Home / Travel / Menjelajah Area Asuka Nara: Menelusuri Akar Cikal Bakal Kekaisaran Jepang

Menjelajah Area Asuka Nara: Menelusuri Akar Cikal Bakal Kekaisaran Jepang

Emperor Jimmu in Nara Prefectures Asuka Area

Bagi banyak orang, Nara identik dengan rusa-rusa ramah di taman kotanya. Namun, jauh sebelum wilayah tersebut ditetapkan sebagai ibu kota Jepang pada tahun 710, pusat peradaban kuno berpusat di kawasan Asuka. Wilayah yang terletak di sebelah selatan Nara Park ini merupakan tempat berseminya Yamato polity, kelompok kekuasaan awal yang kelak mendominasi jalurnya sejarah Jepang hingga garis keturunan kaisar saat ini.

Dalam tradisi Shinto, kematian dianggap sebagai sumber ketidakmurnian, terutama wafatnya seorang penguasa yang disucikan. Dahulu, ada kebiasaan untuk memindahkan lokasi ibu kota setiap kali seorang kaisar mangkat. Praktik ini akhirnya ditinggalkan karena dinilai tidak efisien, dan Kyoto kemudian dipilih sebagai ibu kota untuk jangka panjang.

Kembali ke masa lampau Asuka, periode antara tahun 538 hingga 710 menandai era ketika Kaisar Jepang memegang kekuasaan yang relatif stabil. Mengadopsi sistem administrasi dari Tiongkok, kelompok Yamato membangun birokrasi terpusat di bawah garis kekaisaran, menundukkan berbagai klan saingan, serta menguasai aset pertanian penting. Kini, meskipun berstatus sebagai kawasan pedesaan di Prefektur Nara, Asuka menyimpan jejak arkeologi yang sangat kaya bagi para pecinta sejarah.

Cara Menuju ke Sana

Nara Prefecture’s Asuka Station

Kawasan Asuka dapat diakses menggunakan jaringan Kintetsu Railway. Sebagian besar objek wisata terletak di antara Kashihara Jingu-mae Station dan Asuka Station. Cara tercepat adalah menaiki kereta ekspres dari Kyoto Station atau Osaka Abenobashi Station dekat Tennoji Station. Jika berangkat dari Tokyo, perjalanan harus dimulai dengan menaiki Shinkansen terlebih dahulu.

Sesampainya di lokasi, jarak antar tempat wisata tergolong jauh dengan frekuensi bus lokal yang terbatas. Solusi terbaik adalah menyewa sepeda dari penyedia layanan rental setempat dengan biaya yang terjangkau. Hal ini jauh lebih menghemat waktu ketimbang menunggu bus atau berjalan kaki.

Kuil Asuka-dera yang Bersejarah

The daibutsu of Asuka-dera in Nara Prefecture

Didirikan pada tahun 596 atau sekitar enam dekade setelah agama Buddha masuk ke Jepang, Asuka-dera diakui sebagai salah satu kompleks kuil skala penuh yang tertua di negara ini. Kuil ini menyimpan patung Buddha atau daibutsu setinggi tiga meter yang diyakini sebagai patung Buddha tertua di Jepang, dibuat oleh pematung keturunan Kerajaan Baekje dari Korea.

Meskipun kompleks aslinya jauh lebih luas—sebagian strukturnya sempat dipindahkan untuk membangun Gango-ji di dekat Nara Park—Asuka-dera tetap menawarkan atmosfer kuno yang kuat. Pengunjung dapat mencapai kompleks ini menggunakan bus lokal dari Kashihara Jingu-mae Station atau dengan bersepeda dari area stasiun.

Makam Batu Ishibutai

The stone exterior of Asuka’s Ishibutai Tomb in Nara Prefecture

Terletak di sebelah tenggara Asuka-dera, Makam Ishibutai merupakan monumen batu monolitik yang diyakini sebagai tempat peristirahatan Soga Umako, seorang tokoh berpengaruh dari era Yamato polity. Struktur makam ini tersusun dari puluhan batu besar yang pada masa lampau tertimbun oleh gundukan tanah. Yang menarik, bagian dalam makam ini terbuka untuk umum sehingga pengunjung dapat melihatnya dari dekat.

