Mari kita berkenalan dengan salah satu tokoh sejarah paling unik dari masa lalu, yaitu Tokugawa Ienari. Sosok yang dijuluki sebagai salah satu penguasa terkuat ini merupakan shogun kesebelas yang memimpin selama periode Edo, membentang dari tahun 1787 hingga 1837. Menjadikannya sebagai shogun dengan masa jabatan terlama di dalam dinasti Tokugawa.
Salah satu kebijakan besar yang dicatat dalam sejarah dari masa kepemimpinannya adalah perintah untuk memindahkan sejumlah besar kuil dari pusat kota Tokyo ke wilayah pinggiran. Pada masa itu, bangunan keagamaan yang lekat dengan aktivitas pembakaran dupa menjadi ancaman kebakaran yang sangat besar di kota yang seluruh bangunannya didominasi oleh kayu. Atas titah Ienari, kuil-kuil tersebut dibongkar dan dipindahkan ke kawasan Nippori yang saat itu masih berada di ujung perbatasan kota.
Kendati berjasa dalam menyelamatkan kawasan ibu kota dari bahaya kebakaran, Ienari lebih dikenal luas karena gaya hidupnya yang kontroversial. Shogun kesebelas ini sering kali dikaitkan dengan kebiasaan berpesta dan gemar dikelilingi perempuan, yang konon sempat membawa keuangan keshogunan berada di ambang kehancaraan. Tidak heran jika banyak sejarawan kerap menjulukinya sebagai “shogun Pesta” akibat berbagai skandal pribadi yang mewarnai masa kekuasaannya.
Secara resmi, Ienari hanya memiliki seorang istri sah, namun ia dikabarkan memiliki belasan hingga puluhan selir, dengan jumlah perempuan di dalam o harem keshogunan yang mencapai ribuan pada masa puncaknya. Selain gemar bersenang-senang, ia juga dikenal sebagai peminum berat. Malam-malam di Istana Edo kerap diisi dengan perjamuan yang melibatkan banyak perempuan dan berbotol-botol minuman keras.
Kehidupan penuh pesta tersebut akhirnya usai ketika Ienari menutup usia pada umur 67 tahun—sebuah usia yang tergolong sangat panjang pada masa itu. Meskipun kesehatannya sempat dikabarkan terganggu akibat penyakit menular di masa tuanya, ia berhasil memperanakkan puluhan anak. Sebagian dari keturunannya bahkan tumbuh menjadi tokoh-tokoh penting yang memegang peranan krusial dalam peristiwa Bakumatsu dan Perang Boshin.
Warisan Tokugawa Ienari

Jika Anda menyusuri kawasan Nippori dan Yanaka saat ini, jejak dari keputusan Ienari memindahkan kuil-kuil masih dapat disaksikan secara langsung. Kawasan Yanaka menjadi salah satu bagian Tokyo yang beruntung karena selamat dari kehancuran akibat Gempa Besar Kanto 1923 dan Perang Dunia II. Kuil-kuil yang dipindahkan pada abad ke-19 tersebut masih berdiri kokoh hingga hari ini.
Meskipun sulit untuk memastikan secara persis kuil mana saja yang secara langsung dipindahkan atas perintah Ienari karena banyaknya jumlah tempat ibadah di kawasan tersebut, beberapa kuil di Yanaka menawarkan pesona sejarah tersendiri yang layak untuk dikunjungi:
- Tenno-ji
Dibangun pertama kali pada tahun 1274, kuil ini tercatat sebagai yang tertua di kawasan tersebut. Pada masa periode Edo, kompleks ini memiliki area yang jauh lebih luas dibandingkan sekarang dan menjadi salah satu dari sedikit kuil yang diizinkan mengadakan lotere. Di sini, pengunjung dapat melihat patung Buddha perunggu yang dicor pada tahun 1690. - Rinko-ji
Didirikan pada tahun 1630, kuil ini menyimpan berbagai batu peringatan kuno dari masa ketika masyarakat biasa mulai diizinkan memiliki makam sendiri. - Enju-ji
Kuil ini mendedikasikan penghormatannya kepada biksu abad ke-14 bernama Nichika, yang dikenal sebagai pelindung para pejalan kaki. Di dalam bangunan kayu ini, terdapat berbagai penggambaran alas kaki tradisional Jepang. - Jomyo-in
Didirikan pada pertengahan tahun 1600-an, fasilitas ini terkenal karena menaungi puluhan ribu patung Jizo yang pemandangannya sangat memukau siapa saja yang datang berkunjung.
Bagi pelancong yang ingin menjelajahi lebih jauh, pusat informasi wisata setempat menyediakan peta khusus yang memuat puluhan rekomendasi titik kunjungan dalam rute jalan kaki yang tertata rapi.
Destinasi Menarik Lainnya di Sekitar

Selain menghabiskan waktu di Yanaka, lokasi ini juga berdekatan dengan Taman Ueno. Selain kebun binatang yang populer, kawasan taman ini menjadi pusat berbagai atraksi budaya serta pasar jalanan Ameyoko yang berakar dari pasar gelap era pascaperang. Tempat-tempat ini menawarkan pengalaman wisata yang lengkap di tengah kota Tokyo.
Pilihan lain yang lebih tenang adalah sisa-sisa bangunan Kan’nei-ji, sebuah bekas kompleks pemakaman keshogunan Tokugawa yang dulunya berukuran sangat luas hingga mencakup sebagian besar wilayah Taman Ueno saat ini. Meskipun kini ukurannya jauh lebih kecil akibat kebakaran hebat dalam Perang Boshin, tempat ini tetap menyimpan nilai sejarah yang menarik untuk disinggahi.








