Home / Travel / Sejarah Anime Sebelum Era Osamu Tezuka, Warna, dan Suara

Sejarah Anime Sebelum Era Osamu Tezuka, Warna, dan Suara

header 640x 30

Banyak penggemar biasanya menelusuri sejarah anime mulai dari era Osamu Tezuka. Keputusan ini masuk akal karena gaya visual dan metode produksi anime modern memang berakar dari karya-karya beliau yang kemudian diikuti oleh industri animasi Jepang secara luas. Kendati demikian, jauh sebelum Osamu Tezuka mulai memproduksi serial animasi televisi pada tahun 1961, industri kreatif Jepang telah merintis pembuatan karya animasi selama hampir setengah abad.

Sayangnya, dokumentasi dan catatan mengenai perkembangan animasi Jepang sebelum tahun 1950 sangat terbatas dan kerap saling bertentangan. Sebagian besar arsip film beserta catatan pembuatnya musnah akibat Gempa Bumi Besar Kanto pada tahun 1923 dan invasi pihak asing pada masa perang. Selain itu, pada masa tersebut animasi dipandang sebagai hiburan sekali pakai layaknya di belahan dunia lainnya, sehingga hanya sedikit karya yang berhasil bertahan hingga kini.

Beruntung, sebagian besar karya animasi klasik yang tersisa kini telah dialih wahana ke format digital dan dapat diakses secara daring. Perlu dicatat pula bahwa sebagian besar animasi bisu dalam artikel ini hadir tanpa narasi dari benshi. Pada masa awal masuknya sinema ke Jepang, film tidak dianggap sebagai kelanjutan dari fotografi seperti di Barat, melainkan sebagai bentuk perpanjangan seni panggung teater. Mengingat tradisi teater kabuki, noh, dan bunraku selalu menghadirkan seorang narator, penayangan film pun membutuhkan sosok serupa. Peran ini diisi oleh benshi, seorang narator yang tidak hanya membaca teks terjemahan di layar, tetapi juga mendeskripsikan jalan cerita secara langsung serta menyuarakan setiap karakter.

Artikel ini mengajak pembaca menelusuri akar sejarah anime, mulai dari potongan kertas sederhana yang bertransformasi menjadi karya seni eksperimental, kartun hewan yang lucu, lagu anak-anak, animasi kapur, cerita rakyat tradisional, hingga film panjang utuh sebelum era Osamu Tezuka dimulai.

Tiga Tokoh Perintis (1907-1923)

Sinema pertama kali masuk ke Jepang pada tahun 1896 dan berkembang pesat menjadi budaya populer pada dekade 1910-an, lengkap dengan kritikus filmnya. Bersamaan dengan masuknya gelombang film asing dari Barat, animasi luar negeri turut hadir dan memicu para seniman lokal untuk bereksperimen dengan karya animasi buatan sendiri.

Contoh paling awal yang diyakini sebagai anime tertua yang masih bertahan adalah Katsudo Shashin (Gambar Bergerak, 1907?-1918?).

Dalam rekaman tersebut, tampak seorang anak laki-laki menuliskan aksara kanji yang berarti “gambar bergerak”. Pada masa-masa awal ini, baik di Jepang maupun di Barat, masyarakat terpukau oleh kebaruan gambar yang dapat bergerak.

Para animator awal bereksperimen dengan cara-cara ekonomis untuk mewujudkan gagasan mereka. Katsudo Shashin dan berbagai karya lainnya digambar langsung pada seluloid film, menjadikan karya-karya tersebut sangat langka. Teknik ini dipelopori oleh Oten Shimokawa, seorang kartunis politik untuk majalah Tokyo Puck. Karya animasinya yang berjudul Imokawa Mukuzo Genkanban no Maki (Kisah Toko Konsier Mukuzo Imokawa, 1917) sempat diyakini sebagai film pendek animasi pertama yang dibuat di Jepang.

Setelah merampungkan lima film pendek, masalah kesehatan memaksa Oten Shimokawa pensiun dini. Kendati demikian, kontribusinya menempatkan dirinya sebagai salah satu dari tiga tokoh perintis anime awal.

Tokoh perintis kedua adalah Junichi Kouichi, yang memegang rekor sebagai pencipta anime tertua yang terkonfirmasi keasliannya. Namakura Gatana (Pedang Tumpul, 1917) adalah film pendek berdurasi dua menit tentang seorang samurai yang gagal total saat mencoba menguji pedang barunya pada warga sekitar.

Film ini sempat dianggap hilang sebelum akhirnya ditemukan di sebuah toko barang antik di Osaka pada tahun 2008. Junichi Kouichi menganimasikan karya ini menggunakan potongan kertas di atas meja yang digeser dan diubah posisinya untuk menciptakan gerakan karakter.

Tokoh perintis ketiga adalah Seitarou Kitayama, yang memiliki pengaruh paling besar terhadap generasi animator setelahnya karena jumlah karyanya yang melimpah. Seitarou Kitayama membuat film pendek bertema cerita rakyat Jepang seperti Sarukani Gassen (Pertempuran Kera dan Kepiting), Urashima Taro, dan Momotarou. Selain memproduksi iklan komersial dan dokumenter pertama dalam sejarah anime, ia juga tercatat sebagai satu-satunya animator pada masanya yang mendirikan studio sendiri.

Studio Kitayama Eiga Seisakujo dibuka pada tahun 1921 dan merekrut banyak talenta berbakat seperti Sanae Yamamoto. Sayangnya, dua tahun kemudian, sebagian besar studio tersebut hancur akibat Gempa Bumi Besar Kanto 1923.

Seniman Eksperimental (1923-1939)

Kehancuran studio Kitayama memaksa para animatornya merintis jalan masing-masing. Sepanjang dekade 1920-an, para sutradara animasi harus menghadapi persaingan ketat dari studio-studio luar negeri yang jauh lebih kaya. Kartun impor dijual dengan harga murah ke bioskop-bioskop di Jepang, membuat para seniman lokal tidak mampu meniru teknik mahal ala Disney. Hal ini menjadikan teknik potongan kertas yang dipopulerkan oleh Junichi Kouichi sebagai pilihan utama yang tak terhindarkan.

Yasuji Murata mulai bekerja di Yokohama Cinema Shokai pada tahun 1923 untuk membuat kartu terjemahan bahasa Jepang pada film impor. Terinspirasi dari kartun barat, ia mulai membuat karya sendiri pada tahun 1927. Salah satu karyanya yang sukses menarik perhatian adalah Doubutsu Orimupikku Taikai (Olimpiade Hewan, 1928), serta karya visual yang memukau berjudul Kobu Tori (Benjolan yang Dicuri, 1929).

Kobu Tori

Karya Murata lainnya, Taro-san no Kisha (Kereta Taro, 1929), menampilkan perpaduan menarik antara adegan live-action dan animasi, sekaligus memberikan gambaran mengenai gaya busana dan arsitektur rumah di Jepang pada era 1920-an.

Taro’s Train

Film Murata berikutnya, Oira No Yakyu (Bisbol Kita, 1930), kembali mengangkat tema olahraga yang memadukan unsur kartun hewan lucu ala Barat dengan cerita rakyat tradisional Jepang, yakni kisah perseteruan antara tanuki dan kelinci.

Oira no Yakyu

Jika Yasuji Murata dikenal karena konsistensi dan kualitas potongannya, Noburo Ofuji justru menonjol lewat inovasi dan keberaniannya mengambil risiko kreatif. Ofuji menjadi murid Junichi Kouichi sejak usia 18 tahun dan menggunakan kertas chiyogami sebagai media utamanya karena jauh lebih murah dibandingkan seluloid.

Noburo Ofuji juga mencatatkan sejarah dengan menciptakan “rekaman bersuara” pertama di Jepang berjudul Kuro Nyago (Kucing Hitam, 1929), di mana ia menyelaraskan animasinya dengan piring hitam jazz yang diputar bersamaan saat pemutaran film.

Kuro Nyago

Salah satu karya paling terkenal dari Ofuji adalah Mura Matsuri (Festival Desa, 1930), sebuah film musikal pendek yang mengajak penonton bernyanyi bersama dengan memanfaatkan bola pantul interaktif yang berpadu dinamis dengan latar belakang pemandangan.

Mura Matsuri

Melangkah ke arah yang lebih serius, Ofuji memproduksi Kokka Kimigayo (Lagu Kebangsaan: Kimigayo, 1931) yang terinspirasi dari seni animasi bayangan siluet karya seniman Jerman, Lotte Reiniger.

Kokka Kimigayo

Eksplorasi Ofuji dalam ranah animasi sel berlanjut melalui karya berjudul Tengu Taiji (Basmi Tengu, 1934) yang memadukan elemen penceritaan tradisional Jepang seperti samurai, geisha, dan makhluk tengu.

Tengu Taiji

Embed for https://www.youtube.com/watch?v=2kbhxv9ZMzQ no longer exists

Karya puncaknya yang diakui dunia seni internasional adalah Kujira (Paus, 1952), sebuah pembuatan ulang dari film bisu tahun 1927 miliknya. Versi tahun 1952 ini menggunakan selofan berwarna di atas meja animasi multi-lapis berpencahayaan belakang. Film ini bahkan diputar di Festival Film Cannes pada tahun 1953 dan mendapat pujian dari Jean Cocteau serta Pablo Picasso.

Kujira

Karya Lain dari Dekade 1930-an

Dekade 1930-an menghasilkan beragam karya animasi Jepang, mulai dari karya seni bernilai tinggi hingga film-film eksperimental yang unik. Pada tahun 1931, film bertema perang pertama berjudul Sora no Momotarou dirilis, menandai awal meningkatnya muatan propaganda militer dalam sinema.

Chameko no Ichinichi (Sehari dalam Hidup Chameko, 1931) hadir sebagai film bersuara yang disinkronkan dengan piring hitam. Film ini juga mencatat sejarah sebagai kemunculan penempatan produk (product placement) paling awal dalam anime melalui promosi Pasta Gigi Lion.

Chameko no Ichinichi

Karya lainnya, Kori no Tatehiki (1933), menampilkan estetika visual yang amat menawan dengan gaya yang sangat dipengaruhi oleh kartun produksi Fleischer Studios.

Kori no Tatehiki

Yasuji Murata turut memperkaya khazanah cerita rakyat melalui film Umi no Mizu wa Naze Karai (Mengapa Air Laut Asin?, 1935). Animasi dalam film ini sangat halus hingga sulit dikenali bahwa karya tersebut dibuat menggunakan potongan kertas.

Umi no Mizu wa Naze Karai

Embed for https://www.youtube.com/watch?v=drq0rhFdvtY no longer exists

Karakter manga populer saat itu, Norakuro ciptaan Suihou Tagawa, turut diadaptasi ke layar lebar melalui film Norakuro Nitohei (Prajurit Kelas Dua Norakuro, 1935) garapan sutradara Mitsuyo Seo.

Norakuro Nitohei

Eksperimen aksi kilat juga hadir lewat Ninjutsu Hinotama Kozo: Edo no Maki (1935), sebuah film pendek aksi ninja berdurasi satu menit yang penuh dengan sihir tradisional.

Ninjutsu Hinotama Kozo: Edo no Maki

Sementara itu, Obake no Taiji (Berburu Monster, 1936) menawarkan kreativitas visual yang mengingatkan penonton pada gaya animasi surealis era 1930-an.

Obake no Taiji

Seniman yang Terlupakan

Menjelang akhir dekade 1930-an, sebagian besar produksi kartun mulai condong ke arah propaganda perang, berpuncak pada film panjang pertama Jepang berjudul Momotarou Umi no Shimpei (1945) yang dibiayai oleh Angkatan Laut Jepang dan disutradarai oleh Mitsuyo Seo.

Berdirinya Toei Animation pada tahun 1948 menandai babak baru di mana studio tersebut berambisi menjadi Disney dari belahan timur. Kendati sejarah mencatat Osamu Tezuka sebagai tokoh sentral yang membentuk wajah anime modern—berkat ciri khas mata besar yang terinspirasi dari film Bambi serta efisiensi gerakan animasi untuk menekan biaya—kontribusi para perintis awal tidak boleh dilupakan.

Nama-nama seperti Junichi Kouichi, Seitarou Kitayama, Yasuji Murata, Noburo Ofuji, dan banyak seniman lainnya telah bekerja keras di tengah keterbatasan sumber daya demi menghadirkan karya seni asli Jepang dalam medium sinema impor. Perjuangan mereka membuktikan bahwa keterbatasan praktis dapat diubah menjadi aset artistik yang bernilai tinggi dalam sejarah perkembangan animasi dunia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *