Dalam rangka perhelatan Anime Expo dan acara pop-up Kodansha House di Los Angeles, kreator manga Kamome Shirahama meluangkan waktu untuk berbincang-bincang mengenai karya fantasi populernya, Witch Hat Atelier. Dalam wawancara ini, beliau membahas berbagai aspek mulai dari sistem sihir yang kompleks, proses kreatif, hingga perkembangan alur cerita manganya saat ini.
Berikut adalah petikan dari perbincangan tersebut mengenai kesan beliau terhadap adaptasi anime serta pandangannya dalam membangun dunia sihir yang mendetail.
Kesan Terhadap Musim Pertama Anime dan Representasi
Ketika ditanya mengenai perasaannya setelah musim pertama anime Witch Hat Atelier selesai, Shirahama mengaku merasakan perpaduan antara antusiasme dan rasa lega. Beliau mengibaratkan keterlibatan dalam produksi anime tersebut seperti sebuah festival besar yang membuatnya terus merasa gelisah, dan kini setelah perayaan itu usai, tiba saatnya untuk menarik napas panjang dan bersiap menyambut tahap berikutnya.
Manga ini juga dikenal luas karena memuat unsur representasi yang beragam, termasuk bagi penyandang disabilitas, komunitas LGBTQIA+, serta berbagai kelompok minoritas. Menanggapi hal tersebut, Shirahama menyatakan bahwa ketiadaan representasi justru akan terasa tidak alami baginya. Menurutnya, menghadirkan orang-orang yang hidup berdampingan dengan kita di dunia nyata ke dalam cerita adalah sebuah proses yang wajar. Meskipun merasa senang karena banyak pembaca yang berterima kasih atas representasi tersebut, beliau berharap hal semacam ini bisa menjadi sesuatu yang normal sehingga pembaca tidak perlu merasa perlu memberikan apresiasi khusus.

Pembangunan Sistem Sihir dan Detail Visual
Sistem sihir dalam Witch Hat Atelier dirancang begitu rinci hingga menginspirasi para penggemar untuk menciptakan mantra mereka sendiri di internet. Shirahama menjelaskan bahwa sejak awal, beliau memang mendesain sistem sihir tersebut agar orang lain dapat merangkai mantra orisinal mereka sendiri. Proses perencanaannya melibatkan penyusunan elemen-elemen teka-teki seperti siapa, kapan, apa, di mana, mengapa, dan bagaimana, dengan menempatkan sistem sihir sebagai inti cerita yang menentukan aturan fisika di dunia tersebut.
Terkait tingkat detail gambarnya yang luar biasa tinggi, Shirahama memaparkan proses kerjanya. Setiap bab biasanya terdiri sekitar 30 halaman, dan ia membutuhkan waktu sekitar satu hingga sepuluh hari untuk menyelesaikannya. Untuk halaman-halaman yang paling rumit sekalipun, ia paling lama menghabiskan waktu setengah hari hingga satu hari penuh.
Eksplorasi Karakter dan Perjalanan Cerita
Karya ini sering kali mengangkat kontradiksi antar keyakinan, seperti perbandingan antara kelompok Pointed Hat dan Brimmed Caps. Shirahama menyebutkan bahwa tema pertentangan kekuatan yang saling berlawanan ini sudah tertanam kuat di dalam hatinya, terinspirasi dari berbagai cerita yang ia baca semasa kecil.
Mengenai latar belakang karakter seperti Qifrey dan Knights Moralis, beliau mengungkapkan bahwa pendekatannya terbagi menjadi dua. Beberapa karakter sudah dirancang latar belakangnya sejak awal, sementara sebagian lainnya berkembang secara alami seiring berjalannya cerita. Untuk para karakter inti di atelier Qifrey seperti Olruggio, Coco, dan Agott, latar belakang mereka sudah disiapkan sejak awal mula pembuatan cerita. Kendati demikian, ia merasa batasan jumlah halaman membuatnya ingin mengeksplorasi lebih banyak kisah tentang karakter seperti Dagda dan Custas.
Shirahama juga kerap menyelipkan permainan kata atau lakuran, seperti sebutan “angricheh” untuk Richeh. Ide-ide tersebut biasanya muncul begitu saja dalam kilatan inspirasi di tengah kehidupan sehari-hari dan kemudian ia simpan di dalam kepalanya untuk digunakan kemudian hari.

Status Terkini Alur Cerita Manga
Menjawab pertanyaan mengenai seberapa jauh perjalanan manga ini, Shirahama memperkirakan bahwa cerita saat ini baru mencapai sekitar sepertiga dari keseluruhan plot setelah fase pengenalan dunia selesai. Titik balik besar telah dicapai melalui arc Silver Eve. Untuk kelanjutannya, garis besar cerita telah ditentukan, namun detail kecilnya dibiarkan mengalir dan berkembang secara organik seiring proses pembuatan manga berlangsung.
©Kamome Shirahama / Kodansha








