Kalangan otaku telah lama dikenal sebagai kekuatan ekonomi yang patut diperhitungkan. Daya beli mereka yang luar biasa menjadikan kelompok ini sebagai target utama para penjual berbagai macam barang, mulai dari figur aksi, DVD, hingga bantal dakimakura, bahkan menginspirasi destinasi wisata khusus.
Akihabara di Tokyo sudah lama menjadi pusat atau Mekkah bagi para otaku. Di distrik ini, pengunjung dapat menemukan berbagai merchandise langka yang banyak dicari, kafe pelayan yang menyajikan nuansa moe, serta berbagai tempat menarik lainnya. Tempat ini pula yang menjadi saksi awal perjalanan Danny Choo sebagai salah satu tokoh penting di kalangan otaku.
Namun, Akihabara bukanlah satu-satunya tempat suci bagi para penggemar budaya pop Jepang. Kenyataannya, terdapat banyak lokasi di seluruh dunia yang berfungsi sebagai situs sakral bagi para otaku.

Fenomena ini didukung oleh fakta bahwa banyak anime mengambil latar tempat di lokasi nyata atau menjadikannya sebagai model inspirasi. Berkat referensi dunia nyata tersebut, para kreator mampu menghadirkan tingkat detail yang mengagumkan dalam merekonstruksi lingkungan dalam karya mereka.
Destinasi yang dikunjungi para otaku untuk memberikan penghormatan kepada anime atau manga favorit mereka tentu bervariasi, tergantung pada franchise yang mereka gemari. Meskipun demikian, Akihabara tetap unik karena menjadi satu-satunya tempat yang dapat dinikmati oleh seluruh kalangan otaku.
Kuil Anime
Bagi penggemar serial manga dan anime Lucky Star, terdapat sebuah tempat khusus untuk menunjukkan dedikasi terhadap serial kesayangan mereka.
Dua karakter utama dalam Lucky Star diceritakan sebagai anak dari seorang pendeta di kuil fiktif yang ternyata dimodelkan dari kuil sungguhan bernama Washinomiya.
Pada tahun-tahun setelah penayangan perdana Lucky Star, Kuil Washinomiya mengalami lonjakan drastis dalam pariwisata otaku. Dalam kurun waktu dua tahun saja, jumlah kunjungan wisatawan ke kuil tersebut meningkat hingga empat kali lipat.

Masyarakat setempat menyambut baik gelombang kedatangan wisatawan otaku ini, bahkan hingga mengundang para pengisi suara Lucky Star untuk berkunjung ke kuil serta menerbitkan kartu penduduk resmi bagi karakter-karakter fiktif dari anime tersebut.
Meskipun sudah bertahun-tahun berlalu sejak anime Lucky Star tayang di televisi—sementara manga-nya masih terus berlanjut—menarik untuk melihat seberapa lama para penggemar setianya akan terus mendatangi Washinomiya.
Membangun Ketertarikan
Jika suatu wilayah tidak cukup beruntung memiliki latar anime atau manga yang dapat menarik kedatangan para otaku, opsi lain yang bisa dilakukan adalah menciptakan ketertarikan tersebut secara sengaja.

Sebuah kota di Jepang bernama Ugo pernah mengalami masa-masa sulit sebelum memutuskan untuk melakukan rebranding pada produk beras lokal mereka demi menarik perhatian publik. Pemerintah setempat menyewa seorang ilustrator untuk menghias kemasan beras dengan gambar karakter wanita yang menarik minat para otaku.
Strategi branding baru ini terbukti sukses meningkatkan penjualan beras hingga tiga kali lipat dari jumlah normal, sekaligus mendatangkan gelombang kunjungan otaku ke kota Ugo.
Otaku Lintas Negara
Perjalanan yang dilakukan oleh para otaku ke berbagai wilayah di Jepang masih tergolong wajar mengingat negara tersebut memiliki wilayah yang relatif kecil dengan sistem transportasi publik yang sangat baik, sehingga memudahkan mobilitas dari satu tempat ke tempat lain.
Namun, ada segelintir otaku tingkat lanjut yang melakukan ziarah hingga melintasi benua demi mewujudkan impian mereka.

Kota Cuenca di Spanyol juga menjadi salah satu destinasi liburan para otaku. Serial anime Sound of the Sky menggunakan kota ini sebagai referensi utama untuk berbagai latar tempatnya. Tidak heran jika para penggemar yang berhasil mengenali lokasi asli tersebut langsung melakukan perjalanan jauh ke Cuenca.
Fenomena ini memunculkan pertanyaan mengenai bagaimana para otaku mampu memiliki dana berlebih untuk melakukan perjalanan semacam itu. Barangkali sudah saatnya mengikuti pola hidup tradisional ala otaku dengan mengonsumsi mi instan demi menabung untuk perjalanan ziarah sendiri.







