Saat memilih kosakata untuk platform pembelajaran kanji kami, WaniKani, saya terkadang menemukan kata-kata bahasa Jepang yang unik. Salah satunya adalah Tsundoku, atau yang ditulis dalam kanji sebagai 積ん読.
Definisi kata ini cukup sederhana:
Membeli buku dan membiarkannya begitu saja tanpa dibaca. [kata benda]
Coba lihat meja di sebelah tempat tidur Anda. Apakah Anda merasa relate? Banyak dari Anda yang sedang belajar bahasa Jepang pasti memiliki tumpukan buku pelajaran yang jarang tersentuh di suatu tempat, bukan? Bahkan, tim di kantor Tofugu pun tidak luput dari kebiasaan tsundoku ini. Sepertinya sebagian besar buku di rak kami belum pernah benar-benar dibaca.

Kendati demikian, konsep tsundoku lebih lekat dengan citra buku yang ditumpuk. Ketika mendengar kata ini, bayangan yang muncul di kepala biasanya adalah tumpukan buku dan manga yang menggunung di sebelah kasur lantai seseorang. Jika kita membedah kata tersebut berdasarkan komponen kanjinya, teori “tumpukan buku, bukan rak buku” ini menjadi sangat masuk akal.
tsu 積mu: menumpuk atau menyusun
yo 読mu: membaca
Secara harfiah, artinya adalah tumpukan bahan bacaan… yang dalam kasus ini justru tidak dibaca. Pencarian cepat di internet sepertinya juga mengonfirmasi teori “tumpukan” tersebut.

Namun, bagaimana sebuah istilah bisa mengarah pada tumpukan buku yang tidak dibaca? Tidak ada unsur dalam kanjinya yang secara tersurat menyatakan apakah buku-buku itu dibaca atau tidak. Faktanya, jika dilihat sekilas, komponen kanji tersebut justru menyiratkan bahwa itu adalah buku yang sudah atau sedang dibaca.
Jawabannya ternyata berakar dari permainan kata dalam bahasa Jepang.
Bagian pertama dari tsundoku 積ん読 berasal dari frasa tsundeoku 積んでおく, yang berarti “menumpuk sesuatu lalu membiarkannya.” Sementara itu, bagian kedua (doku 読) berasal dari kata dokusho 読書 yang berarti “membaca.” Pada intinya, kata ini merupakan gabungan antara tsundeoku (menumpuk dan membiarkan) dan dokusho (membaca). Pengucapan tsundeoku dan tsundoku yang sangat mirip melahirkan sebuah plesetan kata yang cerdas.
Terkait cara penggunaannya dalam kalimat, berikut adalah beberapa contoh penerapan untuk kata tsundoku 積ん読:
- 僕は 約1000 冊ほどの 積ん読を 抱えて 生きている。
- Saya hidup dengan sekitar 1.000 buku tsundoku.
- 今週末は、 積ん読リストを 作ろうと 思う。
- Akhir pekan ini sepertinya saya akan membuat daftar tsundoku.
- 積ん読 用のお 洒落な 本棚が 欲しい。
- Saya ingin lemari buku yang estetik khusus untuk tumpukan tsundoku saya.
Karena berkedudukan sebagai kata benda, Anda bisa menggunakannya seperti kata benda lainnya. Jika ingin menyebutkan tumpukan buku di sebelah tempat tidur Anda, Anda bisa berkata “itu adalah tsundoku-ku” (itu adalah tumpukan buku yang kubeli tapi belum kubaca).
Fenomena Tsundoku di Tempat Lain
Seiring dengan semakin populernya istilah ini, konsep tsundoku sebenarnya bisa diterapkan pada hal-hal lain di luar buku. Pustaka gim di Steam? Itu bisa disebut sebagai Steamdoku, dan banyak dari kita yang pasti merasa bersalah karena hal ini.

Lalu bagaimana dengan aplikasi ponsel? Saya memiliki begitu banyak aplikasi berbayar yang diunduh tetapi tidak pernah benar-benar digunakan.
Bahkan, agar terasa lebih bernuansa meta, saya memiliki satu folder khusus berisi aplikasi bertema bacaan di ponsel saya yang diberi label 積ん読. Dan bisa ditebak, folder tersebut penuh dengan materi bacaan yang mungkin tidak akan pernah saya tamatkan.

Meskipun demikian, fenomena ini bukanlah sesuatu yang perlu terlalu dikeluhkan. Tsundoku pada dasarnya hanyalah bentuk ringan dari perilaku menimbun, yang tentu bukan masalah terburuk di dunia. Di bagian mana dalam hidup Anda yang sering mempraktikkan tsundoku?








