Menjelang kepindahan Anda untuk mengikuti program JET, riset mendalam mengenai kehidupan di luar negeri adalah hal yang wajar dilakukan. Memulai babak baru di tempat asing membutuhkan banyak persiapan, termasuk memahami istilah yang sering kali dianggap menakutkan: gegar budaya atau culture shock.
Anda mungkin sering mendengar bahwa kondisi ini tidak dapat dihindari dan sangat tidak menyenangkan. Mari kita bedah faktanya:
- Kondisi ini memang tidak bisa dihindari
- Situasi ini memang tidak menyenangkan
Namun, ada hal ketiga yang perlu Anda ketahui:
- Kondisi ini dapat dikelola dan justru memberikan manfaat
Dengan mengenali bentuk gegar budaya, mempersiapkan diri sejak dini, serta mempelajari cara mengatasinya, proses beradaptasi akan terasa jauh lebih ringan. Mari kita mulai dengan memahami definisi dasarnya.
Apa Itu Gegar Budaya?

Gegar budaya sering kali digambarkan sebagai bentuk disorientasi pribadi yang muncul saat seseorang berpindah ke lingkungan kebudayaan baru. Penjelasan ini secara teknis benar, tetapi istilah “disorientasi” kerap membuat pengalaman ini terkesan seperti pusing sesaat setelah menaiki wahanaroller coaster. Padahal, gegar budaya biasanya datang secara perlahan tanpa disadari dan memudar seiring berjalannya waktu.
Secara sederhana, ini adalah bentuk stres akibat masa transisi. Hanya saja, transisi tersebut terjadi di hampir seluruh aspek kehidupan seseorang secara bersamaan.
Gejala Gegar Budaya

Mengenali gejala gegar budaya merupakan salah satu tantangan terbesar. Bahkan bagi individu yang memiliki kesadaran diri tinggi, hal ini terkadang sulit dideteksi. Beberapa tanda utamanya meliputi:
- Rasa marah
- Kebosanan
- Mudah tersinggung
- Kecemasan
- Rasa rindu rumah yang mendalam
- Serangan panik
- Hilangnya motivasi
- Menghabiskan terlalu banyak waktu untuk kegiatan pasif seperti tidur atau menonton televisi
- Hilangnya kepercayaan diri
- Perasaan tidak berdaya atau putus asa
- Hanya bergaul dengan sesama peserta JET atau ekspatriat lainnya
- Menarik diri dari lingkungan sosial
- Perilaku kompulsif
- Pikiran untuk bunuh diri
Meskipun daftar tersebut tampak mengkhawatirkan, Anda tidak perlu merasa panik. Hanya sedikit peserta JET yang akan mengalami seluruh atau separah gejala tersebut, meskipun sebagian besar memang akan merasakan beberapa gejala secara bersamaan.
Gejala ini biasanya muncul secara bertahap dan semakin intens seiring waktu. Selain itu, Anda juga akan menghadapi berbagai hambatan kultural. Kendala semacam ini sepintas terasa mirip dengan gegar budaya, namun biasanya perasaan kesal tersebut akan hilang begitu masalah utamanya terselesaikan. Inilah yang membuat gegar budaya sulit didiagnosis secara mandiri.
Dua Komponen Utama Gegar Budaya

Dr. Bruce La Brack memberikan penjelasan yang sangat baik mengenai alasan di balik kemunculan gegar budaya:
Gegar budaya timbul sebagai akibat dari akumulasi interaksi yang membingungkan dan memicu persepsi negatif yang serupa. Itulah sebabnya mengapa “kejutan” ini terasa begitu perlahan. Seseorang yang memasuki negara lain dengan membawa sikap yang oleh para antropolog disebut sebagai “realisme naif”—pandangan bahwa setiap orang melihat dunia dengan cara yang sama seperti dirinya—akan segera tersadar ketika kenyataan mulai berbicara. Jika penganut realisme naif tersebut juga memiliki keyakinan etnosentris bahwa budaya asalnya lebih unggul dan lebih baik dibanding yang lain, potensi terjadinya konflik akan meningkat drastis.
Dari penjelasan tersebut, kita bisa membagi gegar budaya menjadi dua unsur utama:
- Nilai-nilai budaya yang dimiliki oleh peserta JET, yang mereka gunakan untuk menilai setiap bentuk komunikasi.
- Nilai-nilai budaya dari negara tuan rumah yang diterapkan dalam seluruh interaksi, termasuk yang diterima oleh peserta JET.
Kita semua menggunakan nilai budaya, prasangka, sikap pribadi, dan gagasan lainnya untuk menentukan cara bereaksi dalam situasi tertentu. Di negara asal, hal ini biasanya terasa mudah karena pesan yang kita terima dari masyarakat, media, hingga lingkungan fisik cenderung sejalan dengan nilai budaya kita.
Namun sesekali, kita dihadapkan pada situasi yang bertentangan dengan prinsip kita, dan kita harus memilih cara untuk meresponsnya. Inilah yang disebut sebagai kesalahpahaman.
Pikirkan seberapa sering kesalahpahaman terjadi bahkan di antara orang-orang dari budaya yang sama. Bayangkan betapa sering hal itu terjadi di antara individu dari latar belakang budaya yang berbeda. Sedikitnya kesamaan nilai budaya membuat peluang terjadinya kesalahpahaman semakin besar.
Namun perlu disadari bahwa kesalahpahaman memiliki berbagai bentuk dan tingkat keparahan, mulai dari yang ringan hingga berat. Banyak peserta JET menghabiskan waktu bertahun-tahun di Jepang dan hanya mengalami segelintir kesalahpahaman besar. Artinya, tekanan tersebut tidak berasal dari satu malapetaka besar yang mengerikan. Situs KumamotoJET mengibaratkan fenomena ini seperti tetesan air yang terus-menerus. Peserta JET berulang kali menghadapi perbedaan budaya yang mungkin sepele namun terasa menjengkelkan atau tidak praktis. Tekanan-tekanan kecil ini menumpuk seiring waktu, yang menjelaskan mengapa gegar budaya negatif tidak langsung muncul begitu saja di awal kedatangan.
Fase-Fase Gegar Budaya

Gegar budaya umumnya dibagi ke dalam beberapa fase. Tergantung pada referensinya, pembagian ini berkisar antara tiga hingga lima tahap, di mana model empat tahap adalah yang paling sering digunakan:
- FaseBulan Madu (Honeymoon): Tahap ini dialami saat Anda pertama kali tiba di Jepang. Segala hal terasa baru dan menarik, bahkan detail-detail kecil pun tampak memesona. Mereka yang pernah berkunjung ke Jepang sebelumnya pun tetap akan merasakan antusiasme terhadap kehidupan dan pekerjaan baru mereka.
- Fase Frustrasi dan Permusuhan: Tahap inilah yang secara umum disebut sebagai “gegar budaya”, meskipun sebenarnya ini adalah titik terendah dalam siklus tersebut. Pada akhirnya, kebaruan dari hal-hal yang menyenangkan mulai memudar, menyisakan perbedaan lingkungan tanpa adanya rasa antusias. Situasi ini tidak selalu buruk, namun perbedaan tersebut menghadirkan tantangan tersendiri saat Anda mencoba beradaptasi. Proses penyesuaian ini secara alami memicu salah paham, kesalahan, hambatan, serta rasa frustrasi yang menyoroti perbedaan cara pandang antara Jepang dan negara asal Anda.
- Fase Penyesuaian: Secara perlahan, Anda mulai terbiasa dengan perbedaan yang ada di Jepang. Setelah melewati berbagai situasi sulit, Anda belajar cara menghadapinya dengan lebih baik pada kesempatan berikutnya. Hal ini membentuk kembali rutinitas harian seperti yang biasa Anda lakukan di rumah, sehingga sebagian besar gejala negatif gegar budaya mulai mereda.
- Fase Akomodasi dan/atau Bikuturalisme: Ini merupakan tahap lanjutan yang sifatnya masih diperdebatkan. Pada fase ini, Anda merasa benar-benar seperti di rumah sendiri di Jepang. Sulit untuk menentukan kapan tepatnya tahap ini tercapai karena siklus gegar budaya cenderung berulang. Istilah “bikuturalisme” mencerminkan pencapaian pribadi dalam menyeimbangkan integrasi ke dalam budaya Jepang sekaligus mempertahankan identitas asli diri sendiri.
Karena pengalaman setiap orang berbeda, sulit diprediksi kapan persisnya Anda akan memasuki fase tertentu. Banyak faktor yang memengaruhi hal ini, seperti tingkat persiapan sebelum keberangkatan, nilai pribadi, prasangka awal tentang Jepang, hingga pengalaman kurang menyenangkan yang Anda hadapi di sana.
Keempat fase ini sebenarnya membentuk sebuah siklus. Banyak orang yang telah tinggal di Jepang atau negara asing lainnya selama belasan hingga puluhan tahun melaporkan bahwa mereka masih sesekali merasakan gejala tahap kedua. Apakah dampaknya separah saat pertama kali merasakannya? Hal itu tentu bergantung pada masing-masing individu, namun umumnya tidak separah sebelumnya.
Sifat siklus dari gegar budaya ini sangat berkaitan erat dengan pengalaman menjadi pendatang. Seseorang yang tinggal di luar negeri harus mempelajari banyak hal baru untuk berintegrasi, namun di saat yang sama mereka tetap harus mempertahankan bagian dari identitas aslinya. Beradaptasi dengan budaya baru berarti berupaya semirip mungkin dengan masyarakat setempat, yang menuntut seseorang untuk membentuk kepribadian baru. Kendati demikian, jati diri yang lama tetap merupakan bagian penting yang tidak boleh ditekan atau diabaikan begitu saja.
Oleh karena itu, tinggal di Jepang selama bertahun-tahun terkadang masih bisa memicu rasa frustrasi. Meskipun diri Anda yang baru telah menerima tempat tinggal yang baru, sisi lama diri Anda mungkin masih akan berbenturan dengan aspek-aspek tertentu di sana. Tidak ada yang salah dengan hal tersebut; itu adalah bagian alami dari proses menjadi seseorang yang bikutural.
Anda Pernah Mengalami Gegar Budaya Sebelumnya

