Home / Travel / 4 Warga Asing yang Tekuni Peran Tradisional Jepang dan Dobrak Batas Budaya

4 Warga Asing yang Tekuni Peran Tradisional Jepang dan Dobrak Batas Budaya

header 640x 9

Bicara soal Jepang, ada banyak hal ikonik yang langsung terlintas di pikiran. Beberapa di antaranya bahkan sudah mendarah daging dalam kebudayaan serta sejarah mereka, termasuk berbagai profesi tradisional yang kerap diidentikkan secara eksklusif dengan warga lokal.

Kendati demikian, lanskap sosial di Jepang modern membuktikan bahwa sejumlah warga negara asing mampu menembus batasan tersebut dan menorehkan prestasi gemilang di bidang profesi tradisional. Melawan pandangan umum bahwa sektor-sektor tertentu hanya diperuntukkan bagi pribumi, figur-figur internasional ini sukses membuktikan kemampuan mereka.

Rakugo

rakugo man sitting and smiling
Source: Norimutsu Nogami

Rakugo merupakan seni pertunjukan kisah komedi asal Jepang yang berakar sejak abad ke-9. Kesenian ini mulanya dijuluki karukuchi yang berarti “banyak bicara”, sementara naskah-naskah kuno juga menyebutnya otoshibanashi atau “wacana terjatuh”. Istilah rakugo sendiri secara harfiah bermakna “kata-kata yang jatuh” dan mulai populer digunakan pada era Meiji.

Dalam sebuah pementasan rakugo, seorang penampil duduk bersimpuh di atas panggung dan membawakan cerita yang bisa berlangsung hingga berjam-jam. Properti yang diizinkan sangat minimalis, hanya sehelai kipas kertas dan selembar kain kecil. Karena dibawakan seorang diri, sang seniman atau rakugoka harus memerankan berbagai karakter sekaligus, mengandalkan sedikit perubahan intonasi dan nada suara untuk membedakan antartokoh. Profesor Noriko Watanabe bahkan mengibaratkan rakugo sebagai sitkom di mana satu orang memainkan seluruh peran.

Kesenian ini diciptakan oleh para biksu Buddha pada abad ke-9 untuk membuat khotbah mereka lebih menarik dan mudah dipahami jemaat, yang jejak tertulisnya dapat ditelusuri melalui kumpulan cerita Uji Shūi Monogatari. Tradisi ini kemudian meluas ke seluruh penjuru negeri.

Seorang rakugoka masa kini wajib diterima sebagai murid oleh seorang master sebelum diizinkan tampil. Jepang saat ini hanya memiliki dua pusat pelatihan rakugo resmi. Setelah mengamati sang guru dan berlatih secara intensif, para pemula dapat menjalani debut profesional mereka hingga akhirnya lulus dan menjadi rakugoka penuh.

Sepanjang sejarah rakugo, tercatat baru ada tiga orang asing yang diakui sebagai profesional sejati. Tokoh pertama adalah Henry James Black, lahir di Australia tahun 1858 dan menetap di Jepang sejak usia tiga tahun, yang kemudian dikenal sebagai Kairakutei Black. Ia mengawali kariernya dengan menceritakan lelucon di dekat perusahaan penerbitan ayahnya sebelum akhirnya dilatih oleh seorang master. Menentang keinginan keluarganya, ia bahkan memilih untuk pindah kewarganegaraan dan diadopsi oleh keluarga Jepang. Black wafat pada 19 September 1923 dan dimakamkan di Pemakaman Asing Yokohama.

Tokoh asing berikutnya adalah Bill Crowley. Meski dibimbing oleh Katsura Shijaku II, ia tidak pernah menjalani masa pemagangan resmi. Bergabung dengan kelompok pementasan HOE International bersama beberapa calon rakugoka asing lainnya, Crowley menjadi pelopor rakugo berbahasa Inggris dengan meyakini bahwa universalitas cerita di dalamnya mampu menembus hambatan bahasa.

Selain Bill Crowley, satu-satunya rakugoka asing yang masih aktif tampil adalah Katsura Sunshine. Lahir dengan nama Gregory Robic di Toronto pada 6 April 1970, ia mulanya mempelajari sastra klasik di University of Toronto sebelum pindah ke Jepang untuk mendalami Noh dan Kabuki, serta mengajar bahasa Inggris. Pada tahun 2008, ia resmi menjadi murid Katsura Sanshi (kini dikenal sebagai Katsura Bunshi VI). Mengikuti tradisi penamaan, ia menggabungkan unsur “san” dari nama sang master dengan kata “shine” hingga berbunyi “sunshine”. Ia debut di Singapura pada tahun 2009 dan menyelesaikan masa magang tiga tahunnya pada November 2012, sekaligus mencatatkan sejarah sebagai rakugoka profesional asing pertama dalam tradisi Kamigata berbasis di Osaka.

Sunshine menetap di Kota Ise dan rutin manggung di teater pribadinya, Ise Kawasaki Kikitei. Ia juga telah menggelar pertunjukan di berbagai negara seperti Singapura, Amerika Serikat, Kanada, Inggris, Skotlandia, Prancis, Australia, Sri Lanka, hingga Hong Kong, serta sering tampil di televisi Jepang maupun membawakan rakugo berbahasa Inggris di dunia Barat.

Menurut Sunshine, reaksi penonton terhadap penampilannya kerap terbagi; ada yang memuji kefasihannya berbahasa Jepang bagaikan penutur asli, namun ada pula yang menganggap kemampuan bahasanya belum cukup memadai untuk membawakan rakugo.

Sumo

painting sumo wrestlers

Membicarakan tradisi Jepang tentu tidak lengkap tanpa membahas sumo. Sebagai salah satu olahraga tertua di Jepang, asal-usul pastinya masih menyimpan misteri. Sebagian teori menduga sumo mendapat pengaruh dari negara-negara Asia lain, mengingat kemiripannya dengan gulat Mongolia (Bökh), gulat China (Shuai jiao), dan gulat Korea (Ssireum), yang masing-masing juga tidak memiliki catatan pasti mengenai penciptanya.

Teori lain menyebutkan bahwa sumo berakar dari ritual Shinto kuno, di mana para perwakilan bertarung melawan para roh atau kami demi memastikan keberhasilan panen. Tradisi tabur garam untuk menyucikan ring sebelum pertandingan juga bersumber dari ajaran Shinto. Bentuk ring yang dikenal saat ini lahir pada abad ke-16 ketika Oda Nobunaga menggelar turnamen sumo tingkat nasional dengan menyediakan arena resmi serta tribun penonton. Sebelum bertransformasi menjadi olahraga profesional pada periode Tokugawa, pertandingan dulunya diselenggarakan di halaman kuil atau tempat ibadah.

Para rikishi atau pegulat sumo profesional gelombang awal sebenarnya berasal dari kalangan rōnin, yakni para samurai tanpa tuan yang mencari sumber penghidupan baru. Turnamen profesional resmi dimulai pada tahun 1684 di Tokyo, kendati wilayah Kansai melalui Osaka juga sempat menjadi pusat awal sumo di Jepang. Pada tahun 1926, sumo Osaka dan Tokyo resmi bergabung, menjadikan stadion Ryōgoku Kokugikan di Tokyo sebagai lokasi utama pertandingan.

Hingga kini, sumo tetap menjadi olahraga kebanggaan Jepang, meski reputasinya sempat diguncang oleh berbagai skandal pengaturan skor, kasus kekerasan senior, hingga insiden hukum dalam beberapa tahun terakhir.

Di balik akarnya yang sangat tradisional, banyak warga negara asing yang menorehkan prestasi luar biasa di kancah sumo. Akebono Tarō, yang lahir dengan nama Chad Haaheo Rowan di Hawaii pada tahun 1969, mencetak sejarah sebagai pegulat non-Jepang pertama yang meraih peringkat yokozuna, kasta tertinggi dalam sumo. Setelahnya, lima warga negara asing lain turut menyusul meraih posisi tersebut, salah satunya adalah Hakuhō Shō.

Lahir dengan nama Mönkhbatyn Dayaajargal di Ulan Bator, Mongolia, pada 11 Maret 1985, Hakuhō merupakan putra seorang peraih medali perak gulat gaya bebas Olimpiade Musim Panas 1968 yang juga berstatus sebagai darkhan (setara yokozuna) dalam gulat tradisional Mongolia.

Meski memiliki latar belakang keluarga pegulat, ayah Hakuhō sempat melarang putranya menekuni bidang serupa karena menilai posturnya terlalu kecil. Saat usianya menginjak 15 tahun, ia mendapat undangan ke Jepang berkat bantuan Kyokushūzan, sesama pegulat sumo asal Mongolia. Dengan berat badan yang kala itu baru mencapai sekitar 62 kilogram, tidak ada satupun pemusatan latihan atau stable yang mau menerimanya hingga Kyokushūzan turun tangan meyakinkan pihak Miyagino stable. Memulai debut profesionalnya di Osaka pada tahun 2001, Hakuhō terus menempa diri hingga posturnya berkembang menjadi setinggi 193 sentimeter dengan berat 157 kilogram.

Pada Maret 2006, tak lama setelah menginjak usia 21 tahun, Hakuhō dipromosikan ke peringkat ōzeki, satu tingkat di bawah yokozuna, menjadikannya pegulat termuda keempat yang mencapai posisi tersebut di era modern. Setahun kemudian, ia resmi dikukuhkan sebagai yokozuna asing ketiga dalam sejarah setelah memenangkan dua turnamen berturut-turut, termasuk satu kemenangan sempurna dengan rekor 15-0.

Hingga kini, Hakuhō memegang berbagai rekor bergengsi seperti kemenangan terbanyak dalam satu tahun kalender, kejuaraan turnamen tanpa terkalahkan terbanyak, serta deretan catatan impresif lainnya di divisi utama sumo.

Ketua Asosiasi Sumo Jepang yang juga mantan yokozuna, Kitanoumi, pernah memuji prestasinya dengan menyatakan bahwa tidak ada seorang pun yang mampu menandingi konsistensi Hakuhō di arena.

Enka

enka singer woman
Source: Shinya ICHINOHE

Sebelum demam idol seperti AKB-48 dan Arashi merajai industri hiburan, musik enka pernah menjadi identitas penting dalam kancah permusikan Jepang.

Istilah “enka” mulanya merujuk pada rangkaian lagu protes politik terhadap kebijakan pemerintah pada era Meiji. Pemerintah saat itu menerapkan aturan ketat yang melarang demonstrasi atau pidato politik, sehingga masyarakat mencari celah dengan cara menyuarakan kritik mereka melalui bentuk alunan lagu.

Seiring berjalannya waktu, aliran enka mengalami metamorfosis dengan memadukan instrumen tradisional seperti shakuhachi dan shamisen bersama perangkat modern seperti biola, gitar, dan alat perkusi.

Memasuki era 1940-an, masuknya pengaruh musik jazz di Jepang pascaperang turut mendongkrak popularitas para penyanyi enka. Kasuga Hachirō diakui sebagai biduan enka modern pertama, di mana singel hit tahun 1954 miliknya yang berjudul “Otomi-san” sukses terjual lebih dari satu juta keping. Kejayaan enka terus bertahan hingga dekade 1990-an sebelum akhirnya perlahan tergeser oleh dominasi J-pop pasca wafatnya Kasuga pada tahun 1991.

Generasi muda Jepang kala itu mulai beralih ke genre musik bernuansa Barat. Namun, pada awal tahun 2000-an, muncul inovasi berupa “hybrid enka” yang mengawinkan unsur tradisional dengan aliran hip-hop, rap, serta rock, sehingga berhasil membangkitkan kembali minat publik terhadap genre ini.

Sarbjit Singh Chadha, seorang pria asal India, tercatat sebagai penyanyi enka non-Jepang pertama yang merilis album pada tahun 1975 dan sukses mencatatkan angka penjualan hingga lebih dari 150.000 kopi. Disusul pada tahun 2002 oleh Yolanda Tasico, penyanyi asal Filipina yang meluncurkan sejumlah singel di Jepang.

Dalam beberapa tahun terakhir, figur penyanyi enka asing yang paling mencuri perhatian adalah Jero, seorang warga negara Amerika Serikat. Lahir dengan nama Jerome Charles White, Jr. di Pittsburgh pada tahun 1981, darah seni dan kecintaannya pada budaya Jepang diturunkan dari sang nenek—istri seorang tentara Amerika yang bertugas di Jepang pada masa Perang Dunia II. Sang neneklah yang mengenalkannya pada musik enka sejak ia berusia enam tahun.

Setelah merampungkan studinya di bidang teknologi informasi di University of Pittsburgh dan sempat bekerja sebagai guru bahasa Inggris serta insinyur komputer, Jero membulatkan tekad untuk mewujudkan impian almarhumah neneknya menjadi penyanyi enka profesional dan tampil di panggung Kohaku Uta Gassen. Singel debutnya yang berjudul “Umiyuki” dirilis pada tahun 2008 dan langsung menduduki peringkat ke-4 tangga lagu Jepang, menjadikannya penyanyi enka keturunan Afrika pertama. Ia kemudian menyabet penghargaan Artis Pendatang Baru Terbaik di ajang Japan Record Awards ke-50 dan sukses memenuhi janji pada sang nenek dengan tampil di panggung Kohaku Uta Gassen.

Meski membawakan lirik bercorak enka tradisional, gaya panggung Jero kental dengan pengaruh hip-hop. Ia kerap mengenakan pakaian kasual seperti kaus jersey, sepatu kets, dan topi baseball alih-alih kimono formal, sebuah kombinasi unik yang berhasil merangkul pendengar lintas generasi.

Ukiyo-e

ukiyo-e print painting great wave

Ukiyo-e adalah genre seni lukis dan cetak blok kayu tradisional Jepang yang berkembang pesat seiring urbanisasi pada periode Edo. Karya-karya ini umumnya menggambarkan keelokan wanita, aktor teater ternama, pegulat sumo, hingga cerita rakyat. Proses pembuatannya secara tradisional melibatkan tiga pihak utama yang bekerja secara terpisah:

  1. Seorang pengukir yang membuat pahatan pada blok kayu.
  2. Seorang pencetak yang mengoleskan tinta dan meratakan gambar ke atas kertas.
  3. Seorang penerbit yang membiayai produksi serta mendistribusikan karya jadi.

Di era modern, teknik pembuatan ukiyo-e banyak bergeser menggunakan metode cetak saring, etsa, maupun media multimedia kontemporer.

Kendati demikian, masih ada seniman yang konsisten mempertahankan metode pahat dan cetak tradisional secara utuh. David Bull, seniman asal Toronto, mulai tertarik pada ukiyo-e saat mengunjungi galeri pameran cetak blok kayu di daerahnya. Ia memutuskan pindah ke Jepang pada tahun 1986 bersama istrinya dan mempelajari teknik tersebut secara autodidak dengan menelaah karya para maestro era Edo.

Selain mengerjakan seluruh proses produksi seorang diri—mulai dari perancangan desain, pengukiran, pencetakan, hingga penerbitan—Bull juga mendedikasikan waktu bertahun-tahun untuk merampungkan proyek seri karya, seperti koleksi 100 cetakan puisi klasik Hyakunin Isshu yang memakan waktu satu dekade penuh. Kini, ia juga aktif membagikan ilmunya kepada generasi seniman muda melalui tim produksi Ukiyo-e Heroes.

Profesi Tradisional Jepang Terbuka untuk Siapa Saja

hiroshige sumida river painting

Jepang kerap dipandang sebagai negara tertutup di mana warga asing sulit sepenuhnya membaur. Sebagian kalangan berargumen bahwa pemahaman mendalam mengenai nuansa tradisi lokal hanya dapat dikuasai oleh pribumi. Namun, perjalanan sejarah telah membuktikan bahwa apresiasi dan penguasaan terhadap warisan budaya bernilai tinggi tidak mengenal batasan kewarganegaraan. Dari pendatang asal sesama negara Asia hingga warga Barat, banyak individu yang berhasil menembus dinding sosial Jepang dan melestarikan warisan tradisi tanpa harus kehilangan keasliannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *