Home / Travel / Paku yang Menonjol… Konformitas di Jepang

Paku yang Menonjol… Konformitas di Jepang

Bagi siapa pun yang pernah membaca tentang Jepang, peribahasa “Deru kugi wa utareru” atau yang berarti “Paku yang menonjol akan dipukul palu” tentu sudah tidak asing lagi. Ungkapan ini kerap digunakan untuk menggambarkan masyarakat Jepang yang dinilai kaku, di mana tindakan yang berbeda atau keluar dari jalur umum akan langsung mendapat perlawanan.

Ungkapan tersebut kini sangat sering ditemui dalam berbagai buku, esai, maupun artikel mengenai Jepang. Pepatah ini dianggap mampu merangkum pandangan banyak orang tentang kebudayaan Jepang secara singkat dan padat.

Namun, muncul pertanyaan apakah pepatah ini telah menjadi sebuah klise yang justru kehilangan makna aslinya? Apakah orang-orang begitu saja menerima kalimat “paku yang menonjol akan dipukul palu” sebagai sebuah kebenaran mutlak tanpa menguji keakuratannya?

Apakah Masyarakat Jepang Seragam?

Pandangan umum yang beredar menyebutkan bahwa Jepang adalah negara yang sangat homogen. Penduduk dan budayanya dianggap serupa di setiap sudut wilayahnya, sehingga siapa pun yang mencoba tampil berbeda dipastikan akan menghadapi persekusi.

Benarkah kondisi di seluruh penjuru Jepang begitu seragam? Dari kejauhan, mungkin sebagian orang mengira demikian, tetapi anggapan tersebut akan terasa keliru jika diamati lebih dekat. Tidak ada satu pun negara di dunia ini yang sepenuhnya seragam, dan Jepang tentu bukan sebuah pengecualian.

A heavily-filtered photograph of a Japanese apartment building from the outside where all the units look exactly the same
Source: Karl Herler

Meskipun hampir 99 persen populasi di sana merupakan etnis Jepang, angka tersebut tidak menceritakan keseluruhan situasi. Seperti yang telah dibahas sebelumnya, Jepang memiliki keragaman budaya di berbagai daerah, termasuk penggunaan setidaknya delapan bahasa yang berbeda.

Terdapat perbedaan yang cukup mencolok di antara berbagai kelompok masyarakat di Jepang. Budaya serta dialek yang digunakan di Tokyo dan Osaka memiliki karakteristik yang jauh berbeda. Menyebut seseorang secara sederhana sebagai “orang Jepang” tidak serta-merta menjelaskan siapa diri mereka sebenarnya.

Kendati demikian, mudah dipahami mengapa sebagian orang memiliki pandangan yang seragam. Tingkat keragaman di Jepang memang relatif lebih kecil jika dibandingkan dengan negara lain seperti Amerika Serikat, dan ada banyak contoh nyata tentang individu yang “dipukul” karena dianggap berbeda.

Realitas Penindasan Sosial

Kasus-kasus mengenai perundungan atau ijime kerap menjadi sorotan di media massa Jepang. Salah satu contohnya adalah insiden tragis yang menimpa seorang anak hingga berujung pada bunuh diri, meskipun korban dan orang tuanya telah melaporkan tindakan tersebut kepada pihak berwenang yang hanya bisa diam tanpa tindakan berarti.

Terlepas dari luasnya kemarahan publik akibat insiden tersebut, peristiwa ini mencerminkan masalah perundungan yang lebih besar di Jepang.

Man at a carnival bringing a large hammer down on a peg
Source: Rene Passet

Baik di lingkungan sekolah maupun dunia kerja, perundungan telah berkembang menjadi permasalahan yang semakin mengkhawatirkan dari tahun ke tahun. Beberapa kasus bahkan berujung pada kematian yang turut menyumbang angka bunuh diri yang tinggi di negara tersebut.

Untungnya, kesadaran masyarakat untuk mengatasi masalah ini mulai meningkat. Kementerian Pendidikan Jepang sempat membentuk satuan tugas khusus antiperundungan guna menekan angka kasus di sekolah, yang diharapkan dapat berdampak positif hingga ke lingkungan kerja.

Meskipun perundungan merupakan isu serius di Jepang, fenomena ini tidak bisa begitu saja disederhanakan ke dalam satu peribahasa. Korban perundungan pun belum tentu merupakan individu yang mencolok atau berbeda dari orang lain, karena ada berbagai faktor kompleks yang memicu tindakan tersebut.

Gunakan dengan Bijak

Memang ada unsur kebenaran di dalam ungkapan “paku yang menonjol akan dipukul palu,” tetapi pepatah ini sering kali digunakan sebagai kesimpulan instan yang mengabaikan konteks yang lebih luas.

Ungkapan tersebut sangat praktis digunakan, namun di sisi lain juga terlalu menyederhanakan keadaan. Oleh karena itu, sebaiknya jangan membangun pemahaman yang utuh mengenai Jepang hanya berlandaskan pada sebuah peribahasa semata.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *