitan dengan pantangan makanan dan budaya sehari-hari. Batasan ketat terkait bahan makanan seperti produk olahan babi atau alkohol sering kali tidak disadari oleh masyarakat Jepang yang sangat menjunjung tinggi kebersamaan melalui tradisi kuliner. Hal ini membuat proses beradaptasi memerlukan penyesuaian yang cukup tinggi dari kedua belah pihak.

Begitu pula dengan para pemilik restoran asal India atau Nepal yang sering kali menjadi tempat persinggahan favorit bagi mereka yang ingin menikmati kehangatan interaksi sosial sambil bertukar sapa dalam bahasa Inggris. Meskipun stereotip dan kesalahpahaman mengenai asal-usul ras atau negara masih kerap ditemui dalam kehidupan sehari-hari di Jepang, pendekatan yang santai dengan senyuman serta keterbukaan untuk saling mengedukasi sering kali menjadi kunci terbaik dalam menjembatani perbedaan budaya yang ada.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *