Home / Travel / Tragedi Hiraizumi, Kota Saingan Kyoto di Wilayah Utara

Tragedi Hiraizumi, Kota Saingan Kyoto di Wilayah Utara

The Belfry of Chuson ji in Hiraizumi

Bagi para wisatawan asing yang mencari pengalaman sejarah yang unik di Jepang, Kyoto sering kali menjadi tujuan utama yang langsung terlintas di pikiran. Kota ini memang terkenal di seluruh dunia karena budayanya yang kaya dan nyata. Namun, popularitas tersebut harus dibayar dengan harga yang mahal. Kyoto kini semakin terasa seperti taman hiburan yang dipadati oleh turis yang sibuk berfoto dengan tongkat selfie. Kerumunan pelancong memenuhi berbagai landmark terkenal seperti Kiyomizu-dera yang sebenarnya tidak memiliki kapasitas untuk menampung begitu banyak pengunjung dalam satu waktu. Akibatnya, pengalaman yang didapat menjadi terasa kurang otentik dan mengikis ketenangan sakral yang dulunya membuat Kyoto begitu terkenal.

Untungnya, masih ada banyak pilihan lain bagi pelancong yang mendambakan keaslian suasana. Salah satunya adalah kota bersejarah Hiraizumi yang terletak di Prefektur Iwate. Sering dijuluki sebagai “Kyoto dari Utara”, kawasan ini pada masa kejayaannya dikatakan mampu menyaingi kemegahan ibu kota lama. Selama akhir Periode Heian (794–1185), Hiraizumi berkembang menjadi pusat kekuasaan bagi cabang utara dari Klan Fujiwara. Selama beberapa dekade, garis utama klan yang kuat ini memegang kendali penuh atas singgasana kekaisaran dari balik layar, sementara cabang utaranya menggantikan posisi berbagai keluarga Emishi semi-mandiri yang secara bertahap ditaklukkan oleh pihak istana.

Berkat penguasaan atas sebagian besar wilayah dan sumber daya di utara, Klan Fujiwara cabang utara mampu mengkonsolidasikan kekuasaan dengan cepat dan mencapai kemerdekaan teritorial dari ibu kota. Pada puncak kejayaan mereka di abad ke-12, para penguasa Fujiwara Utara ini mendatangkan arsitek serta pengrajin langsung dari Kyoto untuk membangun kota Hiraizumi. Kekayaan emas dan sumber daya alam yang melimpah di Jepang bagian utara, ditambah dengan peran strategis sebagai pusat perdagangan antara kelompok-kelompok independen di utara dan daratan Asia, menjadikan kota ini sebagai pusat perniagaan yang sangat makmur.

Kendati demikian, seperti yang diisyaratkan oleh puisi Matsuo Basho, kini hanya bayang-bayang kejayaan yang tersisa dari Hiraizumi. Pada akhir abad ke-12, kota ini akhirnya ditaklukkan dan dijarah oleh klan-klan samurai di bawah pimpinan Minamoto Yoritomo, shogun pertama dari Keshogunan Kamakura. Singkat cerita, Klan Fujiwara Utara mulanya bersekutu dengan saudara laki-laki Minamoto Yoritomo, yaitu Minamoto Yoshitsune. Meskipun keduanya sempat bekerja sama untuk menyingkirkan para pesaing mereka, Minamoto Yoritomo pada akhirnya berbalik memusuhi saudaranya sendiri. Di bawah tekanan militer yang kuat, Klan Fujiwara Utara tak berdaya dan terpaksa mengeksekusi Minamoto Yoshitsune.

Tindakan tersebut ternyata belum cukup untuk meredam ambisi Minamoto Yoritomo. Ia kemudian menghancurkan sebagian besar wilayah Hiraizumi dan memusnahkan garis keturunan Klan Fujiwara Utara. Tanpa pemimpin dan dalam kondisi porak-poranda, Hiraizumi kehilangan kejayaannya. Hari ini, kota tersebut hanyalah sisa-sisa dari masa lalunya, di mana warisan Klan Fujiwara Utara hanya dapat disaksikan melalui beberapa kuil tersisa serta Aula Konjiki-do yang berlapis emas di Chuson-ji.

Cara Menuju ke Sana

A northern-bound bullet train on the Tohoku Shinkansen Line

Meskipun terletak di daerah pedesaan Prefektur Iwate, Hiraizumi sebenarnya cukup mudah dijangkau. Perjalanan dapat dimulai dengan menaikkan kereta peluru (shinkansen) jalur utara dari Tokyo. Terdapat jadwal kereta langsung setiap jam, sehingga ada baiknya untuk memeriksa jadwal terlebih dahulu guna menentukan rute terbaik. Selain itu, bagi yang sudah merencanakan perjalanan di Jepang bagian utara, kereta peluru juga tersedia dari Sendai menuju Ichinoseki.

Setibanya di Ichinoseki, kawasan Hiraizumi dapat dicari dalam hitungan menit menggunakan kereta lokal. Sayangnya, jadwal kereta lokal ini tidak begitu sering, sehingga perencanaan keberangkatan yang matang sangat diperlukan agar tidak tertinggal kereta yang dapat membuang waktu hingga delapan puluh menit. Mengingat tidak banyak hiburan yang dapat dinikmati di sekitar Ichinoseki jika Anda melewatkan jadwal kereta, kesalahan dalam penjadwalan sebaiknya dihindari.

Menjelajahi Hiraizumi sebenarnya dapat diselesaikan dalam waktu satu hari, namun disarankan untuk tiba pada malam hari sebelum hari keberangkatan. Cara ini memungkinkan wisatawan untuk memanfaatkan waktu siang hari secara maksimal. Karena pilihan akomodasi di Hiraizumi cukup terbatas, menginap di hotel bisnis sederhana di Ichinoseki merupakan pilihan yang praktis. Cukup beristirahat dengan cukup di malam hari agar memiliki tenaga untuk memulai petualangan lebih awal keesokan harinya.

Berkeliling Hiraizumi dengan Sepeda

The former site of Hiraizumi’s Yanagi-no-Gosho in Iwate Prefecture

Meskipun tersedia bus wisata yang melayani rute ke berbagai situs utama, menyewa sepeda dari penyedia jasa di dekat stasiun (selama cuaca mendukung) adalah pilihan yang jauh lebih direkomendasikan. Bersepeda memberikan kebebasan untuk menjelajahi area ini sesuai keinginan sekaligus menemukan berbagai sudut tersembunyi yang mungkin terlewatkan jika menggunakan bus. Biaya sewa sepeda untuk seharian penuh juga tergolong sangat terjangkau, yakni sekitar 1.000 yen.

Sebagian besar tempat penyewaan sepeda biasanya juga menyediakan peta panduan praktis yang merangkum rute perjalanan di Hiraizumi. Rute ini tidak hanya mencakup objek wisata utama, tetapi juga mengarahkan pengunjung ke tempat-tempat menarik seperti bekas situs Yanagi-no-Gosho. Kehadiran situs-situs bersejarah ini semakin memperkuat kesan mendalam mengenai tragedi yang menimpa Hiraizumi pada abad ke-12 akibat serangan dari Keshogunan Kamakura.

Selain Yanagi-no-Gosho, sempatkan juga untuk mampir ke Aula Takadachi Gikei-do yang berada di dekatnya. Situs penuh sejarah ini menandai lokasi di mana Minamoto Yoshitsune mengakhiri hidupnya setelah dikhianati oleh Klan Fujiwara Utara. Dibangun pada abad ke-17, aula ini menyimpan patung kayu yang menggambarkan sosok adik pemimpin militer yang brilian namun bernasib tragis tersebut.

Kompleks Kuil Chuson-ji yang Sakral

The main hall of Hiraizumi’s eminent Chuson-ji temple complex in Iwate Prefecture

Kendati sebagian besar wilayah Hiraizumi hancur akibat amukan pasukan Minamoto Yoritomo, sisa-sisa kemegahan Klan Fujiwara Utara masih dapat disaksikan di kompleks kuil Chuson-ji. Tempat ini merupakan objek wisata paling memukau di Hiraizumi. Meskipun awalnya didirikan sekitar tahun 850, kompleks kuil ini mengalami perkembangan pesat setelah kedatangan Klan Fujiwara Utara. Chuson-ji terletak di tengah hutan pegunungan dan terdiri dari lebih dari belasan bangunan yang dihubungkan oleh jalur sepanjang satu kilometer di antara pepohonan cedar kuno.

Perluasan besar-besaran pada kuil ini diprakarsai oleh Fujiwara Kiyohira, leluhur dari Klan Fujiwara Utara, sebagai bentuk penghormatan bagi para korban tewas dalam serangkaian perang di masa mudanya. Pada masa keemasannya, Chuson-ji dilaporkan memiliki lebih dari 40 aula dan pagoda serta dihuni oleh lebih dari 300 biksu. Sepeninggal Kiyohira, kepemimpinan dilanjutkan oleh putranya, Motohira, yang terus memperluas kompleks kuil tersebut.

The gold-leafed Konjiki-do at Hiraizumi’s Chuson-ji temple complex in Iwate Prefecture

Sayangnya, keruntuhan Klan Fujiwara Utara pada akhir abad ke-12 berdampak buruk pada kelangsungan Chuson-ji. Meski selamat dari penjarahan kota, kuil ini kehilangan sumber pendanaan dan akhirnya mengalami kebakaran besar pada tahun 1337. Akibatnya, hanya dua bangunan dari era Fujiwara Utara yang berhasil bertahan hingga kini. Salah satunya adalah Konjiki-do yang tampil begitu memukau. Selesai dibangun pada tahun 1124, seluruh bagian bangunan ini dilapisi dengan lembaran emas serta hiasan intrik dari kerajinan bertatahkan mutiara yang sangat mewah.

Bersama dengan Byodo-in di Uji dan Fuki-ji di Prefektur Oita, Konjiki-do di Hiraizumi diakui sebagai salah satu dari tiga aula Buddha Amida terbaik di Jepang. Bangunan ini juga menjadi struktur pertama di Chuson-ji yang ditetapkan sebagai Harta Karun Nasional Jepang. Selain menawarkan keindahan seni yang memukau, aula berlapis emas ini juga berfungsi sebagai makum bagi sisa-sisa jasad para pemimpin Klan Fujiwara Utara.

Sisa-Sisa Peninggalan Motsu-ji

The ruins of Hiraizumi’s Motsu-ji temple grounds in Iwate Prefecture

Selain Chuson-ji, Motsu-ji adalah peninggalan lain yang masih bertahan dari era Fujiwara Utara. Kuil ini konon didirikan oleh seorang biksu bernama Ennin pada tahun 850, ketika Hiraizumi masih menjadi wilayah perbatasan antara kekaisaran Yamato yang sedang berkembang dan suku-suku Emishi di utara. Motsu-ji mencapai masa kejayaannya di bawah kepemimpinan penguasa kedua Klan Fujiwara Utara, Fujiwara Motohira (yang saat itu dikenal dengan nama Enryu-ji). Catatan sejarah menyebutkan bahwa kuil aslinya sangat mewah, dengan patung Buddha Pengobatan yang memiliki mata dari kristal serta dekorasi emas, perak, dan permata berharga.

Pada puncak kejayaannya, Motsu-ji diyakini memiliki hingga 40 bangunan utama dan 500 kapel pendukung untuk meditasi. Namun, kebakaran menghancurkan kuil ini setelah berakhirnya kekuasaan Klan Fujiwara Utara, dan pada tahun 1226 kompleks tersebut telah menjadi reruntuhan. Kuil ini sempat dibangun kembali pada Periode Edo (1603–1868), meski bentuk bangunan saat ini tidak lagi mengikuti rancangan aslinya dari masa Fujiwara Motohira.

Meskipun tata letaknya telah berubah, kompleks kuil Motsu-ji tetap dikelilingi oleh Kolam Oizumi-ga-Ike dan taman tradisional yang telah ada sejak lebih dari 800 tahun lalu. Kolam tersebut berukuran cukup besar dengan dua pulau kecil, area pantai tiruan, serta semenanjung yang merepresentasikan pemandangan pesisir laut. Di sebelah utara kolam, pengunjung dapat melihat sisa-sisa fondasi aula utama yang menjadi pengingat bisu atas perjalanan sejarah Klan Fujiwara Utara.

Menjelajahi Takkoku-no-Iwaya

Hiraizumi’s Takkoku-no-Iwaya, a temple built into a cave, in Iwate Prefecture

Destinasi unik berikutnya adalah Takkoku-no-Iwaya, sebuah lokasi yang terletak sedikit lebih jauh dari pusat objek wisata Hiraizumi lainnya. Untuk mencapainya, pengunjung perlu bersepeda sejauh kurang lebih 6 kilometer dari stasiun. Bagi yang tidak ingin bersepeda, tersedia pilihan bus umum, atau rute ini dapat dilewati jika waktu terbatas. Kendati demikian, perjalanan bersepeda menawarkan pemandangan pedesaan yang asri dan menyenangkan.

Daya tarik utama Takkoku-no-Iwaya adalah bangunan kuil utamanya, Bishamondo, yang dibangun langsung menempel pada dinding tebing batu. Struktur ini didirikan untuk memperingati kemenangan pahlawan utara Sakanoue Tamuramaro atas panglima perang Akuro lebih dari 1.200 tahun yang lalu. Kuil ini didedikasikan untuk memuja Bishamon, dewa perang dalam mitologi Buddha. Meskipun bangunan yang berdiri saat ini bukanlah struktur aslinya, situs pemujaan ini telah ada selama lebih dari satu milenium.

Selain Bishamondo, Takkoku-no-Iwaya juga memiliki beberapa objek menarik lainnya, seperti pahatan relief Buddha raksasa setinggi 16,5 meter pada tebing batu pasir. Konon, pahatan tersebut tercipta ketika seorang prajurit dari klan Minamoto menembakkan banyak anak panah ke arah tebing. Sayangnya, akibat beberapa kali gempa bumi dari tahun ke tahun, kini hanya bagian wajah dari relief Buddha tersebut yang masih utuh.

Objek Wisata Alam di Sekitar Hiraizumi

Boats travel down Iwate Prefecture’s Geibikei Gorge

Bagi pencinta alam yang mencari kegiatan penjelajahan di luar kawasan kuil, Ngarai Geibikei yang terletak tidak jauh dari Hiraizumi adalah pilihan yang tepat. Menikmati keindahan ngarai ini paling pas dilakukan dengan mengikuti tur perahu santai selama 90 menit. Perahu berdasar datar tersebut berangkat setiap jam dan dikemudikan oleh seorang juru mudi tradisional menggunakan sebatang galah panjang. Menyusuri aliran air diapit tebing-tebing tinggi menjadi cara yang sangat menyenangkan untuk bersantai setelah seharian lelah bersepeda keliling Hiraizumi.

Untuk menuju ke Ngarai Geibikei dari Stasiun Ichinoseki, wisatawan dapat naik kereta Jalur Ofunato menuju Stasiun Geibikei, dilanjutkan dengan berjalan kaki sebentar. Total waktu perjalanan dari Ichinoseki tidak lebih dari 40 menit dengan biaya sekitar 580 yen.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *