Periode Warring States atau dikenal sebagai zaman negara-negara berperang di Jepang (1467–1600) berlangsung di tengah kecamuk perang saudara selama sekitar 130 tahun. Era ini bermula dari Perang Onin di Kyoto dan baru benar-benar berakhir ketika sebuah koalisi tunggal berhasil menaklukkan seluruh kubu lawan. Runtuhnya otoritas pusat keshogunan Ashikaga membuat kekuasaan terpecah ke tangan ratusan daimyo regional yang memimpin wilayah masing-masing, membentuk aliansi secara mandiri, serta menyelesaikan konflik lewat jalur senjata. Dari kekacauan inilah muncul tiga tokoh penting yang aksinya berhasil menutup babak kelam tersebut untuk selamanya: Oda Nobunaga, Toyotomi Hideyoshi, dan Tokugawa Ieyasu.
Ketiganya dikenal luas sebagai Tiga Pemersatu Besar Jepang. Masing-masing pemimpin menguasai wilayah Nusantara yang lebih luas dibandingkan pendahulunya, serta mewarisi pekerjaan rumah yang belum tuntas dari penguasa sebelumnya untuk menyatukan wilayah feodal yang terpecah di bawah satu pemerintahan pusat. Kampanye militer mereka berhasil meredیوasi kemerdekaan para daimyo, melucuti senjata para petani, menetapkan struktur kelas sosial, serta meletakkan fondasi politik yang melahirkan periode Edo (1603–1868)—sebuah era perdamaian di bawah kekuasaan Tokugawa selama 265 tahun berikutnya.
Kisah hidup mereka masih menjadi salah satu topik yang paling banyak diteliti dalam sejarah Jepang, sering diadaptasi ke dalam serial Taiga drama NHK, novel, film, hingga berbagai waralaba permainan video. Strategi yang mereka gunakan pun beragam, mulai dari diplomasi penuh kesabaran hingga pengepungan total tanpa ampun. Nobunaga pernah membakar kompleks kuil Enryaku-ji di Gunung Hiei, Hideyoshi dua kali gagal menginvasi Korea, sementara Ieyasu memilih menunggu momen yang tepat sembari mengalahkan semua pesaingnya di akhir cerita.
Memahami latar belakang dan urutan kemunculan ketiga tokoh ini akan mengubah sudut pandang saat mengunjungi berbagai kastil, kuil, dan museum di Jepang, dari sekadar tempat wisata biasa menjadi sebuah narasi sejarah yang hidup.
Siapakah Tiga Pemersatu Besar Jepang?

Oda Nobunaga, Toyotomi Hideyoshi, dan Tokugawa Ieyasu naik panggung kekuasaan secara berurutan, di mana masing-masing meneruskan wilayah dan sistem yang telah dibangun oleh pendahulunya. Ketiga tokoh ini berasal dari Provinsi Owari dan Mikawa, wilayah yang terletak di sekitar Nagoya saat ini, dan semuanya merintis karier sebagai daimyo tingkat menengah di tengah ratusan penguasa lainnya. Hal yang membedakan mereka dari para pesaingnya bukan sekadar keberuntungan di medan perang, melainkan keberanian mendobrak aturan lama feodalisme Jepang: mempersenjatai prajurit pejalan kaki dengan senapan lontak, melakukan survei tanah secara sistematis untuk kepentingan pajak, serta memperlakukan kaisar dan shogun sebagai alat politik alih-alih tuan yang harus di patuhi secara mutlak.
Nobunaga menjadi sosok pertama yang bergerak mendobrak jalan buntu dari basis kekuasaannya di Owari, hingga berhasil menguasai sekitar sepertiga wilayah Jepang sebelum kematiannya pada tahun 1582. Hideyoshi, yang dahulu memulai kariernya sebagai pembawa sandal Nobunaga, kemudian membalas kematian tuannya dan merampungkan penyatuan militer pada tahun 1590, sebelum akhirnya menata ulang tatanan sosial di bawahnya. Sementara itu, Ieyasu yang dikenal paling sabar berhasil bertahan hidup lebih lama dari keduanya, memenangkan pertaruhan penentu di Pertempuran Sekigahara pada tahun 1600, dan mengubah fondasi yang telah dibangun kedua pendahulunya menjadi sebuah dinasti yang berkuasa selama 265 tahun.
Kisah Oda Nobunaga

Oda Nobunaga lahir pada tahun 1534 di Provinsi Owari dari keluarga daimyo tingkat rendah, sebuah klan kecil yang kemudian iawarisi dan kembangkan jauh melampaui batas wilayah asalnya. Langkah besar pertamanya dimulai pada Pertempuran Okehazama tahun 1660, ketika pasukan Oda yang hanya berjumlah sekitar 2.000 prajurit berhasil menghancurkan 25.000 pasukan pimpinan Imagawa Yoshimoto. Badai petir yang datang secara tiba-tiba dimanfaatkan untuk menyamarkan pergerakan pasukan, di mana Nobunaga melakukan serangan mendadak ke pos komando Imagawa di Dengaku-hazama, menewaskan Yoshimoto dan membubarkan pasukannya dalam waktu singkat. Kemenangan tersebut turut menarik perhatian Matsudaira Motoyasu muda, yang kelak dikenal sebagai Tokugawa Ieyasu.
Reputasi Nobunaga sebagai seorang inovator militer sebagian besar berpuncak pada Pertempuran Nagashino pada tahun 1575. Dalam pertempuran tersebut, gabungan pasukan Oda dan Tokugawa mengerahkan sekitar 3.000 prajurit arquebus di balik benteng kayu, yang tembakan massalnya berhasil mematahkan serangan kavaleri bergelombang dari pasukan Takeda Katsuyori. Pihak Takeda kehilangan hingga 10.000 prajurit, dan sejak saat itu penggunaan senjata api dalam skala besar menjadi standar baru dalam peperangan di Jepang. Di luar urusan militer, Nobunaga juga menggemari upacara minum teh, teater Noh, serta seni lukis, sekaligus menerapkan kebijakan pasar bebas rakuichi-rakuza untuk menghapuskan monopoli yang selama ini dipegang oleh serikat pedagang dan biara-biara.
Kampanye militer Nobunaga juga mencakup pengepungan Gunung Hiei pada tahun 1571 yang menghancurkan kompleks kuil Enryaku-ji serta menewaskan ribuan biksu dan warga sipil. Dua tahun kemudian, pada 1573, ia mengusir shogun Ashikaga terakhir, Yoshiaki, keluar dari Kyoto sekaligus membubarkan keshogunan yang telah berkuasa sejak abad ke-14. Mulai tahun 1576, ia membangun Kastil Azuchi di tepi Danau Biwa, sebuah benteng megah di atas bukit yang namanya kemudian diabadikan untuk menyebut era tersebut. Kebijakan konsolidasi yang agresif ini membuatnya memiliki banyak musuh, baik dari kalangan daimyo maupun biara-biara besar.
Menjelang tahun 1582, Nobunaga telah berhasil menguasai sekitar sepertiga wilayah Jepang, pencapaian yang melampaui panglima perang mana pun sebelum dirinya. Pada bulan Juni tahun itu, salah satu jenderalnya, Akechi Mitsuhide, berbalik mengkhianatinya dalam Insiden Honno-ji dengan mengepung kuil di Kyoto tempat Nobunaga singgah bersama sekitar 150 pengawal saja. Dalam kondisi terpojok dan terluka, Nobunaga melakukan seppuku sementara kuil tersebut dilalap api. Pengikut setianya, Toyotomi Hideyoshi, kemudian membalas kematiannya dalam waktu dua minggu dan mewarisi misi penyatuan yang belum selesai.
Kisah Toyotomi Hideyoshi

Lahir dari keluarga petani di Nakamura, wilayah yang kini menjadi bagian dari Nagoya, Toyotomi Hideyoshi memulai pengabdiannya kepada Oda Nobunaga sebagai pesuruh pembawa sandal sebelum akhirnya meniti karier hingga dipercaya memimpin pasukan. Ketika Nobunaga dikhianati dan dibunuh oleh Akechi Mitsuhide dalam Insiden Honno-ji tahun 1582, Hideyoshi segera menarik mundur pasukannya dari kampanye militer di wilayah barat dan sukses menumpas Mitsuhide dalam Pertempuran Yamazaki hanya dalam waktu dua minggu, menempatkan dirinya sebagai penerus sejati Nobunaga. Perjalanannya dari lapisan terbawah masyarakat hingga puncak kekuasaan menjadi salah satu kisah paling fenomenal dalam sejarah Jepang.
Berbeda dengan Nobunaga, Hideyoshi memperkuat kekuasaannya melalui sistem administrasi yang matang di samping kekuatan militer. Karena latar belakang rakyat jelatanya melarangnya menyandang gelar shogun, ia memilih untuk diadopsi ke dalam garis keturunan bangsawan Fujiwara dan mengamankan gelar istana sebagai kampaku atau wali kaisar pada tahun 1585, sehingga ia dapat memerintah atas nama kaisar. Ia membangun Kastil Osaka yang megah mulai tahun 1583 sebagai pusat pemerintahannya, dan memberlakukan survei tanah Taiko untuk menyeragamkan pengukuran hasil pertanian serta sistem perpajakan di seluruh negeri.
Konsolidasi kekuasaannya didukung oleh serangkaian dekret yang saling mengunci. Perburuan pedang pada tahun 1588 melucuti senjata para petani, membersihkan wilayah pedesaan dari senjata api dan menyimpannya khusus untuk golongan prajurit. Undang-undang pemisahan kelas pada tahun 1591 kemudian membekukan batas antara samurai, petani, pengrajin, dan pedagang, serta melarang perpindahan antarkelas. Ironisnya, pria yang dulunya bangkit dari posisi pembawa sandal justru menutup rapat tangga mobilitas sosial yang pernah ia nikmati sendiri.
Hideyoshi juga mengarahkan ambisinya ke luar negeri dengan melancarkan dua kali invasi ke Semenanjung Korea, masing-masing pada tahun 1592 dan 1597, dengan target akhir menguasai Dinasti Ming di China. Kedua kampanye militer tersebut menemui jalan buntu akibat perlawanan gigih dari pasukan Korea dan China, dan akhirnya berakhir pada tahun 1598 menyusul penarikan mundur pasukan Jepang setelah kematian Hideyoshi. Sebelumnya, pada tahun 1595, ia juga memerintahkan keponakan sekaligus pewarisnya, Toyotomi Hidetsugu, untuk melakukan seppuku beserta eksekusi seluruh keluarganya di Sanjogawara, sebuah pembersihan politik yang menghilangkan satu-satunya pewaris dewasa bagi klannya.
Hideyoshi wafat pada tahun 1598, meninggalkan Jepang yang sebagian besar telah bersatu di bawah pengawasan putranya, Toyotomi Hideyori, yang saat itu baru berusia sekitar lima tahun, serta Dewan Lima Penasihat yang ditugaskan memimpin hingga sang pewaris dewasa. Pengaturan tersebut ternyata tidak bertahan lama. Perebutan pengaruh di antara para anggota dewan akhirnya bermuara pada Pertempuran Sekigahara tahun 1600 yang dimenangkan oleh pemersatu ketiga, Tokugawa Ieyasu.
Kisah Tokugawa Ieyasu

Tokugawa Ieyasu lahir dengan nama Matsudaira Takechiyo pada tahun 1543 di Kastil Okazaki di Provinsi Mikawa, sebagai putra seorang daimyo minor yang wilayah kecilnya terjepit di antara klan Imagawa dan Oda yang jauh lebih kuat. Posisi yang rentan ini membentuk masa kecilnya secara langsung. Sejak usia enam tahun, ia diserahkan di antara dua klan saingan tersebut sebagai sandera politik, ditahan mula-mula oleh pihak Oda dan kemudian selama bertahun-tahun di istana Imagawa di Kastil Sunpu. Sifat sabar yang kelak menjadi ciri khas kariernya ditempa di ruangan-ruangan penahanan tersebut, di mana bertahan hidup berarti harus memahami dinamika kekuasaan yang belum mampu ia lawan.
Selepas kematian Oda Nobunaga pada tahun 1582, Ieyasu memilih untuk tunduk pada proses penyatuan negeri di bawah Toyotomi Hideyoshi sambil tetap berhati-hati menjaga kekuatan internalnya sendiri. Pada tahun 1590, seusai pengepungan Kastil Odawara yang meruntuhkan klan Hojo Muda, Hideyoshi menawarkan delapan provinsi wilayah Kanto sebagai ganti tanah leluhurnya. Ieyasu menerima pertukaran tersebut dan membangun pusat pemerintahannya di kota kastil terpencil bernama Edo, sebuah keputusan penting yang kelak melahirkan kota Tokyo modern. Hideyoshi kemudian menunjuknya sebagai pemimpin utama dalam Dewan Lima Penasihat, kelompok petinggi yang bertugas melindungi pewaris cilik Toyotomi Hideyori sepeninggal Hideyoshi pada tahun 1598.
Pertempuran Sekigahara pada tanggal 21 Oktober 1600 menjadi penentu arah sejarah. Pasukan Timur di bawah komando Ieyasu berhasil menghancurkan koalisi yang dibentuk di sekitar Ishida Mitsunari, menjadikannya kekuatan dominan mutlak di Jepang. Tiga tahun berselang, pada tahun 1603, Kaisar Go-Yozei menganugerahinya gelar shogun, sekaligus meresmikan Keshogunan Tokugawa yang akan memerintah selama 265 tahun berikutnya. Klan Toyotomi sendiri masih bertahan di Kastil Osaka hingga meletusnya pengepungan pada musim dingin 1614 dan musim panas 1615, di mana Ieyasu mengepung benteng tersebut hingga menghabisi Hideyori dan memusnahkan klan mereka untuk selama-lamanya.
Kebijakan pemerintahan Ieyasu sangat mengutamakan stabilitas dan ketertiban ekonomi, di mana aparatur birokrasi yang ia bangun mampu bertahan melampaui zamannya selama berabad-abad. Warisannya paling nyata terlihat pada perkembangan Edo sebagai pusat politik dan ekonomi negara. Kebijakan hubungan luar negeri yang menjadi ciri khas klannya baru diterapkan secara tegas di bawah sang cucu, Tokugawa Iemitsu, melalui dekret tahun 1630-an yang melarang sebagian besar orang asing masuk serta melarang warga Jepang bepergian ke luar negeri. Kendati demikian, bertentangan dengan anggapan umum mengenai isolasi total, perdagangan yang diregulasi tetap berlangsung sepanjang periode Sakoku, di mana pedagang Belanda dan China diizinkan beroperasi di Dejima, Nagasaki, di bawah pengawasan ketat.
Keshogunan Tokugawa

Kemenangan Ieyasu di Sekigahara mengantar Jepang memasuki periode Edo (1603–1868), sebuah era perdamaian relatif yang bertahan selama lebih dari dua setengah abad. Dengan berakhirnya peperangan terus-menerus dari masa sebelumnya, dunia seni mengalami kebangkitan, memunculkan bentuk-bentuk ekspresi budaya khas seperti teater kabuki dan cetakan balok kayu ukiyo-e. Stabilitas ini merupakan hasil rekayasa politik yang disengaja, bukan kebetulan semata. Pada tahun 1635, shogun ketiga Tokugawa Iemitsu meresmikan sistem sankin-kotai, yaitu kewajiban bagi para daimyo untuk memelihara kediaman di Edo dan tinggal di sana secara bergantian setiap tahun, sementara keluarga mereka ditinggalkan di ibu kota sebagai sandera de facto. Prosesi perjalanan dan pemeliharaan dua rumah tangga tersebut menghabiskan hingga seperempat pendapatan wilayah, sehingga menguras kas keuangan yang tadinya berpotensi mendanai pemberontakan.
Sankin-kotai secara langsung mengubah lanskap sosial dan infrastruktur negeri. Arus perjalanan para daimyo menghidupkan jalur Tokaido dan Nakasendo, di mana kota-kota perhentian berkembang menjadi pusat perdagangan yang ramai, sekaligus memicu pertumbuhan kota Edo sendiri yang mencatat populasi lebih dari satu juta jiwa pada pertengahan abad ke-18, menjadikannya salah satu kota terbesar di dunia. Masyarakat ditata ke dalam hierarki shi-no-ko-sho yang mencakup samurai, petani, pengrajin, dan pedagang. Penggolongan ala Konfusianisme ini membekukan kelas sosial yang tadinya cair pada era Warring States ke dalam status keturunan yang kaku. Kekayaan suatu wilayah diukur dalam satuan koku, yakni takaran beras yang dianggap cukup untuk memberi makan satu orang selama setahun, dan seorang bangsawan baru diakui sebagai daimyo apabila pendapatannya mencapai minimal 10.000 koku.
Di balik permukaan yang tertib, sistem kontrol yang melahirkan kedamaian ini sekaligus membatasi ruang gerak masyarakat. Mobilitas perjalanan diawasi ketat melalui pos pemeriksaan di sepanjang jalan raya, hierarki kelas dibuat sulit untuk ditembus, dan ketenteraman tersebut bertumpu pada dominasi militer Tokugawa alih-alih rekonsiliasi kepentingan yang tulus. Hierarki formal ini pun sering kali bertolak belakang dengan realitas ekonomi: para pedagang ditempatkan di undak terbawah dari empat strata sosial, namun ekonomi komersial yang mereka bangun di Osaka dan Edo justru menghasilkan kekayaan luar biasa hingga banyak samurai yang akhirnya berhutang kepada rumah-rumah dagang yang secara status sosial berada di bawah mereka.
Meskipun demikian, era ini berhasil membangun sebagian besar infrastruktur penting yang membawa Jepang masuk ke era Meiji (1868–1912). Dua abad tanpa perang memberikan kesempatan bagi jaringan komersial, infrastruktur jalan, dan tingkat melek huruf masyarakat untuk matang. Ribuan sekolah kuil terakoya yang beroperasi menjelang akhir zaman Edo mendongkrak tingkat literasi hingga diperkirakan mencapai 40 persen untuk kaum pria, bahkan lebih tinggi lagi di perkotaan, membekali penduduk Jepang dengan kesiapan menyerap perubahan secara cepat. Maka, tatkala kapal-kapal hitam milik Komodor Matthew Perry muncul di perairan Uraga pada tahun 1853 dan memaksa negeri itu membuka diri, sebagian besar landasan transformasi besar telah tersedia.
Berbagai institusi yang dibentuk di bawah kekuasaan Tokugawa terbukti mampu bertahan melebihi usia keshogunan itu sendiri. Administrasi yang tersentralisasi, etika birokrasi Konfusianisme, serta struktur wilayah yang mengatur pajak dan talenta tetap dipertahankan, dan sebagian besar proses Restorasi Meiji dijalankan oleh para mantan samurai yang menerapkan kebiasaan tata kelola dari dua setengah abad sebelumnya.
Apakah Tokugawa Ieyasu Merampas Semuanya?

Sebuah pepatah tradisional menggambarkan pandangan populer mengenai posisi Tokugawa Ieyasu di antara ketiga pemersatu: Oda Nobunaga menumbuk padinya, Toyotomi Hideyoshi menguleni adonannya, dan Tokugawa Ieyasu yang menyantap kue tersebut. Ungkapan kuno yang telah diulang selama berabad-abad ini menyiratkan makna tersirat bahwa Ieyasu diposisikan sebagai pihak yang datang terlambat untuk menikmati hasil akhir dari pekerjaan melelahkan yang telah dirintis oleh para pendahulunya setelah medan pertempuran dibersihkan. Reputasi semacam ini bukanlah ciptaan modern, melainkan telah menyertai namanya sejak zaman Sengoku berganti menjadi era perdamaian di bawah kepemimpinannya.
Mereka yang memandang Ieyasu sebagai seorang oportunis biasanya merujuk pada catatan sejarah yang nyata. Ia selamat dari kematian Nobunaga pada tahun 1582 serta mangkatnya Hideyoshi pada tahun 1598, sehingga memungkinkannya muncul sebagai figur senior tatkala para rivalnya telah tiada. Selepas kemenangan di Pertempuran Sekigahara tahun 1600, ia sempat bersumpah untuk melindungi kepentingan pewaris muda Toyotomi Hideyori, namun dalam kurun waktu 15 tahun ia justru bergerak memusnahkan klan tersebut secara total. Alasan yang digunakan untuk kampanye militer terakhir adalah inskripsi pada lonceng kuil Hoko-ji di Kyoto, di mana aksara Kokka anko ditafsirkan oleh pihak Tokugawa sebagai bentuk pemisahan nama Ieyasu demi meninggikan kedudukan Toyotomi. Penafsiran yang terkesan dicari-cari ini menjadi pemicu pengepungan Osaka pada tahun 1614 dan 1615 yang meratakan klan Toyotomi.
Di sisi lain, para sejarawan yang melihatnya sebagai negarawan ulung mengajukan sudut pandang berbeda. Nobunaga dan Hideyoshi sama-sama berhasil menyatukan sebagian besar wilayah negeri, namun tak satupun dari mereka yang mampu meninggalkan sistem pemerintahan yang bertahan sepeninggal mereka: Nobunaga dikhianati oleh jenderalnya sendiri, sementara otoritas Hideyoshi langsung runtuh begitu ia tiada. Sebaliknya, sistem yang dibangun Ieyasu terbukti berumur panjang. Sistem kewajiban tinggal bergantian, hierarki wilayah yang tetap, serta kebijakan luar negeri yang tertutup berhasil menjaga persatuan bangsa jauh setelah para pendirinya meninggal dunia. Apakah kelanggengan kekuasaan tersebut dapat membenarkan janji-janji yang dilanggar tetap menjadi perdebatan, di mana catatan sejarah menyediakan argumen dari kedua belah pihak alih-alih vonis tunggal.
Keshogunan Tokugawa yang didirikan Ieyasu pada tahun 1603 memimpin Jepang selama 265 tahun berikutnya, menjadikannya rentang perdamaian terpanjang dalam sejarah pra-modern negeri tersebut. Para pelancong yang tertarik mendalami era ini dapat mengunjungi makam Ieyasu di Kuil Toshogu Nikko, Prefektur Tochigi, tempat sang shogun diabadikan sebagai dewa, sementara peristirahatan Hideyoshi dapat ditemukan di Kuil Hokoku di Kyoto. Kedua situs peristirahatan terakhir ini terpisah jarak ratusan kilometer, menjadi monumen abadi bagi dua tokoh yang persaingannya terus dirangkum dalam pepatah kue beras hingga hari ini.
Sampai jumpa di perjalanan berikutnya, para pelancong…








