Home / Travel / Pesona Koishikawa Korakuen, Taman Tenang di Jantung Tokyo

Pesona Koishikawa Korakuen, Taman Tenang di Jantung Tokyo

Koishikawa Korakuen During Autumn

Musim gugur adalah salah satu waktu terbaik untuk berkunjung ke Jepang. Saat pergantian musim terjadi, hawa panas dan kelembapan musim panas perlahan digantikan oleh udara sejuk. Transisi ini memicu perubahan warna daun yang menciptakan pemandangan luar biasa di seluruh penjuru negeri. Jepang memiliki banyak tempat untuk menikmati keindahan musim gugur, tetapi jadwal yang padat sering kali membuat wisatawan kesulitan mencari waktu luang. Untungnya, Tokyo memiliki destinasi yang sempurna di tengah kota, yaitu Koishikawa Korakuen, salah satu taman tertua di ibu kota yang menawarkan pelarian alam yang menenangkan.

Terletak di Bunkyo tepat di sebelah Tokyo Dome, Koishikawa Korakuen mulai dibangun pada tahun 1629 pada masa awal periode Edo di bawah kepemimpinan Tokugawa Yorifusa, penguasa pertama domain Mito dan kepala cabang keluarga Mito Tokugawa. Taman ini awalnya berfungsi sebagai tempat peristirahatan keluarga Mito Tokugawa di Edo. Pembangunan dan desainnya kemudian diselesaikan oleh putra Yorifusa, Tokugawa Mitsukuni, yang kelak dikenal luas oleh masyarakat sebagai sosok legendaris Mito Komon.

A preserved stretch of the old Nakasendo...

Taman ini dirancang dengan gaya kaiyu-shiki, yakni taman berjalan di mana jalur setapak mengelilingi kolam pusat dengan pemandangan yang tersusun secara berurutan. Motif utamanya mengadopsi jalur pegunungan Nakasendo yang menghubungkan Edo dengan Kyoto dan Osaka. Nama taman ini diambil dari filosofi yang sama dengan Korakuen di Okayama, merujuk pada pepatah Fan Zhongyan tentang seorang pemimpin yang mendahulukan kepentingan orang lain. Sentuhan gaya Tiongkok juga tampak jelas berkat pengaruh Zhu Shunshui, seorang sarjana Konfusianisme Dinasti Ming yang dilindungi oleh Mitsukuni. Hingga kini, Koishikawa Korakuen menyandang status langka sebagai Situs Bersejarah Khusus sekaligus Tempat Keindahan Pemandangan Khusus.

Cara Menuju ke Sana

Commuter trains crossing the elevated tracks...

Lokasi Koishikawa Korakuen sangat strategis karena berada tepat di sebelah Tokyo Dome dan dikelilingi oleh beberapa stasiun kereta. Untuk menuju Gerbang Barat, Stasiun Iidabashi di Jalur Toei Oedo adalah pilihan terdekat dengan jarak berjalan kaki sekitar tiga menit dari Pintu Keluar C3. Sementara itu, Gerbang Timur dapat diakses dari Stasiun Suidobashi pada Jalur JR Chuo dan Sobu dalam waktu sekitar lima menit. Alternatif lainnya adalah Stasiun Korakuen yang dilayani oleh Jalur Tokyo Metro Marunouchi dan Namboku. Anda tinggal memilih stasiun yang paling sesuai dengan rute perjalanan Anda.

Bagi pelancong yang menggunakan JR Pass, turun di Stasiun Suidobashi tentu lebih menghemat biaya transportasi tambahan. Pilihlah gerbang taman yang posisinya paling searah dengan jalur kereta yang Anda naiki agar tidak perlu memutar jalan terlalu jauh di sekitar lingkungan tersebut, mengingat taman ini memiliki dua pintu masuk yang terletak di sisi yang berlawanan.

Memasuki Koishikawa Korakuen

A quiet corner inside the traditional landscape garden...

Tiket masuk taman ini dibanderol seharga 300 yen untuk orang dewasa, 150 yen untuk pengunjung berusia 65 tahun ke atas, dan gratis bagi anak-anak usia sekolah dasar ke bawah. Taman buka mulai pukul 09.00 hingga 17.00, dengan batas masuk terakhir pukul 16.30. Perlu dicatat pula bahwa Koishikawa Korakuen ditutup setiap tanggal 29 Desember hingga 1 Januari untuk libur Tahun Baru. Mengingat nilai sejarahnya yang tinggi, harga tiket masuk ini tergolong sangat terjangkau.

Sebagai taman gaya kaiyu-shiki, pengunjung diajak menikmati berbagai lanskap yang dirancang secara cermat alih-alih melihat pemandangan dari satu titik tetap. Peta yang disediakan di pintu masuk akan membantu Anda mengenali berbagai fitur dan sudut pandang penting di dalam taman. Anda tidak harus mengikuti urutan tertentu; cukup berjalan santai dan nikmati setiap pemandangan yang tersaji di sepanjang jalur setapak.

A Map of Koishikawa Korakuen

Menelusuri Area Daisensui

The large central pond at the heart of Koishikawa Korakuen...

Di jantung taman terdapat Daisensui, sebuah kolam besar yang merepresentasikan Danau Biwa, danau terbesar di Jepang. Di tengah kolam ini terdapat pulau kecil yang melambangkan Chikubushima, pulau suci yang berada di Prefektur Shiga dan terkenal dengan kuil Hogon-ji yang memuja dewi Benzaiten. Kehadiran elemen-elemen ini menunjukkan bagaimana taman tidak hanya meniru bentuk fisik Danau Biwa, tetapi juga memuat makna geografis yang sakral.

Peta taman juga mengidentifikasi pulau ini sebagai Horaijima, yang merujuk pada pulau para dewa dalam mitologi Tiongkok. Sentuhan budaya Tiongkok ini semakin memperkaya estetika taman, berkat kontribusi intelektual dari Zhu Shunshui pada masa pemerintahan Tokugawa Mitsukuni.

Jembatan Bulan Purnama

The steep half-circle stone arch bridge...

Salah satu ikon paling terkenal di Koishikawa Korakuen adalah Engetsu-kyo atau Jembatan Bulan Purnama. Jembatan lengkung batu ini dirancang dengan gaya Tiongkok dan dikaitkan dengan perancang Zhu Shunshui. Nama jembatan ini berasal dari pantulan lengkungannya di atas air yang membentuk lingkaran utuh menyerupai bulan purnama. Secara historis, Engetsu-kyo termasuk dalam segelintir struktur asli yang selamat dari berbagai kerusakan selama berabad-abad.

Tidak jauh dari sana terdapat Tokujin-do, sebuah aula kecil yang juga dibangun atas perintah Tokugawa Mitsukuni. Bersama Engetsu-kyo, bangunan ini memberikan hubungan langsung dengan masa awal pembangunan taman di bawah kekuasaan Yorifusa dan Mitsukuni.

Menikmati Keindahan Musiman

Pale plum blossoms opening in late winter...

Kuartal timur laut taman memanfaatkan tanaman musiman untuk menggambarkan suasana pedesaan di sepanjang jalur Nakasendo. Kebun pohon ume atau plum menjadi daya tarik utama pada akhir musim dingin hingga awal musim semi, diikuti oleh bunga wisteria dan irisan bunga iris. Ketika musim gugur tiba, pohon mapel berubah menjadi merah menyala sementara pohon ginkgo menguning dengan indah. Selain itu, taman ini juga memiliki area sawah padi aktif yang memberikan gambaran nyata mengenai kehidupan agraris masa lalu bagi keluarga shogun.

Menyaksikan Nuansa Kyoto

The bright vermilion wooden bridge...

Sudut utara taman dirancang untuk merepresentasikan pemandangan Kyoto. Salah satu elemen yang paling mencolok adalah Tsutenkyo, jembatan kayu berwarna merah terang yang terinspirasi dari jembatan terkenal di kuil Tofuku-ji, Kyoto. Jembatan ini menjadi salah satu spot terbaik untuk menikmati warna-warni daun musim gugur. Di dekatnya, dulunya terdapat replika Kiyomizu Kannon-do, yang kini menyisakan bagian fondasi batu saja namun tetap menarik untuk ditelusuri dari sudut pandang sejarah.

Atraksi Lain di Sekitar Taman

The rides and towers of Tokyo Dome City...

Karena taman tutup pada pukul 17.00, Anda dapat melanjutkan perjalanan ke Tokyo Dome City yang terletak tepat di sebelah taman. Kompleks hiburan ini memadukan stadion olahraga, taman bermain, dan pusat perbelanjaan modern. Anda bisa mencoba berbagai wahana seru seperti roller coaster Thunder Dolphin atau bianglala tanpa poros tengah Big O. Bagi yang ingin bersantai, fasilitas pemandian air panas LaQua siap memanjakan tubuh setelah lelah berjalan-jalan. Perpaduan antara taman tradisional Konfusianisme dan pusat hiburan modern di satu kawasan yang sama menawarkan pengalaman unik yang jarang ditemukan di tempat lain.

Sampai jumpa di petualangan berikutnya, para pelancong!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *