Acara PlayStation State Play yang diselenggarakan pada 3 September 2026 dipenuhi oleh berbagai komentar dan protes dari para penggemar mengenai Destiny 3 serta seruan “No Disc No Buy”. Gelombang kritik ini muncul menyusul berbagai keputusan kontroversial yang diambil oleh Sony akhir-akhir ini, terutama langkah perusahaan yang beralih dari kepingan fisik menuju masa depan yang sepenuhnya berbasis digital, serta pernyataan mereka terkait kepemilikan game digital.
Tidak hanya itu, Sony juga terus menuai kritik tajam karena memutuskan untuk menghentikan pengembangan Destiny 2 dan enggan memberikan lampu hijau untuk sekuel dari game looter-shooter populer besutan Bungie tersebut.
Protes Keras Terkait Kepemilikan Game Digital
Baru-baru ini, Sony menyatakan bahwa kepemilikan digital sebenarnya tidak ada, sebuah pernyataan yang semakin memperkeruh perdebatan panjang antara game fisik versus digital. Komentar tersebut dilontarkan dalam tanggapan atas gugatan class action yang menuduh Sony telah menyesatkan konsumen karena membuat mereka percaya bahwa mereka benar-benar memiliki sesuatu setelah membeli game secara digital. Pihak perusahaan berdalih bahwa tidak ada orang yang berpikiran wajar akan menganggap diri mereka benar-benar memiliki game tersebut.
Kendati demikian, para pemain tidak sependapat dengan argumen tersebut. Kemarahan publik terus berlanjut dan memuncak di kolom komentar siaran State of Play hari itu.

Image via Bungie
Image via Sony
Image via SonyDalam presentasi tersebut, ruang obrolan dibanjiri oleh pesan-pesan seperti “We Want Destiny 3,” “D3!”, dan “No Disc No Buy”. Aksi boikot terhadap game-game digital PlayStation sendiri sebenarnya sudah berlangsung cukup lama, terutama setelah Sony mengumumkan rencana untuk berhenti memproduksi cakram fisik mulai Januari 2028.
Di sisi lain, para penggemar Destiny 2 merasa kecewa dengan penanganan game tersebut, mengingat jumlah pemain aktif harian di Steam saja masih melampaui 25.000 pengguna. Kombinasi dari berbagai seruan ini mendominasi sebagian besar jalannya siaran, membuktikan bahwa para penggemar tidak tinggal diam begitu saja meski Sony berasumsi masalah ini akan mereda seiring waktu.
Kendala Anggaran dan Masa Depan Bungie
Petisi resmi untuk mendesak pembuatan Destiny 3 telah mengumpulkan lebih dari 410.000 tanda tangan, namun hingga kini Sony belum memberikan tanggapan resmi mengenai kemungkinan sekuel tersebut. Berdasarkan laporan, Bungie sempat beberapa kali mengajukan proposal Destiny 3 kepada Sony, tetapi selalu ditolak karena terbentur masalah anggaran.
Estimasi biaya pengembangan untuk Destiny 3 diperkirakan mencapai sekitar $500 juta, angka yang tampaknya enggan dikeluarkan oleh Sony menyusul performa Bungie yang kurang memuaskan sejak akuisisi. Sementara itu, Marathon tengah mempersiapkan pembaruan besar melalui Season 3, meski saat ini game tersebut masih kesulitan mempertahankan jumlah pemain di platform Steam.
Situasi di internal Bungie sendiri masih diliputi ketidakpastian. Laporan seputar gelombang PHK sebelumnya mengindikasikan bahwa studio tersebut minim proyek yang telah disetujui selain proyek-proyek tahap awal. Dari lima atau enam game yang sempat dikembangkan oleh Bungie, hanya Project Gummy Bear yang selamat setelah dipindahkan ke studio Sony lainnya. Dengan kondisi ini, kehadiran Destiny 3 tampaknya masih sangat jauh dari kenyataan.
Berdasarkan laporan terbaru, rumor yang menyebutkan bahwa raksasa PlayStation ini akan mengurungkan niat mereka terbukti tidak benar. Sony justru bersikeras untuk tetap melanjutkan strategi game serba digital di masa depan meskipun menghadapi tekanan berat dari para pemain serta strategi yang berbeda dari Xbox. Alhasil, gelombang protes yang menuntut kehadiran D3 dan pelestarian game fisik kemungkinan besar tidak akan mengubah pendirian perusahaan.








