Home / Travel / Obsesi Jepang Terhadap Makanan dan Drama dalam TV Kuliner Jepang

Obsesi Jepang Terhadap Makanan dan Drama dalam TV Kuliner Jepang

header 640x 31

Perbedaan Budaya Kuliner dalam Televisi Amerika dan Jepang

Televisi seringkali mencerminkan obsesi serta nilai-nilai dari suatu kebudayaan, sehingga selalu menarik untuk melihat perbandingan tayangan dari berbagai negara. Jika kita membandingkan acara televisi dari Amerika Serikat dan Jepang, salah satu topik yang paling mencolok perbedaannya adalah cara mereka mengemas acara bertema makanan.

Di dunia penyiaran Amerika, program memasak hampir selalu bersifat nonfiksi. Jepang pun memiliki acara serupa, di mana penonton dapat menyaksikan berbagai resep rumit dari nol, terlepas dari apakah mereka benar-benar turun ke dapur atau tidak. Selain itu, pertukaran budaya juga terjadi: Amerika Serikat kini sangat mendominasi genre kompetisi memasak, sebuah konsep yang diadaptasi dari Jepang setelah suksesnya penayangan Iron Chef.

chefs on the original japanese iron chef show

Kendati demikian, di Jepang, ada banyak sekali serial fiksi di mana makanan dan aktivitas memasak memegang peran sentral dalam alur cerita. Dalam tayangan-tayangan ini, koki menjadi karakter utama, orang biasa terobsesi dengan hidangan tertentu, bahkan inti dari konflik cerita bisa berputar pada detail kecil dari sebuah resep atau bahan masakan spesial.

Tentu saja, di Amerika Serikat kita juga dapat menemukan beberapa acara di mana para karakternya berkumpul di restoran atau bar tertentu. Ada serial klasik seperti Alice yang menceritakan seorang pelayan di rumah makan, atau drama sejarah seperti Upstairs, Downstairs dan Downton Abbey yang sesekali menampilkan staf dapur sedang menyiapkan makan malam sambil berdiskusi. Namun, jumlah tersebut sangatlah sedikit jika dibandingkan dengan dunia drama televisi Jepang yang memiliki begitu banyak judul bertema kuliner hingga bisa dikategorikan menjadi genre tersendiri.

still from the movie tampopo old man takes a bite

Perbedaan tersebut bukan sekadar soal jumlah judul tayangan. Membandingkan segelintir acara kuliner Barat dengan drama makanan Jepang ibarat membandingkan apel dengan jeruk. Ambil contoh dua kisah yang melibatkan seorang pembuat sup. Dalam film Jepang berjudul Tampopo, alur cerita mengikuti perjuangan seorang wanita pemilik kedai ramen yang berupaya meracik resep kaldu yang sempurna. Kita bisa melihat bagaimana ia bersusah payah bereksperimen dengan berbagai variasi kaldu serta meminta masukan dari para ahli. Bandingkan ini dengan pembuat sup paling ikonik di televisi Amerika, yaitu karakter dalam serial Seinfeld yang terkenal karena suka membentak pelanggan, alih-alih terobsesi dengan detail teknik memasaknya.

Fokus mendalam pada detail kuliner dalam Tampopo bukanlah hal yang asing di Jepang. Drama-drama Jepang kerap merefleksikan kecintaan terhadap kualitas makanan yang sayangnya belum tentu menjadi bagian dari budaya populer di Amerika.

Perjuangan Menjadi Seorang Koki

Mari kita mulai dengan meninjau salah satu sub-genre yang paling sering muncul dalam televisi Jepang, yakni kisah tentang “perjuangan menjadi koki.”

Kuliner Barat: Hungry!

poster from hungry the movie young japanese chef

Judul drama ini sudah merangkum temanya dengan pas: Hungry! (Hanguri!). Semasa kecil, karakter utama bernama Yamate Eisuke bercita-cita mengikuti jejak ibunya, seorang koki masakan Prancis yang memiliki restoran sendiri. Namun, ia justru memilih membentuk band rock bersama tiga temannya. Menjelang usia 30 tahun dan belum juga meraih kesuksesan bermusik, ia memutuskan kembali kepada sang ibu untuk belajar memasak dan mengambil alih restoran. Sayangnya, reuni penuh haru itu harus buyar ketika sang ibu tiba-tiba terkena serangan jantung dan meninggal dunia.

Komplikasi bertambah ketika sang ayah ternyata telah menjual restoran tersebut kepada seorang pemilik restoran saingan. Tokoh antagonis ini kemudian terobsesi dengan Eisuke, kerap berganti sikap antara ingin menghancurkan kariernya atau justru merekrutnya. Di sisi lain, konflik personal ini juga dibumbui kisah romantis dan perselisihan dengan rekan-rekannya, di mana semuanya tetap berputar di sekitar makanan. Seorang karakter wanita yang keluarganya memiliki kebun sayur pemasok restoran mulai jatuh cinta pada masakan Eisuke, dan kemudian pada sosoknya. Sang rival pun mencoba mencari masalah dengan membujuk keluarga tersebut agar menjual seluruh hasil panennya ke restoran miliknya.

Sebagian besar drama emosional dalam serial ini berpusat pada kerja keras Eisuke untuk menguasai kuliner Prancis demi mewujudkan warisan sang ibu. Proses ini ditampilkan secara sangat detail di layar kaca. Menariknya, para pemeran bahkan menjalani pelatihan memasak Prancis secara khusus, dan sebuah buku resep resmi turut dirilis berdasarkan serial ini.

Kuliner Jepang: Ando Natsu

ando natsu drama cover japanese woman wagashi

Ando Natsu adalah seorang pemudi yang bermimpi menjadi pembuat kue Prancis. Ia memulai magang di sebuah kafe yang dikelola oleh seorang pembuat kue senior yang sangat dikaguminya, yang sayangnya juga mendadak meninggal dunia.

Tanpa arah, Natsu tanpa sengaja singgah di sebuah toko wagashi di Asakusa. Wagashi merupakan penganan tradisional Jepang yang dibuat dengan bentuk musiman yang indah menyerupai karya seni. Melihat bagaimana manisan tersebut mampu memberikan kebahagiaan kepada para pelanggan, ia pun memohon untuk diterima sebagai pekerja magang.

Judul serial ini sendiri merupakan sebuah permainan kata. Ando Natsu adalah plesetan dari *An-donut* (donat isi pasta kacang merah manis), yang kerap menjadi bahan godaan bagi karakter-karakter lain di sepanjang cerita.

Serial ini menghabiskan banyak durasi di dalam dapur, memperlihatkan betapa sulitnya membuat penganan yang rumit, lamanya masa magang, serta berbagai tugas remeh yang harus dikerjakan pemula seperti mencuci piring. Berbagai proses pembuatan dan bahan-bahan khusus dalam wagashi sering kali menjadi inti dari konflik cerita, mulai dari proses fermentasi ragi koji hingga pencarian bahan baku otentik yang harus berasal dari prefektur yang sama demi menjaga keaslian cita rasa warisan leluhur.

Kuliner di Penginapan Tradisional

Tidak semua kisah juru masak profesional berlatar di restoran perkotaan. Beberapa di antaranya mengambil tempat di penginapan tradisional atau *ryokan*, di mana kualitas kulinernya menjadi daya tarik utama.

O-sen

o-sen show poster japanese drama about food

Serial O-sen, yang berlatar di sebuah penginapan di kawasan lama Shitamachi, Tokyo, hampir seperti sebuah ensiklopedia mengenai masakan tradisional Jepang. Diangkat dari sebuah manga, serial ini mengeksplorasi berbagai jenis miso, teknik memasak nasi menggunakan jerami, hingga seluk-beluk kuliner tradisional yang sarat makna.

Alur cerita dalam O-sen juga sangat bergantung pada bahan-bahan tertentu. Para juru masak di sana menggunakan katsuobushi (ikan bonito kering) buatan tangan tradisional yang kini semakin langka. Ketika produsen langganan mereka terancam tutup, pihak penginapan bersikeras bahwa penggantian bahan tersebut akan mengubah identitas rasa makanan mereka secara keseluruhan.

Kamo, Kyoto e Iku

kyoto ryokan japanese televesion drama kamo kyoto e iku

Tema lain yang kerap berulang adalah ingatan yang tajam terhadap cita rasa makanan masa lalu. Dalam Kamo, Kyoto e Iku yang berlatar di sebuah penginapan tradisional di Kyoto, sepasang suami istri lanjut usia berkunjung setelah 40 tahun. Sang istri, yang menderita stroke dan mulai kehilangan ingatan, masih mengingat dengan jelas kelezatan hidangan tahu di penginapan tersebut. Ketika ia merasa rasanya sedikit berbeda karena faktor usia pembuatnya, sang pemilik penginapan turun tangan membantu sang pembuat tahu mewariskan metode aslinya kepada generasi muda agar cita rasa autentik tersebut bisa dinikmati kembali.

Bukan Hanya untuk Profesional

japanese food drama tv shows about food

Elemen-elemen kecintaan terhadap makanan ini juga dapat ditemukan dalam tayangan yang karakternya bukan seorang profesional kuliner. Contoh menarik terlihat dalam serial Tokyo Bandwagon, yang mengisahkan sebuah keluarga pemilik toko buku antik. Dalam sebuah episode, keluarga tersebut mencoba mendamaikan koki *izakaya* lokal dengan masa lalunya melalui semangkuk hidangan lobak rebus sederhana yang membangkitkan memori masa lampau.

Begitu pula dengan serial Lunch Queen, yang mengikuti kisah seorang pelayan kafe pencinta kuliner yang terpikat untuk bergabung dalam penyamaran setelah diiming-imingi kesempatan mencicipi hidangan *omu-rice* terbaik di seluruh Jepang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *