Bunga bakung laba-laba merah atau yang dikenal di Jepang sebagai manjushage atau higanbana, selalu menjadi penanda datangnya musim gugur. Tanaman ini biasanya mencapai puncak keindahannya di sekitar ekuinoks musim gugur dan menjadi pembuka yang sempurna sebelum daun-daun berubah warna menjadi kemerahan di pertengahan musim gugur. Jika Anda berkunjung ke Jepang pada paruh kedua bulan September, menyempatkan diri melihat hamparan bunga ini adalah sebuah pilihan yang sangat menarik.
Di balik kecantikannya, higanbana menyimpan reputasi kelam sebagai “bunga kematian”. Umbi dari tanaman Lycoris radiata mengandung alkaloid beracun bernama likorin, yang dahulu dimanfaatkan untuk mencegah tikus dan tikus tanah merusak pematang sawah, serta menghalau hewan penggali di sekitar area pemakaman. Tradisi menanamnya di dekat makam turut melekatkan bunga ini dengan kematian, yang juga tecermin dalam ajaran Buddha. Sebutan lokal seperti shibitobana (bunga mayat), jigokubana (bunga neraka), dan yureibana (bunga hantu) menunjukkan bagaimana estetika dan kefanaan berpadu erat pada tanaman ini.
Salah satu legenda Buddha yang paling terkenal mengenai higanbana berasal dari Sutra Teratai, di mana bunga ini digambarkan tumbuh di dasar neraka untuk membantu membimbing arwah yang telah meninggal menuju reinkarnasi. Ada pula mitos yang menyebutkan bahwa bunga ini muncul di sepanjang jalur saat seseorang mengalami perpisahan terakhir. Oleh karena itu, higanbana sering diasosiasikan dengan perjalanan melintasi alam gaib dalam berbagai cerita rakyat.

Nama higanbana sendiri merujuk pada kemunculannya yang bertepatan dengan ekuinoks musim gugur, periode perayaan Buddha bernama higan yang berarti “pantai seberang”. Keunikan lain dari tanaman ini terletak pada siklus hidupnya: bunganya mekar tanpa daun, dan daunnya baru akan muncul setelah bunga tersebut layu. Ungkapan tradisional menggambarkan kondisi ini sebagai “tidak pernah ada daun bersama bunga, tidak pernah ada bunga bersama daun.” Setelah tunas muncul, butuh waktu sekitar seminggu untuk mekar, dan setiap kuntum bunga biasanya hanya bertahan selama lima hari saja.
Selain dalam tradisi keagamaan, higanbana juga kerap muncul dalam budaya pop, termasuk serial anime dan manga populer seperti Tokyo Ghoul. Karena diasosiasikan dengan kematian, bunga ini sering digunakan untuk menandakan akhir hidup seorang karakter atau menggambarkan transformasi besar dalam diri mereka.
Bagi yang ingin menikmati hamparan luas bunga ini, Taman Kinchakuda Manjushage di Kota Hidaka, Prefektur Saitama, adalah lokasi utamanya. Aliran Sungai Komagawa yang berbelok membentuk daratan datar menyerupai kinchaku (kantong koin tradisional Jepang) menjadi tempat tumbuh bagi sekitar 5 juta batang higanbana yang membentang luas.
Meskipun higanbana juga dapat ditemukan di tempat lain seperti Miyoshi di Prefektur Hiroshima atau di sekitar kuil Anao-ji di Kameoka, Prefektur Kyoto, konsentrasi warna merah di Kinchakuda menawarkan pemandangan dengan skala yang jauh berbeda.
Sejarah Kawasan Koma

Nama “Koma” yang disandang oleh Stasiun Koma, Sungai Komagawa, dan Kuil Koma berasal dari sejarah pengungsi kerajaan Goguryeo dari Korea yang menetap di kawasan ini pada awal tahun 700-an. Pada tahun 716, pemerintah kekaisaran memindahkan hampir 1.800 orang keturunan Goguryeo ke Provinsi Musashi, dengan bangsawan Koma-no-Jakko ditunjuk sebagai gubernur pertamanya.
Para pendatang tersebut awalnya menggarap lahan pertanian dan sawah di area cekungan sungai tersebut. Sawah-sawah itu kemudian sempat terbengkalai hingga dipenuhi semak belukar. Saat dilakukan pembersihan pada akhir tahun 1970-an hingga 1980-an, penduduk setempat menemukan koloni besar higanbana yang tersembunyi di balik semak-semak tersebut, yang kemudian dikembangkan menjadi objek wisata seperti sekarang.
Asal-usul keberadaan bunga-bunga ini di lokasi tersebut masih menjadi perdebatan. Sebagian berpendapat umbi tersebut sengaja ditanam oleh petani untuk melindungi tanaman, sementara teori lain menduga umbi-umbi itu terbawa arus banjir Sungai Komagawa dari hulu.
Cara Menuju ke Sana

Perjalanan menuju Taman Kinchakuda Manjushage terbilang mudah. Dari Stasiun Ikebukuro, pengunjung dapat naik kereta Seibu Ikebukuro Line menuju Stasiun Koma yang dapat ditempuh dalam waktu sekitar satu jam, baik dengan kereta langsung maupun dengan transit di Stasiun Hanno.
Alternatif lainnya adalah menggunakan Stasiun Komagawa pada jalur JR Kawagoe dan Hachiko, dilanjutkan dengan berjalan kaki sekitar 40 menit atau menaiki bus Kokusai Kogyo. Dari halte bus terdekat, gerbang taman hanya berjarak tiga menit berjalan kaki.
Dari Stasiun Koma, taman dapat dicapai dengan berjalan kaki selama kira-kira 15 menit. Pengunjung akan melewati Aiai-bashi, sebuah jembatan kayu gantung pejalan kaki sepanjang 91,2 meter yang melintasi Sungai Komagawa. Terdapat pula kafe organik di dekat pintu masuk bagi pengunjung yang ingin bersantai.
Waktu terbaik untuk berkunjung adalah sekitar ekuinoks musim gugur, meskipun pihak pengelola berupaya mengatur waktu mekarnya agar bunga tetap dapat dinikmati dari akhir September hingga awal Oktober. Festival Kinchakuda Manjushage biasanya diselenggarakan selama dua minggu dengan tiket masuk seharga 500 yen bagi orang dewasa selama musim puncak mekarnya bunga.
Atraksi Lain di Sekitar

Jika Anda merencanakan kunjungan sehari penuh ke wilayah barat Saitama, terdapat beberapa lokasi menarik lain di sekitar taman yang layak untuk dikunjungi:
- Moominvalley Park: Terletak tidak jauh dari Hanno dekat Stasiun Koma, taman hiburan ini mengangkat tema karakter Moomin karya Tove Jansson.
- Koma Shrine & Shoden-in: Kompleks kuil yang memiliki kaitan erat dengan sejarah pengungsi dari kerajaan Goguryeo di masa lampau.
- Goguryeo Folk Museum: Museum yang berada di bagian timur Taman Kinchakuda untuk mempelajari lebih lanjut mengenai sejarah dan warisan budaya masyarakat Goguryeo.
- Chichibu: Kawasan tetangga yang menawarkan keindahan alam dan suasana khas wilayah Greater Tokyo, sangat cocok bagi pelancong yang ingin memperpanjang waktu liburan.








