Dalam kunjungannya ke acara Japan Expo Paris di Prancis, novelis dan penulis skenario Shoji Gatoh menyempatkan diri untuk berbincang-bincang mengenai inspirasi di balik dua karyanya yang sangat populer, Amagi Brilliant Park dan Full Metal Panic!, yang sukses diadaptasi menjadi anime.
Gatoh-sensei, yang juga berada di balik penciptaan seri Cop Craft dan MOON FIGHTERS!, saat ini tengah sibuk menggarap novel web bertema isekai berjudul Reincarnated as a Giant-Mech. Karya tersebut juga diterbitkan dalam format light novel melalui label Fantasia Bunko milik KADOKAWA. Dengan gaya khasnya yang penuh humor, sang penulis terus menghibur para penggemar melalui alur cerita yang menarik.
Beberapa bagian dari wawancara ini telah disunting secara ringkas agar lebih mudah dipahami. Wawancara ini dilaksanakan dengan bantuan seorang penerjemah.
T: Gatoh-sensei, jika Anda bisa berada di dalam wahana taman bermain sungguhan, wahana mana yang akan Anda pilih?
J: Ada sebuah wahana di Tokyo Disneyland yang bertema Star Wars dan saya ingin sekali mencobanya. Atau wahana Indiana Jones. Wahana-wahana tersebut selalu memberikan kesan yang luar biasa.
T: Bagaimana awalnya gagasan untuk membuat Amagi Brilliant Park muncul? Apakah Anda sering mengunjungi taman hiburan?
J: Saya sudah sering berkunjung ke Tokyo Disneyland bahkan hingga Disney World di Florida. Setelah mulai menulis Amagi Brilliant Park, saya juga menyempatkan diri mendatangi taman bermain serupa di California. Di Jepang, dulu ada sebuah taman hiburan bernama Toshimaen yang sangat saya sukai, meskipun sekarang sudah tidak beroperasi. Tempat itu memiliki nuansa klasik yang kental. Sebelum memasuki era 90-an, wilayah Tokyo punya banyak sekali taman hiburan, namun sebagian besar kini telah tutup. Kesan itulah yang saya jadikan inspirasi untuk Amagi Brilliant Park.
T: Mengapa Anda memilih nama-nama pesohor asal Amerika seperti Kanye West, 50 Cent, atau Queen Latifah sebagai rujukan untuk penamaan karakter utamanya?
J: [Tertawa] Ide tersebut datang begitu saja dari koleksi CD yang saya miliki di rumah. Musik-musik itulah yang sering saya dengarkan sehari-hari, termasuk karya dari James Brown dan Ice Cube.
T: Ada juga karakter yang merujuk pada Ice Cube, bukan? [Aisu Kyubu, Bibi sang tokoh utama]
J: Benar, saya menjadikannya sebagai sumber inspirasi, meskipun ejaan namanya tidak sepenuhnya persis. Waktu itu saya sama sekali tidak menduga bahwa Amagi Brilliant Park akan dibaca oleh orang-orang di luar Jepang.
T: Apa harapan Anda terhadap adaptasi animenya? Apakah Anda mengajukan permintaan khusus kepada pihak studio Kyoto Animation?
J: Saya berteman baik dengan sutradara animenya, Takemoto-san, jadi saya bisa langsung menyampaikan berbagai masukan atau permintaan secara santai. Kami berdiskusi dalam suasana yang akrab. Saya pun sudah tahu betul betapa tingginya kualitas kerja Kyoto Animation, sehingga saya merasa tidak perlu memberikan syarat yang rumit.
T: Visual animenya terlihat sangat indah, dan mereka benar-benar memperhatikan detail penggambaran taman bermain tersebut hingga tampak begitu menyenangkan.
J: Saya merasa sangat bersyukur mendengarnya. Itulah target utama yang ingin kami capai.
T: Selama proses penulisan light novel tersebut, bagian atau karakter mana yang paling Anda nikmati?
J: Tiga maskot utamanya: Moffle, Macaron, dan Tiramy. Saya paling menyukai mereka. Faktanya, para maskot inilah alasan utama saya menulis kisah ini. Menggambarkan tingkah poloh mereka adalah motivasi terbesar saya dalam melahirkan Amagi Brilliant Park.
T: Apakah Anda memiliki preferensi khusus terkait bumbu romansa dalam cerita tersebut?
J: Saya memang harus memasukkan elemen romansa ke dalam light novel ini karena tidak mungkin menjadikan para maskot sebagai satu-satunya pemeran utama.
T: Oh, sebagai seorang penggemar, saya justru mengira kisah cinta itulah tujuan utamanya!
J: Kalau bagi saya pribadi, hal yang paling penting dan mengasyikkan justru para maskotnya [tertawa].
T: Beralih ke karya Anda yang lain, jika Anda bisa menguasai salah satu teknologi fiktif atau “Black Technology”, mana yang akan Anda pilih dan mengapa?
J: Saya akan memilih teknologi kamuflase [Electronic Conceal System]. Alat itu akan sangat memudahkan banyak hal.
T: Bagaimana konsep “Black Technology” tersebut bisa terpikirkan oleh Anda? Apakah Anda menyangka konsep itu akan menjadi begitu populer?
J: Sebenarnya sudah ada gagasan bernama “over-technology” yang eksis sebelum saya mulai menulis cerita ini, dan saya ingin menghadirkan sesuatu yang serupa untuk serial saya. Namun, saya sama sekali tidak mengira konsep tersebut bakal menuai kepopuleran sebesar ini. Sayalah orang yang paling terkejut.
T: Adakah teknologi nyata tertentu yang ingin Anda teliti lebih lanjut?
J: Sulit untuk menjawabnya karena saat ini saya belum memiliki gagasan khusus ke arah sana. Mungkin saya perlu memikirkannya lagi nanti.
T: Bagaimana cara Anda menyeimbangkan elemen “boy meets girl” serta komedi romantis dengan unsur fiksi ilmiah yang lebih realistis dalam cerita tersebut? Mana yang lebih Anda nikmati saat menuliskannya?
J: Saya rasa saya sedikit lebih menyukai bagian adegan aksinya. Kendati demikian, sisipan unsur romantis terkadang sangat dibutuhkan. Bisa dibilang, hal yang paling krusial adalah keseluruhan cerita dan karakternya itu sendiri. Saya lebih suka berfokus pada kedua aspek tersebut secara bersamaan alih-alih memisahkannya secara tegas antara ranah militer atau percintaan.
T: Adakah karakter yang paling berkesan saat Anda tulis?
J: Mungkin Sosuke dan Kaname selaku pasangan tokoh utamanya.
T: Belum lama ini Anda merilis Full Metal Panic! Family yang mengambil latar waktu 20 tahun setelah akhir kisah aslinya. Apakah Anda memang sudah berniat menceritakan kelanjutan ini sejak dulu? Bagaimana gagasan itu bermula?
J: Pihak penerbit Fantasia Bunko meminta saya menulis sebuah cerita pendek guna merayakan hari jadi Full Metal Panic! yang ke-25. Ternyata mereka menyukai hasil tulisan saya, lalu meminta saya melanjutkan sedikit lagi; mereka menyukainya lagi, dan saya pun menulis lebih banyak lagi [tertawa]. Hingga pada satu titik saya berkata kepada mereka, “Sekarang sudah saatnya kita berhenti.”
T: Apa perbedaan mendasar antara menulis light novel dengan novel standar?
J: Bagi saya, perbedaan utamanya terletak pada kehadiran ilustrasi di dalam light novel. Perbedaan lainnya adalah light novel umumnya lekat dengan dunia permainan atau game. Pembaca light novel kerap merasakan sensasi sedang membaca manga atau masuk ke dalam sebuah video game.
T: Adakah saran yang ingin Anda berikan kepada diri Anda di masa lalu terkait proses kreatif kepenulisan? Misalnya sesuatu yang kini Anda sesali dan pikir, “Seharusnya dulu saya melakukannya dengan cara lain.”
J: Bukan semacam nasihat serius sih, tapi mungkin saya akan berkata kepada diri saya sendiri, “Kamu sudah bekerja dengan cukup baik.” Dan satu lagi, jangan minum alkohol terlalu banyak [tertawa].
T: Saran yang bagus! Menurut Anda, apakah sangat penting untuk mengetahui keseluruhan alur dan akhir cerita dari sebuah seri light novel sebelum menulis volume pertamanya?
J: Hal itu tergantung pada masing-masing seri. Sebagai contoh, Full Metal Panic! dulunya direncanakan sebagai cerita sekali jalan saja. Sekarang, saya sedang menulis seri lain berjudul Kidou Tensei atau Reincarnated as a Giant-Mech, di mana saya sepenuhnya berfokus pada apa yang sedang saya tulis saat ini. Saya bahkan belum tahu apa yang akan saya tulis setelah itu selesai.
T: Sebelumnya Anda pernah menyebutkan menyukai film Die Hard dan Deadpool. Apakah ada film, serial, atau anime terbaru lain yang Anda gemari saat ini?
J: Salah satu anime terbaru yang menjadi favorit saya adalah Cyberpunk: Edgerunners.
T: Adakah penulis yang menjadi sumber inspirasi Anda?
J: Stephen Hunter, penulis novel-novel bertema penembak jitu yang menulis Point of Impact [diadaptasi menjadi film berjudul Shooter]. Saya juga menyukai Andy Weir, pengarang Project Hail Mary. Dari Jepang, saya mengagumi Chohei Kambayashi selaku penulis fiksi ilmiah serta mendiang Daisuke Sato yang menulis Highschool of the Dead.
Kami ingin menyampaikan apresiasi yang sebesar-besarnya kepada Gatoh-sensei serta pihak Japan Expo Paris atas kesempatan wawancara ini, di mana kami dapat mengenal kepribadian sang penulis yang begitu santai dan menyenangkan.
Kami mengajak Anda untuk terus mengikuti perkembangan karya-karya terbaru dari sang penulis serta nantikan berbagai informasi menarik selanjutnya.








