Home / Travel / Uketamo (I Accept) | Menjalani Pelatihan Bersama Dewa Sanzan Yamabushi

Uketamo (I Accept) | Menjalani Pelatihan Bersama Dewa Sanzan Yamabushi

Master Hoshino on Mt. Haguro

Back to nature, back to yourself.

— Yamabushido

Bagi siapa saja yang merasa terlalu bergantung pada gawai dan media sosial hingga kehilangan kontak dengan alam nyata, perjalanan mendalam ke Pegunungan Dewa Sanzan di Prefektur Yamagata menawarkan pengalaman transformatif yang luar biasa. Mengikuti pelatihan bersama para Yamabushi memberikan kesempatan langka untuk keluar dari rutinitas modern dan menyelami kembali esensi kehidupan.

Shugendo merupakan tradisi spiritual yang memadukan unsur Buddhisme esoteris, pemujaan gunung pribumi, Shinto, serta Taoisme. Berakar sejak periode Heian, tradisi ini lebih menitikberatkan pada pelatihan praktis di dunia nyata daripada sekadar doktrin teoretis. Meskipun dulunya praktik pertapaan ini hanya terbatas bagi kaum pria, kini kelompok-kelompok pelatihan mulai terbuka bagi siapa saja yang ingin melampaui batas diri.

Peleburan berbagai kepercayaan ini berakar dari sejarah panjang sinkretisme keagamaan di Jepang sebelum akhirnya pemerintah era Meiji secara paksa memisahkan Buddhisme dan Shinto pada tahun 1868. Di Dataran Shonai, Prefektur Yamagata, tradisi kuno para Yamabushi ini tetap bertahan dan dilestarikan selama lebih dari seribu tahun di kawasan suci Dewa Sanzan.

Mengenal Lebih Dekat Dewa Sanzan

A bare wooden pagoda on Mt. Haguro in Yamagata Prefecture

Keunikan utama dari Dewa Sanzan adalah konsep ziarah yang mereimajinasikan siklus kematian simbolis dan kelahiran kembali. Pengalaman spiritual ini dibagi ke dalam tiga gunung suci yang masing-masing melambangkan fase kehidupan yang berbeda:

  • Mt. Haguro
    Memiliki ketinggian 414 meter, gunung ini melambangkan masa kini dan menjadi titik awal perjalanan spiritual. Pengunjung dapat menapaki tangga batu berjumlah 2.446 anak tangga serta mengagumi pagoda lima tingkat yang megah. Tempat ini juga menjadi satu-satunya gunung yang tetap buka selama musim dingin dengan bangunan Sanjingosaiden yang memiliki atap jerami terbesar di Jepang.
  • Mt. Gassan
    Berdiri setinggi 1.984 meter, gunung ini diasosiasikan dengan masa lalu dan kematian. Nama yang berarti “Gunung Bulan” ini merujuk pada dewa bulan Tsukuyomi-no-Mikoto. Kawasan ini dipercaya sebagai gerbang perbatasan menuju alam baka, tempat jiwa-jiwa beristirahat setelah menyelesaikan pelatihan mereka.
  • Mt. Yudono
    Dianggap sebagai yang paling suci di antara ketiganya, Mt. Yudono adalah tempat para peziarah menemukan diri mereka di masa depan dan mengalami kelahiran kembali. Alih-alih mendaki puncaknya, para pelancong biasanya langsung mengunjungi Kuil Mt. Yudono untuk menjumpai objek pemujaan yang sangat disakralkan.
A master yamabushi mountain ascetic chants somewhere in Yamagata Prefecture

Selain filosofi kematian dan kelahiran kembali, kultur Yamabushi di Yamagata sangat lekat dengan konsep Uketamo, yang kurang lebih berarti “saya menerima dengan sepenuh hati.” Ungkapan ini mencerminkan sikap terbuka untuk melepaskan segala ekspektasi dan hidup sepenuhnya di masa kini tanpa kekhawatiran berlebihan. Uketamo juga menjadi satu-satunya frasa yang diizinkan untuk diucapkan selama sesi pelatihan berlangsung.

Logistik dan Perjalanan Menuju Lokasi

Rice fields somewhere in Yamagata Prefecture’s Shonai Plain

Terletak di sisi barat Prefektur Yamagata yang terpencil, Dataran Shonai membutuhkan sedikit usaha ekstra untuk dijangkau. Selama musim dingin, wilayah ini kerap terisolasi akibat salju tebal. Cara tercepat dan paling efisien untuk mencapai kawasan ini adalah dengan mengambil penerbangan selama satu jam dari Bandara Haneda, ketimbang harus menghabiskan waktu berjam-jam menggunakan kereta dari Prefektur Niigata.

Transportasi umum di sekitar Dataran Shonai tergolong sangat terbatas bagi pelancong asing yang tidak fasih berbahasa Jepang. Oleh karena itu, menyewa kendaraan roda empat sendiri merupakan pilihan terbaik agar tidak bergantung pada jadwal bus yang jarang.

Menjalani Program Pelatihan Yamabushi

A master yamabushi mountain blows a conch shell on Mt. Gassan in Yamagata Prefecture

Melalui program Yamabushido yang diselenggarakan oleh Megurun, peserta dari berbagai latar belakang kini dapat merasakan langsung metode pelatihan autentik para Yamabushi. Program ini dirancang untuk membantu peserta melepaskan diri dari kebisingan dunia modern dan menemukan kembali jati diri yang otentik di alam bebas.

Terdapat dua pilihan program utama yang ditawarkan:

  • The Basic Program
    Kursus berdurasi dua hari ini dirancang bagi mereka yang ingin merasakan pengalaman pelatihan Yamabushi dengan intensitas fisik yang lebih ringan, umumnya berlokasi di sekitar Mt. Haguro.
  • Master’s Training
    Petualangan selama empat hari penuh yang menuntut ketahanan fisik tinggi. Peserta akan melintasi ketiga gunung Dewa Sanzan sebagai simbolisasi perjalanan kematian dan kelahiran kembali yang sesungguhnya.
A group of yamabushi mountain practice waterfall meditation somewhere in Yamagata Prefecture

Selama pelatihan, peserta akan mendaki gunung dalam keheningan total, kecuali saat mengucapkan Uketamo. Aktivitas lainnya mencakup meditasi air terjun, melafalkan doa-doa perdamaian, mempraktikkan zazen, berjalan di dalam gelap gulita, hingga melompati api unggun. Peserta juga akan mengenakan shiroshouzoku, yaitu jubah putih tradisional yang menyerupai pakaian pemakaman untuk menyimbolkan kematian dan kelahiran kembali.

Peserta akan menginap di Daishobo, sebuah pondok peziarah bersejarah yang dikelola di bawah didikan Master Hoshino, seorang Yamabushi generasi ke-13. Di tempat ini, para peserta dapat menikmati hidangan vegetarian tradisional Shojin Ryori yang sangat terkenal.

Hal yang Perlu Diperhatikan Sebelum Bergabung

A group of yamabushi mountain travel across the top of Mt. Gassan in Yamagata Prefecture

Pelatihan Yamabushi bukanlah atraksi wisata biasa yang dikemas demi kenyamanan turis semata. Program ini menuntut komitmen fisik dan mental yang nyata. Beberapa poin penting yang wajib dipertimbangkan meliputi:

  • Aktivitas Mendaki: Peserta harus siap melintasi medan alpin sejauh belasan kilometer setiap harinya. Kondisi fisik yang prima sangat diperlukan.
  • Alergi Makanan: Karena makanan disiapkan langsung di pondok peziarah tradisional dengan menu standar, penyesuaian khusus untuk alergi sangat sulit dilakukan. Disarankan untuk berkoordinasi sebelumnya atau membawa suplai makanan sendiri.
  • Aspek Keagamaan: Meskipun Shugendo bersifat non-religius dan lebih berfokus pada penghormatan terhadap alam, peserta akan mendengarkan serta melafalkan berbagai mantra yang bersumber dari tradisi Buddha dan Shinto.
  • Duduk Seiza: Posisi duduk tradisional Jepang dengan melipat kaki di bawah paha ini memegang peran penting selama sesi pelatihan berlangsung.

Destinasi Menarik Lainnya di Sekitar Yamagata

A hidden area of the Yamadera temple complex in Yamagata Prefecture

Bagi pelancong yang belum siap mengikuti program pelatihan penuh, Megurun juga menyediakan berbagai tur alternatif yang tidak kalah menarik untuk mengeksplorasi budaya lokal:

  • The Hidden Path of Zen di Yamadera: Menelusuri jalur kuno setapak gunung menuju kompleks kuil ikonis, lengkap dengan sesi meditasi di dalam gua alami.
  • Trek with the Yamabushi: Versi ringan dari ziarah ke puncak Mt. Haguro yang diakhiri dengan menikmati hidangan Shojin Ryori di Saikan.
  • Mountain Foraging di Dewaya Inn: Menjelajahi desa terpencil Nishikawa untuk mempelajari cara penduduk setempat meracik bahan makanan liar dari pegunungan.
  • Zen di Zenpo-ji: Menemukan ketenangan batin melalui meditasi, kaligrafi, dan ritual bersantap bersama para biksu.
  • Mummies of the North: Menyaksikan warisan sejarah para biksu pertapa agung yang mengawetkan diri secara alami di wilayah Prefektur Yamagata.

Keindahan alam serta kedalaman budaya di Dataran Shonai dan Pegunungan Dewa Sanzan menawarkan pengalaman wisata yang jauh melampaui liburan biasa. Menambahkan wilayah ini ke dalam daftar kunjungan berikutnya di Jepang tentu akan memberikan perspektif baru yang menyegarkan jiwa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *