Home / Game / Penggemar Game of Thrones Wajib Baca Seri Buku Fantasi Berusia 20 Tahun Ini yang Punya Ending Tuntas

Penggemar Game of Thrones Wajib Baca Seri Buku Fantasi Berusia 20 Tahun Ini yang Punya Ending Tuntas

untitled design 6 7

Bagi para penggemar karya sastra fantasi, menantikan kelanjutan cerita dari George R.R. Martin lewat seri A Song of Ice And Fire kerap menjadi hal yang menguji kesabaran. Seri buku yang kemudian diadaptasi menjadi serial televisi Game of Thrones ini diakui sebagai salah satu karya epik terbaik pada abad ke-21, namun nasib penyelesaiannya masih menggantung dan belum menunjukkan kejelasan. Walaupun harapan untuk melihat akhir kisah tersebut semakin tipis, pembaca yang merasa kecewa tidak perlu khawatir karena ada alternatif lain yang dapat mengobati kerinduan akan kisah penuh intrik.

Seri novel First Law karya Joe Abercrombie menawarkan berbagai elemen menarik yang dulunya membuat Game of Thrones begitu memikat. Mulai dari intrik politik yang luas, jajaran karakter yang kompleks, kekerasan brutal, perpaduan antara trope fantasi dengan realisme sinis, hingga kejutan-kejutan tak terduga yang siap mengejutkan pembaca. Abercrombie membawa aliran cerita grimdark ke tingkat yang lebih intens, menghasilkan rangkaian novel yang bahkan bisa dibilang jauh lebih kelam dibanding kisah ciptaan Martin. Terlebih lagi, karena keseluruhan seri ini telah rampung dengan akhir yang jelas, karya Abercrombie menjadi pilihan yang sangat tepat bagi para penikmat cerita fantasi dewasa.

Trilogi Original First Law Dipenuhi Karakter yang Mirip dengan Game of Thrones

An image from the graphic novel of The Blade Itself

Trilogi perdana dari seri First Law terdiri dari tiga buku, diawali dengan The Blade Itself, dilanjutkan oleh Before They Are Hanged, dan ditutup dengan The Last Argument of Kings. Buku-buku ini mengikuti perjalanan sejumlah tokoh utama yang sepintas terlihat seperti karakter klise dari cerita fantasi pada umumnya:

  • Logen Ninefingers digambarkan sebagai seorang pria barbar dari utara yang masih memiliki prinsip moral.
  • Jezal dan Luthar merupakan seorang bangsawan berpenampilan menarik serta ahli pedang yang handal.
  • Bayaz tampil sebagai sosok penyihir pertama yang bijaksana ala Gandalf.
  • Sand dan Glokta adalah mantan prajurit yang beralih profesi menjadi seorang inkuisitor sekaligus algojo penyiksa.

Namun, trilogi First Law bukanlah cerita fantasi pasaran. Begitu mengenalkan karakter-karakter tersebut, Abercrombie langsung membongkar arketipe klise itu satu per satu. Logen Ninefingers, yang sering kehilangan kesadaran dan mendatangkan malapetaka bagi orang di sekitarnya, ternyata tidak sekonsisten kelihatannya dan kerap disandingkan dengan The Hound akibat aksi kekerasannya serta konflik batin yang dialaminya. Sementara itu, Jezal yang arogan mendadak tak berdaya ketika menghadapi lawan yang sepadan, dan Bayaz yang tampak ramah ternyata menyimpan sifat manipulatif yang penuh perhitungan, mirip dengan karakter Littlefinger.

Glokta sendiri merupakan ciptaan Abercrombie yang paling berkesan. Dulunya seorang pendekar pedang terkenal, ia tertangkap musuh dan disiksa hingga bentuk tubuhnya berubah drastis. Ia kini hidup dalam penderitaan fisik di setiap gerakannya, giginya dikikir habis sehingga menyulitkan proses makan, dan musuh terbesarnya sehari-hari adalah tangga di tempat tinggalnya. Meskipun demikian, ia adalah seorang penyelidik yang cerdas dan politikus handal. Walaupun karakternya sangat tidak menyenangkan, pembaca tetap merasa ingin mendukungnya karena posisinya sebagai pihak yang tertindas, bahkan saat ia mulai menaiki tangga kekuasaan politik.

Karakteristik ini membuat Glokta terasa mirip dengan Tyrion Lannister dari Game of Thrones. Sama seperti Tyrion, Glokta memiliki selera humor yang kelam, di mana frasa tentang penemuan mayat di dekat dermaga terus berputar di kepalanya. Penyelidikan yang dilakukannya selama Pengepungan Dagoska juga mengingatkan pembaca pada masa jabatan Tyrion sebagai Hand of The King. Semua tokoh utama dalam buku ini memiliki latar belakang yang sama kaya, dan cara Abercrombie mendekonstruksi ekspektasi pembaca selalu memberikan kepuasan tersendiri. Sama seperti dalam Game of Thrones, tidak ada satu pun karakter yang benar-benar sesuai dengan kesan pertama mereka.

Sebagian Besar Daya Tarik Game of Thrones Hadir di Dalam Seri First Law

Istilah “membalikkan ekspektasi” belakangan ini sering dianggap negatif karena kerap dihubungkan dengan plot yang terkesan curang. Adegan-adegan awal di Game of Thrones yang sukses membalikkan dugaan penonton memang masih menyisakan dampak kuat—seperti eksekusi Ned Stark, Red Wedding, hingga pertarungan antara The Mountain melawan The Viper. Namun, adegan-adegan di musim selanjutnya terkadang hanya mengandalkan unsur kejut semata yang berujung melelahkan. Di sisi lain, buku-buku karya Abercrombie tidak sekadar membalikkan dugaan pembaca demi sensasi sesaat.

Sang penulis benar-benar mendalami arketipe karakter yang ada, sehingga unsur kejutan dalam novel-novelnya terasa lahir dari pendalaman karakter yang matang dan bukan sekadar trik kejut murahan. Keunggulan utama dari trilogi First Law tampak jelas pada bagian penutupnya. Alih-alih langsung memulai saga baru yang panjang, Abercrombie menulis tiga novel mandiri yang mengambil latar di dunia yang sama, dengan menyoroti karakter pendukung dari trilogi utama sebagai sudut pandang utama cerita.

Mirip dengan kisah A Song of Ice and Fire karya Martin, para karakternya saling bersilangan dan masuk ke dalam kisah satu sama lain. Tokoh minor di satu buku buatan Abercrombie bisa menjadi pemeran utama di buku berikutnya, sementara karakter penting dapat menghilang selama beberapa buku sebelum muncul kembali secara mendadak. Menariknya lagi, setiap buku mengusung genre yang berbeda. Best Served Cold adalah novel cerita seru bertema balas dendam yang penuh darah, The Heroes merupakan kisah perang kelam yang berfokus pada pertempuran tiga hari, dan Red Country membawa nuansa cerita koboi revisionis ke dalam dunia fantasi. Buku-buku awal ASOIAF juga melakukan transisi antar subgenre fantasi ini, sehingga pembaca yang menyukai perpaduan fantasi historis dan politik pasti akan menikmati karya Abercrombie.

Seluruh Seri Buatan Abercrombie Memiliki Akhir yang Jelas

The First Law graphic novel cover art

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *