Pada Februari 2013, tim Tofugu memutuskan untuk singgah selama empat hari di turnamen Showa-Shinzan International Yukigassen. Ajang ini merupakan kompetisi terbesar di dunia sekaligus tempat kelahiran olahraga perang bola salju tersebut. Bermodal kamera, sarung tangan tebal, dan jaket musim dingin, mereka menembus badai salju di Hokkaido untuk menyaksikan langsung keseruannya.
Secara sekilas, Yukigassen mirip seperti gabungan antara permainan bola bakar dan perebutan bendera. Namun, olahraga ini jauh lebih kompleks karena melibatkan tingkat presisi dan strategi yang menyerupai cabang olahraga profesional.
Menuju Lokasi Turnamen Yukigassen

Showa-Shinzan adalah sebuah gunung berapi kecil di dekat Kota Soubetsu yang menjadi tuan rumah turnamen ini. Saat musim panas, Kota Soubetsu disesaki wisatawan berkat pemandangan alam dan pemandian air panasnya. Meski jumlah pengunjung menurun drastis ketika musim dingin tiba, wilayah ini tetap hidup berkat digelarnya kejuaraan Yukigassen.
Olahraga ini awalnya digagas oleh para pemimpin kota yang mencari cara untuk menarik turis pada bulan-bulan yang dingin. Terinspirasi dari orang-orang yang saling lempar bola salju, mereka kemudian menciptakan aturan yang lebih menantang dengan bola salju yang dipadatkan secara khusus. Kini, Showa-Shinzan dan Kota Soubetsu selalu dipadati pelancong selama sepekan setiap musim dingin.
Perjalanan menuju ke sana ternyata tidak mudah. Setelah terbang dari Bandara Narita ke Sapporo, perjalanan dilanjutkan dengan kereta ke arah selatan menuju Hakodate. Lanskap Hokkaido yang dipenuhi pegunungan membuat rute kereta menjadi cukup memutar.

Kondisi cuaca buruk seperti badai salju dan gangguan kereta sempat memperlambat perjalanan. Petunjuk dari peta digital juga sempat menyesatkan karena menyarankan turun di Stasiun Nagawa yang lokasinya cukup jauh dari penginapan dan minim fasilitas umum saat malam hari.

Tanpa sinyal telepon seluler, satu-satunya cara untuk menghubungi hotel adalah melalui sebuah bilik telepon umum. Setelah berkoordinasi dengan pihak hotel, mereka akhirnya memutuskan untuk berjalan kaki di tengah salju setinggi beberapa kaki dengan suhu mencapai minus dua puluh derajat Fahrenheit.
Di tengah perjalanan yang melelahkan, sebuah toko Seico Mart muncul bagaikan penyelamat di tengah kegelapan. Di sana, mereka menghangatkan diri dengan teh panas sebelum akhirnya meminta pegawai toko untuk memanggilkan taksi.
Setelah perjalanan taksi yang menegangkan selama 45 menit, rombongan akhirnya tiba di Toya Sun Palace tepat waktu untuk menikmati makan malam sepuasnya. Hotel tersebut menawarkan berbagai fasilitas lengkap mulai dari pemandian air panas onsen, kolam renang, hingga area permainan, serta menjadi tempat menginap bagi beberapa tim peserta Yukigassen dari luar negeri seperti Kanada.
Kota Soubetsu: Tempat Lahirnya Yukigassen

Suasana Kota Soubetsu pada musim dingin terasa cukup tenang karena wilayah ini lebih mengandalkan pariwisata musim panas. Beruntung, sopir taksi yang mengantar mereka malam sebelumnya memberikan kartu nama sehingga memudahkan mobilitas selama berada di sana.
Setelah menikmati semangkuk ramen dan berbelanja suvenir, mereka mengunjungi area gunung berapi Showa-Shinzan yang menjadi lokasi pertandingan. Gunung berapi ini memiliki sejarah unik karena baru muncul menjelang akhir Perang Dunia II dan sempat dirahasiakan dari publik karena dianggap sebagai pertanda buruk.

Menjelang hari pertandingan, persiapan di arena masih terus berlangsung. Setelah berkeliling dan merekam video di sekitar gunung yang masih mengeluarkan uap panas tersebut, mereka kembali ke hotel untuk menikmati seluncuran air dan berendam di onsen.
Menyaksikan Turnamen Yukigassen

Harapan awal untuk bisa ikut bergabung sebagai pemain cadangan langsung sirna begitu menyaksikan pertandingan pertama secara langsung. Permainan ini ternyata jauh lebih serius dari perkiraan.

Banyak peserta yang memiliki latar belakang sebagai atlet bisbol, terutama pelempar, sehingga lemparan bola salju mereka sangat kencang dan akurat. Bola salju yang dicetak dengan alat khusus juga menjadi sangat padat dan keras, bahkan tidak hancur meski diinjak oleh orang dewasa.

Strategi yang diterapkan dalam setiap pertandingan sangat memukau layaknya pertandingan catur. Kapten tim dan rekan se-tim aktif memberikan instruksi posisi perlindungan kepada pemain di garis depan agar bisa menghindari hujan bola salju dari lawan.

Setiap tim hanya dibekali 90 bola salju per ronde, sehingga mereka tidak bisa melemparnya secara sembarangan. Koordinasi serangan dilakukan dengan cermat untuk memecah pertahanan lawan.


Tim-tim internasional asal Kanada, Finlandia, dan Norwegia yang ikut bertanding mengaku terkejut dengan tingkat kedisiplinan dan kesabaran tim tuan rumah yang bermain sangat terstruktur.

Bahkan, tim asal Kanada sempat mengalami kekalahan saat bertanding melawan tim pelajar sekolah menengah setempat. Hal ini menunjukkan bahwa bagi sebagian besar peserta Jepang, Yukigassen telah berkembang menjadi cabang olahraga yang ditekuni secara profesional.

Meskipun sangat menarik untuk ditonton, cuaca ekstrem di lokasi membuat penonton harus tahan berdiri di suhu di bawah titik beku. Sebagian besar penonton yang hadir terdiri dari para pemain, kerabat, serta panitia penyelenggara.


Kejuaraan ini tetap menjadi salah satu kenangan paling berkesan selama berada di Hokkaido. Energi positif dari seluruh peserta yang antusias menunjukkan potensi besar olahraga ini untuk berkembang di masa depan, bahkan mungkin menjadi salah satu cabang di Olimpiade Musim Dingin suatu hari nanti.








