Home / Travel / 12 Kastil Asli Jepang: Lusinan Benteng Pertahanan Pertama

12 Kastil Asli Jepang: Lusinan Benteng Pertahanan Pertama

Pathway Leading to Himeji Castle

Banyak catatan sejarah membahas tentang dua belas puri kuno di Jepang yang berhasil bertahan hingga hari ini. Mengingat pentingnya topik ini, sudah saatnya ada ulasan mendalam mengenai benteng-benteng abad pertengahan tersebut. Saat memasuki era modern pada periode Meiji antara tahun 1868 hingga 1912, hampir seluruh puri di Jepang dihancurkan atas perintah pemerintah saat itu. Dari sedikit benteng yang lolos dari dekrit kekaisaran tersebut, beberapa lainnya musnah akibat Perang Dunia II, seperti Puri Hiroshima. Akibatnya, hanya tersisa dua belas benteng asli yang masih berdiri hingga kini.

Berikut adalah ulasan singkat mengenai dua belas puri yang berhasil bertahan dari utara ke selatan, mulai dari Hirosaki Castle di Aomori hingga wilayah Shikoku. Mengunjungi benteng-benteng autentik ini tentu memberikan pengalaman yang jauh lebih berkesan dibandingkan bangunan rekonstruksi modern dari beton.

Hirosaki Castle

Hirosaki Castle framed by blooming shidare-zakura under a clear blue sky during peak cherry blossom season in late April.

Terletak di Prefektur Aomori, tepatnya di area Hirosaki Castle Park, benteng ini merupakan salah satu dari dua belas bangunan yang tersisa. Meskipun struktur utamanya tergolong sederhana, kompleks taman ini menawarkan pemandangan yang luar biasa indah pada musim semi berkat ribuan pohon sakura yang mekar.

Hirosaki Castle awalnya diselesaikan oleh klan Tsugaru pada tahun 1611 dengan menara utama setinggi lima tingkat. Sayangnya, menara tersebut tersambar petir pada tahun 1672 dan baru dibangun kembali pada tahun 1810 dengan bentuk tiga tingkat yang lebih kecil seperti yang terlihat sekarang. Meskipun demikian, bangunan ini tetap menjadi satu-satunya struktur benteng samurai asli yang tersisa di seluruh wilayah Tohoku.

Matsumoto Castle

The a bridge over the moat leading to the ever-iconic Matsumoto Castle in Nagano Prefecture.

Bergeser ke selatan, terdapat Matsumoto Castle yang megah di Kota Matsumoto. Diakui sebagai Harta Karun Nasional oleh Badan Urusan Kebudayaan Jepang, puri ini memiliki menara utama lima tingkat dengan enam lantai yang berasal dari akhir abad ke-16. Interior kayu aslinya memberikan pengalaman sejarah yang begitu kental bagi para pengunjung.

Dikelilingi oleh parit yang luas, jembatan berwarna merah terang, dan latar belakang Pegunungan Alpen Utara, puri ini menjadi surga bagi para fotografer. Di sekitar kawasan ini, wisatawan juga dapat mengunjungi Distrik Nakamachi untuk melihat bangunan gudang tradisional berdinding putih yang kini berfungsi sebagai toko kecil dan penginapan ryokan.

Maruoka Castle

Fukui Prefecture’s Maruoka Castle, one of the few remaining historical strongholds

Terletak di Prefektur Fukui, Maruoka Castle secara historis dikenal sebagai “Puri Kabut” karena sering diselimuti kabut tebal. Kompleks benteng ini juga dipenuhi oleh pohon sakura yang tampak menawan saat diterangi lentera kertas pada malam hari.

Secara struktural, bangunan asli puri ini sempat roboh akibat gempa bumi besar di Fukui pada tahun 1948. Namun, warga setempat dengan teliti merakit ulang bangunan tersebut menggunakan material aslinya demi menjaga keotentikannya. Lokasinya dapat dijangkau dengan bus langsung dari Stasiun Fukui.

Inuyama Castle

Inuyama Castle perched on a forested hill overlooking the Kisogawa, with the cityscape and mountains in the background under a partly cloudy sky.

Dibangun pertama kali pada tahun 1537, Inuyama Castle di Prefektur Aichi diyakini sebagai benteng tertua yang masih bertahan di Jepang. Berdiri di atas bukit kecil yang menghadap ke Sungai Kisogawa, menara utama puri ini juga telah ditetapkan sebagai Harta Karun Nasional.

Berbeda dengan banyak puri lain yang luput dari pertempuran, Inuyama Castle pernah menjadi saksi bisu perang saudara dan menjadi hambatan terakhir bagi pemimpin perang Oda Nobunaga dalam usahanya menyatukan wilayah kekuasaannya. Area sekitar jalur masuk puri ini masih mempertahankan suasana tempo dulu yang sangat kuat.

Hikone Castle

Hikone Castle overlooking the gardens of Genkyu-en, with traditional thatched-roof teahouses reflected in a calm pond surrounded by lush greenery.

Terletak di sebelah timur laut Kyoto dekat Danau Biwa, Hikone Castle merupakan mahakarya pertahanan militer yang menjadi pusat kekuasaan klan Ii. Menara utamanya berdiri di atas bukit curang yang mengawasi jalur perdagangan penting Nakasendo.

Tata letak benteng ini dirancang secara strategis, di mana menara utama hanya dapat diakses melalui jembatan kayu dan ramp melingkar yang dapat dengan mudah dihancurkan saat terjadi pengepungan. Selain nilai sejarahnya, puri ini juga terkenal berkat maskot imutnya yang bernama Hikonyan.

Himeji Castle

Hyogo Prefecture’s Himeji Castle during the cherry blossom season

Banyak pihak menganggap Himeji Castle di Prefektur Hyogo sebagai benteng abad pertengahan paling megah di Jepang. Kompleks luas yang berstatus sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO ini terdiri dari lebih delapan puluh bangunan yang saling terhubung melalui koridor labirin yang rumit.

Meskipun selesai dibangun setelah Pertempuran Sekigahara dan tidak pernah terlibat langsung dalam konflik samurai, benteng ini selamat secara ajaib dari berbagai bencana alam, kebakaran, bahkan serangan bom selama Perang Dunia II. Skala bangunannya yang masif dan akses yang mudah melalui Shinkansen menjadikannya destinasi wajib bagi pelancong.

Matsue Castle

Matsu Castle in Shimane Prefecture is one of the 12 remaining original castles

Terletak di ibu kota Prefektur Shimane, Matsue Castle memiliki menara utama yang juga diakui sebagai Harta Karun Nasional. Dari lantai paling atas menara ini, pengunjung dapat menikmati pemandangan Danau Shinji yang ikonis.

Cara terbaik menikmati kawasan ini adalah dengan menaiki perahu menyusuri kanal Horikawa di sekitar parit puri. Pengunjung juga dapat berjalan-jalan di Distrik Samurai Shiomi Nawate di dekatnya untuk melihat kediaman samurai yang terawat serta bekas rumah penulis Lafcadio Hearn.

Bitchu-Matsuyama Castle

Okayama Prefecture’s Bitchu-Matsuyama Castle floats above the clouds in the valley basin below

Sebagai satu-satunya puri puncak gunung yang tersisa di Jepang, Bitchu-Matsuyama Castle berdiri di atas tebing curam di Prefektur Okayama. Akar sejarah benteng ini bermula dari tahun 1200-an, menjadikannya salah satu benteng tertua yang dibangun pada masa konflik perang saudara.

Untuk mencapai menara utama, pengunjung harus mendaki selama sekitar 20 menit dari area parkir terdekat melewati reruntuhan fondasi batu. Pada bulan November dan Desember, puri ini sering kali tampak seolah-olah mengapung di atas lautan awan pada pagi hari jika dilihat dari dek observasi terdekat.

Marugame Castle

Marugame Castle’s white keep perched on a hilltop overlooking the city and the Seto Inland Sea, with clear blue skies and distant urban views stretching to the horizon.

Dikenal pula dengan nama Kameyama Castle, Marugame Castle merupakan benteng terkecil di antara dua belas puri asli yang tersisa. Terletak di atas dinding batu yang sangat curam, puri di Prefektur Kagawa ini menghadap langsung ke Laut Pedalaman Seto untuk mengamankan jalur pelayaran penting.

Meskipun sempat dibongkar akibat kebijakan satu puri per wilayah pada masa shogun Tokugawa, benteng ini dibangun kembali pada tahun 1660-an. Saat ini, area bekas benteng tersebut berfungsi sebagai Taman Kameyama yang dipenuhi ratusan pohon sakura pada musim semi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *