Home / Travel / Kelemahan dan Masalah Pendidikan Jepang: Apakah Layak Mendapat Nilai Kelulusan?

Kelemahan dan Masalah Pendidikan Jepang: Apakah Layak Mendapat Nilai Kelulusan?

header 640x 12

Artikel ini ditulis sebagai tanggapan atas tulisan Koichi sebelumnya yang berjudul “Why Japanese Education Succeeds: Amae, Stress and Perseverence”. Alih-alih membahas kesuksesannya, tulisan ini justru ingin menyoroti berbagai keterbatasan dalam sistem pendidikan Jepang.

Sebelum membahas lebih jauh, penting untuk menjelaskan latar belakang penulis. Berasal dari Singapura dengan sistem pendidikan ala Asia yang juga cukup ketat, perspektif yang dimiliki tentu akan berbeda dibandingkan pengamat dari negara barat. Sebagai contoh, tingkat putus sekolah yang rendah di Jepang mungkin tampak sangat mengejutkan bagi orang Amerika. Namun bagi saya, hal tersebut, begitu pula dengan tekanan ujian yang tinggi, adalah sesuatu yang sudah biasa ditemui.

Terlepas dari hal itu, tren untuk mengagung-agungkan sistem pendidikan di negara-negara Asia memang masih ada dan terus berlanjut. Pujian yang sempat dilontarkan oleh Presiden AS Barack Obama terhadap sistem pendidikan Korea Selatan menjadi salah satu buktinya.

Kendati demikian, banyak pengamat dari belahan dunia lain seringkali merasa heran melihat pujian tersebut. Di satu sisi, pandangan masyarakat Barat terhadap pendidikan di Asia kerap kali terlalu idealis—sistem pendidikan Asia terkadang lebih banyak dipuji oleh pihak luar ketimbang oleh orang yang menjalaninya sendiri. Sebagian besar poin dalam pembahasan ini juga dapat diterapkan pada negara-negara Asia lainnya karena banyaknya kemiripan, sementara beberapa aspek lainnya memang khas, khusus terjadi di Jepang.

Keterampilan Non-Kognitif

japanese students six boys in an elementary school classroom
Source: tony cassidy

Dalam artikel sebelumnya, Koichi menyebutkan bahwa budaya amae dan ganbare di dalam masyarakat Jepang menjadi fondasi utama mengapa generasi mudanya memiliki keterampilan non-kognitif yang lebih kuat, yang pada akhirnya mendongkrak performa personal mereka dalam jangka panjang. Hal ini juga yang membuat mereka mampu bertahan di tengah tekanan sistem pendidikan Jepang yang keras.

Dari segi ketekunan, toleransi terhadap stres, dan tingkat kesadaran diri, hal tersebut memang benar adanya. Namun, ada pula aspek keterampilan non-kognitif lain yang tidak bisa disamaratakan begitu saja, antara lain:

Rasa Percaya Diri

Sebuah survei yang dipublikasikan pada tahun 2011 menunjukkan bahwa hanya 37,3% siswa sekolah menengah di Jepang yang “cukup setuju” atau “sangat setuju” dengan pernyataan bahwa diri mereka adalah seseorang yang memiliki nilai berharga.

  • 私は価値のある人間だと思う
  • I am a human being with worth

Sebagai perbandingan, angka tersebut jauh lebih tinggi di negara lain, yakni mencapai 75,3% di Korea Selatan, 88,0% di Tiongkok, dan 90,4% di Amerika Serikat.

Selain itu, survei yang sama juga menanyakan apakah para peserta setuju dengan pernyataan berikut:

  • 私は努力すれば大体のことができる
  • I’ll be able to do most things if I put in effort

Hanya 44,4% responden di Jepang yang menyatakan setuju, sementara di negara-negara lain angka tersebut melampaui 80%. Kondisi ini memunculkan pertanyaan apakah siswa Jepang benar-benar bekerja keras karena yakin pada kemampuan diri sendiri, atau sekadar didorong oleh tekanan lingkungan.

Sifat Pemalu

Sifat pemalu sering kali digambarkan sebagai respons berlebihan terhadap rasa takut. Penelitian menunjukkan bahwa Jepang, bersama dengan Taiwan, mencatatkan tingkat rasa malu tertinggi di antara negara-negara yang disurvei. Di Jepang, ketika seorang anak berusaha dan berhasil, apresiasi umumnya diberikan kepada orang tua, guru, pelatih, hingga leluhur, sementara sang anak hampir tidak mendapat bagian pujian. Sebaliknya, apabila anak tersebut gagal, mereka harus menanggung seluruh kesalahan seorang diri tanpa boleh menyalahkan pihak lain.

Situasi ini menumbuhkan keyakinan bahwa mereka tidak akan pernah bisa menang, sehingga anak-anak cenderung menghindari mengambil risiko atau melakukan hal-hal yang membuat mereka menjadi pusat perhatian. Sesuai dengan pepatah Jepang yang terkenal, “paku yang menonjol akan dipukul jatuh.”

Rasa Ingin Tahu

Sebuah survei internasional yang dilakukan oleh OECD terhadap kelompok usia dewasa menanyakan seberapa besar kegemaran mereka dalam mempelajari hal-hal baru. Di Jepang, 20% responden menjawab “tidak sama sekali” atau “hanya sedikit”, angka tertinggi kedua setelah Korea Selatan yang mendekati 29%. Sementara itu, mereka yang menjawab “dalam tingkat tertentu” mencapai 36,8%, dan kategori “tinggi hingga sangat tinggi” hanya berada di angka 42%, jauh tertinggal dibandingkan sebagian besar negara peserta survei lainnya.

Meski belum tentu sistem pendidikan menjadi satu-satunya penyebab utama, ujian yang sangat mengandalkan metode hafalan berpotensi melemahkan motivasi siswa untuk mengeksplorasi materi di luar kurikulum yang kaku. Lagi pula, pengetahuan tambahan di luar kurikulum tidak memberikan pengaruh pada hasil ujian.

Data tersebut tentu masih bisa diperdebatkan, mengingat angka-angka rendah itu mungkin sekadar mencerminkan sifat kerendahan hati masyarakat Jepang. Kendati demikian, selisih persentase yang cukup jauh antarnegara menunjukkan bahwa pencapaian di bidang keterampilan non-kognitif ini tidak sepenuhnya merata.

Kurikulum

japanese language student textbooks in a pile
Source: asahiko

Beranjak ke sistem pendidikan itu sendiri, penting pula untuk melihat keterampilan kognitif apa saja yang diajarkan. Meskipun keterampilan non-kognitif memegang peranan besar dalam kesuksesan seseorang, keterampilan kognitif tetap memiliki andil yang sangat signifikan, sebagaimana ditunjukkan oleh berbagai penelitian ekonomi di Amerika Serikat mengenai faktor penentu tingkat penghasilan.

Keterampilan non-kognitif memang sering kali menjadi titik awal seseorang menuju kesuksesan. Kerja keras dalam belajar matematika, misalnya, dapat mengasah kemampuan kognitif hingga seseorang memenuhi syarat untuk menjadi seorang akuntan. Namun tanpa perkembangan keterampilan kognitif yang memadai pada akhirnya, profesi tersebut tentu tidak akan pernah tercapai.

Oleh karena itu, kurikulum kognitif yang diterapkan di sekolah tetap memegang peranan krusial. Jepang memang memiliki keunggulan yang jelas dalam bidang literasi dan kemampuan numerasi, tetapi ada pula sejumlah kelemahan dalam sistemnya, antara lain:

Kemampuan Bahasa Asing, Termasuk Bahasa Inggris

Hal ini sudah menjadi rahasia umum dan bahkan bisa dibahas dalam artikel tersendiri. Meskipun telah menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk mempelajari bahasa Inggris di sekolah, rata-rata orang Jepang tetap merasa kesulitan ketika harus menggunakannya dalam situasi nyata.

Keterampilan Presentasi

Keterampilan ini merupakan gabungan antara kemampuan kognitif dan non-kognitif yang sayangnya masih sangat minim diajarkan. Berdasarkan pengalaman banyak pelajar, sebagian besar dari mereka baru pertama kali membuat presentasi menggunakan program komputer saat sudah menginjak bangku kuliah. Penggunaan bahasa tubuh yang minim, kebiasaan membaca naskah secara kaku, serta slide presentasi yang terlalu penuh teks masih menjadi pemandangan yang lazim.

Ekspresi Tertulis

Penulisan esai tidak mendapat porsi penekanan yang besar pada tingkat pra-universitas. Ujian Masuk Universitas Nasional di Jepang sepenuhnya menggunakan format pilihan ganda tanpa komponen esai, meskipun beberapa universitas swasta mungkin menambahkan ujian esai dalam seleksi mandiri mereka.

Pendidikan Teknologi Informasi (TI)

Survei PIAAC mencatat bahwa kemampuan pemecahan masalah di lingkungan berbasis teknologi digital untuk kelompok usia 16 hingga 24 tahun di Jepang berada di bawah rata-rata dibandingkan kelompok usia serupa di negara lain. Padahal, mata pelajaran komputer dan teknologi sudah diajarkan di sekolah. Minimnya proyek riset mandiri dan presentasi digital di luar mata pelajaran khusus komputer diduga menjadi faktor penghambat bagi perkembangan keterampilan tersebut pada generasi muda Jepang.


Dengan demikian, efektivitas sistem pendidikan Jepang tampak sangat terbatas ketika dihadapkan pada hal-hal di luar batas “hafalan fakta”. Kreativitas serta kemampuan untuk mengaplikasikan pengetahuan ke dalam situasi praktis—seperti kemampuan berbicara bahasa asing, presentasi, dan penulisan ekspresif—merupakan titik lemah yang nyata dari sistem pendidikan di negara ini.

Pandangan Orang Jepang Terhadap Sistem Pendidikan Mereka Sendiri

high school japanese students at culture festival outside
Source: Sanjo

Topik lain yang tidak kalah penting untuk dibahas adalah bagaimana cara masyarakat Jepang menilai sistem pendidikan mereka sendiri. Saat ini, terdapat tingkat pesimisme yang cukup tinggi di Jepang terkait masa depan, yang sering kali disertai dengan kecenderungan untuk menyalahkan atau mengkritik generasi muda.

Di satu sisi, kritik tersebut mungkin beralasan karena adanya permasalahan nyata di kalangan remaja. Namun di sisi lain, suasana pesimistis secara umum dapat memengaruhi cara pandang masyarakat dalam menilai generasi penerus mereka. Pertanyaan yang sering muncul di benak publik Jepang adalah: jika sistem pendidikan kami begitu hebat, mengapa kondisi ekonomi negara masih terus memburuk?

Muncul persepsi umum bahwa standar akademik di Jepang telah mengalami penurunan. Survei-survei yang melibatkan para pemberi kerja juga menunjukkan ketidakpuasan yang besar terhadap keterampilan lulusan sekolah menengah maupun universitas. Mengingat perekonomian Jepang belum menunjukkan pemulihan yang signifikan, pandangan negatif tersebut tampaknya masih bertahan hingga kini.

Melihat berbagai keraguan dan ketidakpuasan publik terhadap kualitas pendidikan ini, wajar jika pemerintah akhirnya memutuskan untuk memberlakukan reformasi pendidikan secara besar-besaran.

Kesimpulan

high school students in a japanese classroom summer

Masyarakat perlu berhati-hati dalam memandang Jepang, atau negara-negara Asia lainnya, sebagai contoh ideal keunggulan akademik yang sempurna. Setiap sistem memiliki masalahnya masing-masing, dan tanpa pemahaman yang mendalam mengenai realitas di lapangan, seseorang akan sangat mudah terjebak dalam pemikiran bahwa “rumput tetangga selalu tampak lebih hijau.”

Sebagaimana orang-orang Asia kerap mengagumi kelebihan sistem pendidikan Barat—terutama penekanan yang tinggi pada tradisi debat, diskusi, dan keterampilan komunikasi—sistem pendidikan di Asia juga menyimpan berbagai tantangan tersendiri yang tidak selalu seindah bayangan pihak luar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *