Adakah sesuatu di dunia ini yang begitu dekat dengan umat manusia selain musik? Sejak ribuan tahun lalu, manusia purba memukulkan dua batang kayu dengan irama tertentu, dan orang-orang di sekitar langsung meresponsnya. Puluhan ribu tahun kemudian, band seperti Bongripper memainkan empat akor yang serupa, dan manusia tetap merasakan getaran emosi yang sama. Musik mampu menggerakkan jiwa kita. Fakta tak terbantahkan inilah yang menginspirasi Ryoichiro Kezuka selaku penulis dan ilustrator untuk menghadirkan manga bertema musik berjudul Record Journey.
Menjelajahi Halaman-Halaman Record Journey
Saat ini, Record Journey memiliki total tiga volume, meskipun baru volume pertamanya saja yang sudah diterjemahkan. Kendati hanya satu volume berbahasa Inggris yang tersedia, isinya sudah lebih dari cukup untuk membawa imajinasi pembaca berkelana. Sebagai sebuah manga, Record Journey tampil tanpa kepura-puraan. Biasanya, gaya visual menjadi alasan utama seseorang melirik sebuah buku atau manga, meski jarang ada ekspektasi khusus tentang apa yang ada di dalamnya. Namun, kisah ini ibarat pasir hisap sastrawi; setiap kali lembaran halaman dibalik, pembaca akan semakin tenggelam ke dalam cerita.
Manga ini terbagi menjadi enam bab: bab satu, dua, tiga, dan berdiri sendiri, sementara bab keempat dan kelima saling terhubung sebagai satu kisah utuh. Bab pertama, ketiga, dan keenam (berjudul Recollection Record, The Staggs Invasion, dan Ashlee’s Diner) memang menggunakan alur yang lebih lambat, namun terasa begitu akrab di hati. Ada nilai tersendiri dari sebuah karya tulis ketika sebagian besar pembaca mampu terhubung secara emosional dengan perasaan yang ingin disampaikan.
Kendati demikian, bab kedua serta rangkaian bab keempat dan kelima adalah bagian yang paling bersinar. Bab kedua yang berjudul Night at the Secret Record Shop mengisahkan seorang gadis muda di Blok Soviet yang berupaya mencari toko rekaman ilegal demi mendapatkan piringan hitam dari band favoritnya. Sementara itu, bab keempat dan kelima yang bertajuk Steer the Waves serta Over the Water menyoroti kisah sebuah kapal siaran bajak laut. Cukup mengejutkan bahwa sebagian orang menganggap kisah-kisah seperti ini sudah tertinggal di masa lalu atau sekadar dibesar-besarkan. Padahal, kita kerap lupa bahwa kebebasan yang biasa kita nikmati sehari-hari adalah sebuah bentuk kemewahan, dan Record Journey berhasil mengingatkan kita akan hal tersebut.
Ketika Musik Mendapatkan Batasan
Kapal siaran bajak laut, rekaman ilegal, serta toko-toko tersembunyi yang diangkat dalam Record Journey merupakan fenomena yang lumrah dijumpai pada era Perang Dingin. Meskipun mudah untuk berasumsi bahwa kisah-kisah pembatasan ini telah sirna bersama runtuhnya Tembok Berlin, kenyataannya musik masih belum sepenuhnya bebas hingga hari ini. Praktik semacam itu tentu masih bisa ditemukan di negara-negara dengan sistem pemerintahan otoriter seperti Korea Utara dan Kuba. Namun, pembaca mungkin akan merasa terkejut saat mengetahui bahwa para seniman ternyata masih sering dilarang tampil di negara-negara demokratis akibat pandangan politik atau keagamaan mereka.
Amerika Serikat sendiri beberapa kali mengambil tindakan tegas terhadap musisi yang dianggap kontroversial. Departemen Luar Negeri AS bahkan sempat mencabut visa grup Los Alegres del Barranco setelah mereka menampilkan visual yang berkaitan dengan El Mencho dalam salah satu penampilannya.
Banyak orang mungkin tidak ambil pusing ketika pemerintah menindak para seniman yang membawakan tema-tema “meragukan”. Namun, standar mengenai apa yang dianggap menyinggung akan terus berubah, dan bagaimanapun upaya pemerintah, masyarakat akan tetap mencari media yang ingin mereka konsumsi. Patut diacungi jempol bagi Record Journey karena berani menyajikan kisah-kisah yang mengajak pembaca memikirkan topik penting yang kerap diabaikan.
Gaya Seni dan Produksi Record Journey
Gaya gambar karya Kezuka-sensei dalam Record Journey berpadu secara pas dengan narasi yang disajikan. Ilustrasinya tampil bersih namun kaya akan penekanan nada dan arsiran. Tingkat detail yang dihadirkan juga luar biasa, memperlihatkan ketelitian tingkat tinggi dari sang ilustrator. Manga pada hakikatnya memang diciptakan untuk memicu emosi, dan setiap ekspresi maupun perasaan tersirat di dalamnya terpancar dengan jelas. Hal ini menunjukkan bahwa karya tersebut lahir dari pengalaman hidup nyata, bukan sekadar fiksi semata. Komik ini merupakan sebuah bentuk penghormatan bagi segala hal tentang musik, dan bagi siapa saja yang pernah menjadikan musik sebagai tempat bersandar, manga ini pasti akan meninggalkan kesan mendalam.
Kendati demikian, pemilihan huruf atau lettering dari Titan Manga terasa sedikit kaku sebagai perbandingan. Pemilihan fon yang mudah dibaca sangat penting agar karya lebih mudah diakses oleh pembaca dengan keterbatasan visual, meski sering kali penerbit resmi menyamakan aksesibilitas dengan kesan yang membosankan. Selama anggapan keliru tersebut belum diubah, pembajakan akan tetap memiliki celah keuntungan tersendiri. Terlepas dari itu, siapa pun yang tertarik tetap disarankan untuk membeli salinan fisiknya secara resmi.
Titan Manga menyediakan salinan gratis Record Journey untuk keperluan ulasan ini.
Terima kasih sudah membaca. Ja ne.
©Ryoichiro Kezuka 2022/ Kadokawa Corp.








