Home / Game / Preview Hands-On Exodus

Preview Hands-On Exodus

jun getting a new gauntlet ability in

Bermain Exodus hampir mustahil dilakukan tanpa memikirkan Mass Effect. Mengingat latar belakang Archetype Entertainment yang dipenuhi para veteran BioWare, kemiripan antara kedua game ini langsung terasa begitu pengontrol berada di tangan Anda. Mekanisme pertarungan terasa familier, terutama saat memberikan perintah kepada rekan satu tim, dan sistem dialognya mengingatkan pada cara menentukan tanggapan Shepard di masa lalu. Meskipun alurnya sangat mirip, Exodus dengan cepat menepis anggapan bahwa ini hanyalah kloningan belaka. Atmosfer, desain, serta eksekusi elemen permainannya memiliki ciri khas tersendiri yang langsung memikat setelah lebih dari satu jam mencobanya.

Dalam sesi pratinjau bersama Archetype Entertainment dan Wizards of the Coast di Austin, fokus permainan berada di Khonsu—sebuah platform orbital di atas planet asal Lidon yang dikelola oleh ras alien bernama Kay yang menyerupai katak raksasa. Gideon Aslan telah merebut kendali Khonsu dan memperbudak bangsa Kay, memaksa Jun Aslan bersama rekan-rekannya datang untuk membebaskan mereka. Misi ini kemudian berkembang menjadi dilema moral yang cukup pelik mengenai masa depan bangsa Kay setelah mereka merdeka, membuat sesi uji coba ini terasa sangat berkesan.

Visual yang Memukau dan Membawa Suasana Baru

Giant space station in Exodus

Dari segi grafis, Exodus tampil luar biasa. Detail lingkungan di stasiun luar angkasa Khonsu terasa sangat hidup hingga membuat pemain ingin berhenti sejenak hanya untuk menikmati pemandangan dan aktivitas yang ada di sekitarnya. Dunia yang disajikan terasa nyata dan organik, bukan sekadar latar belakang buatan. Kualitas animasi karakternya juga patut diacungi jempol, terutama saat percakapan dekat di mana ekspresi wajah terlihat jelas. Didukung oleh pengisian suara yang berkualitas tinggi, setiap dialog berhasil mempertahankan imersi pemain tanpa ada performa yang terasa janggal.

Namun, aspek yang paling mengejutkan adalah atmosfer keseluruhannya. Dunia dalam Exodus terasa jauh lebih kelam dan berat. Keberadaan teknologi kuno membuat umat manusia terasa sangat kecil dan rapuh, menumbuhkan kesan bahwa Jun dan rekan-rekannya tidak sepenuhnya memahami situasi yang mereka hadapi. Masa depan di sini sama sekali tidak terasa nyaman ataupun aman.

Khonsu terasa seperti stasiun luar angkasa fiksi ilmiah yang nyata, dan saya sering mendapati diri memperlambat langkah karena begitu banyak hal yang terjadi di lingkungan sekitar.

Di sinilah perbedaan terbesar antara Exodus dan Mass Effect mulai terlihat. Meskipun gameplay dasarnya mirip, nada cerita yang diusung terasa lebih membumi, meskipun dipenuhi elemen fiksi ilmiah tingkat tinggi seperti berbicara dengan alien katak raksasa. Nuansa dunia Khonsu lebih mendekati pengalaman menjelajah dalam Starfield ketimbang petualangan Komandan Shepard.

Pilihan Cerita yang Mengajak Berpikir Kritis

Jun making a major choice in Exodus

Konflik di Khonsu semakin mendalam ketika pemain memahami peran bangsa Kay dalam menjaga fungsi fasilitas tersebut. Menjelang akhir pratinjau, tantangannya bukan lagi sekadar mengalahkan pasukan Gideon, melainkan menentukan bentuk kemerdekaan seperti apa yang pantas diberikan kepada bangsa Kay. Pilihan yang tersedia sama-sama memiliki argumen yang masuk akal: memberikan perlindungan namun mengorbankan kemandirian, atau membiarkan mereka bebas sepenuhnya dengan risiko ancaman di masa depan. Keputusan semacam ini memaksa pemain untuk merenung sejenak sebelum menentukan langkah.

Keputusan-keputusan kecil pun dirancang dengan narasi yang kuat. Ketika menemukan prajurit musuh yang terluka parah, rekan satu tim menyarankan untuk mengabaikannya karena persediaan medis terbatas. Namun, pemain tetap diberikan kebebasan untuk menyelamatkannya tanpa membuat situasi terasa seperti pilihan hitam-putih antara baik dan jahat yang klise. Game ini juga mengkategorikan beberapa respons sebagai Paladin atau Immortal, yang membantu pemain mendefinisikan kepribadian Jun secara konsisten tanpa kehilangan variasi dialog yang natural.

Khonsu terasa seperti tempat yang tidak pernah saya temui di dalam Mass Effect.

Jun making a minor choice in Exodus

Eksplorasi yang Memberi Imbalan Sepadan

Finding an optional Kay prison in Exodus

Aspek eksplorasi menjadi kejutan yang sangat menyenangkan. Game ini tidak menuntun pemain melalui ikon-ikon petunjuk di layar, melainkan menyembunyikan rahasia di balik celah dinding atau jalur tersembunyi yang harus dicari secara mandiri. Menjelajahi area di luar jalur utama sering kali membuahkan hasil berupa material kerajinan, lore tambahan, atau bahkan anggota bangsa Kay yang terkurung, memberikan konteks cerita yang lebih kaya ketimbang sekadar membuka peti harta karun.

Finding optional lore in Exodus

Kemampuan Precognition milik Jun berfungsi layaknya mode detektif terbatas untuk mendeteksi mekanisme atau wadah berharga di sekitar, tetapi fitur ini tidak merusak misteri dengan menandai seluruh jalur rahasia. Selain itu, kemampuan Gauntlet seperti Petrify yang digunakan dalam pertempuran juga berguna untuk memecahkan teka-teki lingkungan, seperti mengenkapsulasi soket daya untuk membuka jalur baru.

Eksplorasi mungkin menjadi kejutan terbesar selama saya memainkan Exodus, terutama karena game ini bersedia menyembunyikan berbagai hal tanpa memastikan saya pasti menemukannya.

Jun approaching a gauntlet well in Exodus

Pertarungan Dinamis yang Didukung Peran Rekan Tim

Exodus Screenshot 4

Sektor pertempuran menawarkan aksi tembak-menembak yang solid dengan senjata berbobot dan sistem modifikasi yang memotivasi pemain untuk memperhatikan hasil jarahan musuh. Memindai musuh lewat Precognition sangat membantu dalam mengidentifikasi kelemahan mereka, terutama saat menghadapi lawan tangguh yang membutuhkan strategi khusus.

Peningkatan terbesar dalam sistem pertempuran justru berasal dari keterlibatan rekan satu tim. Berbeda dengan Mass Effect di mana kemampuan skuad sering kali terasa pasif, dalam game ini kemampuan rekan tim memberikan dampak besar yang hampir selalu dimanfaatkan setiap kali cooldown selesai. Kemampuan Shadow Step milik Suliman, misalnya, memungkinkan karakternya melakukan serangan diam-diam sekaligus mengisi Adrenaline dan Vendetta untuk melancarkan serangan lanjutan berefek korosif ke banyak musuh sekaligus.

Closeup of Suliman in Exodus

Sementara itu, Elise memiliki pendekatan berbeda melalui kemampuan Knockdown Missile yang mampu melumpuhkan musuh kuat secara instan.

Begitu menyadari seberapa besar damage yang bisa dihasilkan oleh rekan satu tim, saya mulai menggunakan kemampuan mereka hampir setiap kali tersedia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *