Akhirnya momen itu tiba juga. Setelah melewati proses seleksi yang melelahkan, wawancara yang membuat tegang, serta penantian panjang, surat penerimaan yang Anda tunggu akhirnya berada di tangan. Impian Anda untuk mengajar bahasa Inggris di Jepang kini resmi menjadi kenyataan!
-
Ekspektasi Anda: Ruang kelas yang dipenuhi siswa tekun, antusiasme tinggi untuk belajar bahasa Inggris, kerja sama tim yang solid dengan guru-guru Jepang, kurikulum cemerlang dari otak cerdas Anda, serta kepuasan kerja di setiap penghujung hari.
-
Realitas saat tiba: Ruang kelas yang bising oleh teriakan alih-alih proses belajar, minimnya minat terhadap bahasa Inggris, guru lokal yang memiliki agenda tersendiri, serta gerombolan yankis (kenakalan remaja) yang berkeliaran di koridor sambil meneriakkan kata shine (mati) kapan pun mereka punya kesempatan.
Selamat! Anda ditempatkan di sekolah yang bermasalah.
Hal serupa juga terjadi pada saya. Berbeda dengan rekan-rekan sesama pengajar yang memiliki cerita indah tentang murid-murid mereka yang penuh semangat, saya justru punya cerita tentang jendela pecah dan mimpi yang kandas. Ketika saya memberi tahu warga setempat di mana saya bekerja, mereka biasanya berkomentar zannen (sayang sekali). Sekolah saya memiliki 900 siswa dengan 24 kelas, dan hanya lima kelas di antaranya yang dapat diandalkan untuk bersikap tertib.
Ada tiga jalur yang bisa Anda ambil ketika menghadapi kejutan budaya (culture shock) separah ini.
- Anda bisa menjadi pahit dan membenci Jepang.
- Anda berpura-pura tidak terjadi apa-apa dan menganggap Jepang tetap sempurna.
- Anda menghadapi kenyataan tersebut dan bertumbuh.
Sayangnya, opsi pertama dan kedua sangat sering terjadi, biasanya ketika seseorang memilih untuk tidak melakukan apa-apa. Opsi ketiga adalah yang paling sulit dan hanya bisa dicapai jika Anda mulai memandang situasi buruk sebagai peluang untuk pengembangan diri.
Terdengar mudah diucapkan, tetapi sulit dilakukan? Memang benar. Di bawah ini, saya akan menguraikan lima tips praktis yang bisa Anda terapkan dalam situasi sulit tersebut. Harus diakui, saya bukanlah seorang pakar hubungan internasional Jepang ataupun tata kelola kelas, jadi silakan bandingkan saran saya dengan pengalaman orang lain yang menghadapi situasi serupa.
Namun, perlu dicatat bahwa saya ditempatkan di sekolah terbesar di kota saya, yang kebetulan juga merupakan sekolah yang paling kacau (sungguh sebuah keberuntungan!). Dari segi mental, saya bahkan belum bisa berbahasa Jepang sama sekali saat itu, dan baru saja menyelesaikan pengalaman pertama saya sebagai guru magang di Kasukabe Kyoei, sekolah bergengsi dengan para siswa jenius yang berperilaku baik.
Singkat cerita, saya akhirnya kembali ke Amerika Serikat dengan perasaan damai terhadap sekolah saya yang terkenal itu, serta mencintai Jepang bukan lagi sebagai negeri dongeng yang dipenuhi permen ajaib, melainkan layaknya seorang sahabat lama. Saya berharap tips yang saya gunakan dapat membantu Anda mencapai hal yang sama.
1. Tentukan Ulang Tujuan Anda

Sebagai seorang ALT (Assistant Language Teacher) pemula, saya memiliki beberapa target sederhana: menciptakan interaksi yang bermakna dengan para siswa, mengubah mereka semua menjadi ahli bahasa Inggris, dan mengenalkan dunia luar (khususnya Amerika Serikat). Secara realistis, hal ini hampir mustahil dilakukan bahkan di sekolah yang bagus sekalipun. Keuntungan bersekolah atau mengajar di sekolah bermasalah adalah kenyataan ini akan menghancurkan ekspektasi naif tersebut sejak dini. Dan itu sebenarnya hal yang baik, karena memberi Anda kesempatan untuk merumuskan ulang tujuan secara realistis.
Setelah berbulan-bulan mengejar tujuan “pengajaran nyata” yang sia-sia, saya memetik satu pelajaran penting: Anda tidak bisa mengajar jika lingkungannya tidak mendukung proses pembelajaran. Dan sekolah saya jelas bukan tempat seperti itu. Sangat sulit mempertahankan perhatian anak-anak ketika ada siswa yang nekat mengendarai sepeda di atas atap sekolah (meskipun saya sendiri sempat penasaran ingin melihatnya).
Perubahan besar terjadi ketika saya mendatangi setiap guru secara pribadi dan menanyakan apa yang mereka butuhkan dari saya. Selama ini saya mencoba menjadi ALT yang “serba bisa” untuk semua kelas, dan itu jelas gagal diterapkan pada 24 kelas yang karakternya sangat berbeda jauh. Guru-guru mitra asal Jepang jauh lebih mengenal kelas mereka dibandingkan saya, jadi saya mulai memosisikan diri sesuai kebutuhan mereka di setiap kelas. Cara ini memang tidak menyelesaikan segalanya; ada guru yang meminta saya untuk tidak melakukan apa-apa—yang tentu saja bukan harapan saya—tetapi ada juga yang meminta saya membuat pertunjukan boneka atau presentasi PowerPoint menampilkan Mega Man. Saya pun memfokuskan energi pada para guru yang kooperatif.
Hal ini mungkin terdengar sepele, tetapi saya merasa jauh lebih baik ketika diri ini berguna. Bagi seorang guru, saya bahkan bertindak secara harfiah sebagai pengawal: menangkis lemparan kertas yang mengarah kepadanya dan mengantar siswa kembali ke bangku mereka. Pekerjaan itu melelahkan, tetapi rasanya menyenangkan bisa melindungi seorang guru perempuan paruh baya yang baik hati dari anak-anak yang beringas.
Intinya, tetapkan peran spesifik untuk diri Anda di setiap kelas dan beri nama, semacam jabatan pekerjaan (misalnya, bagi Matsuda-sensei saya adalah manajer pelafalan, bagi Katayama-sensei saya adalah petugas keamanan, dan seterusnya). Sekalipun Anda tidak menyukai peran tertentu, Anda akan merasa lebih tenang karena tahu bahwa Anda adalah bagian fungsional dari sebuah tim, yang pada akhirnya memberikan target yang realistis dan memuaskan.
2. Rangkul Siswa yang Baik

Saya memiliki dua kesan pertama saat menginjakkan kaki di sekolah tersebut:
- Sekolah saya benar-benar gila.
- Semua siswanya adalah anak nakal.
Kesan pertama sebagian besar terbukti benar, tetapi kesan kedua ternyata keliru. Pada minggu pertama, saya justru bertemu dengan empat siswa luar biasa—salah satunya bahkan kini sedang menempuh pendidikan di Universitas Waseda! Mereka adalah penyelamat saya, namun agar bisa bertahan hidup, saya harus mencari lebih banyak siswa seperti mereka.
Jika harus memperkirakan, populasi sekolah saya terdiri dari sekitar 100 anak yankis, 600 siswa biasa yang bersikap netral, dan 200 siswa baik-baik (serta sekitar tiga orang yang mirip sosiopat). Meskipun hanya ada 100 pengaruh buruk, jumlah itu sudah lebih dari cukup untuk membuat suasana sekolah terus berada dalam kekacauan.
Namun faktanya, masih ada 200 siswa teladan di sana. Tantangannya adalah bagaimana cara memunculkan mereka ke permukaan. Memanggil nama siswa yang baik atau berbicara dengan mereka di luar kelas terkadang berhasil, kadang pula tidak. Saya akhirnya menyadari bahwa mereka sebenarnya bisa menulis bahasa Inggris dengan cukup baik, namun jarang mau berbicara di kelas dan sangat suka saling berkirim catatan rahasia.
Dari sinilah lahir Sistem Kotak Surat Michael. Saya membuat sebuah kotak surat dari kardus berukuran besar dan menjelaskan cara kerjanya ke setiap ruang kelas. Respon yang didapat sangat luar biasa. Saya mulai rutin berkirim surat dengan setidaknya 30 hingga 40 dari 200 siswa baik yang saya duga ada di sekolah itu, dan jumlah tersebut sudah lebih dari cukup bagi saya. Langkah ini memberi saya beberapa anak di setiap kelas yang bisa menjadi fokus perhatian saya. Sebagian orang mungkin menganggap ini sebagai sikap pilih kasih, namun saya melihatnya sebagai cara menyalurkan tenaga ke tempat yang tepat.
Cara lain yang bisa dicoba adalah dengan bergabung dalam kegiatan klub sekolah (karena anak-anak yang baik biasanya lebih terbuka di luar jam pelajaran kelas) atau mendirikan klub bahasa Inggris (di mana Anda akan menarik minat anak-anak yang benar-benar peduli untuk belajar di waktu luang mereka).
3. Bangun Kepercayaan Diri Anda

Sejak awal, saya merasa cukup gugup mengenai prospek mengajar ini. Belum lagi, setelah pidato perkenalan diri di hadapan para siswa—di mana saya sempat merapal kata-kata berbahasa Jepang yang bahkan belum saya pahami artinya—saya malah terpeleset di atas panggung.
Saya tergelincir dari anak tangga teratas dan meluncur jatuh ke lantai aula olahraga disaksikan oleh 1.000 orang. Itulah kesan pertama sekolah terhadap diri saya.
Untungnya, beberapa hari sebelum kejadian itu, saya sempat duduk di sebuah izakaya bersama sesama pengajar ALT yang memberi saya banyak masukan. Saran utama yang paling saya ingat adalah “kejutkan orang-orang kaku itu.” Pada dasarnya, hadapi sikap ribut dan gila dengan cara yang sama atau bahkan lebih.
Aksi seluncuran memalukan di depan 1.000 orang tersebut langsung disusul oleh kelas pertama saya. Bayangkan betapa menegangkannya situasi itu. Baru saja saya mengucapkan tiga kata pertama, seorang siswa meneriakkan kata-kata kotor kepada saya dan seisi kelas langsung tertawa terbahak-bahak. Ini dia saatnya, saya harus “mengejutkan mereka.” Dan saya benar-benar melakukannya. “Nama saya adalah… MICHAEL!” seru saya sambil menekan tombol slide presentasi, yang untungnya menampilkan foto konyol saya sendiri. Kelas merespons energi tersebut. Saya berhasil menguasai mereka. Saya mengerahkan suara dan gerakan yang besar. Meskipun di dalam hati saya merasa kecil, saya bersikap seolah-olah saya adalah raksasa. Ketika ada anak yang berteriak di luar giliran, saya justru menjadikannya sekutu dalam aksi konyol tersebut. Secara keseluruhan, itu adalah kelas pertama yang fantastis.
Tentu saja, teknik ini tidak selalu berhasil di setiap kesempatan, namun hasilnya terbukti sangat efektif di sebagian besar waktu. Belakangan, saya baru mengetahui alasan ilmiah di baliknya.
Dalam sebuah presentasi TED tahun 2012, Amy Cuddy memaparkan sebuah kebenaran sederhana: hormon stres dan kepercayaan diri kita memang memengaruhi cara kita bertindak, namun bertindak dengan percaya diri justru dapat membalikkan proses tersebut dan memicu perubahan kimiawi dalam tubuh. Saya tadinya tidak merasa berdaya, tetapi ketika saya bertindak seolah-olah memiliki kekuatan, tubuh saya perlahan menyesuaikannya (meningkatkan hormon testosteron dan menurunkan hormon kortisol). Melakukan hal ini dalam jangka panjang nyatanya benar-benar mengubah perilaku serta tingkat keberhasilan Anda. Konsepnya bukanlah sekadar “pura-pura sampai Anda berhasil”, melainkan “beraktinglah sampai Anda benar-benar menjadi sosok tersebut.”
Sekarang, saya menganggap keterjebakan saya di sekolah gila itu sebagai salah satu berkah terbesar dalam hidup. Karena saya mengambil langkah awal yang berani hari itu, saya menghabiskan dua tahun berikutnya menempa diri menjadi pembicara yang lebih baik, keterampilan yang masih sangat berguna bagi saya hingga hari ini.
4. Tumbuhkan Empati kepada Para Yankis

Kaum yankis adalah sumber utama ketidaknyamanan saya selama periode yang cukup panjang. Seperti yang sempat saya singgung sebelumnya, mereka adalah para pembuat onar di Jepang: berambut orang tinggi, mengenakan pakaian serba longgar, dan berandalan. Mereka selalu tampak konyol bagi saya dan tidak pernah benar-benar membahayakan secara fisik, tetapi perilaku mereka sangat menyebalkan dan melemahkan mental. Mereka menginterupsi kelas saya, meneriakkan makian, dan enggan keluar ruangan! Mereka bahkan kerap membolos pelajaran namun tetap nekat nongkrong di lingkungan sekolah—sesuatu yang sampai sekarang masih membuat saya heran. Jika ingin membolos, pergilah ke pusat perbelanjaan sana!
Saya benci harus mengakuinya, namun sempat ada masa di mana saya sangat membenci para yankis ini. Mereka menjadikan saya sasaran perundungan, yang awalnya berhasil saya tepis namun lama-kelamaan merasuk ke dalam diri saya. Titik balik saya terjadi ketika saya mulai merenungkan tentang para siswa bermasalah di sekolah saya dulu, dan apa kira-kira latar belakang yang membuat mereka bertindak liar. Meskipun saya tidak tahu banyak detail tentang kehidupan para yankis ini, seiring waktu menjadi jelas bahwa para pemberontak ini sebenarnya tidak memiliki banyak hal untuk diharapkan. Pertunjukan keberanian mereka yang berisik sebagian besar hanyalah kedok untuk menutupi apa yang tidak mereka miliki di luar lingkungan sekolah.
Kesadaran ini membuat mereka tampak jauh lebih tidak mengancam dan justru terlihat menyedihkan. Dalam artian positif, hal itu menumbuhkan rasa simpati di dalam diri saya.
Sayangnya, saya tidak pernah menemukan solusi tuntas untuk mengatasi masalah perilaku para yankis tersebut. Jika 65 guru tetap kewalahan menghadapi situasi itu, mustahil bagi saya untuk bisa menyelesaikannya sendirian. Kendati demikian, pergeseran sudut pandang ini memberi saya empati yang lebih besar terhadap mereka. Jika mereka mengganggu siswa atau guru lain, saya akan berusaha menghentikannya sebisa mungkin. Namun, ketika mereka sedang tidak berulah, saya memperlakukan mereka sama seperti siswa lainnya dan bahkan mencoba mengajak mereka berbicara. Cara ini beberapa kali membuahkan hasil. Meskipun sebagian besar tetap bersikap bermusuhan dan keras kepala, saya menemukan beberapa yankis berhati baik yang entah mengapa hanya kehilangan motivasi untuk sukses. Saya terkadang masih memikirkan mereka dan berharap mereka telah menemukan jalan hidup yang lebih baik.
5. Pahami dan Berdamailah dengan Sistem Pendidikan Jepang

Tujuan ini adalah yang paling sulit untuk saya capai. Setelah melewati tahun pertama, saya sempat mengambil kesimpulan final tentang sistem sekolah Jepang: sistem ini salah, buruk, dan mengerikan! Dan sistem ini tidak berfungsi. Ditambah lagi, saya merasa memegang semua jawaban untuk memperbaiki masalah mereka. Namun, di balik segala solusi “jenius” yang saya miliki, saya tetap tidak berdaya untuk mengubah sistem tersebut.
Rasa frustrasi saya terhadap sistem sekolah ini akhirnya mereda berkat tiga pemikiran berikut:
- Banyak tokoh kreatif idola saya merupakan produk dari sistem sekolah Jepang, begitu pula beberapa orang Jepang luar biasa yang kini menjadi sahabat saya. Artinya, sistem tersebut toh tetap menghasilkan sesuatu yang baik.
- Sistem itu sudah membutuhkan perbaikan jauh sebelum saya menginjakkan kaki di sana, dan sistem itu tidak akan berubah hanya karena saya datang membawa ide-ide baru. Sekalipun sekolah-sekolah di Jepang memutuskan untuk mengadopsi metode dari dunia Barat, Jepang harus mencapai kesadaran itu dengan caranya sendiri.
- Saya memang tidak pernah bersekolah di sekolah buruk di Amerika Serikat, namun barangkali ada beberapa metode yang dulu berhasil pada diri saya belum tentu efektif bagi anak-anak lain di sekolah-sekolah yang kurang beruntung. Mungkin sistem pendidikan di negara saya sendiri pun membutuhkan evaluasi serupa.
Secara jujur, pencerahan-pencerahan ini datang dan mengakar secara perlahan. Anda harus bergelut dengan keluh kesah Anda sendiri terhadap sistem sekolah Jepang dan meluangkan waktu untuk berdamai dengannya. Apapun kesimpulan akhir yang Anda ambil, Anda akan tumbuh menjadi pribadi yang jauh lebih matang karena telah mengerahkan energi emosional untuk menghadapi pertentangan batin tersebut.
Berikut adalah beberapa latihan mental yang dapat membantu Anda melalui proses tersebut:
- Tuliskan hal-hal yang tidak Anda sukai dari cara sekolah Jepang beroperasi. Akui bahwa keberatan-keberatan itu bukanlah sesuatu yang sepele. Itu adalah keyakinan Anda dan itu penting! Simpan catatan itu di suatu tempat (seperti di dalam buku atau laci) sebagai bentuk tindakan menyampingkan keluhan tersebut. Anda tidak sedang menghapus atau mengabaikan perasaan Anda—itulah mengapa Anda menyimpannya. Namun, Anda menyimpannya demi menerima sistem apa adanya, agar kekecewaan tersebut tidak menghalangi misi besar Anda sebagai seorang duta budaya.
- Baca beberapa artikel mengenai masalah yang tengah melanda sistem pendidikan di negara asal Anda sendiri. Berapa banyak masalah yang selama ini luput dari perhatian Anda? Dan berapa banyak pula masalah di sekolah Jepang yang mungkin merupakan titik buta bagi masyarakat Jepang sendiri?
- Bacalah artikel Koichi mengenai sistem persekolahan di Jepang untuk memahami apa yang sebenarnya ingin dicapai oleh metode pendidikan mereka. Sangat membantu untuk mengetahui bagaimana seharusnya sistem itu bekerja, bahkan ketika sistem tersebut sedang tidak berjalan dengan baik di sekolah tempat Anda mengajar.
Pada Akhirnya…
Sebagai penutup, biarlah saya tekankan bahwa meskipun sekolah saya sangat kacau dan meresahkan, saya tidak pernah merasa berada dalam bahaya fisik yang nyata. Tips yang saya bagikan di sini tidak dimaksudkan untuk membantu Anda menerima atau membiarkan situasi yang membahayakan keselamatan. Jika Anda merasa terancam secara fisik—dan ini berlaku kapan pun dalam hidup Anda—segeralah mencari bantuan atau tinggalkan tempat itu!
Kumpulan saran ini hanyalah bekal permulaan bagi Anda. Bacalah artikel dan forum lain yang ditulis oleh orang-orang yang berada di situasi serupa. Sekalipun Anda menerapkan saran-saran saya, Anda tetap memerlukan banyak kesabaran, latihan, dan perenungan mendalam sebelum menemukan formula yang paling pas untuk diri Anda dan kondisi lingkungan Anda. Anda mungkin masih akan mengalami hari-hari yang buruk (hal itu tidak pernah sepenuhnya hilang dari pengalaman saya), namun Anda akan mampu menghadapinya dan belajar darinya dengan jauh lebih efektif.
Pada akhirnya, jika Anda berhasil menghindari rasa kepahitan dan penolakan, Anda akan mendapati diri Anda menjadi sosok yang lebih kuat dan utuh dibandingkan saat pertama kali memulainya. Terdengar aneh memang, namun saya merasa bersyukur pernah ditempatkan di sekolah yang kacau itu. Pengalaman tersebut memaksa saya masuk ke dalam situasi yang membangun kepercayaan diri serta keterampilan hidup, sekaligus mempertemukan saya dengan sisi Jepang yang tidak selalu indah. Saya diajak untuk berdamai dengan kenyataan bahwa Jepang bukanlah negeri dongeng yang sempurna, melainkan sebuah negara yang dihuni oleh manusia seutuhnya. Dan itulah pengalaman autentik yang sesungguhnya Anda cari di penghujung masa pengabdian mengajar bahasa Inggris Anda.








