Seorang pengacara perceraian di TikTok menyatakan bahwa video game merupakan salah satu kebiasaan utama yang dapat merusak rumah tangga. Ia menyoroti bagaimana kecanduan bermain game dapat memberikan tekanan besar pada hubungan suami istri. Klaim tersebut disampaikan melalui akun TikTok milik seorang pengacara asal Utah yang telah menangani lebih dari 5.000 kasus perceraian.
Video game sejak dulu sering kali dikritik sebagai hobi yang berpotensi berbahaya. Konten kekerasan di dalam game bahkan memicu pembentukan lembaga pemeringkat seperti ESRB dan PEGI untuk melindungi anak-anak dari konten dewasa. Sifat game yang sangat imersif dan durasi bermain yang panjang kerap menjadi momok bagi para orang tua yang mengkhawatirkan kecanduan. Bahkan, seorang ayah sempat mengajukan gugatan terhadap perusahaan game asal Tiongkok seperti HoYoverse dan Tencent akibat kecanduan game yang dialami putranya. Kini, seorang pengacara perceraian kembali mengangkat isu serius mengenai dampak video game terhadap pernikahan.
Pengacara Utah Klaim Gaming Dapat Menghancurkan Pernikahan
Dalam seri video ketiga dari total lima bagian, pengacara perceraian asal Utah bernama Marco Brown menyebut video game sebagai pemicu utama perceraian. Brown merujuk pada beberapa kasus yang ditanganinya, di mana para suami menghabiskan waktu berjam-jam untuk bermain game tanpa henti. Ia mengklaim bahwa banyak kasus menunjukkan suami mengabaikan kewajiban lain seperti mengurus anak dan pekerjaan rumah, serta hanya berhenti sejenak dari aktivitas gaming mereka.
Kecanduan video game kerap menjadi bahan diskusi di kalangan kritikus industri. Pada tahun 2024, para penggugat melayangkan sejumlah tuntutan hukum terhadap pengembang besar seperti Activision Blizzard dan Nintendo terkait sifat adiktif game buatan mereka, meskipun beberapa kasus akhirnya dicabut sebelum dibawa ke pengadilan. Sistem seperti loot box dan transaksi mikro juga sering disamakan dengan bentuk perjudian yang menyasar anak-anak. Bahkan, lembaga pemerintah seperti Negara Bagian New York sempat menggugat Valve pada awal tahun 2026 terkait sistem loot box di platform Steam.
Meskipun sangat mudah untuk menghabiskan waktu berjam-jam bermain game, sejumlah judul sebenarnya mendorong para pemainnya untuk beristirahat. Game dengan mekanisme berbasis waktu nyata (real-world clock) secara alami memotivasi pemain untuk berhenti pada jam-jam tertentu, seperti toko-toko dalam franchise populer Animal Crossing besutan Nintendo yang tutup pada malam hari. Beberapa game bahkan menyertakan pesan pengingat agar pemain beristirahat sejenak setelah bermain selama beberapa jam.
Peringatan dari pengacara TikTok ini juga dapat meluas ke ranah lain di luar video game. Seorang pria asal Chicago melayangkan gugatan terhadap aplikasi judi populer DraftKings pada Juni 2026, dengan tuduhan bahwa perusahaan tersebut mengabaikan tanda-tanda kecanduan judi yang dialaminya saat menggunakan aplikasi tersebut. Gugatan itu tidak hanya menuntut ganti rugi biaya medis akibat kecanduan, tetapi juga perbaikan sistem perlindungan bagi pengguna yang rentan. Kecanduan dapat menjadi hal yang menakutkan bagi mereka yang mengalaminya, sehingga pengamanan dan kesadaran yang lebih kuat sangat dibutuhkan untuk mencegah masalah yang lebih besar.









