Seorang guru bahasa Inggris keluar dari ruang kelas bersama dua siswa penyandang sindrom Down, seorang siswa penderita polio, dan dua siswa yang dianggap “normal”. Ia kemudian bertanya kepada seorang guru Jepang mengenai alasan mengapa siswa-siswa “normal” tersebut berada di kelas khusus. Guru Jepang itu menjawab singkat, “Anak perempuan itu terlalu gemuk. Yang satunya lagi terlalu pemalu.”
Bagi sebagian orang, kalimat tersebut mungkin terdengar seperti sebuah lelucon bernada satir. Namun kenyataannya, itu adalah akhir dari salah satu jam pelajaran saya di sebuah sekolah luar biasa (SLB). Sebagai seseorang yang pernah mengajar anak-anak tersebut—yang sejatinya merupakan anak-anak yang luar biasa—saya merasa cukup tersinggung. Saya paham bahwa guru tersebut tidak berniat buruk, dan mungkin ia hanya menyampaikan alasan yang diberikan oleh orang tua siswa untuk mendaftarkan anak mereka di sekolah khusus. Kendati demikian, mendengar kenyataan itu diungkapkan secara langsung tetap saja terasa mengusik hati.
Meskipun Tofugu pernah membahas bagaimana sebagian orang tua di Jepang sangat menginginkan anak mereka menjadi normal, situasi ini sebenarnya bisa terjadi sebaliknya. Artinya, ada kalanya anak mereka sebenarnya “normal”, tetapi orang tuanya justru berusaha terlalu melindungi mereka. Istilah “reguler” dan “normal” di sini saya gunakan dalam tanda kutip, sebab definisi dari kata-kata tersebut bersifat relatif, baik secara kultural maupun personal.
Gambaran Umum Penyandang Disabilitas di Jepang

Jepang memiliki dinamika yang unik dalam memperlakukan penyandang disabilitas. Di satu sisi, negara ini dikenal cukup tidak ramah bagi para penyandang disabilitas fisik. Bahkan, ada situs web khusus yang dibuat untuk mengulas tingkat aksesibilitas berbagai lokasi di sana. Catatan dalam situs tersebut mengenai kawasan Akihabara, misalnya, sama sekali tidak berlebihan. Memang ada ruang parkir khusus penyandang disabilitas di Jepang, tetapi keberadaannya sangat langka sehingga tanda biru dan putih di jalan sering kali lebih banyak berfungsi sebagai jalur sepeda.
Kendati demikian, bukan berarti Jepang sama sekali mengabaikan para penyandang disabilitas. Ketika beberapa anggota Tofugu berkunjung ke Jepang, mereka mencatat betapa mudahnya aksesibilitas di sana, meskipun sebagian besar fasilitas tersebut diperuntukkan bagi tunanetra. Apa yang mungkin terlewat dari pengamatan adalah kenyataan bahwa bahkan kaleng-kaleng bir di Jepang pun dilengkapi huruf Braille. Saya pernah beberapa kali menyaksikan petugas penyeberangan jalan berusaha ekstra keras untuk membantu tunanetra menyeberang. Namun di sisi lain, anak-anak yang tidak bisa berjalan tampaknya menghindari beberapa jalan utama di lingkungan tempat tinggal saya. Tinggal di kawasan yang sepintas mirip dengan standar kota di Amerika membuat saya sedikit mengalami gegar budaya ketika berhadapan dengan isu disabilitas di Jepang, termasuk mendapati siswa yang bersekolah di SLB namun tidak memiliki disabilitas fisik maupun mental.
Secara jujur, disabilitas masih dipandang dengan konotasi negatif di masyarakat. Sebagian orang mungkin mencoba memperhalus bahasanya, tetapi ada pula yang terang-terangan melontarkan pandangan sinis. Meskipun terdengar kejam, kejujuran semacam itu mencerminkan beratnya realitas yang dihadapi. Mengasuh anak dengan disabilitas bukanlah hal mudah, dan mereka yang menganggapnya semata-mata sebagai sebuah “anugerah” terkadang mengabaikan beban mental serta fisik yang nyata. Walau demikian, berbagai upaya terus dilakukan untuk meringankan beban tersebut. Sebagai contoh, penyandang sindrom Down terkadang menjalani operasi rekonstruksi demi alasan kosmetik maupun fungsional. Tentu saja kemampuan kognitif pasien memiliki batasan, namun hal tersebut tidak menyurutkan niat orang tua untuk mengusahakannya.
Pelatihan untuk Pendidikan Khusus

Sebagai sebuah negara maju, standar pelayanan terhadap penyandang disabilitas di Jepang tentu menjadi sorotan. Kenyataannya, situasinya cukup beragam. Di prefektur saya, di samping sekolah-sekolah kecil untuk penyandang disabilitas, terdapat satu sekolah berskala besar yang tampak seperti surga teknologi.
Di sekolah-sekolah “normal” tempat saya mengajar, banyak guru yang gagap teknologi dan menganggap papan tulis hitam serta kapur adalah satu-satunya alat bantu mengajar yang layak. Sebaliknya, sekolah luar biasa tempat saya bertugas memiliki segalanya: televisi berukuran raksasa, pintu otomatis, toilet serta keran canggih di setiap kamar mandi, lift dengan pintu di sisi depan dan belakang, konsol Wii Sports Resort, hingga komputer pribadi untuk seluruh staf pengajar. Di sekolah khusus tersebut, setiap pegawai bahkan memiliki komputer masing-masing. Yang lebih mencengangkan, rasio pengajarnya adalah satu guru untuk setiap satu siswa.
Bayangkan perbandingannya dengan pengalaman masa sekolah kita dulu. Masuk ke ruang kelas khusus dan melihat seorang guru dengan sabar mendampingi serta memegang satu siswa secara intensif adalah pemandangan yang luar biasa. Meskipun tidak semua kelas memiliki rasio seketat itu, ukuran kelasnya tetap tergolong sangat kecil dengan dukungan fasilitas yang memadai.
Namun, di balik fasilitas mewah tersebut, terdapat sebuah kekurangan mendasar yang baru saya sadari setelah sekian lama. Terlepas dari statusnya sebagai sekolah untuk anak-anak dengan berbagai kebutuhan khusus—mulai dari hambatan belajar, kelainan fisik, tunanetra, hingga tunarungu—para gurunya ternyata tidak memiliki latar belakang pelatihan khusus yang memadai, terlepas dari kehadiran seorang penerjemah bahasa isyarat. Sebagai pengamat luar, saya melihat beberapa pendekatan yang diterapkan terasa kurang tepat. Sewaktu kecil di negara asal saya, saya terbiasa berinteraksi dengan siswa penyandang sindrom Down yang didampingi guru pendamping khusus. Di Jepang, saya justru mendapati beberapa guru pendamping yang bermaksud baik namun kurang paham, sehingga metode yang mereka gunakan terkesan usang.
Sebagai contoh, siswa dengan kondisi fisik tertentu justru diarahkan untuk menggunakan komputer bersuara alih-alih belajar bahasa isyarat. Guru yang berkomunikasi dengan siswa tunarungu sering kali memilih untuk meninggikan suara mereka alih-alih menggunakan bahasa isyarat atau memperjelas gerak bibir. Saya bahkan pernah diberitahu bahwa anak-anak tertentu tidak akan pernah bisa memahami bahasa Jepang—sebuah asumsi yang keliru karena meskipun tata bahasanya rumit, pengenalan kata benda dan kata kerja sederhana sangat mungkin dipelajari. Ketika saya mencoba menunjukkan bagaimana satu kata atau kalimat sederhana yang diucapkan dengan intonasi berbeda dapat menarik perhatian siswa, para guru menganggap saya memiliki keahlian khusus, alih-alih mencoba menerapkan metode tersebut sendiri.
Saya baru mengetahui kebenarannya ketika seorang guru dari sekolah menengah atas tempat saya mengajar dipindahtugaskan ke sekolah luar biasa: ternyata setiap guru reguler di Jepang bisa ditugaskan ke sekolah kebutuhan khusus. Pelatihan formal memang ada, tetapi durasinya sangat singkat, hanya berkisar antara beberapa jam hingga beberapa hari saja. Sebagian guru mampu beradaptasi secara alami, sementara sebagian lainnya tampak bingung dan menyerah pada keadaan.
Terlalu Pemalu untuk Sekolah “Normal”

Mengajar di lingkungan tersebut menghadirkan tantangan tersendiri. Saya pernah mendapati siswa penderita hidrosefalus dengan ukuran kepala jauh lebih besar dari tubuh kecil mereka, atau siswa yang menangis histeris hingga menggigit diri sendiri karena gugup. Namun, ada pula siswa yang secara fisik dan mental tidak memiliki hambatan apa pun.
Meskipun kebijakan resmi Jepang memisahkan siswa disabilitas dari kelas reguler, keputusan akhir kerap bergantung pada dewan pendidikan lokal atau desakan orang tua yang gigih bersuara. Di sinilah banyak orang tua memanfaatkan pengaruh mereka agar anak-anak mereka yang sebenarnya normal dapat dimasukkan ke sekolah luar biasa.
Salah satu contohnya adalah seorang siswi yang ditempatkan di sekolah khusus dengan alasan memiliki “kondisi rumah yang kurang kondusif”. Siswi ini berada di kelas yang sama dengan anak-anak penyandang sindrom Down dan keterbatasan fisik lainnya. Pada awalnya, ia bersikap sinis dan mencoba mengabaikan kehadiran saya sebagai guru asing. Namun seiring berjalannya waktu, saya menyadari bahwa ia sering membisikkan jawaban yang benar kepada dirinya sendiri. Saya mulai memintanya untuk membantu siswa lain yang kesulitan. Gadis ini ternyata sangat cerdas. Seiring waktu, ia mulai tersimpang ramah, bahkan meminta bantuan saya untuk menuliskan furigana pada lirik lagu kegemarannya. Saat terakhir saya melihatnya, ia tumbuh menjadi anak yang matang, penuh sabar, dan selalu siap membantu teman sekelasnya.
Sementara itu, para siswi yang saya temui di awal kisah ini juga merupakan anak-anak yang hebat. Siswi yang sempat dicap “terlalu gemuk” memiliki pemahaman bahasa Inggris yang jauh lebih baik daripada beberapa siswa SMA. Temannya yang dianggap “terlalu pemalu” memiliki imajinasi luas dan kemampuan seni yang baik. Begitu pula dengan siswi penderita polio yang tetap ceria meskipun harus bergerak dengan keterbatasan. Ketiganya adalah anak-anak cerdas yang laju belajarnya sedikit melambat hanya karena harus menyesuaikan diri dengan rekan sekelas yang memiliki disabilitas mental.
Di sisi lain, saya juga menjumpai siswa penyandang sindrom Down bernama “Alex” (nama samaran) yang menunjukkan kemampuan luar biasa. Di usianya yang menginjak sembilan tahun dengan tinggi badan yang jauh di bawah rata-rata akibat gangguan pertumbuhan, ia memiliki pelafalan bahasa Inggris yang cukup baik. Ia memahami instruksi dengan sangat cepat dan mampu mengikuti permainan dengan baik, bahkan terkadang mengungguli anak-anak yang dianggap normal.
Kebutuhan Khusus di Sekolah “Reguler”

Situasi di sekolah reguler juga menghadirkan dinamika tersendiri. Saya pernah mendapati dua siswa di sekolah berbeda yang didiagnosis menderita sindrom Asperger dalam tingkat yang cukup jelas terlihat. Keduanya memiliki kecintaan besar terhadap pelajaran bahasa Inggris dan sering kali menjadi siswa paling vokal di kelas.
Siswa laki-laki tersebut tampaknya memiliki kehidupan sosial yang cukup baik di lingkungan tempat tinggalnya, meskipun ia kerap kesulitan membaca situasi sosial. Ia sering mengajukan pertanyaan aneh dan memaknai segala sesuatu secara harfiah, yang terkadang memicu kesalahpahaman. Kendati demikian, keputusannya tetap bersekolah di sekolah umum tampaknya memberikan dampak positif bagi perkembangannya.
Sebaliknya, siswi dengan kondisi serupa tampak lebih rentan. Meskipun vokal di hadapan guru, ia terkadang menunjukkan rasa takut terhadap teman sekelasnya, dan para siswa lain cenderung memilih diam ketika ia berbicara. Ia lebih nyaman bekerja seorang diri meskipun berada dalam kelompok belajar. Dukungan dari tenaga spesialis tampaknya sangat dibutuhkan oleh siswi ini agar ia dapat beradaptasi dengan lebih baik di lingkungan sekolah reguler.
Selain itu, ada pula beberapa siswa di kelas reguler yang dianggap tidak dapat mengikuti kegiatan belajar di kelas utama, sehingga mereka dikirim ke ruangan terpisah untuk studi mandiri. Sebagian guru menyebut mereka mengalami gangguan mental tertentu, sementara yang lain berpendapat bahwa anak-anak tersebut merupakan korban perundungan yang sengaja disingkirkan dengan dalih gangguan medis.
Penyandang Difabel di Jepang

Reputasi Jepang dalam membantu para penyandang disabilitas memang beragam. Tunanetra dan tunarungu tampaknya mendapatkan perhatian yang memadai, sementara penyandang disabilitas fisik secara perlahan mulai memeroleh fasilitas penunjang yang lebih baik. Kendati demikian, isu disabilitas mental masih menjadi topik yang penuh tantangan. Batasan antara individu yang benar-benar membutuhkan bantuan khusus dan mereka yang menghadapi masalah sosial kerap kali menjadi kabur. Meskipun peluang kerja bagi penyandang disabilitas telah tersedia, kemandirian secara finansial masih sulit dicapai mengingat standar penghasilan yang kerap kali belum mencukupi standar hidup layak. Tidak ada negara yang sempurna dalam memperlakukan penyandang disabilitas, namun realitas di Jepang memiliki karakteristik uniknya tersendiri.








