Home / Travel / Selamat Datang di Kota Nagano: Jejak Warisan Olimpiade Musim Dingin 1998

Selamat Datang di Kota Nagano: Jejak Warisan Olimpiade Musim Dingin 1998

Snow Covered Donny Kimball at Togakushi Shrine in Nagano

Prefektur Nagano di Jepang sering kali hanya diasosiasikan dengan Olimpiade Musim Dingin 1998 atau destinasi olahraga salju bagi wisatawan mancanegara. Padahal, wilayah yang berada di kawasan Negeri Salju ini menyimpan kekayaan sejarah dan budaya yang luar biasa melimpah. Dari akar asalnya sebagai kota kuil hingga lanskap pegunungannya yang menakjubkan, Nagano menawarkan pengalaman wisata yang sangat memikat bagi para pencinta budaya.

Sejarah Nagano dapat ditelusuri kembali hingga Periode Nara (710–794), ketika wilayah ini berkembang sebagai kota kuil di sekitar kompleks Zenko-ji yang didirikan pada pertengahan tahun 600-an. Memasuki Periode Edo (1603–1868), kawasan ini bertransformasi menjadi kota perhentian penting di sepanjang jalur Hokkoku kaido yang menghubungkan Tokyo modern dengan Laut Jepang. Meskipun kini lebih terkenal sebagai tuan rumah Olimpiade Musim Dingin 1998, sisa-sisa fasilitas ajang olahraga tersebut seperti M-Wave dan stadion utama masih dapat disaksikan hingga kini oleh para pengunjung.

Cara Menuju ke Sana

Donny Kimball covered in snow amidst massive cedar trees at Nagano Prefecture's Togakushi Shrine

Mengunjungi Nagano tergolong sangat mudah berkat adanya jalur kereta Hokuriku Shinkansen. Anda dapat menaiki kereta peluru tujuan Kanazawa yang melintasi Stasiun Nagano. Perjalanan dari pusat Tokyo hanya membutuhkan waktu sekitar 80 menit dengan biaya tiket kurang lebih 8,340 yen.

Kendati akses luar kotanya sangat praktis, mobilitas di dalam kota Nagano sendiri cukup menantang karena konturnya yang berupa lembah pegunungan terjal. Transportasi umum yang diandalkan di sini adalah bus. Beruntung, sebagai bekas kota tuan rumah ajang internasional, Nagano telah dilengkapi dengan fasilitas penunjuk arah berbahasa Inggris yang memadai untuk membantu wisatawan asing.

Zenko-ji di Nagano

The main approach to Nagano City’s famed Zenko-ji temple complex

Kompleks kuil Buddha Zenko-ji merupakan jantung sejarah kota Nagano. Dibangun sejak abad ke-7, kuil ini bahkan sudah ada sebelum agama Buddha terpecah menjadi berbagai sekte, sehingga saat ini bernaung di bawah aliran Tendai sekaligus Jodo.

Area kuil ini sangat luas. Gerbang utamanya terhubung dengan jalan sepanjang lebih dua kilometer yang dipenuhi deretan toko, rumah makan, serta penginapan peziarah. Beberapa titik menarik yang wajib dikunjungi di kompleks ini meliputi:

  • Gerbang Sanmon
    Gerbang utama di sebelah selatan aula utama ini berasal dari abad ke-17 dan berstatus sebagai properti kultural penting. Pengunjung diizinkan masuk ke dalam untuk melihat patung Bodhisattva Monju serta Empat Raja Surgawi.
  • Aula Utama
    Di bagian belakang aula utama terdapat tangga menuju lorong bawah tanah yang gelap gulita. Pengunjung dapat meraba dinding koridor untuk mencari “kunci surga” yang dipercaya dapat menganugerahkan keselamatan bagi siapa saja yang menyentuhnya.
  • Museum Sejarah Zenko-ji
    Berlokasi tidak jauh dari aula utama, museum pagoda modern ini memamerkan berbagai koleksi artefak Buddha secara terbuka tanpa pembatas kaca, termasuk seratus patung murid Buddha yang diukir secara individu.

Patung utama yang disucikan di Zenko-ji tidak pernah dipamerkan kepada publik karena diyakini sebagai arca Buddha pertama yang dibawa ke Jepang dari India. Replika patungnya pun hanya dikeluarkan setiap enam tahun sekali melalui sebuah upacara keagamaan bernama Gokaicho.

Kawasan Togakushi

Massive cedar trees line a snowy path to the innermost part of Nagano’s Togakushi Shrine

Terletak di ujung barat daya kota, distrik pegunungan Togakushi dapat dijangkau menggunakan bus melalui Jalur Lingkar Asagawa. Perjalanan menanjak ini melewati kawasan yang dulunya digunakan sebagai arena bobsled dan luge pada Olimpiade 1998.

Daya tarik utama Togakushi adalah Kuil Togakushi yang sangat dihormati. Kompleks suci di kaki Gunung Togakushi ini terdiri dari lima kuil terpisah: kuil bawah, Kuil Hino-miko, kuil tengah, kuil atas, dan Kuil Kuzuryu. Berziarah ke kelima kuil ini merupakan tradisi leluhur yang amat penting.

Kuil Togakushi memiliki akar sejarah yang sangat panjang dan pernah disejajarkan dengan situs-situs suci terkemuka seperti Ise Jingu di Prefektur Mie serta Gunung Koya. Mengingat jarak antar kuil cukup jauh dan memerlukan waktu berjalan kaki di jalur setapak pohon aras raksasa, disarankan untuk meluangkan waktu sekurang-kurangnya setengah hari guna mengeksplorasi kawasan ini secara menyeluruh.

Atraksi Menarik Lainnya di Sekitar Nagano

A snow monkey waits to get into the hot spring at Nagano’s Snow Monkey Park

Meskipun berada di luar batas kota Nagano tepatnya di Yamanouchi, Taman Monyet Salju (Snow Monkey Park) sering kali menjadi agenda wajib wisatawan yang berkunjung ke wilayah ini. Pengunjung dapat memanfaatkan tiket terusan dua hari yang mencakup transportasi dan tiket masuk taman.

Untuk mencapai taman tersebut dari Stasiun Nagano, tersedia bus langsung yang dilanjutkan dengan berjalan kaki selama kurang lebih 40 menit melewati jalur hutan. Alternatif lainnya adalah naik kereta Nagano Dentetsu Line menuju Stasiun Yudanaka. Karena popularitas kera-kera pemandian air panas ini sangat tinggi, disarankan untuk datang lebih pagi untuk menghindari kerumunan pengunjung.

Bagi pelancong yang ingin bersantai, kota pemandian air panas (onsen) di dekatnya seperti Shibu Onsen dan Yudanaka Onsen sangat layak disinggahi dalam perjalanan pulang. Shibu Onsen terkenal dengan suasananya yang lebih tradisional dan asri dibandingkan Yudanaka Onsen yang lebih modern.

Sebagai tambahan bagi para pelancong yang meminati sejarah Perang Dunia II, Markas Besar Militer Bawah Tanah Matsushiro di Nagano juga dapat dimasukkan ke dalam daftar kunjungan. Kompleks bunker bawah tanah ini dulunya disiapkan sebagai pusat pemerintahan darurat pada masa-masa akhir perang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *