Home / Travel / Yamanashi Tersembunyi: Keindahan Alam, Kuliner Lokal, dan Ziarah Kuno

Yamanashi Tersembunyi: Keindahan Alam, Kuliner Lokal, dan Ziarah Kuno

A Statue of a Mt. Fuji Climber at Kitaguchi Hongu Fuji Sengen Shrine

Prefektur Yamanashi sering kali hanya dikenal wisatawan mancanegara sebagai tempat untuk mendaki Gunung Fuji. Padahal, wilayah yang dikelilingi pegunungan tinggi di Jepang ini menyimpan kekayaan sejarah serta keindahan alam yang luar biasa. Selain pernah menjadi pusat kekuasaan panglima perang era Sengoku yang legendaris, Takeda Shingen, Yamanashi menawarkan panorama dataran rendah yang memukau dan cocok bagi pencinta alam maupun sejarah.

Sayangnya, seperti kebanyakan wilayah di Jepang tengah, akses menuju berbagai lokasi tersembunyi di Yamanashi kerap menjadi tantangan tersendiri, terutama bagi wisatawan asing yang terkendala bahasa. Pemerintah prefektur pun berupaya mengatasi kendala infrastruktur ini dengan menghadirkan rangkaian tur berpemandu untuk memudahkan wisatawan menjelajahi destinasi menarik di sana tanpa harus repot menyewa mobil.

Cara Menuju ke Sana

1%2A5NZj VMgzGtvXND0NCGzqw

Bagi pelancong yang berangkat dari Tokyo, cara tercepat menuju Kota Kofu di Yamanashi adalah dengan naik kereta Limited Express Azusa dari Stasiun JR Shinjuku. Perjalanan ini memakan waktu sekitar 90 menit. Alternatif lainnya adalah menggunakan bus raya dari Tokyo yang menawarkan tarif lebih ekonomis, meski durasi perjalanannya sedikit lebih lama.

Pemerintah Prefektur Yamanashi saat ini mensponsori dua tur menarik yang dirancang untuk memandu wisatawan menikmati kebudayaan dan keindahan alam setempat.

Ngarai Shosenkyo di Yamanashi

Yamanashi Prefecture’s picturesque Shosenkyo Gorge

Tur pertama dipandu oleh Amemiya Yoichi beserta istrinya, yang akan membawa peserta menjelajahi keindahan Ngarai Shosenkyo. Terletak di pegunungan dekat Kofu, jurang alami ini merupakan bagian dari Taman Nasional Chichibu Tama Kai. Perjalanan dimulai dari halte bus Greenline Shosenkyo menyusuri lembah menuju Air Terjun Sengataki setinggi 30 meter, yang sangat memesona saat musim gugur tiba.

Setelah puas menikmati pemandangan, peserta akan diajak membuat mi hoto khas Yamanashi secara langsung dengan tangan. Proses pembuatan mi ini membutuhkan tenaga yang cukup besar sebelum akhirnya dimasak dan dinikmati di restoran terdekat.

Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju Kuil Kanazakura yang bersejarah. Peserta harus menaiki sekitar 300 anak tangga di tengah pepohonan cedar raksasa untuk mencapai kuil yang telah berdiri hampir 2.000 tahun ini. Dari area khusus di kuil ini, pengunjung dapat menikmati pemandangan Gunung Fuji jika cuaca cerah.

Tour paricipants practice writing the kanji for Takeda Shingen’s slogan, fu-rin-ka-zan

Sebagai penutup tur, istri Yoichi memandu workshop kaligrafi. Sambil menikmati teh dan kue tradisional wagashi, peserta diajarkan cara memegang kuas untuk menuliskan aksara yang membentuk slogan terkenal Takeda Shingen, yaitu Fu-Rin-Ka-Zan.

Para Peziarah Gunung Fuji

A historical painting of pilgrims exploring Mt. Fuji’s lava caves

Tur kedua dipandu oleh Tomomi, yang mengajak peserta mendalami sejarah Gunung Fuji sebagai simbol keagamaan melalui jalur ziarah kuno. Tur ini melibatkan banyak aktivitas berjalan kaki dan penjelajahan gua, sehingga peserta disarankan memiliki kondisi fisik yang prima.

Destinasi pertama adalah Cetakan Pohon Lava Funatsu, terbentuk akibat pepohonan besar yang terbungkus lahar dari letusan purba Gunung Fuji. Gua-gua lava ini dulunya dianggap suci oleh para peziarah sebagai simbol kelahiran kembali. Karena langit-langit gua yang sangat rendah, pengunjung harus berjalan dengan posisi membungkuk selama belasan menit.

Selepas menjelajahi gua, peserta akan menikmati hidangan mi udon Yoshida yang kenyal dan lezat khas kawasan kaki Gunung Fuji. Perjalanan kemudian berlanjut dengan berjalan kaki ke kawasan Kamiyoshida, melewati bekas kediaman Keluarga Togawa yang telah berusia lebih dari 250 tahun. Di tempat ini, pengunjung dapat melihat berbagai artefak bersejarah, termasuk pakaian panjat gunung tradisional yang dikenakan para peziarah masa lampau.

A Japanese tour guide explains the Fujiko cult to a group of travelers
Stone lanterns line the entrance to Yamanashi Prefecture’s Kitaguchi Hongu Fuji Sengen Shrine

Perhentian terakhir dalam tur Tomomi adalah Kuil Kitaguchi Hongu Fuji Sengen. Kompleks kuil megah ini dikelilingi pohon-pohon berukuran raksasa yang usianya telah mencapai ribuan tahun serta memiliki gerbang torii kayu terbesar di Jepang. Kuil ini dahulu menjadi titik awal penyucian diri bagi para peziarah sebelum mendaki gunung suci tersebut.

Atraksi Lain di Sekitarnya

A replica of the helmet of the warlord Takeda Shingen from Yamanashi Prefecture

Selain kedua tur di atas, Prefektur Yamanashi masih menyimpan banyak daya tarik lain, mulai dari situs benteng Takeda Shingen, buah persik yang manis, hingga produk anggur lokal yang nikmat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *