Home / Travel / 17,3 Juta Lagi | Sanggupkah Jepang Menghadapi 60 Juta Turis

17,3 Juta Lagi | Sanggupkah Jepang Menghadapi 60 Juta Turis

Crowded Kiyomizu dera

Pemerintah Jepang baru saja mengumumkan pencapaian rekor tertinggi sektor pariwisata, dengan perkiraan kunjungan mencapai 42,7 juta wisatawan. Lonjakan ini mendatangkan pendapatan sebesar 9,5 triliun yen yang tentu saja menjadi angin segar bagi perekonomian nasional. Kendati demikian, keuntungan finansial tersebut dibayar dengan harga yang tidak murah. Popularitas internasional Jepang yang kian melonjak membuat sejumlah kawasan populer, terutama di kota-kota besar, mengalami dampak buruk akibat overtourism. Terlebih lagi, pemerintah kini memasang target ambisius 60 juta kunjungan pada tahun 2030, sebuah masalah yang jelas tidak akan selesai dengan sendirinya.

Kondisi ini memunculkan pertanyaan krusial: jika infrastruktur pariwisata Jepang saat ini sudah kewalahan menampung 42,7 juta pengunjung, ke mana negara ini harus mengarahkan tambahan 17,3 juta orang berikutnya? Destinasi ikonis seperti Kyoto dan wilayah sekitarnya kini sudah dipadati oleh wisatawan dari berbagai belahan dunia. Arus kedatangan masif ini, yang sebagian besar berasal dari negara dengan nilai tukar mata uang yang jauh lebih kuat dibanding yen, perlahan-lahan menggeser penduduk lokal dari hotel dan restoran. Ditambah dengan segelintir pelancong yang mengabaikan aturan budaya setempat, tidak heran jika kelelahan akibat turis atau foreigner fatigue mulai meningkat di kalangan warga lokal.

Selama bertahun-tahun, eksplorasi terhadap permata tersembunyi atau hidden gems di Jepang menjadi solusi utama untuk menghindari kerumunan. Esensi budaya autentik yang dicari banyak orang akan hilang jika pengunjung harus berdesakan di tempat yang sama demi mengejar foto Instagram. Walaupun destinasi populer tersebut memang menarik dan terkenal, popularitasnya membuat pengalaman berkunjung menjadi hampir mustahil untuk dinikmati secara tenang. Oleh karena itu, satu-satunya cara merasakan pengalaman yang belum dikomersialkan secara berlebihan adalah melangkah keluar dari jalur wisata konvensional.

Progres di Tengah Berbagai Tantangan

Large crowds of domestic and international tourists gather at Senso-ji in Asakusa, Tokyo, filling the temple grounds and surrounding walkways. Once a culturally significant religious site, the area has become heavily commodified for tourism, with dense foot traffic, souvenir stalls, and tour groups illustrating how mass tourism has transformed one of Japan’s most visited landmarks.

Sayangnya, berbagai pihak berwenang sering kali dinilai kurang memiliki arah kebijakan yang efektif. Terlepas dari upaya yang dilakukan oleh JNTO maupun organisasi pemasaran destinasi regional lainnya, Jepang tampak kesulitan memanfaatkan perangkat yang ada untuk mengarahkan preferensi wisatawan. Seperti perumpamaan efek lampu jalan, di mana seseorang mencari kunci yang hilang di bawah cahaya lampu bukan di tempat asalnya, berbagai instansi yang bertugas mempromosikan destinasi alternatif justru terus berpegang pada cara lama yang kurang berdampak nyata.

Dari sudut pandang pemasaran digital, solusi atas permasalahan ini sebenarnya cukup jelas. Namun, birokrasi pemerintahan yang kaku serta budaya senioritas yang dipegang oleh para pejabat senior kerap menghambat kemampuan promosi Jepang secara efektif. Sejauh ini, sebagian besar kemajuan dalam mempromosikan destinasi di luar jalur utama justru digerakkan oleh para kreator konten dan pegiat media sosial yang berupaya meningkatkan kesadaran publik terhadap lokasi-lokasi menarik di luar kota besar.

Hal ini kembali mengembalikan kita pada tantangan penempatan jutaan wisatawan tambahan di tengah negara yang sedang berjuang mengatasi overtourism. Kyoto dan Osaka jelas bukan jawabannya karena kedua kota tersebut sudah terlampau padat. Satu-satunya jalan agar Jepang mampu mengakomodasi 60 juta wisatawan adalah melalui diversifikasi destinasi. Mengingat sebagian besar wilayah Jepang masih sangat lengang, fenomena saat ini menunjukkan ketimpangan di mana beberapa titik populer dibanjiri permintaan internasional, sementara wilayah lain justru sangat membutuhkan kunjungan wisata.

Memang terdapat beberapa wilayah yang secara terbuka tidak mengharapkan kehadiran wisatawan asing, dan area-area tersebut tentu harus dihormati agar tidak menimbulkan gesekan budaya. Namun, di sisi lain, banyak daerah yang sangat menyambut kedatangan wisatawan tetapi terkendala dalam hal pemasaran digital. Akibatnya, para pelancong tetap mengandalkan informasi umum dan berakhir di destinasi mainstream yang sama, memicu gelombang overtourism yang semakin parah.

Kendati demikian, industri pariwisata mulai menunjukkan sedikit kemajuan organik. Semakin banyak pelancong yang mulai keluar dari Rute Golden Route tradisional yang membentang dari Tokyo ke Hiroshima melalui Kyoto dan Osaka. Sering kali, para pelancong ini adalah mereka yang sudah berkunjung ke Jepang untuk kedua kalinya atau lebih sehingga sudah beradaptasi dengan budaya lokal. Hambatan terbesar justru berasal dari gelombang besar pengunjung pertama kali yang memanfaatkan kelemahan nilai tukar yen.

Selain masalah diversifikasi, infrastruktur dasar Jepang juga sudah berada di batas kapasitasnya. Kemampuan berbahasa Inggris di Jepang secara keseluruhan masih mencatat tren penurunan, menempatkan negara ini di peringkat bawah di antara negara-negara non-penutur bahasa Inggris. Ditambah dengan krisis tenaga kerja di sektor jasa, kesiapan Jepang dalam menyambut gelombang wisatawan dalam jumlah besar masih menyisakan banyak pekerjaan rumah.

Bagaimana Kemajuan AI Dapat Membantu

A conceptual image representing an AI concierge, showing a robotic hand holding a service bell as a human finger presses it. The visual symbolizes how generative AI tools like ChatGPT can act as virtual concierges, helping travelers discover off-the-beaten-path destinations in Japan that traditional search engines and tourism marketing often fail to surface.

Teknologi kecerdasan buatan atau AI menyimpan potensi besar bagi industri pariwisata. Selain membantu meruntuhkan hambatan bahasa, perangkat berbasis AI seperti ChatGPT mampu mengatasi apa yang disebut sebagai Masalah Kesadaran. Mirip seperti Wikipedia, hampir seluruh destinasi di Jepang sebenarnya sudah memiliki dokumentasi berbahasa Inggris yang memadai secara daring. Namun, seseorang tentu tidak dapat mencari sesuatu yang keberadaannya bahkan tidak mereka ketahui.

Keunggulan utama AI dalam penemuan destinasi adalah kemampuannya melampaui batasan mesin pencari tradisional yang bergantung pada kata kunci dari pengguna. Model AI dapat berfungsi layaknya pramutamu virtual yang merekomendasikan lokasi-lokasi tersembunyi yang bahkan tidak terpikirkan oleh wisatawan untuk dicari. Sebagai contoh, seorang penggemar anime dapat meminta rekomendasi tempat di Hokkaido yang berkaitan dengan seri tertentu, lalu berlanjut menemukan kota Asahikawa hingga akhirnya mengenal Museum Peringatan Ainu Kawamura Kaneto.

