Belakangan ini, Jepang sekilas tampak seperti latar film karya Alfred Hitchcock. Selama sekitar dua dekade terakhir, populasi burung gagak di Jepang mengalami lonjakan yang drastis. Meskipun tidak sampai menyerang manusia hingga tewas, burung-burung ini telah berubah menjadi gangguan yang meresahkan.
Apa yang menyebabkan membludaknya jumlah gagak ini? Sebagian besar orang berpendapat bahwa peningkatan drastis ini dipicu oleh melimpahnya sampah di Jepang. Dalam beberapa dekade terakhir, Jepang memproduksi lebih banyak sampah dari sebelumnya, dan bagi para gagak, tumpukan sampah tersebut ibarat sebuah restoran all-you-can-eat yang sangat memanjakan mereka.

Sayangnya, ledakan populasi gagak ini sama sekali tidak berlangsung dengan tenang atau damai. Seperti yang diungkapkan oleh seorang pejabat birokrat di Tokyo:
Dulu, gagak dan manusia bisa hidup berdampingan secara damai, tetapi sekarang kedua spesies tersebut saling bentrok.
Memiliki ukuran yang lebih besar dan sifat yang lebih agresif dibandingkan kerabat mereka di wilayah barat, burung-burung gagak ini sama sekali tidak bersahabat. Di berbagai wilayah di Jepang, mereka dilaporkan pernah menyerang warga, merebut makanan dari anak-anak, mengambil hewan kecil dari kebun binatang, memicu pemadaman listrik, hingga merusak jaringan internet. Mereka benar-benar menjadi pengganggu yang menyebalkan.
Lantas, apa yang harus dilakukan oleh warga Jepang? Mereka tidak memiliki pilihan selain melawan balik.
Perang Jepang Melawan Burung Gagak
Setelah Gubernur Tokyo Shintaro Ishihara diganggu oleh seekor gagak saat sedang bermain golf, ia mendeklarasikan perang terbuka terhadap para gagak. Seruan tersebut tampaknya mendapat sambutan hangat di berbagai penjuru Jepang. Tokyo tentu saja memimpin operasi anti-gagak terbesar di negara tersebut, meski mereka bukan satu-satunya pihak yang bertindak.
Upaya pemberantasan gagak di Jepang dilakukan melalui berbagai cara. Di daerah pedesaan, sebagian warga menggunakan senapan angin dan senapan tabung untuk menembak mati hama berbulu hitam ini. Sementara itu, warga di perkotaan harus mengandalkan pemerintah untuk menangani masalah tersebut.
Sebagian besar langkah pemerintah melibatkan penggunaan perangkap khusus, di mana gagak yang tertangkap kemudian dibunuh dengan gas. Namun, ada pula berbagai metode penanganan yang tergolong unik.
Lebah

Contohnya adalah Ginza Honeybee Project, sebuah inisiatif untuk mengusir gagak menggunakan lebah. Ketika melihat keberadaan gagak, lebah-lebah akan menjadi sangat agresif dan berhasil menakuti burung tersebut. Meskipun gagak-gagak ini dibiarkan hidup, mereka tetap sukses diusir menjauh. Tantangan selanjutnya tinggal mencari cara untuk mengendalikan lebah-lebah tersebut!
Namun, pendekatan paling unik dalam mengusir gagak mungkin adalah melibatkan seorang gadis remaja ahli burung elang.
Burung Elang
Komunitas blog di Jepang sempat dihebohkan oleh seorang gadis remaja asal Jepang bernama Misato Ishibashi, yang memelihara serta melatih burung elang. Tidak sulit memahami alasannya, karena ia tampak seperti karakter dari anime alih-alih manusia sungguhan.
Keahliannya dalam dunia falkoneri menjadi senjata andalan terbaru dalam membasmi gagak. Ishibashi sibuk memburu gagak di berbagai stadion, gedung pertunjukan, kebun buah, hingga lahan pertanian.
Bisakah Para Gagak Dikalahkan? (Tentu Saja Tidak)
Apakah kampanye Jepang melawan gagak ini akan berakhir sukses? Jawabannya sulit dipastikan. Betapapun kerasnya usaha masyarakat Jepang untuk membasmi hama tersebut, para gagak juga tidak tinggal diam. Burung-burung cerdas ini bahkan membangun sarang palsu untuk mengecoh para petugas pemerintah yang ingin membasmi mereka, sehingga mereka mampu memperdaya manusia dan menunda kepunahan mereka.
Namun satu hal yang pasti, pertarungan antara manusia dan burung gagak ini akan terus berlanjut di berbagai wilayah selama bertahun-tahun ke depan. Atau mungkin, benturan antara umat manusia dan alam ini akan berakhir seperti film The Birds karya Alfred Hitchcock: secara tiba-tiba dan tanpa klimaks yang jelas. Hanya waktu yang bisa menjawabnya.







