Sihir memiliki berbagai fungsi yang luar biasa dalam dunia Harry Potter, tetapi layaknya Muggle yang dapat mengubah teknologi apa saja menjadi senjata, sihir pun sering kali dimanfaatkan untuk melakukan kekerasan. Pada dua buku pertama, pertempuran sihir belum terlalu sering disorot, namun seiring bertambah dewasa sang tokoh utama dan alur cerita yang semakin matang, konflik fisik menjadi pemandangan yang lumrah. Menjelang akhir dari saga tujuh buku karya J.K. Rowling ini, terungkaplah siapa saja penyihir yang paling tangguh dalam pertempuran di Dunia Sihir.
Kemampuan bertarung dari berbagai karakter unik ini dipengaruhi oleh banyak hal, mulai dari ketekunan belajar, bakat alami, hingga kepemilikan tongkat sihir yang istimewa. Baik mereka berasal dari asrama Gryffindor yang berbakat maupun Slytherin tulen, terlepas apakah mereka berjuang demi cinta, keadilan, atau keuntungan pribadi, para penyihir berikut ini diakui sebagai petarung paling handal di alam semesta Harry Potter.
Alastor Moody Adalah Auror yang Handal di Masa Kelam
Jika dinilai hanya dari pencapaiannya pada lini masa modern Harry Potter, Moody mungkin tidak terlihat begitu hebat. Bagaimanapun, ia sempat dikalahkan oleh seorang tahanan yang kabur dari Azkaban dan dikurung di dalam sebuah peti selama setahun sebelum akhirnya tewas secara mengenaskan di awal kisah The Deathly Hallows. Kendati demikian, perlu diingat bahwa Harry hanya berinteraksi dengannya saat ia sudah pensiun, dan reputasi mengerikan Alastor “Mad-Eye” Moody menjadi bukti betapa tangguhnya ia di masa jayanya.
Menjadi Auror top pada era mana pun bukanlah hal yang mudah, terlebih lagi pada masa Perang Sihir Kedua dan masa-masa setelahnya. Mengingat banyaknya Pelahap Maut yang berhasil ia taklukkan dalam pertempuran, sudah jelas ia adalah salah satu petarung sihir terbaik yang pernah ditemui Harry. Walaupun kematiannya dalam Pertempuran Tujuh Potter tampak begitu cepat, jangan lupa bahwa Voldemort sendirilah yang melontarkan Kutukan Pembunuh untuk menjatuhkannya. Sangat pantas jika seorang pria yang telah melumpuhkan banyak pengikut Voldemort dengan mudahnya hanya bisa dikalahkan oleh Pangeran Kegelapan itu sendiri.
Kecerdasan Tersembunyi Severus Snape Menjadikannya Petarung Berbakat




Snape mungkin tidak langsung terlintas sebagai salah satu petarung terhebat dalam buku-buku Harry Potter, mengingat Guru Ramuan Hogwarts (dan sempat menjadi Kepala Sekolah) ini lebih dikenal karena kecerdasan dan kelicikannya daripada keterlibatannya dalam baku hantam. Namun, justru pikiran cemerlang Snape lah yang membuatnya menjadi petarung berbakat, karena ia memiliki dua keahlian khusus yang dapat digunakannya untuk memenangkan duel apa pun.
Pertama, seperti yang ditemukan Harry ketika ia memegang buku Ramuan Pangeran Blorok, Snape terbiasa menciptakan mantra ofensifnya sendiri yang sering kali berhasil mengecoh lawannya. Kedua, Snape adalah seorang Legilimens yang mahir, yang berarti ia dapat membaca pikiran lawannya di tengah duel guna mengetahui langkah selanjutnya dan bersiap menghadapi hal tersebut. Snape adalah bukti nyata bahwa untuk menjadi petarung yang hebat dibutuhkan otak yang cerdas, bukan sekadar kekuatan fisik.
Bellatrix Lestrange Adalah Sosok yang Tak Kenal Takut dan Tanpa Ampun
Bagi sebagian penyihir hitam, kekerasan dan pembunuhan hanyalah sarana untuk mencapai tujuan. Namun bagi Bellatrix Lestrange, hal tersebut justru menjadi bagian yang paling menyenangkan. Segelintir karakter di alam semesta Harry Potter menikmati penderitaan orang lain sebesar Bellatrix, dan sifat kejam inilah yang membuatnya sangat berbahaya dalam pertempuran. Ketika hasrat membunuhnya memuncak, ia menjadi lawan brutal yang tidak akan berhenti sebelum berhasil membunuh mangsanya—seperti sepupunya sendiri, Sirius Black—atau menghancurkan mental mereka, seperti nasib tragis Frank dan Alice Longbottom.
Dalam banyak hal, Bellatrix adalah kebalikan dari Snape yang mengandalkan kecerdasan ketimbang emosi, sementara Bellatrix lebih suka bertindak atas dorongan agresifnya. Untuk waktu yang lama, taktik tersebut berhasil baginya, hingga akhirnya menjadi bumerang saat Pertempuran Hogwarts. Keputusannya untuk mencoba membunuh Ginny Weasley daripada sekadar melumpuhkannya memicu campur tangan Molly Weasley yang berujung pada kematian Bellatrix. Seandainya Bellatrix bisa lebih mengendalikan diri, ia mungkin bisa hidup lebih lama, meski mungkin ia tidak akan menjadi petarung yang begitu menakutkan.
Harry Potter Adalah Petarung Berbakat Sekaligus Penuh Pertimbangan
Sebagai karakter utama yang terpilih dalam saga ini, Harry Potter secara alami menjadi salah satu petarung terbaik dalam seri buku tersebut. Meskipun saat itu usianya baru belasan tahun, Harry harus menghadapi banyak penyihir hitam dan berhasil keluar sebagai pemenang—sebagian memang berkat bantuan alur cerita, namun tidak sedikit pula yang karena keterampilannya yang luar biasa, khususnya dalam ilmu sihir pertahanan. Buktinya, ia berhasil menguasai mantra Patronus di usia yang sangat muda.
Kelemahan terbesar Harry sebagai seorang petarung sebenarnya merupakan kekuatan terbesarnya sebagai pahlawan, yaitu rasa belas kasihannya. Karena memiliki moral yang kuat, Harry tidak pernah berniat untuk menghabisi nyawa musuhnya dan sangat bergantung pada mantra pelumpuh seperti Expelliarmus atau Stupefy, membuat gaya bertarungnya mudah ditebak oleh lawan yang licik. Di sisi lain, sifat tidak mementingkan diri sendiri dan kesiapan Harry untuk mengorbankan nyawanya adalah senjata spesial tersendiri, seperti yang terlihat dalam Pertempuran Hogwarts, yang memungkinkannya mengalahkan Voldemort untuk selama-lamanya.