Meskipun demikian, AI bukanlah solusi tunggal yang dapat menyelesaikan masalah overtourism secara menyeluruh. Teknologi ini memang membantu meringankan kendala informasi, tetapi kapasitas fisik suatu wilayah tetap memiliki batas maksimal. Sehebat apapun teknologi yang diterapkan, ruang publik di tempat-tempat ikonis memiliki keterbatasan daya tampung yang nyata.

Pandangan Terkait Target Wisatawan

Donny Kimball stands in a snow-covered cedar forest at Togakushi Shrine in Nagano, with snow clinging to his hood and hair during a winter visit. The sacred approach to Togakushi’s Okusha, once known for its solitude, has recently faced access restrictions due to overtourism, underscoring how even remote spiritual sites in Japan are being impacted by rising visitor numbers.

Kebijakan pemerintah yang mematok jumlah kunjungan sebagai tolok ukur utama dinilai kurang tepat sasaran. Alih-alih mengejar kuantitas pengunjung, fokus seharusnya diarahkan pada total pendapatan pariwisata. Dengan cara ini, pemerintah dapat menarik segmen pelancong berkualitas tinggi yang bersedia berkunjung ke destinasi regional dan membelanjakan lebih banyak dana per orang. JNTO sebenarnya telah berupaya melakukan hal ini melalui kampanye yang menyasar wisatawan dengan pengeluaran tinggi, tetapi target kuantitas yang masif masih menjadi hambatan utama.

Pariwisata massal sering kali diibaratkan seperti kawanan belalang yang mengubah kawasan budaya yang kaya sejarah menjadi mirip taman hiburan, seperti yang terlihat di Asakusa. Keaslian suasana yang masih dapat dirasakan di wilayah utara Akita sulit ditemukan di destinasi-destinasi mainstream tersebut.

Peran individu dalam memandu wisatawan keluar dari jalur utama Rute Golden Route sangat penting agar mereka dapat merasakan pengalaman Jepang yang lebih autentik. Meskipun kebijakan tingkat nasional sulit diubah, membantu para pelancong individu menemukan sisi lain Jepang tetap menjadi fokus yang paling realistis untuk dikerjakan.

Beberapa tahun ke depan diprediksi akan menjadi masa yang dinamis bagi pariwisata Jepang. Kombinasi antara kemajuan teknologi AI, dinamika geopolitik global, serta fluktuasi nilai tukar yen akan terus mendatangkan gelombang wisatawan dalam jumlah besar ke Negeri Sakura.

Satu-satunya Alternatif yang Tersisa

A large tour group crowds the wooden stage and surrounding grounds of Kiyomizu-dera in Kyoto, with visitors packed closely together as they take photos and move through the temple complex. The dense crowd highlights the scale of overtourism at one of Kyoto’s most iconic landmarks, where heavy foot traffic has increasingly strained the historic site and visitor experience.

Dengan potensi tambahan jutaan wisatawan yang akan datang dalam beberapa tahun ke depan, saatnya untuk realistis dalam merekomendasikan destinasi. Mengunjungi Kyoto dan lokasi mainstream lainnya bahkan pada jam-jam sepi kini tidak lagi menjamin pengalaman yang tenang karena terlalu padatnya pengunjung. Oleh karena itu, mencari alternatif ke wilayah lain adalah sebuah keniscayaan.

Untungnya, Jepang masih menyimpan potensi petualangan dan penemuan yang tidak ada habisnya. Selama wisatawan bersedia menghindari titik-titik keramaian dan menjelajahi kawasan pedesaan, pengalaman sejarah dan budaya yang autentik masih dapat ditemukan dengan mudah. Persiapan dan riset mandiri memang diperlukan, tetapi keindahan Jepang di luar jalur utama akan memberikan pengalaman yang sepadan.

Sampai jumpa pada perjalanan berikutnya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *