Home / Travel / Sejarah Jepang: Hal yang Harus Anda Ketahui Sebelum Berkunjung

Sejarah Jepang: Hal yang Harus Anda Ketahui Sebelum Berkunjung

The Townscape of Hida Takayama

Jepang dikenal sebagai destinasi wisata yang luar biasa, mulai dari lanskap alamnya yang memukau hingga dinamika perkotaannya yang sibuk. Memahami tonggak sejarah penting di negara ini dapat memperkaya pengalaman Anda saat berkunjung. Baik saat menyusuri kuil-kuil kuno maupun menjelajahi lanskap modern Tokyo dan Osaka, sedikit latar belakang sejarah akan membuat perjalanan Anda lebih bermakna.

Ambil contoh Nikko. Tempat ini sudah sangat menakjubkan dengan kuil-kuilnya yang penuh ukiran rumit dan alamnya yang asri. Namun, mengetahui bahwa tempat ini merupakan tempat peristirahatan Tokugawa Ieyasu—pendiri Keshogunan Tokugawa yang membawa masa damai selama lebih dari 250 tahun—membuat kunjungan tersebut terasa jauh lebih mendalam. Hal ini mengubah jalan-jalan biasa di tengah hutan menjadi sebuah penjelajahan bermakna ke masa lalu Jepang.

Dalam artikel ini, Anda akan mendapatkan gambaran umum mengenai periode-periode utama dalam sejarah Jepang, mulai dari pemukiman manusia paling awal hingga era modern. Setiap bagian dilengkapi dengan ringkasan agar panduan ini tetap padat dan mudah dipahami, baik oleh pecinta sejarah maupun pelancong yang penasaran.

Periode Jomon (14.000 SM — 300 SM)

The Sannai Maruyama Site in Aomori Prefecture is one of the best Jomon period (14,000–300 BCE) sites in all of Japan and was the final attraction that I visited before heading back to Tokyo at the end of my trip to promote the JR East Pass (Tohoku Area).
Lihat Ringkasan

Periode Jomon adalah awal dari segalanya. Secara resmi diakui sebagai era pemukiman manusia pertama di Jepang, periode ini membentang dari sekitar 14.000 SM hingga 300 SM. Masyarakat Jomon sebagian besar hidup sebagai pemburu-pengumpul, bertahan hidup dari hasil alam sambil menciptakan beberapa tembikar tertua di dunia yang terkenal dengan desain pola tali.

Kehidupan pada masa Jomon berpusat pada keseimbangan dengan alam. Masyarakat awal ini tinggal di rumah lubang semi-permanen dan memiliki kehidupan spiritual yang kaya, seperti yang terlihat pada figurin misterius bernama dogu. Periode ini berakhir ketika teknologi baru, khususnya bercocok tanam padi dan pengerjaan logam, diperkenalkan dari Semenanjung Korea sekitar tahun 300 SM.

Untuk menelusuri jejak masyarakat Jomon, kunjungi Sannai-Maruyama di Prefektur Aomori, di mana Anda dapat melihat sisa-sisa pemukiman Jomon yang masif. Di wilayah utara ini, Anda juga akan menemukan situs-situs terdaftar UNESCO lainnya di Hokkaido dan Tohoku utara.

Periode Yayoi (sekitar 300 SM — 250 M)

Saga Prefecture’s Yoshinogari Park, a site is the largest and most renowned Yayoi period (300 BCE — 300 CE) dig site in all of Japan.
Lihat Ringkasan

Periode Yayoi menandai titik balik utama dalam sejarah Jepang, dimulai sekitar 300 SM hingga 250 M. Pada masa ini, Jepang bertransisi dari masyarakat pemburu-pengumpul menjadi masyarakat agraris, dengan pertanian padi sawah dan penggunaan alat-alat logam yang mulai membentuk lanskap kehidupan.

Perubahan ini memunculkan pemukiman permanen, hierarki sosial, serta kebangkitan para pemimpin klan yang kuat. Alat, senjata, dan benda ritual dari perunggu serta besi mulai bermunculan, membangun fondasi politik yang lebih kompleks sebelum akhirnya memasuki periode Kofun sekitar tahun 250 M.

Anda dapat menjelajahi peninggalan periode Yayoi di Taman Historis Yoshinogari di Prefektur Saga, yang menampilkan rekonstruksi desa dan gundukan pemakaman khas Yayoi.

Periode Kofun (sekitar 250–538 M)

An artist’s arial rendition of Emperor Nintoku’s Daisen Kofun mausoleum and the Mozu Tomb Cluster in Sakai, Osaka.
Lihat Ringkasan

Periode Kofun dinamai berdasarkan gundukan makam raksasa berbentuk lubang kunci yang dibangun untuk para kaum elit. Era ini menyaksikan kebangkitan Klan Yamato, yang mulai mengonsolidasikan kekuasaan dan meletakkan dasar bagi sistem kekaisaran Jepang.

Fitur utama periode ini adalah makam kofun yang megah, di mana Daisen Kofun di Osaka menjadi yang terbesar. Pengaruh luar, terutama dari Tiongkok dan Korea, juga mulai masuk dalam hal teknologi dan tata kelola pemerintahan sebelum digantikan oleh masuknya agama Buddha pada awal Periode Asuka.

Kunjungi Kelompok Kofun Mozu-Furuichi di Osaka untuk melihat langsung skala kemegahan makam kuno ini.

Periode Asuka (538–710 M)

The daibutsu of Asuka-dera in Nara Prefecture is the oldest Buddhist statue in all of Japan and is emblematic of the Asuka period of Japanese history.
Lihat Ringkasan

Periode Asuka menjadi saksi pengenalan resmi agama Buddha ke Jepang dari Korea. Dinamai dari wilayah Asuka di Prefektur Nara tempat istana kekaisaran berada, era ini membawa perubahan mendalam pada tata kelola negara dan praktik budaya.

Tokoh penting pada masa ini adalah Pangeran Shotoku, yang mempromosikan agama Buddha serta tata kelola pemerintahan ala Tiongkok. Reformasi Taika pada tahun 645 turut mensentralisasi kekuasaan melalui restrukturisasi kepemilikan tanah dan sistem perpajakan.

Anda bisa mengunjungi Asuka-dera, kuil Buddha tertua di Jepang, yang terletak di area Asuka, Nara.

Periode Nara (710–794 M)

A deer pokes its head out between the stone lanterns that line the pathway to Nara Prefecture’s Kasuga Taisha, a shrine that dates from the Nara period (710–794).
Lihat Ringkasan

Periode Nara menandai pertama kalinya Jepang mendirikan ibu kota tetap di Heijo-kyo (sekarang Nara). Masa ini dipenuhi dengan penguatan agama Buddha dan negara terpusat yang sangat dipengaruhi oleh Dinasti Tang di Tiongkok.

Di bawah Kaisar Shomu, kuil-kuil Buddha megah seperti Todai-ji dibangun. Periode ini juga menghasilkan catatan sejarah tertulis paling awal di Jepang, yaitu Kojiki dan Nihon Shoki, yang merinci asal-usul keluarga kekaisaran.

Nara tetap menjadi destinasi wajib bagi pecinta sejarah, dengan Todai-ji dan patung Buddha raksasanya sebagai ikon utama.

Periode Heian (794–1185 M)

Formerly known as Heian-kyo, the city of Kyoto was long the capital of Japan and was the country’s center of power and culture ever since the Heian period (794–1185).
Lihat Ringkasan

Periode Heian dianggap sebagai zaman keemasan budaya klasik Jepang, saat istana kekaisaran berkembang pesat di Heian-kyo (sekarang Kyoto). Era ini melahirkan karya sastra ikonis seperti Hikayat Genji karya Murasaki Shikibu, yang dianggap sebagai novel pertama di dunia.

Meskipun para bangsawan menikmati kehidupan penuh seni dan sastra, kekuasaan politik perlahan bergeser ke tangan Klan Fujiwara dan kemudian kelas prajurit yang sedang bangkit. Periode ini ditutup oleh Perang Genpei (1180–1185) yang dimenangkan oleh Klan Minamoto.

Kyoto menyimpan banyak warisan dari era ini, termasuk kuil Kiyomizu-dera dan Enryaku-ji di Gunung Hiei.

Periode Kamakura (1185–1333 M)

The famous Kamakura Daibutsu of Kotoku-in is a Buddhist statue that has been around ever since the Kamakura period (1185–1333).
Lihat Ringkasan

Periode Kamakura menandai kebangkitan kaum samurai sebagai penguasa Jepang serta pendirian keshogunan pertama oleh Minamoto no Yoritomo di Kamakura, jauh dari istana kekaisaran di Kyoto.

Era ini juga diwarnai oleh ancaman eksternal berupa invasi Mongol pada tahun 1274 dan 1281, yang berhasil dipukul mundur berkat perlawanan sengit samurai serta angin topan yang kemudian dikenal sebagai kamikaze.

Kamakura kini menjadi surga sejarah abad pertengahan, di mana pengunjung dapat melihat patung Buddha raksasa di Kotoku-in.

Periode Muromachi (1336–1573 M)

The lovely Ginkaku-ji or "Silver Pavilion" in Kyoto is one of the best surviving examples of the aesthetics of the Muromachi period (1336–1573) of Japanese history.
Lihat Ringkasan

Periode Muromachi dimulai ketika Ashikaga Takauji mendirikan Keshogunan Ashikaga di Kyoto setelah menumbangkan sisa kekuatan sebelumnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *