Home / Travel / Panduan Transaksi Nontunai di Jepang: Saatnya Tinggalkan Dompet Fisik

Panduan Transaksi Nontunai di Jepang: Saatnya Tinggalkan Dompet Fisik

header 640x 6

Saat tim Tofugu berkunjung ke Jepang beberapa waktu lalu, mereka melalui proses penukaran dolar ke yen—sebuah langkah klasik yang biasa dilakukan saat berwisata ke luar negeri. Namun, muncul pertanyaan apakah langkah tersebut masih benar-benar diperlukan saat ini. Di era yang semakin terdigitalisasi dan mengglobal, apa sebenarnya fungsi dari menukar satu mata uang ke mata uang lainnya secara sementara?

Dibandingkan dengan wilayah lain di dunia, kartu kredit dan debit Amerika Serikat tertinggal cukup jauh. Walaupun Amerika Serikat merupakan tempat kelahiran kartu bank, negara tersebut justru tertinggal karena wilayah lain telah mengadopsi teknologi yang jauh lebih maju. Banyak negara lain yang menggunakan kartu bank dengan sistem keamanan lebih canggih daripada sekadar garis magnetik sederhana yang masih melekat pada sebagian besar kartu di Amerika.

German credit cards
Source: Thomas Kohler

Sebagian besar warga Amerika mungkin tidak terlalu peduli dengan cara warga negara lain bertransaksi dan mengamankan uang mereka. Kendati demikian, perspektif tersebut biasanya langsung berubah begitu seseorang menginjakkan kaki di negara lain.

Sebagaimana kebanyakan tempat di belahan dunia lain, uang tunai masih diandalkan untuk hampir segala hal di Jepang. Kendati demikian, metode ini tidak selalu praktis. Anda harus terus mengisi ulang cadangan uang tunai dengan rutin menariknya dari mesin ATM, yang terkadang cukup merepotkan karena tidak semua mesin ATM di Jepang menerima kartu bank asing.

Selain itu, membawa uang tunai dalam jumlah banyak juga cukup menyulitkan. Koin pecahan kecil sering kali menumpuk di kantong tanpa ada cara mudah untuk menghabiskannya, sementara pengeluaran harus dihitung secara cermat agar Anda tidak kebingungan membawa sisa uang tunai yang berlebih di akhir perjalanan.

Pilihan yang Tersedia

Topik mengenai alternatif pengganti uang tunai menarik untuk dibahas, terutama setelah membaca buku karya David Wolman yang berjudul The End of Money. Untungnya, Jepang menawarkan berbagai macam alternatif pembayaran.

Meskipun Bitcoin yang populer dan dikabarkan berasal dari Jepang belum sepenuhnya bisa diandalkan, masih terdapat beragam opsi pembayaran bagi wisatawan maupun pendatang jangka panjang.

Kartu Prepaid

Salah satu metode pembayaran alternatif yang paling sering dijumpai di Jepang adalah kartu IC (integrated circuit) prabayar.

Kartu-kartu ini ibarat pisau lipat Swiss yang serbaguna. Setelah membayar sejumlah deposit yang dapat dikembalikan dan mengisi saldo, Anda bisa menggunakannya di konbini, mesin penjual otomatis, membayar tiket kereta, menyewa loker koin, hingga naik taksi. Anda bahkan bisa membeli kartu IC prabayar ini dengan mudah di berbagai stasiun kereta di seluruh Jepang.

Suica passcard reader
Source: Hector Garcia

Ada banyak sekali jenis kartu IC yang beredar, tetapi yang paling ikonik adalah Suica dengan logo pinguin yang menggemaskan.

Kendati demikian, kartu IC prabayar juga memiliki beberapa kekurangan. Meskipun sebagian besar kartu utama kini sudah bisa saling digunakan di berbagai layanan, penerimaannya tetap belum seuniversal uang tunai atau metode pembayaran lainnya. Selain itu, banyaknya jenis kartu yang berbeda sering kali membingungkan pengguna.

Ponsel

Ponsel di Jepang mungkin tidak lagi terlihat seunik dulu di mata orang Barat, namun perangkat tersebut memiliki fitur-fitur khusus yang jarang atau bahkan tidak tersedia di ponsel buatan Barat.

Ada banyak cara untuk menggunakan perangkat seluler sebagai alat pembayaran di Jepang. Selain beberapa kartu prabayar yang menyediakan aplikasi seluler pendukung, berbagai aplikasi dompet digital juga telah digunakan di sana selama bertahun-tahun.

Memanfaatkan ponsel untuk bertransaksi tentu terasa sangat praktis. Perangkat ini selalu dibawa ke mana-mana, proses pembayaran berlangsung cepat, dan riwayat pengeluaran dapat tercatat secara digital.

Namun, terdapat satu kendala utama, yaitu sindrom Galapagos.

Japanese people lined up in the subway, looking at their phones
Source: Hector Garcia

Sindrom Galapagos adalah istilah yang merujuk pada produk atau teknologi yang berkembang secara khusus untuk memenuhi kebutuhan unik di lingkungan tertentu. Istilah ini sering digunakan untuk menggambarkan ponsel Jepang yang berevolusi dengan jalur yang sangat berbeda dari ponsel di belahan dunia lain.

Dalam hal pembayaran seluler, sindrom ini berkaitan erat dengan teknologi dasarnya. Ponsel Jepang dan ponsel Barat secara historis menggunakan teknologi yang berbeda untuk transaksi (FeliCa versus NFC). Oleh karena itu, jika Anda berkunjung ke Jepang dengan membawa ponsel pintar standar Barat, jangan berharap fitur tersebut bisa langsung digunakan.

Kecuali Anda menggunakan ponsel versi Jepang, kemungkinan besar Anda tidak akan bisa melakukan pembayaran seluler secara langsung.

Untungnya, industri telekomunikasi di Jepang telah berupaya mengubah situasi ini dalam beberapa tahun terakhir dengan memproduksi ponsel yang mendukung kedua teknologi pembayaran tersebut atau mengandalkan standar NFC yang lebih universal.


Untuk saat ini, beralih sepenuhnya ke sistem tanpa uang tunai di Jepang masih bukan hal yang mudah. Terlepas dari kerumitan kurs mata uang, kompatibilitas bank asing, serta repotnya membawa uang fisik, waktunya belum sepenuhnya matang untuk meninggalkan uang tunai secara total.

Kendati demikian, bukan tidak mungkin dalam satu dekade mendatang para pelancong bisa melewati konter penukaran uang di bandara dan langsung menjelajahi Jepang hanya dengan mengandalkan ponsel mereka.

Waktu yang akan menjawab bagaimana tren teknologi seluler ini akan terus berkembang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *