Home / Travel / Perjalanan Adalah Tujuannya | Alasan Saya Selalu Suka Bepergian

Perjalanan Adalah Tujuannya | Alasan Saya Selalu Suka Bepergian

Nokogiriyama Sunset

Selama ini saya sering merenungkan alasan di balik kecintaan saya yang begitu mendalam terhadap perjalanan di Jepang. Di satu sisi, hal ini sangat wajar karena Jepang memang merupakan salah satu destinasi terbaik di dunia. Namun, lama-kelamaan saya merasa bahwa keindahan tempat-tempat di Jepang saja tidak cukup untuk menjelaskan mengapa saya selalu antusias menghabiskan waktu dan tenaga untuk berkelana.

Hal ini memicu pemikiran saya bahwa sebagian besar kesenangan dalam bepergian justru berasal dari petualangan saat dalam perjalanan itu sendiri. Sebagai seseorang yang terbiasa aktif bergerak, saya merasa tidak bisa diam. Menariknya, ide-ide tulisan saya justru sering kali muncul saat saya berada di dalam kereta ekspres terbatas yang meluncur menuju daerah pedesaan.

Kesadaran ini muncul secara nyata ketika liburan Golden Week lalu. Saat itu, banyak warga lokal melakukan perjalanan untuk berlibur setelah bertahun-tahun membatasi diri akibat pandemi, sehingga berbagai tempat populer di seluruh negeri dipadati oleh wisatawan. Salah satu contoh paling ekstrem yang ramai diperbincangkan adalah kondisi di Enoshima yang dipadati pengunjung.

Agar tidak harus berdesakan dengan lautan wisatawan domestik maupun mancanegara, saya memutuskan untuk pergi ke Semenanjung Miura. Tanpa rencana atau tujuan pasti, saya tiba di Kurihama menjelang matahari terbenam setelah menikmati pemandian air panas. Mengingat ada layanan feri yang menyeberang ke Nokogiriyama, saya pun memilih untuk menikmati senja di atas Teluk Tokyo.

A ferry that runs across Tokyo Bay to Nokogiriyama is parked at Kurihama while waiting to depart for Chiba Prefecture.

Satu hal yang luput dari perhitungan saya adalah kondisi angin yang sangat kencang selama periode Golden Week tersebut. Akibatnya, perjalanan laut kali ini menjadi sangat bergelombang. Sebagian besar penumpang memilih untuk berada di dalam kabin yang terlindung, tetapi saya justru menghabiskan seluruh perjalanan di bagian belakang kapal sambil menikmati pemandangan matahari terbenam yang luar biasa menakjubkan.

Di tengah terpaan angin kencang di tengah Teluk Tokyo tersebut, saya menyadari betapa menyenangkannya perjalanan spontan ini. Padahal, saya tidak sedang menuju ke tempat yang penting. Rencana saya hanyalah menyelesaikan sebuah tulisan di restoran keluarga di seberang Teluk Tokyo sebelum kembali ke Tokyo dengan kereta.

Pengalaman ini membuat saya kembali merenung: apakah daya tarik utama dari bepergian di Jepang terletak pada destinasinya, atau justru pada proses perjalanannya itu sendiri? Tempat-tempat menarik yang sering saya kunjungi memang luar biasa, tetapi proses perjuangan untuk mencapai tempat-tempat itulah yang membuat pengalaman tersebut semakin berkesan.

Mungkin kecintaan saya pada proses perjalanan inilah yang membuat saya selalu merasa enggan untuk pulang ke rumah. Ini juga alasan mengapa saya sering memilih kereta yang lebih lambat saat perjalanan pulang hanya untuk memperpanjang durasi petualangan tersebut.

Bagi para penjelajah lain, apakah kalian merasakan hal yang sama? Apakah perjalanan menuju suatu tempat terasa sebagai sebuah petualangan yang menyenangkan atau justru sekadar beban yang melelahkan?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *