Home / Travel / Premier Wakayama Nachi: 20 Tahun Warisan Dunia UNESCO

Premier Wakayama Nachi: 20 Tahun Warisan Dunia UNESCO

Kumano Nachi Taisha Seiganto ji

Kawasan Semenanjung Kii bagian selatan di Prefektur Wakayama menyimpan daya tarik sejarah yang sangat mendalam, terutama karena menjadi rumah bagi tiga kuil suci yang dikenal sebagai Kumano Sanzan. Baru-baru ini, tersaji kesempatan untuk menjelajahi kota Nachi-Katsuura guna mengikuti rangkaian tiga pengalaman eksklusif bernama Wakayama Nachi Premier. Program khusus ini dihadirkan untuk merayakan hari jadi ke-20 ditetapkannya Situs Suci dan Jalur Ziarah di Pegunungan Kii sebagai Warisan Dunia UNESCO.

Meskipun kawasan ini sudah sangat populer berkat keberadaan Kumano Nachi Taisha, rangkaian program eksklusif ini memberikan nilai lebih bagi para pelancong. Selain bisa menikmati berbagai hidangan lokal yang lezat, peserta juga akan mendapatkan pemahaman yang jauh lebih mendalam tentang kuil tersebut serta wilayah sekitarnya.

Sebelum merencanakan perjalanan, penting untuk memahami aspek logistiknya. Perjalanan menuju ujung selatan Semenanjung Kii membutuhkan komitmen waktu yang cukup besar karena lokasinya yang cukup terpencil dari Tokyo. Bandara terdekat saja masih berjarak lebih dari dua jam perjalanan darat atau kereta.

Bagi wisatawan yang berangkat langsung dari Tokyo, opsi tercepat adalah terbang ke Bandara Shirahama. Namun, menggunakan kereta api sering kali menjadi pilihan favorit karena memungkinkan pelancong untuk menikmati pemandangan di sepanjang perjalanan. Untuk mencapai Stasiun Kii-Katsuura, terdapat dua jalur kereta ekspres utama: Kuroshio Limited Express dari Shin-Osaka atau Limited Express Nanki dari Nagoya, dengan durasi perjalanan sekitar empat jam.

Menjelajahi Kumano Nachi Taisha Setelah Jam Tutup

The iconic pagoda of Seiganto-ji in front of Nachi Falls at the Kumano Nachi Taisha shrine complex in Wakayama Prefecture.

Biasanya, Kumano Nachi Taisha menutup area kuil pada pukul 16.30 sore karena lokasinya yang berada di pegunungan curam. Kendati demikian, melalui program Wakayama Nachi Premier, pengunjung diberi kesempatan langka untuk menikmati suasana kuil setelah matahari terbenam.

Kegiatan dimulai saat senja dengan mengikuti upacara doa resmi di aula utama kuil yang sudah sepi. Setelah itu, seorang pendeta akan memandu peserta memasuki area belakang yang biasanya tertutup untuk umum, tempat di mana honden kuil serta batu yang diyakini sebagai tempat bersemayamnya burung berkaki tiga legenda setempat berada.

Agenda dilanjutkan dengan kunjungan ke kompleks kuil Seiganto-ji, di mana Air Terjun Nachi yang megah diterangi khusus untuk para peserta. Suasana malam yang tenang tanpa keramaian pengunjung lain menghadirkan pengalaman spiritual yang begitu kuat. Rangkaian malam tersebut ditutup dengan jamuan makan malam istimewa bertema sejarah ziarah serta pertunjukan kaligrafi diiringi musik di depan aula utama, di mana peserta bahkan dapat meminta huruf kanji pilihan mereka untuk dibawa pulang.

Menembus Waktu ke Zaman Heian di Daimon-zaka

A female tourist dressed in a Heian period (794–1185) pilgrim’s costume walks up the Daimon-zaka towards Kumano Nachi Taisha in Wakayama Prefecture.

Pengalaman berikutnya membawa pengunjung seolah melintasi waktu kembali ke Zaman Heian (794–1185). Di Daimon-zaka Chaya, sebuah kedai teh di kaki jalur ziarah Kumano Kodo yang terawat dengan baik, peserta dapat mengenakan pakaian tradisional peziarah masa lampau.

Dengan mengenakan busana bersejarah tersebut, peserta mendaki 267 anak tangga batu sepanjang kurang lebih 600 meter yang dinaungi oleh pohon-pohon cedar berusia ratusan tahun menuju Kumano Nachi Taisha. Setibanya di atas, peserta berkesempatan menikmati upacara minum teh di ruang teh Takijuan yang sangat privat, dilanjutkan dengan jamuan makan siang megah di aula utama Seiganto-ji yang menyajikan hidangan berbahan bahan lokal pilihan.

Pesta Tuna Segar di Nachi-Katsuura

The staff prepare sushi, sashimi, etc. from a freshly cut tuna as part of one of the Wakayama Nachi Premier culinary experiences.

Program ketiga dalam perayaan ulang tahun ke-20 jalur ziarah UNESCO ini berfokus pada kuliner, yakni pesta tuna yang megah. Nachi-Katsuura dikenal sebagai salah satu kota pelabuhan tuna utama di Jepang, yang bahkan mampu mendaratkan hingga 75 ton tangkapan segar per hari pada musim puncak.

Dalam pengalaman ini, peserta berkesempatan menyaksikan dan berpartisipasi langsung dalam proses pemotongan ikan tuna utuh di sebelah pasar ikan pelabuhan bersama para staf ahli. Sambil memisahkan bagian-bagian ikan, staf akan menjelaskan berbagai jenis potongan daging serta bagaimana mineral dari pegunungan Kumano memperkaya perairan tempat tuna-tuna tersebut hidup.

Setelah proses pemotongan, peserta dapat mencoba membuat sushi sendiri dari potongan ikan segar tersebut. Acara kemudian dilanjutkan di area luar ruangan, di mana para staf menyajikan tuna bakar arang yang dipadukan dengan sake lokal terbaik, serta berbagai hidangan olahan tuna berkualitas tinggi lainnya.

Destinasi Menarik di Sekitar Nachi-Katsuura

The Hashiguiiwa Rocks are a natural landmark that is located close to Nachi-Katsuura in Wakayama Prefecture. Given that they are close to Kushimoto, you should also stop by there when in the area.

Bagi pelancong yang berkunjung ke ujung Semenanjung Kii, menjelajahi objek wisata lain di sekitarnya akan melengkapi perjalanan. Disarankan pula untuk mengunjungi dua kuil lainnya yang melengkapi trinitas Kumano Sanzan agar mendapatkan pengalaman ziarah yang utuh.

Selain itu, terdapat formasi batuan alami Hashiguiiwa Rocks yang fotogenik di dekat Kushimoto, yang merupakan titik paling selatan di pulau utama Honshu, Jepang. Pilihan rute lainnya adalah terbang ke Shirahama, lalu menjelajahi Semenanjung Kii secara berlawanan arah jarum jam sambil mampir ke Nachi-Katsuura untuk menikmati program eksklusif Wakayama Nachi Premier.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *