Home / Anime / Wawancara: MURASAKI WAVES tentang Musik City Pop dan Latar Belakang Band

Wawancara: MURASAKI WAVES tentang Musik City Pop dan Latar Belakang Band

1788429718 db46435c4a1a816a96e65c95ddc83334 1024x576 1

Dalam kunjungan ke konvensi DoKomi di Jerman, kami berkesempatan untuk berbincang-bincang dengan band kover city pop, MURASAKI WAVES. Akhir pekan sebelumnya, grup ini tampil di panggung utama acara “Japan-Tag” di Düsseldorf, sebuah perayaan yang mendedikasikan diri untuk budaya Jepang. Di DoKomi, MURASAKI WAVES membawakan deretan lagu terbaik dari katalog city pop di panggung Live Stage dan area Hana no Machi.

Band ini beranggotakan Lily Aiko Mertens (vokal), Ares Gnauk (gitar), Yannick Bethmann (bas), Kenji Fujii (drum), Raphael Zuber (kibor), Finley Münker (trapesium/terompet), Alex Hefny (saksofon), Felix Koch (trombon), dan Alex Ehret (trombon). Dalam wawancara ini, kami membahas akar terbentuknya MURASAKI WAVES, kebangkitan tren city pop saat ini, serta perjalanan mereka sebagai band kover.


1788429779 dee8f89ee0184010173b95bdf66fa7c8

MURASAKI WAVES – Official Logo

Beberapa bagian dari wawancara ini telah disunting agar lebih mudah dipahami.

Asal-Usul Nama dan Awal Mula Terbentuknya Band

T: Apa arti di balik nama ‘MURASAKI WAVES’?

Yannick: Seperti kebanyakan band lainnya, kami mulai tanpa nama, tetapi kami membutuhkannya untuk penampilan langsung. Kami berdiskusi sejenak dan teringat pada film Ghibli berjudul Ocean Waves. Kami merasa penting untuk memasukkan unsur budaya Jepang ke dalam nama kami, lalu kami mengganti kata ‘ocean’ menjadi ‘murasaki’ yang berarti warna ungu dalam bahasa Jepang.

Kami juga terinspirasi oleh karya Hiroshi Nagai, seorang seniman pop Jepang terkenal yang mengerjakan banyak sampul album city pop orisinal. Banyak tema karya Nagai menampilkan pantai atau kolam renang dengan nuansa warna ungu-biru, yang merupakan warna khas city pop. Kami rasa keputusan terbaik adalah menggabungkan seluruh konsep tersebut untuk menciptakan nama kami.

Raphael: Kami juga berpikir bahwa ‘MURASAKI WAVES’ merepresentasikan lirik city pop, karena lagu-lagu tersebut menggunakan bahasa Jepang yang dipadukan dengan kata-kata berbahasa Inggris. Selain itu, seperti yang ia katakan, ungu adalah warna yang diasosiasikan orang dengan city pop di internet.

T: Apakah kalian langsung memutuskan untuk membawakan genre city pop sejak awal?

Yannick: Kami memilih city pop sejak hari pertama. Kami sangat ingin menghadirkan nuansa asli dari genre tersebut. Ares dan saya pernah bermain di band lain sebelumnya, dan dialah yang mengenalkan saya pada city pop. Selama masa pandemi, saya mulai sering mendengarkannya. Kami juga mendengarkannya bersama Kenji. Menurut kami, musiknya bernuansa funky dan seru untuk dimainkan.

Kami sudah mengenal beberapa orang di Düsseldorf yang bisa kami ajak bicara, seperti, “Kenapa kita tidak membentuk band untuk membawakan musik ini?” Banyak dari mereka yang masih asing dengan genre tersebut, tetapi langsung menyukainya sejak pertama kali mendengarkan. Setelah itu, kami memilih satu atau dua lagu untuk mulai dimainkan dan bersenang-senang.

Fenomena Kebangkitan Kembali City Pop

T: Bagaimana kalian menjelaskan fenomena “kebangkitan” city pop saat ini?

Yannick: Hal ini berkaitan erat dengan budaya internet dan cara kerja viralitas. Video lagu Mariya Takeuchi yang berjudul ‘Plastic Love’ menjadi viral sekitar tahun 2018. Itulah pertama kalinya banyak orang di luar Jepang mengenal city pop. Tentu saja, bagi masyarakat Jepang, konotasinya sangat berbeda. Bagi mereka, genre ini terasa seperti musik rock era 80-an di tempat kita.

Lily: Saya merasa alasan mengapa city pop begitu diminati oleh orang Barat kemungkinan besar karena maraknya pengagungan terhadap budaya Jepang saat ini. Segala sesuatu yang berasal dari Jepang tampak keren. Ada pula unsur nostalgia dari generasi muda terhadap masa lalu, seperti era 70-an atau 80-an. Bahkan era 90-an dan 2000-an kini mulai kembali populer.

1788432227 1aa1e8115e8ea4de960bf1d3541bfc05

Foto: Erik Hartmann

Ares: Saya juga mendapat kesan bahwa banyak orang Jepang sendiri yang tidak tahu tentang sejumlah artis dan lagu yang justru menjadi populer melalui kebangkitan city pop di internet ini. Menurut saya, sangat menyenangkan melihat banyak dari lagu-lagu ini ditemukan kembali dan mendapatkan basis penggemar yang lebih besar.

Lily: Bicara soal estetika, kami bekerja sama dengan seniman bernama Mizucat! Dia mendesain logo kami.

Raphael: Dia juga mengambil foto resmi pertama band kami.

Lily: Hasil fotonya luar biasa.

Raphael: Jika Anda melihat akun Instagram kami, Anda akan melihat foto-foto dengan mobil berwarna putih. Itu adalah mobilnya! Dia membawanya khusus untuk sesi pemotretan.

Lily: Dia memadukan gaya anime dengan gaya klasik era 70-an dan 80-an. Itu sangat cocok dengan kami.

Raphael: Kami masih sangat puas dengan hasil foto dan logo tersebut.

Pengalaman Tampil di Japan-Tag dan DoKomi

T: Kalian juga tampil di Japan-Tag minggu lalu sebelum DoKomi. Apakah acara itu mirip dengan konvensi?

Raphael: Acara itu lebih mirip festival kota yang diselenggarakan oleh pemerintah Kota Düsseldorf. Mereka telah mengselenggarakan acara ini setiap tahun selama hampir 20 tahun. Di sepanjang tepian Sungai Rhine, mereka mendirikan banyak stan serta tiga panggung untuk pertunjukan musik, tari, dan instrumen tradisional Jepang. Ada pula kegiatan olahraga dan seni bela diri.

T: Bagaimana cara kalian bisa diundang ke Japan-Tag?

Yannick: Kami langsung menghubungi pihak penyelenggara dan tampil di sana untuk pertama kalinya dua tahun lalu. Acara tersebut menggali aktivitas di luar anime. Sementara DoKomi lebih berorientasi pada anime, Japan-Tag menyelami musik tradisional Jepang, pakaian, dan hal lainnya.

Raphael: Cosplay dan hal-hal seputar anime juga memegang peran besar. Bagi kami, Japan-Tag terasa lebih cocok karena kami bisa memberikan fokus yang lebih besar pada musik city pop.

1788432285 81b798654e338475924c45f0d78b0a8b

Foto: Erik Hartmann

T: Bagaimana pandangan kalian mengenai city pop yang terasa “modern” sekaligus “tradisional” pada saat ini?

Lily: Mungkin saya keliru, tetapi pada masa kemunculannya di Jepang, genre ini dianggap sebagai sesuatu yang bernuansa Barat. Orang-orang mengira para musisi Jepang tiba-tiba membuat musik pop barat dengan mencampur lirik bahasa Jepang dan Inggris. Dalam konteks tersebut, hanya penggunaan bahasa Jepang saja yang bisa dianggap “tradisional” karena aransemen musiknya bernuansa pop kebarat-baratan.

Yannick: Selepas Perang Dunia Kedua, banyak budaya Jepang yang memudar dan digantikan oleh teknologi ala Barat-Amerika. Bahkan cara pembuatan benda-benda maupun material industrinya mengalami pergeseran ke gaya Barat.

Banyak orang menyambut perubahan tersebut, sementara sebagian lainnya berpendapat bahwa Jepang seharusnya mempertahankan lebih banyak warisan budaya mereka. Meskipun hal ini masih dapat diperdebatkan, saya rasa city pop adalah jenis musik yang kemudian diadopsi oleh Jepang dan diberi sentuhan unik mereka sendiri.

Raphael: Ketika kami membawakan city pop saat ini, musik tersebut memang musik lama, tetapi terasa baru bagi para pendengar kami. Itulah alasan mengapa genre ini bisa diterima oleh semua kalangan: terasa nostalgik karena mirip era 80-an, namun tetap terdengar segar karena banyak orang yang belum pernah mendengarnya sebelumnya. Dan menurut saya, itu jauh lebih keren daripada sekadar membawakan kover lagu ABBA atau Bee Gees. Musik ini menawarkan sesuatu yang baru sekaligus terdengar akrab di telinga.

Ares: Musik yang lahir pada era 70-an dan 80-an juga menjadi fondasi terbesar bagi musik pop Jepang saat ini. Jika Anda melihat progresinya, 90% akor city pop hadir di dalam lagu-lagu anime dan musik J-pop. Musik ini sangat menarik secara harmonis dan keren. Pada masa itu, mereka dipengaruhi oleh suara synthesizer yang terdengar modern pada masanya. Saat ini, ada pergeseran menuju gaya “retro-futuristik” yang sangat luar biasa. Rekaman lamanya pun masih terdengar berkualitas tinggi dan jernih tanpa kehilangan pesonanya.

Raphael: Itulah yang justru memikat begitu banyak anak muda, termasuk latar belakang gaya hidup serta atmosfer dari city pop itu sendiri. Pada masa lalu, perekonomian Jepang sedang berkembang pesat dan banyak hal baru terjadi di tingkat kultural. Meskipun unsur tradisi sempat memudar, secara keseluruhan masyarakat memiliki pandangan yang positif terhadap masa depan dan teknologi baru. Hari ini, kita lebih condong pada rasa nostalgia dan kembali ke masa ketika masa depan terlihat lebih keren. Di satu sisi, ini adalah bentuk “merindukan masa depan yang pernah dibayangkan.”

Tantangan Menjalankan Band dan Proyek ke Depan

T: Apa bagian tersulit dari menjalani sebuah band?

Lily: Khusus bagi kami, kami adalah band yang beranggotakan cukup banyak orang. Kami memiliki tiga pemain instrumen tiup logam, dan total anggota kami ada delapan orang. Tantangan terbesar adalah mencari hari di mana semua orang bisa berkumpul untuk latihan.

Raphael: Kami tidak menghasilkan uang dari sini, jadi kami semua juga harus bekerja di pekerjaan lain. Cukup sulit untuk meluangkan waktu tampil di atas panggung.

T: Omong-omong, apa kesibukan kalian di luar musik?

Raphael: Latar belakang kami sangat beragam. Saya sedang menempuh pendidikan S-2 di bidang ekonomi dan ilmu politik.

Ares: Saya kuliah musik jazz, tetapi lebih sebagai proyek hobi. Saya tidak banyak melakukan hal lain di luar musik, dan saya juga bekerja di sebuah toko anggur.

Lily: Saya kuliah seni di Akademi Seni Düsseldorf. Saya mulai kuliah tahun 2023, yang juga merupakan tahun di mana kami membentuk band ini. Itu adalah waktu yang sangat tepat bagi saya, karena begitu seni menjadi fokus utama saya, sangat menyenangkan bisa menyeimbangkannya dengan musik dan bersenang-senang.

Kenji: Saya kuliah di bidang pemasaran dan manajemen, sekaligus bekerja sebagai musisi lepas serta terlibat di berbagai proyek lainnya. Saya juga bermain di band lain yang membawakan lagu ciptaan sendiri.

Yannick: Saya bekerja di bidang IT di Vodafone. Terkadang terasa sulit, namun pekerjaan itu memberikan saya kebebasan finansial yang patut disyukuri. Anda harus menetapkan prioritas dan memutuskan bagaimana cara membagi waktu. Bicara soal kehidupan band, saya selalu mengibaratkan band seperti sebuah hubungan asmara. Sebagian besar kualitas yang dibutuhkan dalam hubungan yang baik juga diperlukan dalam sebuah band, dan yang paling utama adalah komunikasi.

Sebagai band dengan jumlah personel sebanyak ini, kami memiliki ambisi dan pendapat yang beragam. Setiap orang datang dari latar belakang berbeda, dipersatukan, dan harus memecahkan masalah bersama-sama, yang terkadang tidak mudah. Namun, komunikasi yang baik adalah titik awal untuk menyelesaikan setiap kendala.

Ares: Dan tidak ada yang lebih terorganisir selain Kenji. Alasan utama sebuah band bubar adalah ketika tidak ada sosok penggerak yang mengurus semuanya. Peran itu sangat penting.

1788432309 e6d38557f5382db6f1dd5174dd348e67

Foto: Erik Hartmann

T: Apakah kalian pernah berpikir untuk memproduksi lagu orisinal bergaya city pop?

Raphael: Sepertinya tidak. Kecuali saya, empat anggota lainnya saat ini juga aktif bermain di band dan proyek musik lain di mana mereka menciptakan karya orisinal dengan gaya yang berbeda. Sebagai band kover city pop, kami ingin berfokus pada penampilan langsung dan membawakan lagu kover. Rasanya kurang masuk akal untuk “kembali ke masa lalu.” Sebagai contoh, Anda bisa melukis sebuah karya dengan gaya Michelangelo, tetapi hal itu kehilangan esensinya. Sudah ada banyak musik bagus dari era tersebut dengan gaya city pop. Bagi saya pribadi, mencoba menirukannya di masa kini adalah hal yang kurang relevan.

T: Saya belum pernah memikirkan sudut pandang itu sebelumnya.

Raphael: Seni selalu lahir dalam konteks tertentu. Jika Anda ingin membuat musik hari ini, Anda menggunakan pendekatan masa kini. Jika Anda mencoba meniru genre dari masa lalu, ruang gerak Anda akan terbatas.

T: Apakah kalian memiliki target dalam waktu dekat? Tempat impian untuk tampil?

Ares: Jepang [disetujui oleh semua anggota].

Lily: Jika Anda menanyakan hal itu tiga bulan lalu, mungkin kami akan menjawab panggung utama Japan-Tag, tetapi kini kami telah mewujudkannya.

Yannick: Dulu saat di studio latihan, kami sempat bercanda, “Kita mungkin baru akan manggung di panggung besar sepuluh tahun lagi, mari nikmati saja prosesnya.” Sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata, namun kami sangat bersyukur mendapat kesempatan tersebut.

Ketika ditanya tentang langkah selanjutnya, proses tetap menjadi hal yang utama, tetapi tampil di Jepang akan menjadi pencapaian terbesar kami. Sebelum itu terjadi, kami juga sangat ingin tampil di negara-negara Eropa lainnya, seperti Spanyol. Tampil di luar Jerman tentu akan menjadi sebuah kemajuan tersendiri.

T: Terakhir, adakah pesan yang ingin disampaikan kepada para penggemar?

Yannick: Tetaplah terinspirasi, buatlah musik, ciptakan karya seni, memasaklah, menulis kode program, buatlah sesuatu, lakukan apa saja.

Lily: Dan segala sesuatunya mungkin terjadi jika Anda berada di lingkungan dan dikelilingi orang-orang yang tepat. Jika Anda bersama orang yang tepat, Anda pasti akan langsung menyadarinya.

Ares: Terima kasih juga kami ucapkan! Ada banyak sekali orang baik yang datang ke penampilan kami dan menyampaikan dukungan mereka selama bertahun-tahun. Kami senang mengetahui bahwa kami bisa menghadirkan kebahagiaan.

Raphael: Kami sangat tersentuh oleh semua orang yang menghubungi kami melalui Instagram, berkomentar bahwa mereka akan datang ke konser kami, membeli kaus, meminta tanda tangan, atau memberikan hadiah. Terima kasih, pertahankan semangat itu, dan datanglah ke lebih banyak konser kami.

Yannick: Ya, semua ini tentang hubungan antarmanusia dan kasih sayang. Musik adalah wadah yang tepat untuk mewujudkannya. Cinta selalu menang!


Kami ingin berterima kasih kepada MURASAKI WAVES atas kesempatan wawancara ini. Sebagai penggemar budaya Jepang, kami sangat menikmati kesempatan untuk mendengarkan langsung lagu-lagu city pop yang memikat ini secara langsung. Kami menantikan penampilan mereka kembali di atas panggung dalam waktu dekat.

Jika Anda sedang berada di Jerman, pastikan untuk memeriksa apakah MURASAKI WAVES memiliki jadwal konser di dekat Anda!

DoKomi
MURASAKI WAVES

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *