Home / Travel / Orang Asia Tapi Bukan Orang Jepang di Jepang: Oh, Jadi Maksudnya Kamu Bukan Orang Jepang?

Orang Asia Tapi Bukan Orang Jepang di Jepang: Oh, Jadi Maksudnya Kamu Bukan Orang Jepang?

header

Sebagai seseorang beretnis Tionghoa yang tinggal di Jepang, saya tidak memiliki penampilan fisik yang jauh berbeda dari masyarakat lokal. Sebagian teman asing saya kerap menganggap kondisi ini membuat hidup saya lebih mudah; dalam kultur yang sangat menjunjung tinggi konformitas, melebur dengan lingkungan sekitar bukanlah hal yang mustahil. Namun, di sisi lain, ada kalanya tampil menonjol justru merupakan sebuah kebutuhan penting untuk bertahan hidup di Jepang.

Pengalaman pribadi saya berada di antara kedua sisi tersebut. Jika Anda mencari di internet, ada banyak sekali artikel yang ditulis oleh para ekspatriat di Jepang. Meski demikian, sangat sedikit yang berasal dari sudut pandang mereka yang dapat berbaur secara fisik, sebuah situasi yang justru memunculkan rangkaian tantangan tersendiri.

Sisi Positifnya

asian crowd with white foreigner in the middle

Tidak mencolok terkadang mendatangkan keuntungan tersendiri. Banyak pendatang mengeluhkan tatapan penuh perhatian yang terus-menerus mereka terima. Berbicara dalam bahasa Inggris di tempat umum menjadi pusat perhatian, berbicara dalam bahasa Jepang pun tetap diperhatikan, bahkan ketika sedang berada di fasilitas umum. Sebagian orang menikmati perhatian tersebut, sementara yang lain merasa terganggu.

Selain itu, komentar-komentar bernada ramah dari orang Jepang seperti pujian dalam menggunakan sumip atau menulis kanji mungkin terdengar menyenangkan pada awalnya. Akan tetapi, setelah beberapa bulan tinggal di Jepang, komentar ini lama-kelamaan terasa melelahkan karena terus mengingatkan mereka akan status “orang asing” di tengah masyarakat.

Bagi kami, bentuk perhatian seperti itu sangat jarang diterima, kecuali jika kami mulai membuka mulut dan berbicara menggunakan bahasa asing. Meskipun saya terkadang mendapati pertanyaan seputar penggunaan sumpit atau kemampuan menulis kanji, intensitasnya jauh lebih rendah dibandingkan yang dialami oleh mayoritas warga asing lainnya di Jepang.

Faktor lain yang tidak kalah nyata adalah kecanggungan orang Jepang ketika berada di dekat warga asing, terutama karena mereka terkadang bingung bagaimana harus bersikap di hadapan latar belakang budaya yang berbeda. Hal ini didasari oleh sifat mereka yang sangat berhati-hati agar tidak menyinggung perasaan orang lain. Ketika dihadapkan pada seseorang yang tampak sangat berbeda secara fisik, radar kewaspadaan mereka langsung meningkat.

Sebagai sesama orang Asia Timur, kehadiran kami secara alami tidak serta-merta membuat warga Jepang memasang “mode siaga”. Selain karena mereka mungkin mengira kita adalah orang Jepang, penampilan fisik kita tidak terlalu kontras, sehingga secara alam bawah sadar kita tidak langsung dianggap sebagai pihak yang “berbeda”.

Lebih dari itu, jika Anda terdaftar sebagai penduduk di Jepang, Anda bahkan diizinkan untuk membuat tsuumei, yaitu nama alias bergaya Jepang. Anda bebas menggunakannya untuk melamar pekerjaan, keperluan sekolah, atau mencetaknya pada kartu nama. Jika seseorang memiliki tsuumei dan menguasai bahasa Jepang setara penutur asli, secara teori tidak ada halangan untuk menjalani hidup selayaknya warga Jepang pada umumnya—selain kolom kewarganegaraan pada formulir resmi dan kemungkinan kesalahan tata bahasa. Praktik semacam ini banyak dilakukan oleh masyarakat etnis Korea di Jepang, serta penduduk asli Ainu pada masa lampau.

Sisi Kurang Menyenangkannya

busy shibuya crossing in tokyo viewed from above

Sayangnya, tidak menonjol juga memiliki kekurangan.

Sebagai perbandingan, warga asing yang wajahnya langsung dikenali sebagai non-Jepang sering kali mendapatkan “kelonggaran” yang tidak bisa didapatkan oleh warga lokal. Sebagai contoh, mereka kerap diizinkan untuk bersikap lebih langsung, jujur, dan kritis terhadap suatu masalah tanpa harus takut dikucilkan layaknya jika hal itu dilakukan oleh orang Jepang. Bingung cara memilah sampah? Tidak masalah, toh mereka dianggap sebagai gaijin.

