Fenomena truk dekoratif asal Jepang yang dikenal sebagai dekotora telah mencuri perhatian sejak akhir 1960-an. Mulanya, seni modifikasi truk ini hanya dapat ditemukan di wilayah utara Jepang. Namun, popularitasnya meroket secara nasional berkat peluncuran film Torakku Yarō pada tahun 1975 oleh Toei, perusahaan yang juga memproduksi seri Kamen Rider, beserta sekuel-sekuelnya.

Ciri khas dari truk-truk ini meliputi penggunaan baja tahan karat dan krom dalam jumlah besar, lampu neon berkilau terang, berbagai pipa tambahan, serta bumper raksasa. Gaya seni pada setiap truk umumnya dikategorikan menjadi beberapa tema, yaitu Gundam, retro, kanto, dan kansai. Kemewahan tersebut tidak hanya tampak pada bagian luar, tetapi juga di dalam kabin pengemudi.

Para pengemudi truk menganggap kendaraan ini sebagai tempat tinggal utama mereka karena sebagian besar waktu dihabiskan di jalan. Oleh karena itu, mereka tidak ragu menggelontorkan biaya hingga puluhan ribu dolar demi memodifikasi kendaraan kesayangan mereka.
Sistem pencahayaan yang digunakan dirancang secara rumit melalui proses rekayasa dan teknologi tinggi, bukan sekadar pemasangan lampu biasa. Sebagian besar lukisan di badan truk merupakan karya dari seorang seniman otodidak bernama Tatsuaki Matsumoto. Lukisan-lukisan tersebut menampilkan berbagai subjek, mulai dari tribut untuk film truk, dewa-dewa untuk memohon keberuntungan, hingga karakter manga dan selebritas.

Berikut adalah beberapa potret truk dekotora dengan modifikasi yang mencolok:





Dekochari, Versi Mini untuk Anak-Anak
Kegemaran terhadap modifikasi ekstrem ini tidak hanya dimonopoli oleh orang dewasa. Anak-anak yang belum cukup umur untuk mengemudikan truk besar turut meramaikan tren ini dengan cara menerapkan gaya serupa pada sepeda mereka, yang kemudian dikenal sebagai dekochari.


Di berbagai wilayah di Jepang, bahkan terbentuk kelompok pengendara sepeda dekochari di kalangan anak muda yang menampilkan kreativitas tinggi pada kendaraan roda dua mereka.