Semoga penjelasan di atas tidak membuat Anda merasa cemas menyambut kehidupan baru di Jepang. Gegar budaya bukanlah sesuatu yang harus ditakuti. Faktanya, Anda mungkin pernah mengalaminya di masa lalu, hanya saja Anda belum mengetahui istilah resminya.
Gegar budaya sebenarnya merupakan bagian dari konsep yang lebih luas bernama gegar transisi (transition shock). Fenomena ini memiliki tahapan dan gejala yang serupa, namun tingkat dirasakannya berbeda-beda tergantung pada jenis transisinya. Sebagian besar bentuk transisi dalam hidup selalu melibatkan perubahan gaya hidup serta keharusan beradaptasi dengan kelompok orang baru.
- Jika Anda pernah pindah ke tempat tinggal baru, Anda telah mengalami gegar budaya.
- Jika Anda pernah pindah sekolah atau melanjutkan kuliah ke luar kota, Anda telah mengalami gegar budaya.
- Jika Anda pernah memulai pekerjaan baru, Anda telah mengalami gegar budaya.
- Bahkan ketika Anda berkenalan dengan sekelompok orang yang belum pernah dikenal sebelumnya, itu pun merupakan bentuk kecil dari gegar budaya.
Meskipun mungkin tidak terlalu disadari atau sudah dilupakan, Anda kemungkinan besar pernah merasakan periode singkat berupa rasa kesepian, gugup, canggung, atau bahkan sedih saat menjalani masa transisi. Situasi tersebut mungkin terasa lebih mudah diatasi karena struktur bahasa dan budaya Anda tidak berubah.
Namun, bahkan dengan tantangan mempelajari bahasa dan budaya baru, prinsip dasarnya tetap sama: Anda membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri. Di Jepang, proses ini mungkin memerlukan waktu yang lebih lama dibandingkan transisi sebelumnya, tetapi adaptasi itu pasti akan terjadi. Anda pernah melewatinya di masa lalu, dan Anda pasti mampu melakukannya lagi.
Cara Mempersiapkan Diri Menghadapi Gegar Budaya

Sekarang setelah kita memahami definisi gegar budaya secara tepat, saatnya mengambil langkah nyata. Memiliki pengetahuan barulah langkah awal; kita harus memanfaatkannya dengan baik.
Tidak ada yang bisa menjamin Anda akan sepenuhnya bebas dari gegar budaya, namun dampaknya dapat dikurangi. Banyak hal dalam hidup berada di luar kendali kita, dan kepindahan ke Jepang berarti semakin sedikit hal yang dapat kita atur. Itulah sebabnya penting untuk fokus pada hal-hal yang bisa kita kendalikan.
Berikut adalah beberapa hal yang dapat Anda lakukan sebelum berangkat ke Jepang untuk meminimalkan dampak gegar budaya. Jika Anda saat ini sudah berada di Jepang, lakukan langkah-langkah ini segera sebelum gegar budaya tersebut datang, atau lakukan bahkan jika Anda sedang berada di tengah-tengah fase kedua.
Latihan-latihan ini sebagian besar melibatkan proses refleksi diri dan pencatatan secara fisik. Menuliskannya di atas kertas sangat disarankan agar Anda memiliki rekam jejak pikiran yang dapat dibaca kembali saat menghadapi tekanan di kemudian hari.
- Belajar Bahasa Jepang: Hambatan komunikasi adalah salah satu pemicu utama gegar budaya. Meskipun kemampuan bahasa Anda mungkin tidak akan langsung lancar dalam beberapa bulan, setiap kemajuan kecil akan sangat berarti. Jika Anda berangkat tanpa dasar bahasa sama sekali, minimal hafalkan aksara hiragana dan katakana untuk membantu permulaan Anda.
- Membuat daftar sifat karakter pribadi: Gegar budaya sering kali mengubah perilaku seseorang secara tidak sadar akibat krisis identitas kecil selama transisi. Tuliskan 25 sifat karakter yang menurut Anda paling menggambarkan diri Anda, sebagai pengingat tentang siapa diri Anda sebenarnya.
- Membuat daftar ekspektasi: Buatlah daftar selengkap mungkin mengenai segala harapan Anda terhadap Jepang, pekerjaan, lingkungan tempat tinggal, hingga perlakuan orang lain terhadap Anda.
- Riset berdasarkan daftar tersebut: Cari informasi secara daring untuk mencocokkan ekspektasi Anda dengan realitas yang ada. Meskipun pemahaman menyeluruh baru akan didapat setelah berada di lapangan, riset awal akan membantu meredam kejutan budaya yang ekstrem.
- Membuat daftar tujuan: Gegar budaya dapat mengalihkan fokus Anda dari tujuan awal. Gunakan daftar tujuan ini untuk menjaga jalur Anda tetap lurus, namun tetaplah bersikap fleksibel terhadap perubahan situasi.
- Bersiap untuk melepaskan kenyamanan lama: Salah satu tantangan terbesar pada fase kedua adalah kerinduan terhadap hal-hal dari tanah air. Bawalah secukupnya barang kenangan atau camilan favorit, namun bersiaplah untuk meninggalkan makanan atau kenyamanan fasilitas yang biasa Anda nikmati di rumah. Temukan kenyamanan baru di Jepang seperti kotatsu, ramen, atau onsen.
- Tumbuhkan rasa antusias: Perbedaan yang ada di Jepang tidak hanya mendatangkan keterkejutan, tetapi juga peluang besar yang menarik. Sambutlah kehidupan baru Anda dengan tangan terbuka dan nikmati pengalaman unik yang ditawarkan.
Cara Mengenali Gegar Budaya

Setelah mengetahui definisi dan cara persiapannya, kini saatnya Anda bersiap. Kesadaran bahwa gegar budaya akan datang membuat Anda lebih mudah mengenalinya saat gejala itu mulai muncul.
Kendati demikian, kemunculan gejala tahap kedua biasanya berlangsung secara bertahap, umumnya antara bulan ketiga hingga kelima setelah kedatangan, meski waktunya bisa bervariasi pada setiap individu.
Waspadai kondisi emosional Anda saat musim dingin tiba. Kombinasi antara hilangnya kebaruan lingkungan, cuaca yang semakin gelap dan dingin, serta rutinitas pekerjaan yang mulai terasa monoton kerap menjadi pemicu rentan bagi peserta JET.
Berikut adalah dua tips untuk membantu meningkatkan kemampuan Anda dalam mengenali gejala tersebut:
- Pasang pengingat di ponsel atau komputer: Atur pengingat bulanan yang menampilkan kalimat penyemangat untuk memotivasi diri sekaligus mengingatkan Anda agar tetap waspada terhadap gejala gegar budaya.
- Minta bantuan teman: Perubahan perilaku yang terjadi secara perlahan terkadang sulit disadari oleh diri sendiri. Beritahu teman atau keluarga di tanah air mengenai potensi gegar budaya ini, dan mintalah mereka untuk memberi tahu jika melihat adanya perubahan sikap pada diri Anda.
Persoalan Nostalgia

Salah satu faktor utama yang memengaruhi durasi dan tingkat keparahan gegar budaya adalah rasa rindu atau nostalgia terhadap negara asal. Kutipan dari film karya Woody Allen, Midnight in Paris, menggambarkan fenomena ini dengan sangat baik:
Nostalgia adalah bentuk penolakan terhadap masa kini yang menyakitkan, sebuah gagasan keliru bahwa periode waktu lain selalu lebih baik daripada yang sedang dijalani saat ini.
Ketika masa-masa sulit datang, orang cenderung mengidealkan negara asal mereka dan langsung menganggap segala hal yang tidak biasa di Jepang sebagai sesuatu yang buruk atau inferior tanpa mencoba memahaminya dari perspektif lokal.
Poin pentingnya adalah, jika Anda terlalu dikuasai oleh rasa rindu tersebut, Anda tidak hanya akan gagal menikmati keindahan dan keunikan Jepang, tetapi juga kehilangan kesempatan untuk memperoleh wawasan baru yang berharga dari perbandingan budaya tersebut.
Cara Mengatasi Gegar Budaya

Begitu Anda menyadari bahwa Anda sedang mengalami gegar budaya, saatnya mengambil tindakan nyata. Berikut adalah sepuluh cara untuk mengatasi kondisi tersebut:
- Akui bahwa perasaan Anda valid: Perasaan frustrasi yang Anda rasakan mungkin memang beralasan, namun gegar budaya sering kali memperbesar perasaan tersebut secara berlebihan hingga menggeneralisasi seluruh aspek budaya. Tuliskan keluh kesah Anda, akui perasaan tersebut, lalu simpan catatan itu hingga kondisi emosi Anda membaik.
- Bergabung dengan klub: Ikuti kegiatan kelompok di sekolah atau lingkungan sekitar yang melibatkan warga lokal. Berinteraksi dalam suasana yang menyenangkan di luar jam kerja akan membantu Anda membangun hubungan positif dengan orang-orang dari budaya yang sama dengan lingkungan tempat Anda tinggal.
- Menjadi sukarelawan: Kegiatan sukarela memberikan manfaat serupa dengan bergabung dalam klub, sekaligus mengalihkan fokus Anda dari pikiran negatif dengan cara membantu sesama.
- Bedakan antara isu budaya dan perilaku individu: Ketika menghadapi perilaku tidak menyenangkan dari seseorang di jalan, tanyakan pada diri sendiri apakah itu masalah budaya secara keseluruhan atau sekadar sikap buruk oknum individu tertentu.
- Ingat kembali tujuan awal Anda: Anda datang ke Jepang untuk mencari petualangan dan pengalaman yang berbeda. Meskipun tidak semua perbedaannya terasa menyenangkan, melewati masa-masa sulit tersebut adalah bagian dari proses mencapai tujuan Anda.
- Menulis jurnal dan blog: Salurkan berbagai emosi pribadi Anda ke dalam jurnal privat, sementara bagian yang ingin dibagikan dapat dituangkan ke dalam blog untuk membantu proses penguraian emosi.
- Ambil waktu untuk diri sendiri: Beristirahatlah sejenak dari aktivitas sosial yang melelahkan, namun pastikan waktu sendiri tersebut tidak berubah menjadi isolasi diri yang berkepanjangan.
- Fokus pada kesamaan: Alih-alih hanya melihat perbedaannya, cobalah mencari nilai-nilai atau keyakinan yang Anda miliki bersama dengan masyarakat Jepang.
- Membaca informasi tentang Jepang secara daring: Membaca berita dan informasi mengenai perkembangan di negara tempat tinggal Anda akan membuat Anda merasa lebih terhubung dengan lingkungan sekitar.
- Sadarilah bahwa pikiran Anda bukanlah diri Anda seutuhnya: Seperti yang diingatkan oleh para ahli, reaksi emosional yang diciptakan oleh otak dapat dikendalikan dan dibatasi melalui latihan kesadaran diri.
Hal yang Sebaiknya Dihindari Saat Mengatasi Gegar Budaya

Selain menerapkan strategi positif di atas, ada beberapa hal yang sebaiknya dihindari karena justru dapat memperburuk keadaan:
- Jangan terlalu memburu-buru diri sendiri: Proses adaptasi membutuhkan waktu yang tidak sebentar karena melibatkan penyesuaian di berbagai lini kehidupan secara bersamaan. Bersabarlah dengan proses pemulihan diri Anda.
- Terlalu sering menggunakan media sosial: Menggulir linimasa media sosial untuk melihat kehidupan teman-teman di tanah air saat Anda sedang mengalami gegar budaya ibarat menyiram bahan bakar pada rasa rindu rumah. Hindari konsumsi informasi yang berlebihan mengenai kehidupan lama Anda di saat mental sedang rentan.