Bukit Amakashi

The view from Asuka's Amakashi Hill in Nara Prefecture

Berada di jantung kawasan Asuka, Bukit Amakashi setinggi 150 meter menawarkan pemandangan panorama wilayah sekitar yang memukau. Dari atas bukit ini, pengunjung dapat melihat jajaran tiga gunung Yamato, yaitu Mt. Unebi, Mt. Miminashi, dan Mt. Amanokagu. Catatan sejarah menyebutkan bahwa klan Soga pernah mendirikan kediaman di area bukit ini sebelum akhirnya kekuasaan mereka runtuh akibat peristiwa politik pada tahun 645.

Museum Sejarah Asuka

The Asuka Historical Museum in Nara Prefecture

Bagi yang ingin mendalami sejarah Periode Asuka, Museum Sejarah Asuka wajib masuk dalam daftar kunjungan. Museum ini memamerkan berbagai model rekonstruksi tata letak wilayah serta temuan artefak kuno seperti air mancur batu sekijinzo dari abad ke-7 yang menggambarkan sepasang pria dan wanita berpelukan.

Kuil Omiwa yang Suci

The haiden of Nara Prefecture's ancient Omiwa Shrine

Bergeser sedikit ke timur laut Asuka terdapat Omiwa Shrine, yang diyakini sebagai salah satu kuil Shinto tertua di Jepang. Uniknya, kuil ini tidak memiliki aula utama untuk memuja dewa di dalam bangunan, melainkan memuja Mt. Miwa itu sendiri sebagai altar alami. Tradisi pemujaan kuno ini memberikan gambaran nyata mengenai akar spiritual masyarakat Jepang sebelum masuknya ajaran Buddha.

Kashihara Jingu

The main hall of Asuka’s Kashihara Jingu in Nara Prefecture

Dibangun pada tahun 1889, Kashihara Jingu didirikan untuk mendedikasikan penghormatan kepada Kaisar Jimmu, kaisar legendaris pertama Jepang. Kompleks kuil ini berdiri di kaki Mt. Unebi pada lokasi yang diyakini sebagai tempat Sang Kaisar naik takhta. Sebagian bangunan di kompleks ini dipindahkan langsung dari istana kekaisaran di Kyoto atas sumbangan dari Emperor Meiji.

Destinasi Menarik Lainnya di Sekitar Asuka

Nara Prefecture’s Mt. Yoshino during cherry blossom season

Jika memiliki waktu lebih lama di Prefektur Nara, pengunjung disarankan untuk menginap dan menjelajahi berbagai lokasi menarik di luar kawasan Nara City:

  • Mt. Yoshino
    Kawasan lereng gunung yang dipenuhi ribuan pohon sakura ini menawarkan pemandangan alam yang luar biasa indah saat musim semi tiba, serta menyimpan berbagai situs bersejarah di luar musim bunga.
  • Mt. Omine & Ominesan-ji
    Gunung suci yang menjadi pusat latihan spiritual bagi para praktisi Shugendo, menawarkan pengalaman mendaki dengan nuansa mistis yang kuat di Nara.
  • Imaicho
    Sebuah distrik kota pedagang dari masa Periode Edo yang masih mempertahankan arsitektur bangunan aslinya secara utuh, memungkinkan pengunjung menyusuri lorong-lorong bersejarah dengan leluasa.
  • Hase-dera
    Kuil Buddha yang terletak di lembah pegunungan dengan lebih dari thirty bangunan terpisah, terkenal dengan pemandangan alamnya yang memesona pada musim semi dan gugur.
  • Muro-ji
    Kuil tersembunyi di tengah pegunungan yang sering dijuluki sebagai Gunung Koya bagi wanita, memancarkan suasana tenang dan magis.

Keluar sejenak dari keramaian pusat kota dan menjelajahi wilayah pedesaan Nara akan membuka wawasan baru mengenai kekayaan sejarah dan budaya Jepang yang jarang diketahui banyak pelancong.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *