Seri penjelajahan pariwisata tersembunyi kali ini kembali mengajak kita untuk menengok sisi Jepang yang kerap terlewatkan oleh wisatawan asing. Meskipun negara ini memiliki daya tarik yang seolah tak ada habisnya, tujuan dari artikel ini bukanlah mewajibkan Anda mendatangi tempat-tempat tersebut pada kunjungan berikutnya. Mengingat ada banyak destinasi populer yang lebih layak mendapatkan waktu Anda, ulasan ini lebih bertujuan untuk menunjukkan bahwa setiap sudut di Jepang menyimpan potensi menarik ketika kisah di baliknya diungkap dengan baik.
Topik kali ini membahas Samukawa Shrine yang berada di Prefektur Kanagawa. Secara harfiah berarti “Kuil Sungai Dingin”, permata tersembunyi ini sangat jarang masuk dalam radar pelancong mancanegara. Bahkan, penulis sendiri baru menemukannya secara tidak sengaja. Usai mendaki puncak suci Mt. Oyama, pencarian acak di Google Maps mempertemukan pandangan dengan keterangan “kuil Shinto berusia 1.600 tahun yang tenang”. Rasa penasaran yang besar akhirnya membawa langkah kaki untuk membuktikan pesona kuil tersebut.
Beberapa minggu lalu, kesempatan berkunjung ke Prefektur Kanagawa kembali terbuka. Sekalipun agenda utamanya adalah menemui seorang teman di sekitar Hayama, waktu sengaja disisihkan untuk singgah di Samukawa Shrine yang sarat sejarah. Serupa dengan kebanyakan tempat suci di wilayah Greater Tokyo, awal mula berdirinya kuil ini diselimuti misteri. Berdasarkan perkiraan, kuil ini didirikan pada masa pemerintahan Emperor Yuryaku antara tahun 418 hingga 479, meskipun catatan sejarah resmi pada era tersebut sangat minim. Kendati demikian, yang pasti Samukawa Shrine telah berdiri jauh sebelum bekas ibu kota militer Kamakura terbentuk.
Selain penamaannya yang unik akibat aliran sungai terdekat yang berhulu dari Mt. Fuji, Samukawa Shrine dulunya merupakan kuil utama bagi Sagami Province. Mencakup sebagian besar wilayah tengah dan barat Prefektur Kanagawa saat ini, Sagami dulunya adalah wilayah feodal yang penting pada Abad Pertengahan. Kompleks pemakaman kuno ini memuja dewa Samukawa Daimyojin, sosok roh gabungan dari dewa laki-laki dan perempuan lokal. Sepanjang sejarah, para tokoh militer terkemuka seperti Minamoto-no-Yoritomo, Takeda Shingen, hingga para shogun dari klon Tokugawa pernah datang ke sini untuk memberikan penghormatan.
Cara Menuju ke Sana

Perjalanan menuju Samukawa Shrine tidak terlalu rumit, meski Anda perlu melakukan beberapa kali transit. Rute terbaik dapat berubah tergantung dari titik keberangkatan Anda, sehingga layanan pemetaan seperti Jorudan sangat dianjurkan untuk pengecekan jalur. Dalam pengalaman penulis, opsi paling efisien adalah menumpang jalur JR Tokaido Line menuju Stasiun Chigasaki, lalu melanjutkan perjalanan dengan berpindah ke Sagami Line. Apapun moda transportasi yang dipilih, perhentian akhir Anda adalah Miyayama Station. Menariknya, meskipun stasiun ini menggunakan kata “yama” yang berarti gunung, kontur area sekitar sama sekali tidak berbukit sehingga Anda tidak perlu melakukan pendakian melelahkan.
Setibanya di Miyayama Station, Anda hanya perlu berjalan kaki sejauh kurang lebih 500 meter menuju area Samukawa Shrine. Lokasinya berada di tengah rimbunnya kawasan hutan yang tenang. Saat menyusuri jalan menuju kompleks kuil, Anda akan melewati aliran sungai yang menjadi asal-usul nama tempat ini. Sayangnya, akses aman menuju tepi sungai tidak ditemukan, sehingga klaim mengenai airnya yang sangat dingin belum dapat dipastikan secara langsung.
Menjelajahi Samukawa Shrine

Secara keseluruhan, suasana di dalam area Samukawa Shrine sangat menyenangkan dan cocok untuk bersantai di sore hari. Kompleks kuil dikelilingi oleh pepohonan tinggi yang menciptakan atmosfir syahdu dengan berbagai sudut menarik untuk dieksplorasi. Dari segi arsitektur, bangunan utamanya mengingatkan kita pada Yahiko Shrine yang terletak di Prefektur Niigata. Kemiripannya begitu kuat hingga sulit membedakan keduanya tanpa konteks yang jelas jika Anda pernah mengunjungi Yahiko Shrine sebelumnya.
Kendati sebagian besar bangunan fisiknya merupakan rekonstruksi era modern, usia pendirian kuil ini sungguh sangat purba. Bahkan, ketiadaan catatan pasti mengenai awal pendiriannya membuat keberadaan kuil ini seolah sudah ada begitu saja sejak zaman dahulu. Nuansa tersebut terpancar jelas di seluruh penjuru kawasan kuil. Saat berjalan pelan menikmati ketenangannya, pengunjung dapat merasakan alasan di balik kunjungan para panglima perang hebat ke tempat ini pada masa lampau.
Bagi yang memiliki sedikit penguasaan bahasa Jepang, mengikuti ritual doa Happo-yoke di Samukawa Shrine adalah pengalaman yang sangat direkomendasikan. Upacara ini diyakini mampu memberikan perlindungan dari segala bentuk kesialan yang datang dari delapan arah penjuru mata angin. Ritual tersebut memiliki kaitan erat dengan dewa Samukawa Daimyojin, di mana partisipan memohon agar segala nasib buruk dan kesalahan masa lalu dihapuskan untuk mendatangkan kebahagiaan serta kemakmuran.
Keuntungan lain dari mengikuti sesi pemberkatan di sini adalah akses menuju Kantakeyama Shinen. Taman tradisional yang terletak tepat di belakang aula utama ini berpusat pada mata air suci bernama Nanba-no-Koike. Berdasarkan legenda setempat, sumber air inilah yang menjadi titik awal mula berdirinya Samukawa Shrine. Lanskap taman ini sangat indah dipandang, dan pengunjung disarankan untuk mampir ke rumah peristirahatan guna menikmati semangkuk teh matcha yang menyegarkan.
Destinasi Wisata di Sekitar

Secara keseluruhan, agenda singgah di Samukawa Shrine hanya membutuhkan alokasi waktu sekitar dua hingga tiga jam. Letaknya yang berada di posisi cukup strategis di antara Shonan Coast dan Mt. Oyama menjadikan kuil ini sangat mudah dijangkau dalam satu rangkaian perjalanan bersama salah satu dari destinasi tersebut.