Beberapa orang bahkan memanfaatkan situasi ini secara berlebihan, seperti sengaja membeli tiket kereta termurah lalu pura-pura tersesat setibanya di stasiun tujuan. Petugas stasiun biasanya akan membiarkan mereka keluar begitu saja dengan memaklumi bahwa mereka hanyalah turis yang kebingungan.

Sebaliknya, tiga orang Asia Timur yang melakukan hal serupa tentu tidak akan mendapatkan perlakuan toleran yang sama. Karena penampilan fisik yang mirip, orang secara otomatis berasumsi bahwa kita memiliki pemahaman aturan dan tata krama yang sama pula dengan standar masyarakat setempat.

Eksotisme

happy foreigner wearing hat is excited about riding anpanman
Sumber: troykelly

Ada dimensi lain yang sifatnya lebih subtil, seperti kisah yang dibagikan oleh seorang teman di media sosial:

“Kemarin malam saya sedang bersama sekelompok teman berkulit putih. Seorang pria Jepang datang, memperkenalkan diri, dan mengajak ngobrol semua teman saya yang berkulit putih, lalu menatap saya, mengabaikan begitu saja, dan pergi begitu saja. Mungkin sudah saatnya saya memakai riasan agar mata saya terlihat lebih besar dan hidung lebih mancung…”

Pria Jepang tersebut mungkin keliru mengira teman saya sebagai warga lokal, namun poin utamanya sangat jelas: banyak orang Jepang yang antusias ingin berteman dengan warga asing, terkadang karena ketertarikan mereka pada dunia luar, tetapi tidak jarang pula karena memandang orang asing sebagai sosok yang “eksotik”. Akibatnya, mereka cenderung lebih tertarik kepada figur asing yang berpenampilan non-Asia.

Hal ini juga tercermin dalam bidang lain. Sejumlah rekan saya yang berprofesi sebagai pengajar bahasa Inggris kerap mendapati bahwa sekolah privat maupun murid les perorangan lebih memilih merekrut pengajar non-Asia, meskipun si pengajar beretnis Asia tersebut merupakan penutur asli bahasa Inggris.

Cara Menghadapinya

costume dinner with asian men wearing egyptian costumes
Sumber: ami_harikoshi

Bukan berarti warga berwajah Asia tidak bisa membuat diri mereka tampak menonjol. Seperti yang telah disinggung, Anda bisa mengubah gaya rambut, membuat tato, atau berbicara dengan suara lantang menggunakan bahasa asing untuk menunjukkan identitas yang berbeda. Bersikap ekstra ekstrovert, blak-blakan, atau menonjolkan stereotip perilaku asing juga akan membuat Anda diperlakukan layaknya seorang ekspatriat sepenuhnya.

Hal yang unik sekaligus kontradiktif adalah proses “pengungkapan identitas” yang terkadang harus dilalui. Jika Anda belum lancar berbahasa Jepang, momen ini biasanya terjadi setelah lawan bicara menyadari kejanggalan bahasa Anda dan menanyakan asal-usul Anda. Sementara itu, bagi mereka yang fasih berbahasa Jepang, momen tersebut umumnya muncul setelah percakapan mengalir normal, lalu berlanjut ke pertanyaan seputar asal daerah di Jepang atau latar belakang sekolah.

Begitu Anda menyebutkan negara asal Anda, percakapan biasanya tetap berjalan lancar—tentu saja setelah melalui kalimat klise pujian bahasa Jepang. Terkadang muncul sedikit kecanggungan ketika radar kewaspadaan mereka mulai berproses, dan pada momen-momen langka, Anda bisa merasakan adanya batasan tak kasat mata yang membuat percakapan terhenti.

Bukan Soal Mana yang Lebih Mudah

foreigners stand behind large cutouts of traditional Japanese outfits
Sumber: Jordi Marisol

Persoalan ini sama sekali bukan tentang siapa yang memiliki keuntungan atau kerugian lebih besar, karena setiap posisi pasti memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Sebagian orang mungkin lebih menyukai kebebasan yang datang dari penampilan fisik yang jelas berbeda, sementara bagi yang lain, menjadi pusat perhatian di setiap tempat justru mendatangkan tekanan tersendiri.

Yang pasti, setiap situasi menuntut pendekatan yang berbeda dalam menghadapinya. Ada yang memilih untuk tidak mencolok dan hidup tenang di bawah radar, sementara yang lain berupaya keras untuk menunjukkan eksistensi diri.

Pada akhirnya, setiap jalan hidup pasti membawa tantangannya masing-masing, bahkan bagi warga lokal Jepang sekalipun. Oleh karena itu, yang perlu dilakukan adalah mengenali situasi diri sendiri dan menentukan cara terbaik untuk menjalani kehidupan tersebut.

  1. Gaijin adalah istilah dalam bahasa Jepang untuk menyebut orang asing. 

  2. Tsuumei adalah nama alias yang umum digunakan di Jepang. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *