Angka empat sering kali dianggap mengerikan, atau setidaknya itulah hal yang ditanamkan sejak kecil. Mulai dari larangan membeli sesuatu sebanyak empat buah, tidak boleh memberikan hadiah dalam jumlah empat, keengganan tinggal di lantai empat, hingga kekhawatiran merayakan sesuatu pada tanggal empat karena dianggap mengundang malapetaka. Yang paling menjengkelkan adalah tidak bisa membeli kemasan soda isi empat karena dianggap membawa sial atau penuh hal buruk. Sebaliknya, angka tiga belas justru tidak menjadi masalah besar, bahkan jika jatuh pada hari Jumat. Lantas, mengapa angka empat begitu dibenci?
Takhayul Angka 4 di Jepang

Bagi yang pernah mendalami budaya Jepang, takhayul seputar angka empat mungkin sudah tidak asing lagi. Inti dari ketidakberuntungan angka ini bermula dari kemiripan pelafalannya dengan kata untuk kematian, yaitu shi. Konon, dahulu kala seseorang menyadari kemiripan bunyi ini, lalu menyebarkannya kepada orang lain bahwa angka empat sama dengan kematian dan patut diwaspadai. Kepercayaan itu akhirnya menyebar luas dari generasi ke generasi.
Fenomena ini tidak berhenti sampai di situ. Melalui permainan kata angka atau goroawase dalam bahasa Jepang, potensi kombinasi angka sial menjadi semakin beragam:
- 24 menjadi nishi, yang berarti kematian ganda.
- 42 dapat dibaca sebagai shini, yang berarti menuju kematian.
- 43 menjadi shisan, terdengar mirip dengan shizan atau lahir mati.
- 45 menjadi shigo, yang berarti setelah kematian.
- 49 diartikan sebagai shinu made kurushimu, yang berarti menderita sampai mati.
Kombinasi-kombinasi tersebut menunjukkan bagaimana plesetan sederhana dari masa lalu dapat berkembang menjadi takhayul yang melahirkan berbagai kebiasaan unik, hilangnya lantai tertentu pada bangunan, hingga gangguan psikologis.
Dari Mana Asal Usulnya?

Sebagian besar unsur budaya di Asia Timur, termasuk takhayul angka empat, berakar dari Tiongkok. Negara ini menyebarkan kepercayaan tersebut ke berbagai wilayah lain yang menggunakan aksara atau mendasarkan bahasa mereka pada sistem Tiongkok.
| Bahasa | 四 (Empat) | 死 (Kematian) |
|---|---|---|
| Mandarin Tiongkok | sì | sǐ |
| Shanghai | sy | sy, shi |
| Kanton | sei | sei |
| Hokkien Taiwan | sì,sù | sí,sú |
| Korea | sa | sa |
| Vietnam | tứ | tử |
| Jepang | shi | shi |
Meskipun pelafalannya bervariasi di setiap bahasa, kemiripan antara kata empat dan kematian tetap terlihat jelas. Mengingat pengaruh besar Tiongkok pada masa lampau dalam menyebarkan produk, gagasan, agama, dan budaya, sangat masuk akal jika takhayul ini turut tersebar luas di seluruh kawasan Asia.
Dampaknya dalam Kehidupan Sehari-hari

Karena dianggap membawa sial dalam skala yang luas, ketakutan ini memunculkan berbagai kebiasaan di hampir seluruh budaya Asia Timur:
- Menghindari pemberian hadiah atau sesuatu dalam jumlah empat, lebih memilih angka tiga atau lima.
- Banyak gedung meniadakan lantai empat, atau bahkan lantai 40 hingga 49 pada kasus ekstrem, mirip seperti peniadaan lantai 13 di dunia barat.
- Militer Tiongkok menomori pesawat tempur mereka mulai dari angka lima, seperti Shenyang J-5.
- Angkatan Laut Taiwan dan Korea Selatan tidak menggunakan angka empat untuk nomor lambung kapal mereka.
- Di Korea, lantai empat kadang-kadang diberi label huruf “F” sebagai pengganti angka 4.
- Korail selaku perusahaan kereta api nasional Korea pernah melewati penomoran lokomotif 4444.
Fenomena ini membuktikan bahwa takhayul mampu membentuk perilaku sosial serta memengaruhi tata kota dan arsitektur bangunan secara nyata.
Tetrafobia: Fobia Terhadap Angka Empat

Istilah tetrafobia berasal dari bahasa Yunani, yaitu tetras (empat) dan phobos (ketakutan). Penderita fobia ini merasa sangat takut pada angka empat sehingga kesulitan menjalani kehidupan normal. Meskipun tidak ada penyebab spesifik selain pengalaman masa lalu, kondisi ini menunjukkan bagaimana sebuah angka dapat memberikan tekanan mental yang besar.
Menariknya, sebuah penelitian yang dilaporkan oleh British Medical Journal mengenai statistik kematian di Amerika Serikat selama periode dua puluh lima tahun menunjukkan temuan yang mengejutkan. Ditemukan bahwa pada tanggal empat setiap bulannya, warga keturunan Tiongkok dan Jepang memiliki probabilitas kematian akibat gagal jantung yang lebih tinggi dibandingkan hari-hari lainnya. Di wilayah California saja, peningkatannya bahkan tercatat cukup signifikan.
Studi tersebut dilakukan untuk melihat apakah tekanan psikologis eksternal benar-benar dapat memicu serangan jantung fatal. Berdasarkan data tersebut, tampaknya faktor stres psikologis akibat takhayul dapat memainkan peran penting. Pada akhirnya, mengetahui bahwa ketakutan ini bersifat irasional adalah langkah awal untuk menyikapinya secara lebih bijak.







