Secara umum, fasisme dikenal sebagai sistem politik ketika negara memegang kekuasaan mutlak atas sensor media dan kehidupan masyarakatnya. Namun, sejarah sering kali berulang—pertama sebagai tragedi, kedua sebagai lelucon, dan ketiga sebagai buah plum asin khas Jepang. Fenomena unik ini sedang terjadi di Minabe-cho, Prefektur Wakayama, Jepang, yang kini ramai dibicarakan sebagai Umeboshi Fascism.
Mengenal Umeboshi Lebih Dekat
Source: Tamaki SonoSebelum membahas lebih jauh mengenai aturan tersebut, penting untuk memahami apa itu umeboshi. Makanan ini adalah buah ume (plum Jepang) yang diasinkan. Umeboshi sangat populer di Jepang karena rasanya yang tajam serta kaya manfaat kesehatan, meski kandungan garamnya cukup tinggi jika dikonsumsi secara berlebihan.
Salah satu keunggulan kesehatan yang menarik dari umeboshi adalah efek alkalinisasinya yang bersifat paradoks. Artinya, tingkat keasaman dalam umeboshi justru membantu menetralkan asam di dalam tubuh. Selain itu, makanan ini berkhasiat mengurangi kelelahan, merangsang pencernaan, menyediakan berbagai mineral penting, melancarkan peredaran darah, dan membantu membuang racun.
Asal-usul pasti umeboshi tidak tercatat secara jelas, tetapi dokumen tertua yang mencatatnya berasal dari sekitar seribu tahun lalu. Pada masa itu, umeboshi digunakan sebagai obat untuk mengatasi disentri, tifus, dan keracunan makanan. Di era samurai, umeboshi menjadi ransum lapangan yang krusial bagi para prajurit untuk mengatasi kelelahan perang dan menjernihkan air. Hingga kini, umeboshi umumnya digunakan sebagai penyedap rasa pada sayuran atau nasi, terutama untuk onigiri atau kepalan nasi.
Source: Yuya TamaiFasisme Umeboshi di Pemerintahan Minabe-cho
Source: Annabelle OrozcoPada tanggal 26 September 2014, sebuah peraturan daerah yang mewajibkan penggunaan umeboshi pada onigiri resmi disahkan di Minabe-cho. Wilayah ini sendiri merupakan produsen buah ume terbesar di Jepang. Sesuai namanya, peraturan ini menetapkan bahwa satu-satunya bahan isian yang boleh digunakan dalam onigiri adalah umeboshi.
Aturan ini tentu membatasi kebebasan seseorang dalam memilih isian onigiri sesuai selera. Meskipun umeboshi adalah salah satu varian favorit, terkadang orang tentu ingin menikmati variasi lain seperti tuna-mayo, salmon, bonito, konbu, atau daging asap.
Membayangkan diri sebagai warga Minabe yang tidak lagi memiliki kebebasan memilih tentu terasa mengejutkan. Di atas kertas, kebijakan ini tampak seperti pelanggaran hak asasi manusia yang dibalut dengan rasa yang lezat.
Source: Dept Of Foreign Affairs & Trade (Australia)Di balik peraturan yang tidak biasa ini, terdapat alasan yang cukup mendasar. Minabe-cho memproduksi sepertiga dari total volume ume secara nasional, tetapi tingkat konsumsinya terus menurun dari tahun ke tahun. Konsumsi rata-rata per keluarga pada tahun sebelumnya tercatat hanya 754 gram, merosot drastis dibanding 1.053 gram pada tahun 2002. Penurunan ini mencapai lebih dari 25 persen dalam kurun waktu satu dekade.
Sebagai tanggapan atas tren tersebut, pemerintah setempat mewajibkan warga menggunakan umeboshi untuk onigiri demi menunjukkan keseriusan mereka terhadap produk unggulan daerah tersebut. Menariknya, peraturan ini disetujui secara bulat oleh 14 dari 14 anggota dewan yang hadir. Bahkan, balai kota setempat kini memiliki Departemen Ume khusus.

Kepopuleran Umeboshi Onigiri yang Sebenarnya
Media Netallica pernah melakukan wawancara dengan beberapa toko serba ada di Minabe-cho mengenai tingkat kepopuleran umeboshi sebagai isian onigiri. Hasilnya menunjukkan fakta yang cukup mengejutkan:
- 梅は人気ないです。一番人気は昆布 (Umeboshi tidak begitu populer. Isian yang paling diminati adalah konbu.)
- 梅のおにぎりはあまり売れない。ツナマヨを求める人が多いです (Onigiri umeboshi kurang laris. Jauh lebih banyak pembeli yang meminati isian tuna-mayo.)
Ironisnya, umeboshi justru kurang diminati di wilayah yang menjadi pusat penghasil ume terbesar di Jepang. Kendati demikian, warga setempat tetap mencari cara kreatif untuk menyiasati aturan tersebut tanpa melanggar hukum, seperti memadukannya dengan resep “tuna-umeboshi” atau memasak nasi bersama umeboshi agar lebih berkilau dan beraroma lezat.
Reaksi Warga dan Fakta Dibalik Peraturan
Meskipun sejumlah pihak dari luar daerah melontarkan kritik pedas—seperti seorang pengguna Twitter asal Hokkaido yang menyebut peraturan tersebut sebagai sebuah kegilaan bagi pembenci umeboshi—warga Minabe sendiri tampak santai menanggapinya.
Salah seorang warga setempat menyatakan bahwa peraturan tersebut terdengar lucu dan tidak mempermasalahkannya karena umeboshi produksi Minabe memang memiliki rasa yang sangat lezat.
Dalam wawancara terpisah dengan salah satu anggota dewan kota, Bapak Shimomura, terungkap fakta yang sebenarnya mengenai sanksi pelanggaran:
- Q. 条例というからには、違反をしたらやっぱりなんらかの罰則を受けることになる? (Karena disebut peraturan, apakah ada sanksi tertentu bagi yang melanggarnya?)
- A. いえいえ、この条例に罰則規定はありません。町民はおにぎりにどんな具を入れても構いません。ただ、梅干しも忘れずに入れてね、と。それだけなんです(笑) (Tidak sama sekali. Peraturan ini sama sekali tidak memiliki ketentuan sanksi. Warga bebas memasukkan isian apa saja ke dalam onigiri mereka. Aturan ini hanyalah sebuah pengingat agar jangan lupa menyertakan umeboshi. Hanya itu saja.)
Pada akhirnya, aturan yang terkesan otoriter ini ternyata hanyalah strategi kampanye publisitas yang sukses untuk menarik perhatian nasional terhadap umeboshi. Kendati demikian, publik tetap perlu mengawasi situasi agar lelucon kebijakan daerah ini tidak benar-benar berubah menjadi pembatasan yang nyata di masa depan.








