Saat pertama kali saya menulis tentang pariwisata Jepang beberapa tahun yang lalu, Kanazawa yang terletak di Prefektur Ishikawa masih tergolong sepi dari kunjungan wisatawan asing. Hanya para penggemar berat Jepang yang benar-benar mengenal kota ini. Namun, situasi telah berubah drastis akibat lonjakan pariwisata sebelum masa pandemi, membuat wilayah yang sering dijuluki sebagai “Kyoto Kecil dari Hokuriku” ini kini sama padatnya dengan Kyoto.
Meskipun demikian, Anda tidak perlu pergi terlalu jauh untuk mencari ketenangan. Bergeser sekitar 30 menit ke arah selatan dari Kanazawa, terdapat sebuah kota bernama Komatsu. Sebagai kota terbesar kedua di Prefektur Ishikawa, Komatsu menyimpan berbagai daya tarik tersembunyi yang luar biasa. Bahkan, durasi tiga hari pun terasa kurang untuk mengeksplorasi seluruh sudut menarik di kota ini, menjadikannya destinasi yang sempurna bagi pelancong yang ingin keluar dari jalur wisata mainstream.
Dalam catatan sejarah, wilayah Komatsu dulunya merupakan bagian dari Kaga Province dan terkenal sebagai lokasi kompleks kuil suci Nata-dera. Selain itu, kota ini juga menjadi tempat berdirinya puri peristirahatan bagi salah satu penguasa dari Maeda clan. Hingga hari ini, Komatsu tetap mendunia berkat kerajinan porselen Kutani-yaki, seni kerajinan lembaran emas, serta industri pewarnaan tekstil tradisional.
Walaupun mungkin bukan destinasi utama yang saya sarankan bagi pelancong pemula yang baru pertama kali ke Jepang, Komatsu adalah pilihan sambangan yang sangat ideal jika Anda berencana mengunjungi Kanazawa atau Fukui Prefecture. Meskipun akses transportasi di dalam kota terkadang membutuhkan sedikit usaha ekstra, Komatsu adalah permata tersembunyi yang kaya akan sejarah dan budaya untuk memperkaya pengalaman liburan Anda.
Cara Menuju ke Sana
Meskipun belum begitu populer di kalangan wisatawan internasional, perjalanan menuju Komatsu dari Tokyo sebenarnya cukup mudah. Anda hanya perlu naik penerbangan domestik singkat dari bandara utama mana pun. Maskapai seperti JAL dan ANA menyediakan penerbangan langsung menuju Komatsu Airport dalam waktu sekitar satu jam. Selain itu, tersedia pula beberapa rute penerbangan internasional terbatas dari kota-kota di Asia seperti Taipei, Seoul, dan Shanghai.
Bagi pelancong yang ingin memaksimalkan penggunaan JR pass milik mereka, perjalanan dengan kereta juga menjadi opsi yang sangat memungkinkan. Terdapat dua jalur utama untuk mencapai kota ini: naik kereta Shirasagi Limited Express dari Osaka dan Kyoto melalui Maibara, atau menggunakan kereta cepat dari Kanazawa. Seiring dengan rencana perpanjangan jalur Hokuriku Shinkansen hingga ke Kyoto, aksesibilitas menuju Komatsu dipastikan akan semakin praktis di masa mendatang.
Kendati perjalanan antarkota tergolong mudah, mobilitas di dalam wilayah Komatsu sendiri memiliki sedikit tantangan. Sebagian destinasi memang berada dalam jarak jalan kaki dari Komatsu Station, tetapi tempat lainnya memerlukan bantuan layanan bus lokal yang cukup terbatas. Jika tidak menyewa mobil pribadi, memanfaatkan layanan sepeda sewa bisa menjadi solusi transportasi terbaik untuk berkeliling. Sebagai contoh, Anda bisa bersepeda menuju Nata-dera terlebih dahulu sebelum kembali ke area stasiun.
Sebelum melanjutkan perjalanan, menentukan tempat menginap yang tepat adalah hal yang penting. Sebagian besar pelancong biasanya memilih untuk menginap di Hoshi Ryokan. Terdaftar dalam Guinness World Records sebagai salah satu hotel tertua di dunia, ryokan bersejarah ini terletak di kawasan Awazu Onsen. Pilihan lainnya adalah menginap di pondok pegunungan Nata-dera bernama Ikumo, di mana pemandangan dari tempat ini menawarkan lanskap alam yang luar biasa indah.
Kawasan Sekitar JR Komatsu Station

Sebagian besar objek wisata utama di Komatsu terletak agak jauh dari stasiun kereta. Namun, masih ada beberapa lokasi menarik yang bisa dicapai dengan berjalan kaki. Misalnya, kawasan Hokkoku Street yang memesona hanya berjarak sekitar lima menit dari stasiun. Deretan bangunan pedagang tradisional di jalan bersejarah ini menawarkan suasana lokal yang kental, lengkap dengan pajangan festival float tertinggi di Komatsu.
Tepat di sisi seberang Komatsu Station, pengunjung dapat menemukan Komatsu-no-Mori. Area terbuka ini dibangun untuk memperingati hari jadi perusahaan alat berat Komatsu Ltd yang ke-110, sekaligus berfungsi sebagai ruang edukasi bagi anak-anak dan komunitas lokal. Letaknya yang tepat di sebelah stasiun membuatnya sangat mudah untuk dikunjungi.
Destinasi berikutnya yang patut dipertimbangkan adalah Rojo Park. Dibangun di atas bekas tapak benteng luar Komatsu Castle tepat di samping balai kota, taman publik ini kini telah disulap menjadi taman bergaya Jepang tradisional yang mengelilingi dua kolam serta air terjun mini. Tempat ini sangat menyenangkan untuk dikunjungi sepanjang tahun, terutama saat musim bunga sakura bermekaran.
Stasiun Komatsu sendiri juga menawarkan berbagai fasilitas yang memadai untuk melepas penat. Selain restoran dan kafe yang menyajikan kopi hangat, terdapat pula toko suvenir serta ruang pameran budaya lokal yang bisa dikunjungi sambil menunggu jadwal keberangkatan kereta berikutnya.
Kuil Bersejarah Nata-dera

Ikon wisata paling terkenal di Komatsu tentu saja adalah Nata-dera. Kompleks kuil kuno yang kini bernaung di bawah sekte Shingon Buddhism ini didirikan sebagai bentuk penghormatan terhadap Mt. Haku (Hakusan) pada tahun 717. Area kompleks yang luas ini membutuhkan waktu sekitar satu jam untuk dijelajahi dan tampak sangat memukau pada musim gugur. Jangan lewatkan kesempatan untuk melihat patung raksasa Bodhisattva Kannon di dalam bangunan Kondo Keo-den yang telah direkonstruksi.
Lebih jauh ke dalam kompleks Nata-dera, terdapat tebing batu terjal dengan kolam taman di bagian dasarnya. Meskipun jalur tangga dan gua di tebing tersebut tidak dibuka untuk umum, fasad batu spiritual ini tetap memancarkan keagungan tersendiri. Tepat di sebelahnya berdiri aula utama kuil yang dibangun langsung menyatu dengan dinding batu karang. Konon, berjalan melewati gua di kompleks ini menyimbolkan sebuah perjalanan spiritual tentang kematian dan kelahiran kembali.
Bagi para pengamat budaya Jepang, situs suci ini merupakan contoh nyata dari konsep Shinbutsu Shugo, yaitu perpaduan sinkretis antara agama Buddha dan Shinto yang berlangsung hingga era modern. Nata-dera mempertahankan filosofi pendirinya yang menghormati keharmonisan antara alam dan kehidupan manusia, terbukti dari bangunan kuil yang melebur sempurna dengan lanskap sekitarnya.
Kompleks kuil ini dapat diakses dengan mudah menggunakan bus dalam waktu sekitar 40 menit dari pusat kota. Tersedia pula fasilitas penyewaan sepeda di area kuil bagi pengunjung yang ingin melanjutkan perjalanan keliling kota dengan bersepeda.
Yunokuni-no-Mori

Bagi para pecinta aktivitas seni kriya tradisional Jepang, Yunokuni-no-Mori adalah destinasi yang wajib dikunjungi. Berupa taman bertema yang terbentang di tengah kawasan hutan lebat, kompleks ini terdiri dari berbagai rumah tradisional Jepang. Di setiap bangunan, para maestro seni lokal siap membimbing pengunjung untuk mencoba membuat karya seni mereka sendiri.
Selain menawarkan pengalaman membuat kerajinan tangan dari berbagai disiplin ilmu, Yunokuni-no-Mori juga memiliki banyak spot foto yang estetik untuk media sosial, seperti jalur payung gantung dan jendela berbentuk hati. Terdapat pula beberapa restoran dan rumah teh tradisional tempat pengunjung menikmati santap siang atau bersantai.
Meskipun dikenakan biaya masuk kawasan, pengunjung bebas menjelajahi area taman sepuasnya sepanjang hari (dengan tambahan biaya terpisah jika ingin mengikuti workshop kerajinan). Lokasinya sendiri berada dekat dengan Awazu Onsen dan dapat dicapai dengan mudah dari halte bus terdekat di Nata-dera.
Ataka Sumiyoshi Shrine

Komatsu ternyata juga menyimpan latar belakang kisah teater tradisional Jepang yang sangat terkenal di kancah global. Diadaptasi ke dalam kesenian Noh dan Kabuki, cerita legendaris tersebut mengisahkan pelarian Minamoto-no-Yoshitsune bersama pengawalnya, Benkei, saat melewati pos pemeriksaan ketat yang didirikan oleh saudaranya sendiri, Minamoto-no-Yoritomo.
Cara terbaik untuk mendalami kisah sejarah ini adalah dengan berkunjung ke Ataka Sumiyoshi Shrine. Terletak di dekat Komatsu Airport menghadap ke Laut Jepang, kuil Shinto ini berdiri di area yang diyakini sangat dekat dengan lokasi pos pemeriksaan historis tersebut. Di kompleks kuil, pengunjung dapat melihat berbagai penghormatan atas kisah ini, termasuk patung biksu prajurit Benkei.
Karena keterkaitannya dengan kisah pelarian yang penuh rintangan tersebut, Ataka Sumiyoshi Shrine kini dipercaya sebagai tempat pemujaan untuk memohon kekuatan dalam mengatasi berbagai kesulitan hidup. Tidak jauh dari kuil, terdapat Kanjincho Museum yang menceritakan kisah drama tersebut secara mendetail, lengkap dengan koleksi kostum pementasan Kabuki.
Hiyo Koke-no-Sato

Bagi pelancong yang menggunakan mobil sewaan atau sepeda dari arah Yunokuni-no-Mori, menyempatkan diri singgah ke Koke-no-Sato adalah sebuah keharusan. Terletak lebih masuk ke dalam kawasan pegunungan Ishikawa dari Awazu Onsen, tempat ini merupakan sebuah desa kecil yang seluruh permukaannya ditutupi oleh taman lumut hijau subur yang dirawat turun-temurun oleh warga setempat.
Berbeda dengan objek wisata komersial pada umumnya, Koke-no-Sato adalah ruang hidup yang benar-benar dihuni oleh penduduk lokal yang dengan ramah membukanya bagi publik. Oleh karena itu, pengunjung diharapkan untuk tetap menjaga sopan santun layaknya sedang bertamu ke halaman rumah warga. Keberadaan lanskap hijau yang terjaga ini merupakan hasil kerja keras penduduk desa dalam merawat alam sekitar, sehingga pengunjung disarankan untuk memberikan sedikit donasi di pintu masuk tanpa penjaga guna mendukung pelestariannya.
Destinasi Menarik Lainnya

Bagi para petualang yang ingin menjelajah lebih mendalam dan memiliki kendaraan pribadi, Komatsu masih memiliki sejumlah spot unik tersembunyi yang sayang untuk dilewatkan.
Salah satunya adalah Hanibe Caves, sebuah bekas lokasi penggalian batu yang diubah oleh seorang seniman menjadi kompleks gua bertema dunia bawah dalam ajaran Buddha. Sepanjang jalur gua, pengunjung akan disuguhi berbagai patung mulai dari dewa penjaga yang menyeramkan hingga sosok Buddha yang penuh belas kasih.
Selain itu, kunjungan ke wilayah Ishikawa tidak akan lengkap tanpa mengenal tradisi porselen Kutani-yaki. Di Kinzangama Kiln, para perajin lokal berupaya mendefinisikan ulang seni keramik ini untuk era modern. Dengan reservasi sebelumnya, pengunjung bahkan bisa masuk ke ruang kerja dan mencoba membuat tembikar langsung di bawah bimbingan perajin profesional.

Terakhir, bagi para penikmat minuman tradisional Jepang, Noguchi Naohiko Sake Institute menawarkan pengalaman mencicipi sake berkualitas tinggi dengan harga yang terjangkau dalam suasana yang elegan.








